
Selena kembali terbangun di kamar Eros. Bedanya malam itu sang pria tidak ada di sampingnya. Ruang di sisi tubuhnya kosong. Hanya aroma Eros yang tertinggal di tempat itu.
Selena mengerjap pelan. Lampu kamar yang menyala adalah tanda bahwa siang sudah berganti malam. Ia melirik perapian yang terletak di depan ranjang—masih setia menyala dan memberi kehangatan di malam bersalju.
Merasa tenggorokannya begitu kering, Selena kemudian beringsut dari ranjang. Menuntun tubuhnya untuk keluar dari kamar Eros. Di balkon atau pun di ruang tengah yang terletak di lantai dua itu ia tak mendapati eksistensi sang pria.
Kaki beralas sandal bulu yang lembut itu menuntunnya untuk menuruni setiap anak tangga. Masih dalam keadaan setengah sadar, ia mendengar sayup-sayup dari arah pintu masuk.
Dengan langkah cukup cepat, Selena menghampiri sumber suara. Hingga ia terpaksa menghentikan langkahnya kembali saat pemandangan di depan matanya serasa membuat detak jantungnya berhenti.
Seolah menyadari kehadirannya, dua orang berbeda jenis kelamin itu kemudian melepaskan pelukan mereka. Yang satu menatapnya tanpa ekspresi yang satunya justru tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Selena?!”
.
.
.
Mereka berkumpul di ruang tengah.
Selena masih belum berbicara ketika Eros menyuruhnya untuk duduk di samping sang pria sementara seorang wanita—yang tidak ia ketahui—duduk di seberang sofa yang mereka tempati sambil menyeruput cokelat panas dengan gerakan anggun.
Eros menarik napas pelan. Ia tidak bisa membiarkan keheningan itu terjadi lebih lama. Apalagi setelah melihat ekspresi Selena yang begitu datar. Ia tidak ingin membuat wanita itu salah paham.
“Baiklah. Selena, ini adalah kerabat jauhku, Jasmine. Dan Jasmine, ini adalah Selena—istriku.”
Belum ada respons berarti sebelum pada akhirnya Jasmine meletakkan cangkirnya dan mengulurkan tangan dengan senyum tipis. “Jasmine William.”
Selena mengangguk pelan sambil menyambut uluran tangan wanita itu. “Selena.”
Tautan mereka terlepas.
Keheningan kembali terjadi. Eros menghela napas pelan. Kedua wanita itu memang memiliki sifat yang hampir sama. Bedanya, Selena adalah sosok pembangkang yang tidak akan pernah ia temui di mana pun.
“Jadi... apa alasanmu kembali?”
Jasmine mengulas senyum kecil lalu menjawab, “masalah pekerjaan dan... ingin melihat keadaanmu setelah sekian lama.” Ujung wanita itu melirik ke arah Selena yang sedang memalingkan wajah. “Cukup mengejutkan ketika aku tahu bahwa kau sudah move on dari Emilia.”
Eros tersenyum kecut. “Ya. Begitu banyak hal yang kau lewatkan.”
“Tapi sejujurnya aku penasaran wanita seperti apa yang telah membuatmu melupakan Emilia yang begitu sempurna.”
Selena menoleh ke arah Jasmine dengan alis terangkat.
Tapi sebelum sempat ia berbicara, Eros terlebih dulu berkata, “mungkin saja Emilia tidak sesempurna itu.”
“Jadi?”
“Jadi apa?”
Jasmine dengan terang-terangan menatap Selena. “Apa yang membuatmu menikah dengan—“
“Kau tidak perlu tahu,” sela Eros penuh peringatan. Jelas sekali kalau wanita itu ingin memancing Selena. “Terkadang kau harus tahu di mana batasmu, Jas.”
Jasmine buru-buru bungkam. Namun rasa penasarannya belum reda. Selena dan Emilia jelas jauh berbeda. Dan ia sangat tahu Eros mencintai wanita itu sampai rasanya sang pria hampir menjadi gila.
Tapi lihat perut buncit wanita itu! Mungkin benar kata Eros, ia telah melewatkan begitu banyak hal. Dan Jasmine rasa... ia belum siap dengan semua itu. Apalagi ia tak pernah mendengar nama Selena sebelumnya. Pun wanita itu tidak terlihat seperti putri dari seorang bangsawan atau saudagar kaya.
“Well.” Jasmine menghela napas pelan. “Aku pikir istrimu tidak nyaman dengan keberadaanku di sini.” Wanita itu terkekeh. “Maaf telah mengganggu waktu berharga kalian.”
