
“SELENA!”
Selena meletakkan sendoknya dan mengernyit. Samar ia mendengar suara teriakkan seseorang. Ia berdiri dan menumpukan kedua tangannya pada pembatas pagar. Kepalanya menengok pada mobil Eros yang terparkir di depan rumah.
Hmm? Pria itu sudah—
Selena mematung. Ia merasakan kehadiran seseorang di belakang tubuhnya. Sangat dekat. Namun ia tidak mengerti mengapa ada sesuatu yang berkilau di samping lehernya. Ujungnya runcing dan jika bergerak sedikit saja, Selena bisa pastikan bahwa lehernya akan robek saat itu juga.
“Emilia?” kata Selena waspada. Ekor matanya mencoba untuk melirik wanita itu. “Apa...yang kau lakukan?”
Emilia memiringkan kepala, lalu berbisik pelan di telinga Selena. “Tentu saja—membunuhmu.” Lalu wanita itu tertawa. Tawa yang tidak wajar.
Selena menelan ludah.
Apa yang terjadi pada wanita itu?!
“Aku tidak mengerti maksudmu,” kata Selena sambil berusaha mencari celah untuk menghindar dari Emilia. Semakin lama pisau itu semakin dekat, hanya tinggal sedikit lagi untuk dapat menyentuh kulitnya.
Tawa Emilia terhenti. Ia kembali berbisik, “tidak perlu mengerti karena—SEBENTAR LAGI KAU AKAN MATI!”
BRAK!
“TIDAK!”
SLEB!
Selena terbelalak. Ia mendongak untuk menatap Eros yang tengah menatapnya dengan kening mengernyit. Tubuh besar pria itu membungkus tubuhnya, melindunginya dari serangan Emilia barusan.
“E-Eros...”
Emilia menatap pisau yang dipegangnya menancap di punggung Eros. Lalu dalam sekali gerakan ia menarik pisau itu tanpa peringatan.
“Ugh...” Eros terbelalak. Ia merasakan nyeri yang teramat pada punggungnya. Pria itu melepas pelukannya pada Selena dan berbalik.
Emilia mundur selangkah saat mendapat tatapan dingin dari Eros. Pisau berlumur darah di tangannya jatuh ke lantai dan menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.
“Sakit, kan?” tanya Emilia sambil tersenyum aneh, namun kedua matanya berkaca-kaca. Tak lama setelah itu, air mata sudah membanjiri wajahnya. Kepalanya menggeleng. “Tidak. Itu pasti tidak sakit sama sekali.”
Selena bergidik ketika melihat luka di punggung Eros. Sayatannya tidak terlalu besar, tapi itu pasti sangat dalam sekali karena darahnya tidak berhenti mengalir.
“Eros lukamu—“
“Akhirnya kau membuka topengmu juga, Emilia.” Eros tak mengacuhkan kekhawatiran Selena. “Katakan siapa dirimu sebenarnya dan mengapa...kau berniat membunuh Alex?”
Kedua mata Selena membulat.
__ADS_1
Apa yang baru saja Eros katakan?!
“HAHAHAHAHAHAHA!” Tawa Emilia menggema di ruangan itu, namun tetap ada air mata di sana. “Jadi kau telah mengetahuinya, ya?” Ekspresinya berubah dengan cepat. Tawanya menghilang berganti dengan tatapan benci yang begitu besar. “Karena keluargamu, Ayah dan Ibuku mati...” Wanita itu terisak. “SEMUA GARA-GARA KELUARGAMU!”
PRANG!
“GARA-GARA KELUARGAMU PERUSAHAAN AYAHKU MENGALAMI PAILIT!”
PRANG!
“GARA-GARA KELUARGAMU AYAHKU MASUK PENJARA DAN IBUKU DEPRESI!”
PRANG!
“GARA-GARA KELUARGAMU SELURUH KELUARGAKU MATI!”
Emilia melemparkan semua perabotan yang ada di dekatnya dengan membabi buta. “AKU BENCI KALIAN SEMUA! PERGILAH KALIAN KE NERAKA!”
Eros dengan cepat berbalik untuk melindungi Selena. Mendekapnya dengan erat sementara anak buahnya mulai berdatangan untuk menangkap Emilia. Di luar, para pelayan berkumpul dan berbisik-bisik saat Emilia diseret dengan paksa sambil terus berteriak dan sesekali tertawa.
“KEMBALIKAN AYAH DAN IBUKU!”
“KEMBALIKAN KELUARGAKU!”
“AKU BENCI KALIAN!”
Para pelayan langsung masuk ke dalam kamar dan membereskan semua kekacauan yang ditimbulkan oleh Emilia.
Namun kejutan seakan belum habis ketika salah satu dari mereka berkata, “Tuan Arthur baru saja mengabarkan bahwa Nyonya Besar telah meninggal dunia.”
