
Selena benar-benar bosan dan mendadak sekali ia ingin makan satu cup besar ice cream dengan berbagai topping di atasnya.
Ia menutup majalahnya dan melirik Jessica yang setia berdiri di sampingnya dengan wajah datar. Mau laki-laki atau perempuan, tidak adakah satu orang pun yang bisa berekspresi lebih baik? Mereka benar-benar mencerminkan Tuannya—Eros. Benar-benar hanya berperan sebagai kaki tangan sang pria, tidak lebih.
Menghela napas pelan, Selena menatap wanita itu dengan sabar. “Apa aku benar-benar tidak boleh keluar?”
“Apa Anda membutuhkan sesuatu?” tanya Jessica balik.
“Aku ingin makan ice cream cokelat dengan topping yang banyak.”
Jessica berkedip. “Saya akan membelikannya untuk Anda.” Wanita itu meraih ponsel dari balik jas hitamnya—berniat untuk melakukan pesan antar.
“Tidak bisa.” Selena menginterupsi.
“Ya?”
“Kedai ice cream langgananku tidak menerima layanan pesan antar.”
“Kedai langganan Anda?”
Selena mengangguk cepat. “Tapi aku tidak boleh keluar kan? Padahal aku ingin sekali makan di kedainya langsung,” katanya sedikit cemberut.
Tuan Eros bilang bahwa Nyonya Selena sedang hamil. Mungkinkah wanita itu ngidam?
Apa yang harus ia lakukan?
“Saya akan menghubungi Tuan Eros terlebih dahulu.” Jessica sedikit menjauhi tempat itu sambil menempelkan ponselnya ke telinga.
Sementara Selena diam-diam tersenyum puas. Ck! Memangnya siapa yang tahan terus-terusan terkurung di rumah ini?
**
“Ya. Aku mengerti.”
Eros menutup teleponnya dan melemparkan benda itu pada kursi di samping kemudi.
Selena ngidam?
Ini baru pertama kalinya ia mendengar wanita itu ingin makan sesuatu dengan begitu antusias.
__ADS_1
Sebelum lampu merah berakhir, pria itu kembali meraih ponselnya dan mengetikkan pesan pada seseorang.
Seringainya kembali terbit, saat lampu berganti, ia malah memutar mobilnya ke arah lain.
**
“Kenapa dia ada di sini?” Selena menatap Eros yang melambai dari meja di ujung kedai. Kemudian memberi pandangan selidik pada Jessica yang berada di belakangnya.
“Tuan Eros tidak mengatakan bahwa ia akan kemari,” katanya seolah mengerti arti tatapan menuduh yang dilayangkan Selena.
“Ayo, kemari, Sayangku.” Eros berkata dengan suara yang begitu keras, sehingga beberapa orang yang ada di sana tampak menoleh.
Mood Selena jadi buruk. Meski begitu ia tetap berjalan ke arah meja yang ditempati Eros.
Senyum pria itu sangat lebar. Entah firasatnya saja atau Eros memang sedang merencanakan sesuatu. Setelah hamil, Selena merasa bahwa ia menjadi sangat sensitif.
Setelah memastikan Selena duduk di samping Eros, Jessica segera undur diri.
Eros menjentikkan jarinya dan seorang pelayan dengan sigap menghampiri mereka. Mengantarkan satu cup besar ice cream sesuai keinginan Selena.
Selena yang semula memalingkan wajah langsung menatap ice cream itu dengan mata berbinar. Tanpa sadar menjilat bibirnya di hadapan Eros.
“Makanlah,” Eros mengedikkan kepala. “Jika masih kurang kau bisa memesannya lagi.”
“Astaga...ini enak sekali!”
Eros menatap setiap ekspresi yang ditunjukkan Selena dalam diam. Mungkin saja wanita itu tidak menganggap kehadirannya karena Selena tidak pernah tersenyum seperti itu saat berbicara dengannya.
“Rasanya sudah lama sekali...”
Eros tak terlalu mendengarkan ucapan Selena ketika ia menyadari bahwa ada sosok yang berdiri tak jauh dari meja mereka.
Dengan gaun berwarna merah muda yang jelas menunjukkan perutnya yang mulai membesar, Emilia berdiri di sana dengan wajah terkejut. Tapi Eros justru diam-diam tersenyum puas.
“Oh, kau sudah datang?”
Kalimat itu membuat Selena mengangkat kepala. Tidak mengerti. Tapi dengan cepat menemukan jawabannya saat melihat Emilia yang entah bagaimana bisa ada di sana.
Dari ucapan Eros tadi, apakah mereka sudah membuat janji sebelumnya?
__ADS_1
Selena mendengus pelan. Benar dugaannya, Eros pasti telah merencanakan semua ini.
“Kemarilah,” kata Eros dengan nada yang terdengar sedikit ramah. “Bukankah ada sesuatu yang ingin kau bicarakan padaku?”
Selena sedikit menunjukkan senyumannya saat mata Emilia tertuju padanya, seolah meminta izin.
Dengan langkah pelan namun pasti, Emilia menarik kursi di seberang tempat duduk Eros dan Selena.
“Maaf ya, kita tidak bisa berbincang berdua karena Selena mendadak ingin makan ice cream.”
Selena nyaris tersedak saat menyuap kembali ice cream-nya.
Apa yang dikatakan pria itu?!
Emilia langsung gelagapan. “T-Tidak masalah,” katanya seolah takut terjadi kesalahpahaman di antara kedua pasangan itu.
Eros manggut-manggut. “Ya, sesama ibu hamil harus saling mengerti, bukan begitu?”
Emilia langsung mengangkat kepala. “Selena... hamil?”
“Kenapa?” tanya Eros ketus. “Kau tidak percaya?”
Emilia menggeleng dengan cepat, ia berusaha mengulas senyum manisnya. “Selamat untuk kalian berdua.”
“Ya, terima kasih.”
Perubahan sikap Eros memang terlihat mencurigakan, apalagi pria itu terlihat lebih banyak bicara dari biasanya.
Tapi Selena tak peduli, ia tetap menyuap ice cream yang tersisa setengah, setelah itu ia akan segera pergi dari tempat ini.
“Kalau begitu apa yang ingin kau bicarakan padaku?” Eros senang mendapati ekspresi Emilia yang terlihat sangat bingung dan terkejut. Beberapa kali wanita itu melirik ke arah Selena dan tampaknya menyesali keputusannya untuk bertemu dengan Eros.
“Aku...” katanya ragu. “Sebenarnya—“
“Ah, maaf. Dasar anak kecil, makan ice cream saja tidak bisa.”
Kedua wanita itu sama-sama tertegun.
Selena tidak menyangka bahwa Eros akan menjilat sisa ice cream di sudut bibirnya di hadapan Emilia tanpa canggung. Tidak. Pria itu memang sengaja. Jadi ia tidak perlu terlena oleh perlakuan Eros, kan?
__ADS_1
Sementara Emilia buru-buru merapatkan bibirnya dan menundukkan kepala.
Apa benar bahwa Eros hanya pura-pura mencintai Selena?