“Kau tidur di hotel?”
Jasmine berdiri dan mengangguk. “Kenapa? Kau ingin memberi tumpangan?”
Eros hendak menjawab sebelum Selena menyahut dengan senyum aneh. “Tentu saja kita harus memberinya tumpangan, bukankah kalian baru kembali bertemu setelah sekian lama?”
Eros bisa melihat kilat yang tak biasa di kedua mata Selena. Dan senyum itu tentu saja bukan senyum ramah yang biasa ia tunjukkan kepada orang lain. Sudah ia bilang, kan? Kalau mood ibu hamil memang gampang berubah-ubah.
Jasmine cukup terkejut ketika Selena yang kira ia pendiam itu justru bersuara lantang sambil tersenyum penuh arti padanya. Dan Jasmine dengan senang hati akan meladeni sampai sejauh mana wanita itu mau mengujinya.
“Kuharap kau tidak menyesal karena telah memberiku tumpangan—meski hanya malam ini saja.” Jasmine tersenyum lebar.
__ADS_1
Selena berdiri dan menatap wanita itu dengan berani. “Memangnya kenapa aku harus menyesal? Keluarga Eros adalah keluargaku juga, bukan begitu?”
Senyum Jasmine luntur.
Wanita itu kuat. Bahkan di hadapan Eros, wanita itu masih bisa berdiri tegak dan menjawab semua kata-katanya.
Tapi Jasmine kembali mengulum senyum. Mengabarkan kepada Selena bahwa ia bukanlah wanita yang akan mudah terpancing emosi.
“Well. Terima kasih atas kebaikanmu, aku rasa aku mengerti sekarang, mengapa Eros memilihmu.”
Selena melirik Eros dengan ekor matanya sebelum kembali menatap Jasmine dengan ekspresi datar. “Ayo, biar kutunjukkan kamarmu.”
.
.
.
“Sebenarnya tanpa harus diantar pun aku sudah tahu seluk beluk rumah ini.”
Jasmine berkata sambil menatap punggung Selena yang berjalan di depannya. Langkah mereka terhenti ketika sampai di depan kamar tamu.
Saat itu Selena berbalik. Matanya meneliti Jasmine secara keseluruhan. Tidak ada satu pun fisik yang mirip dengan Eros selain sifat dan sikap mereka yang sama-sama menyebalkan.
Jasmine begitu tinggi dan cantik. Tubuhnya proporsional. Rambutnya panjang dan bergelombang. Tampaknya gen keluarga William memang unggul karena kesempurnaan fisik mereka yang memang tidak bisa diremehkan. Dan siapa pun akan insecure saat berhadapan dengan wanita itu.
“Meski aku yakin kau lebih tahu seluk beluk rumah ini, tapi tetap saja kau adalah tamu.”
“Terdengar dari nada bicaramu, sepertinya kau tidak menyukaiku.”
Alis Selena terangkat. “Kupikir kau yang tidak menyukaiku sejak awal.”
Jasmine tersenyum kecil, sedikit meremehkan. “Jujur saja, aku tidak tahu siapa dirimu. Setahuku Eros tidak pernah menyebut namamu sebelumnya. Apalagi aku tahu bahwa Eros hanya tergila-gila pada Emilia seorang.” Wanita itu kemudian menjentikkan jarinya. “Ah, kau pasti tahu Emilia, kan?”
Selena tersenyum jengah. “Dan kau pasti tidak tahu bahwa selama ini dia dirawat di rumah sakit jiwa, kan?”
Jasmine tercenung. “Apa?”
Selena menikmati keterkejutan wanita itu. Kakinya melangkah melewati Jasmine sambil berbisik, “mungkin juga kau tidak tahu bahwa Emilia lah yang telah membunuh Alex.”
“Sudah kubilang, kau hanya tamu di sini,” tegas Selena sebelum kembali melangkah dan meninggalkan wanita itu.
.
.
.
“Kenapa lama sekali?”
Selena menutup pintu dan melirik Eros yang sedang duduk menyandar di kepala ranjang dengan sebuah buku tebal dan kaca mata tanpa bingkai.
“Hanya bercakap sebentar. Sepertinya kerabatmu sangat penasaran denganku.”
Eros menyimpan bukunya dan menatap pergerakan Selena sampai sang wanita duduk di depan meja rias dan menyisir rambutnya.
“Jasmine memang seperti itu. Dia sedikit sensitif dengan orang baru.”
“Begitukah?” Selena menoleh sebentar. “Ya. Kupikir dia sangat mirip denganmu.”
“Kau tidak menyukainya?”
