Terjebak Bersama Sang Iblis

Terjebak Bersama Sang Iblis
Bagian 26


__ADS_3

Semua tamu undangan heboh ketika Selena dan Eros memasuki ruangan, terlebih Leo secara terang-terangan menyapa kedua pasangan itu. Seolah menepis kabar yang sempat beredar, Leo bahkan memeluk Selena di hadapan Eros. Membuktikan bahwa ia dan Selena tidak pernah mempunyai hubungan gelap atau semacamnya.


“Jadi rumor itu tidak benar ya?”


“Maksudmu perselingkuhan itu?”


“Aku dengar, Eros dan Leo itu sudah menjadi teman sejak lama.”


“Kelihatannya mereka baik-baik saja. Akhir-akhir ini media memang suka melebih-lebihkan.”


Nyonya William melirik dua wanita muda yang sedang berbincang di sebelahnya. Seakan sadar telah diperhatikan, keduanya menoleh dan terkejut ketika menyadari bahwa wanita itu adalah Anna William, janda kaya yang merupakan ibu dari Eros yang sempat mereka bicarakan. Keduanya buru-buru menjauh dari tempat itu dengan wajah semerah kepiting rebus.


Nyonya William menghela napas pelan. Saat kembali mengalihkan pandangan, matanya sempat bertemu dengan Selena. Namun tak lama karena wanita itu kembali mengalihkan pandangan pada Eros yang terlihat tengah mengatakan sesuatu.


Alex dan Emilia yang baru saja kembali dari toilet tampak langsung menyadari tatapan Nyonya William yang mengarah pada Eros dan Selena. Mereka tak menyangka bahwa Eros akan sembuh begitu cepat dan tampaknya hubungannya dengan Selena memang baik-baik saja. Bahkan Leo dan Steve tampak berbincang dengan keduanya seolah tak pernah terjadi apa pun.


Teringat masa lalu, Emilia melihat Selena sebagai sosok yang menggantikannya di antara ketiga pria itu. Dulu, ia adalah orang yang paling dekat dengan ketiganya, tapi kini Selena yang berdiri di sana. Sekarang Selena yang mendapat tatapan iri dari para wanita. Sungguh roda berputar sangat cepat.


**


“Lama tak bertemu, Eros.”


Keempat orang itu menoleh. Adalah Orlando Cloe, sang empunya acara yang kini menghampiri mereka dengan senyum ramah.


“Kau tak banyak berubah rupanya.” Eros menjabat tangan Orlando, begitu juga dengan Leo dan Steve. Tak lupa mereka mengucapkan selamat ulang tahun dan berkelakar bahwa Orlando sudah tidak cocok untuk mengadakan pesta seperti itu.

__ADS_1


Lalu tatapan Orlando beralih pada Selena yang tengah mengalihkan tatapannya ke arah lain sementara tangan wanita itu setia memeluk lengan Eros.


“Perkenalkan, tunanganku, Hermia Selena.”


Mendengar namanya disebut, Selena dengan cepat menoleh ke arah Eros, lalu ke arah pria berkaca mata yang berdiri di samping Leo dan Steve.


“Selena, ini Orlando Cloe, tuan rumah untuk acara hari ini.”


Orlando tersenyum ramah sambil mengangkat tangannya. “Orlando Cloe.”


“Selena. Hermia Selena.”


Eros diam-diam menatap kedua tangan yang bertaut di hadapannya.


“Sepertinya gosip yang beredar itu tidak benar,” kata Orlando sambil melepaskan tautannya dengan Selena. “Benar begitu, Leo?”


“Proyek bersama?”


“Selena itu model. Kau tidak tahu?”


Steve menggaruk tengkuknya sambil melirik Eros yang terlihat ingin sekali 'mencincang' Leo saat itu juga. Sementara Selena hanya tersenyum canggung dan merasa semakin tidak nyaman berada di antara keempat pria itu.


“Kebetulan sekali kalau begitu,” kata Orlando dengan mata berbinar. “Kurasa image Selena sangat cocok dengan resort yang baru kami bangun.”


“Apa maksudmu?” tanya Eros curiga.

__ADS_1


“Apalagi memangnya?” Leo menimpal. “Tentu saja Orlando berharap bahwa Selena akan menjadi model untuk mempromosikan resort barunya.”


“Tidak bisa. Dia sudah berhenti menjadi model,” kata Eros tegas.


“Jangan begitu, kau belum menjadi suaminya, Eros.” Orlando selalu tersenyum, tapi setiap kata-katanya lebih tajam dari segala jenis pisau. “Bagaimana, Selena?”


Selena mengerjap. Tidak enak jika ia menolak pada tuan acara, apalagi pria itu sedang berulang tahun. Sebenarnya Selena tak akan sungkan untuk menjawab jika saja di sampingnya tidak ada Eros.


“Ini kesempatan langka, kapan lagi kau akan bekerja sama dengan Cloe Enterprise? Apalagi ditawari oleh pewarisnya langsung.”


“Kuperhatikan kau sangat cerewet akhir-akhir ini,” sindir Eros pada Leo yang baru saja berbicara.


Leo hanya tersenyum tanpa dosa. Sementara Steve tampak membisikan sesuatu, “diam atau Eros akan menjahit mulutmu, Smith.”


Selena menelan ludah. Lalu mengangguk pasrah saat Orlando dengan sabar menanti jawabannya. “Tentu, dengan senang hati,” katanya sambil melirik Eros dengan tatapan menantang.


PYAR!


Bunyi pecahan gelas itu disusul dengan teriakan histeris dari beberapa orang.


Selena dan yang lainnya menoleh, lalu terbelalak saat melihat Emilia yang tergeletak di pangkuan Alex.


“Apa yang terjadi?” Orlando bergerak cepat menuju kerumunan itu disusul dengan Leo dan Steve yang hanya sekadar ingin memastikan.


Yang paling tenang di sana hanya Eros. Pria itu tak bergerak dari tempatnya bahkan ketika menyadari bahwa ibunya juga ada di sana.

__ADS_1


Selena membeku ketika ia melihat tatapan Eros yang tertuju pada kerumunan itu. Tengkuknya tiba-tiba terasa dingin, tatapan itu memang terlihat biasa, tapi mengapa seolah terbersit kepuasan di sana?


Semoga firasatnya salah.


__ADS_2