Eros tak berkata apa-apa. Pria itu hanya menutup matanya dan mengeratkan pelukannya pada Selena.
**
Eros masih berdiri di sana sambil menatap makam Nyonya William meski langit mulai gelap. Selena melihat pria itu dari balik mobil yang terparkir cukup jauh bersama Steve yang duduk di bangku kemudi.
Eros tidak pernah menangis sepanjang pemakaman berlangsung, tapi Selena tahu pria itu pasti terpukul. Perasaan Eros pada Nyonya William pasti sama seperti perasaannya saat melihat Alex meninggal. Sekali pun benci dan kecewa, mereka tetap keluarga. Entah menyesal atau tidak, Selena tidak pernah tahu perasaan pria itu.
“Eros menyuruh kita pulang lebih dulu.” Steve menunjukkan ponselnya kepada Selena. “Kau sedang hamil, kan?”
Selena mengangguk lemah.
“Berarti tidak ada alasan bagimu untuk menolak.” Steve menyalakan mesin mobil setelah meletakkan ponselnya ke atas dashboard.
“Bagaimana dengan...Eros?” tanya Selena ragu.
__ADS_1
Alis Steve terangkat. “Mengkhawatirkannya, eh?”
Selena memalingkan wajah sambil merona. “Lupakan. Kita pulang sekarang.”
Kedua bahu Steve terangkat. “Tenang saja, kau pikir berapa banyak ajudan yang dia miliki?” katanya sambil melajukan mobil.
**
Steve melempar map berwarna cokelat di atas meja sebelum bergabung bersama Leo dan Eros yang sedang duduk di sofa berwarna hitam itu.
“Emilia adalah keponakan Nyonya Swan, dia mengadopsi Emilia sejak kedua orang tuanya mati bunuh diri.” Steve membuka percakapan. “Ayahnya, Jordan Swan adalah saingan bisnis ayahmu di masa lalu. Perusahaannya bangkrut dan dia sempat ditahan karena kasus suap.”
Leo tertawa hambar. “Emilia menyembunyikan semuanya begitu rapi,” katanya setengah tak percaya. “Bagaimana mungkin? Selama itukah dia berpura-pura? Hanya untuk menghancurkan keluarga William?” Pria itu menyandarkan tubuhnya di kursi dan menghela napas berat.
Steve menjilat bibirnya dan melirik Eros. Luka di punggungnya masih belum kering, tapi pria itu harus mendapat kabar tentang kematian ibunya.
“Dan...Arthur mengatakan bahwa Nyonya William bukan mati karena overdosis, melainkan karena ia sudah meminum racun sebelumnya.” Steve menghela napas. “Emilia mencampurkan racun ke dalam teh yang akan dikonsumsi ibumu sebelum dia pergi ke rumah Nyonya Swan.”
Eros menutup matanya dan menghela napas pelan. “Aku mengerti.”
“Kau sendiri...apa kau sudah mencurigainya sejak awal?” tanya Leo sambil menegakkan tubuhnya dan menatap Eros penuh selidik.
**
Eros menatap pria berbaju tahanan itu dengan tajam. Untuk seseorang yang telah menabrak orang lain dan mendapat hukuman penjara, pria itu tak menampakkan ekspresi menyesal atau pun terpukul.
Memang ada yang aneh sejak awal. Tidak ada mobil yang boleh melaju kencang di sekitar pemakaman seperti itu. Untuk menuntaskan kecurigaannya, Eros diam-diam menemui sang pelaku di penjara.
“Jawab aku dengan jujur, apa kau orang suruhan?”
Pria itu mengangkat kepala. Namanya Roberto. Seluruh tangannya dipenuhi tato dan rambutnya panjang melewati bahu. “Dendamnya sudah terbalas. Nyawa dibayar nyawa.”
“Apa yang kau katakan?”
Roberto hanya menyeringai dan hampir saja Eros kehilangan kendali untuk memukul wajahnya.
“Jangan merasa dirimu sudah menang,” katanya dengan seringai yang semakin lebar. “Kadang terlihat lemah itu hanya kamuflase supaya lawanmu bersikap lengah dan pada saat itu kau bisa menyerangnya balik.”
"Apa yang kau bicarakan?!" tanya Eros tak sabar.
Roberto hanya tertawa ketika para polisi kembali membawanya ke dalam penjara.
Nah, pusing kan? Haha. Maafkan aku, karena gatau aja—dari sudut pandang pembaca—aku sangat suka genre yang kayak gini. Hurt hurt gimana gitu 😂
Dan terima kasih untuk semua yang udah vote komen dan like aku doakan semoga kalian selalu sehat, AMIIN.
__ADS_1
IG : @sadindasis