Selena terkekeh pelan. “Bahkan kalian mengajukan pertanyaan yang sama.”
Eros mengangkat bahu tak acuh sambil menuruni ranjang dan menghampiri Selena. Berdiri di belakang wanita itu dan membungkuk pelan.
“Aku tanya, apa kau tidak menyukainya?”
Mereka saling menatap dari pantulan cermin.
Selena menaruh sisirnya dengan tenang dan berkata, “memang kenapa jika aku tidak menyukainya?”
“Kau cemburu.” Eros menarik kesimpulan.
__ADS_1
Selena tertawa kering. “Aku tidak.”
Eros berdiri dan melipat kedua tangannya di dada dan tersenyum miring. “Aku sudah tahu bahwa kau akan menyangkal.”
Selena ikut berdiri dan menatap pria itu dengan sengit. “Aku tidak menyangkal. Tapi itulah kenyataannya.”
Eros dengan cepat menarik lengan Selena ketika sang wanita hendak berbalik menuju ranjang.
“Apa kau mulai mencintaiku, hmm?” Eros berbisik di depan wajah Selena sementara kedua tangannya menahan pinggang yang kini tak lagi ramping itu untuk tetap diam di tempat. “Jawab aku, Selena...”
Selena memalingkan wajah dan menggigit bibir. Dan perbuatan itu malah membuat Eros semakin mendekatkan wajahnya. Mengunci tatapannya pada sang jelita.
Selena menelan ludah. Masih belum mau memalingkan wajahnya ke arah Eros. “Aku... tidak tahu.”
Tidak tahu?
Itu terdengar lebih baik dari kalimat; aku membencimu.
Sebelah tangan Eros kemudian terangkat. Membelai lembut sisi wajah Selena yang tak terpoles make up.
“Aku mengantuk, bisakah kita tidur sekarang?”
Selena menoleh dengan alis terangkat. Sedikit heran karena Eros tidak pernah tidur lebih awal.
Pria itu tersenyum kecil sambil mencium punggung tangannya. “Tolong, biarkan aku memelukmu malam ini. Tidak. Tak hanya malam ini tapi untuk seterusnya.”
.
.
.
Begitu Selena tiba di dapur pagi itu, sudah ada Eros yang duduk di meja makan dan Jasmine yang tengah menata sesuatu di piring dengan menggunakan apron yang biasa ia pakai.
Kehadirannya tampak langsung disadari oleh kedua orang itu, namun hanya Eros yang mengangkat kepala.
“Selamat pagi.”
Selena mengernyit. Apa katanya?
Selamat pagi?
Mengabaikan sapaan Eros, Selena malah memperhatikan Jasmine yang kini sibuk menuang susu ke dalam gelas tinggi yang terletak di hadapan Eros.
“Kau yang memasak semua itu?”
Jasmine akhirnya mengangkat kepala. “Aku lihat Eros ingin berangkat bekerja sementara tidak ada yang menyiapkan sarapan. Dan kau... Eros berkata dia tidak tega untuk membangunkanmu.”
Eros mengangkat bahu. “Karena kau sudah bangun lebih baik jika kita sarapan bersama.”
Selena mendengus pelan sambil menarik kursi.
“Kau bisa menuang susunya sendiri, kan?” kata Jasmine kemudian.
Selena mengangkat kepala dan tersenyum miring. “Tentu saja—Eros yang akan menuangkannya untukku.”
Eros mengerjap. “Hmm? Kau ingin aku menuangkannya untukmu?”
Leher Jasmine mengeras. Eros adalah pria angkuh dan mempunyai harga diri tinggi. Mana mungkin pria itu mau disuruh oleh wanita biasa macam—
“Tidak masalah.”
Matanya terbelalak saat Eros dengan cekatan mengambil susu kemasan dan menuangnya ke dalam gelas untuk kemudian ia berikan kepada Selena.
Dan Jasmine bersumpah, ia bisa melihat senyum puas sebelum wanita itu meneguk susunya.
Halo semuanya,
Sebelumnya aku mau minta maaf karena aku sempat mengalami masa-masa writer block sampai aku berpikir untuk mengakhiri novel ini. Dan mama aku tiba-tiba kambuh lagi sakitnya hingga pada akhirnya aku juga ikut-ikutan sakit, dan begitulah... otaknya jadi ngehang 😂
Tapi setelah aku bermeditasi, pada akhirnya aku mencoba untuk kembali karena tak ingin mengecewakan para readers setiaku. Sekali lagi mohon maaf ya.
Fighting!
__ADS_1
With love,
Sweetsugar