
“Ini Jessica, mulai hari ini dia yang akan mengurusi segala kebutuhanmu.”
Selena berhenti mengiris panekuknya dan melirik Eros yang datang bersama seorang wanita bertubuh tinggi dengan setelan formal. Wanita itu menunduk pelan dan mengulas senyum kaku.
“Mohon kerja samanya, Nyonya.”
Selena memalingkan wajah untuk meraih segelas susu dan meneguknya. Eros memenuhi permintaannya, seperti yang sering pria itu katakan kecuali satu—kebebasan.
“Bagaimana?” Sebelah alis Eros terangkat.
Selena meletakkan gelasnya dan menjilat sisa-sisa cairan putih di sudut bibirnya. “Setidaknya lebih baik daripada kaki tanganmu yang kaku dan wajahnya sebelas dua belas denganmu.”
Eros mengerjap pelan. Ia sempat tertegun saat Selena melakukan gerakan yang entah mengapa terlihat sangat sensual di matanya.
Sambil sedikit berdeham pelan, pria itu berkata, “baguslah. Kalau begitu aku bisa pergi ke kantor dengan damai.”
Selena mendelik. Apa-apaan itu? Dengan damai? Mungkin bermaksud menyindir omelannya yang kemarin.
Eros terkekeh saat mendapat delikan tajam dari Selena. Pria itu bergerak untuk meraih kepala Selena dan mengecup sebelah sudut bibirnya.
Manis. Bukan hanya dari rasa susu yang sebelumnya diminum wanita itu, tapi karena bibir Selena sendiri memang terasa begitu manis.
Selena terbelalak. Ia sempat menyaksikan Jessica yang buru-buru memalingkan wajah. Sebelum sempat ia mendorong tubuh Eros, pria itu sudah terlebih dulu membuat jarak.
Pria itu menyeringai. “Jangan berbuat macam-macam selama aku tidak ada di rumah. Kau mengerti?”
Selena memalingkan wajah. Tapi beberapa detik kemudian ia mengangguk lemah.
Eros tersenyum puas lalu melirik Jessica dan memberi isyarat melalui matanya yang dibalas anggukan singkat oleh wanita itu.
__ADS_1
Di zaman modern ini begitu mudah mendapat kesetiaan seseorang—hanya dengan uang.
**
“Ada kiriman bunga untuk Anda, Nyonya.”
Emilia tengah duduk sendiri di taman belakang ketika seorang pelayan mengantarkan buket bunga mawar merah yang tampak segar dan berbau harum.
Ada catatan kecil yang tersemat di dalam buket itu.
“Untuk Kakak Iparku, Emilia.”
Tulisan tangan itu adalah milik Eros.
Emilia mengernyit. Apa maksud sang pria mengirim bunga mawar merah padanya? Bukankah semua ini terlalu tiba-tiba? Apakah ini tandanya Eros benar-benar sudah memaafkannya?
Emilia menghirup aroma bunga mawar itu dan tersenyum tipis. Mawar merah memang selalu menjadi favoritnya sejak dulu.
Emilia melirik perutnya yang mulai membesar dan mengelusnya lembut. Meskipun beberapa hari ini ia seperti kehilangan semangat hidup, tapi ia tak bisa terus-terusan mengabaikan janin yang ada dalam perutnya.
Nyonya William benar, ia harus tetap kuat karena ia mengandung darah daging Alex. Sepahit apa pun, ia harus tetap hidup untuk anaknya. Dan mungkin isyarat dari Eros itu adalah tanda bahwa sang pria menginginkan sebuah hubungan yang lebih baik.
Ya. Semoga ke depannya semuanya menjadi lebih baik.
**
Meski gerak-geriknya sangat menghormati Eros sebagai atasannya yang baru, tapi pria itu tahu bahwa Andreas hanya menunjukkan formalitasnya sebagai rekan kerja.
“Suka atau tidak, mulai hari ini kau harus terbiasa melihatku duduk di kursi ini.”
__ADS_1
Andreas mengerjap. Ia meletakkan dokumen di atas meja kerja dan mengangguk pelan. Apa yang semua orang katakan tentang Eros mungkin benar. Pria itu begitu dingin. Bahkan hanya dengan tatapan datar seperti itu, sang pria mampu membuat lawannya merasa terintimidasi.
“Ada lagi yang bisa saya bantu?” Andreas mengangkat kepala.
Sejak pertama kali masuk ke ruangan itu, mata Eros langsung tertuju pada satu pigura yang terletak di ujung meja. Potret Emilia dan Alex dalam balutan gaun pengantin. Terlihat begitu bahagia. Dan tak dapat disangkal bahwa mereka adalah pasangan yang sangat serasi.
Andreas menelan ludah sambil mengikuti tatapan Eros yang tertuju pada benda itu. Ekspresinya datar. Ia tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh sang pria yang kini menjadi atasan barunya.
“Besok aku tidak ingin melihat benda peninggalan Alex di ruangan ini,” katanya sambil mengelus pigura itu. “Rombak semuanya, kau mengerti?”
Meski ragu, Andreas tetap mengangguk. “Saya mengerti.”
“Bagus. Melihat benda peninggalan Alex hanya akan membuatku selalu teringat padanya.”
Teringat apa? Andreas tidak mengerti. Tidak ada kesedihan atau kepuasan di dalam ekspresi yang ditampilkan Eros. Pria itu susah sekali ditebak.
Dan terkadang terlihat...sedikit mengerikan.
**
Ctak!
Selembar foto itu terbakar dalam genggamannya. Membuatnya perlahan menjadi abu. Eros menikmati setiap api yang melahap sosok Emilia dalam foto itu. Ketika api mulai membakar sosok Alex, ia dengan cepat melempar benda itu ke dalam tong sampah.
Tak lama ponsel dalam sakunya bergetar.
Bisa kita bertemu saat jam makan siang?
—Emilia.
__ADS_1
Eros menarik sebelah sudut bibirnya sebelum memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
“Dasar wanita naif. Mudah sekali masuk dalam perangkap.”