Terjebak Bersama Sang Iblis

Terjebak Bersama Sang Iblis
Bagian 27


__ADS_3

Selena selalu benci untuk terjebak di dalam mobil bersama Eros, apalagi hujan tiba-tiba turun di tengah malam seperti ini. Tak ada percakapan sejak Selena meminta untuk pulang, bahkan Eros langsung menyetujui tanpa berkata apa pun lagi.


Eros tetap memusatkan matanya pada jalanan di depan dan bersikap sangat tenang sejak Emilia pingsan di tengah pesta. Terlampau tenang malah dan entah mengapa semua itu membuat Selena gusar. Ia benci harus merasa penasaran seperti ini. Ia tidak tahu apa yang tengah dipikirkan Eros, sekalipun tidak pernah tahu.


“Sejujurnya...” Selena memalingkan wajah. Menatap tetesan air yang menghantam jendela mobil di sebelahnya. “...aku tidak mengerti mengapa kau memintaku untuk membuatmu melupakan Emilia.”


Eros terlalu membingungkan. Tapi sedikitnya mungkin Selena mengerti, cinta dan benci itu ada dalam hati Eros saat ini. Pasti tidak mudah melupakan Emilia yang menjadi cinta pertamanya. Benar. Itu adalah cinta. Tatapan hangat dan mesra itu adalah cinta—dulu.


“Kenapa kau menanyakan hal itu?”


“Kau bilang kau membencinya,” pancing Selena. “Lagi pula kenapa harus aku? Banyak wanita yang mengejarmu di luar sana. Aku tidak ingin terlibat apa pun lagi, sungguh.”


Eros melirik Selena dengan ekor matanya. Wajah wanita itu terpantul di jendela mobil. Ekspresinya sendu.


“Aku tidak suka berhutang budi,” kata Eros kemudian.


“Aku tidak pernah menganggap itu sebagai hutang. Anggap saja aku tidak pernah membantumu.”


“Kau keras kepala juga, ya.” Eros terkekeh. “Kita lihat, apa kau masih memintaku untuk melepaskanmu setelah ini.”


Kening Selena mengernyit. Semakin tak mengerti dengan ucapan pria itu, tapi ia terlalu lelah untuk menjawab. Dan tiba-tiba saja rasa kantuk membuat matanya terasa berat. Sedetik kemudian kepalanya sudah terkulai di kursi.


Eros tersenyum miring. Teringat bagaimana ia sudah memasukkan sesuatu ke dalam minuman Selena saat di pesta tadi. “Sepertinya obatnya sudah bereaksi.”


**


“Saya harap Anda bisa lebih memperhatikan makanan dan minuman yang akan dikonsumsi oleh istri Tuan.”


Alex mengangguk sambil membukakan pintu. “Sekali lagi terima kasih.”


“Kalau begitu saya permisi. Selamat malam.”

__ADS_1


Pintu ditutup. Alex kembali bergegas memasuki kamar dan menatap Emilia yang sudah kembali tertidur setelah tadi sempat sadar beberapa saat.


Dokter bilang bahwa Emilia keracunan. Tapi bagaimana bisa? Di pesta ulang tahun Orlando Cloe? Itu terdengar tak masuk akal. Tapi jika kasus ini diselidiki akan sulit bagi Alex, ia harus tetap menjaga hubungan baik dengan Cloe Enterprise. Bisa-bisa tindakannya dikatakan sebagai cara untuk mencemarkan nama baik perusahaan. Dan semuanya akan jadi lebih rumit.


Alex mengusap wajahnya dan menghela napas. Ia hampir saja kehilangan Emilia dan calon buah hatinya. Seandainya dosis racun dalam minuman yang terakhir kali disentuh Emilia itu lebih tinggi, mungkin saja...


Tidak. Tidak. Alex tidak boleh berpikiran buruk. Yang terpenting ia harus menemukan siapa dalang dari kejadian ini.


“Kalian telah membunuh anakku.”


DEG!


Tidak mungkin. Tidak mungkin Eros. Tidak mungkin jika pria itu sampai nekat meracuni Emilia. Eros bukan orang seperti itu. Ya. Bukan.


Alex mengacak rambutnya. Kepalanya pening. Untuk beberapa waktu ia akan membawa Emilia untuk tinggal bersama ibunya. Setidaknya sampai ia bisa menemukan pelakunya.


**


Selena mengerjap pelan, tubuhnya terasa panas dan lemas. Samar, ia bisa melihat sosok pria yang berada sangat dekat dengan wajahnya. Bibirnya menyeringai dan matanya berkilat di tengah keremangan ruangan itu.


Selena tidak tahu dan tidak mengerti tentang di mana atau bagaimana keadaannya saat ini. Saat petir berkilat di atas langit, ia baru menyadari bahwa sosok yang kini duduk di atasnya adalah—


“Eros...”


Tangan kasar dan dingin itu menyentuh pipi dan rahangnya, lalu dunia kembali menjadi gelap.


“Cepatlah tumbuh, anakku.”


**


Selena terperanjat, ia tiba-tiba terbangun meski kepalanya terasa sakit setengah mati. Matanya mengerjap beberapa kali, meski tirai-tirai masih tertutup rapat tapi cahaya mentari mampu menyelusup ke dalam kamar.

__ADS_1


Kamar? Ini bukan kamarnya!


Selena terbelalak. Yang di tempatinya sekarang ini adalah ranjang besar milik...Eros?


“Oh Tuhan...” Selena menutup mulut dengan kedua tangannya. Di balik selimut itu ternyata dia tidak mengenakan sehelai benang pun.


Apa yang sudah terjadi? Mengapa ia tidak ingat apa pun?


“T-Tidak,” katanya menggeleng cepat. “Tidak mungkin!” Keringat dingin muncul di pelipisnya. “TIDAK MUNGKIN!”


Dan teriakan itu terus terdengar diiringi suara pecahan benda yang menyusul kemudian.


**


Entah Steve salah lihat atau tidak, tapi wajah Eros benar-benar terlihat cerah hari ini. Pria itu sedang menyeruput kopi panasnya sambil melihat pemandangan kota dari balik jendela.


“Ingatkan jika aku salah, kau tidak ada hubungannya dengan kejadian semalam, kan?” Meski bukan urusannya tapi Steve tahu Eros orang yang seperti apa. Ia juga masih menjadi teman Emilia sampai sekarang, meski tak dipungkiri ikut merasa sedikit kecewa ketika tahu bahwa Emilia telah membohongi Eros.


“Menurutmu mengapa aku mau datang ke acara membosankan seperti itu?”


Steve tertegun. Si*l. Prediksinya benar. Eros pasti menyusupkan salah satu anak buahnya untuk meracuni Emilia.


Eros berbalik. Pria itu tersenyum, bahkan matanya sampai menyipit. “Kau tahu kabar baiknya?”


Steve menggeleng pelan. Bukan hanya karena tidak tahu, tapi juga tidak mau tahu akan apa yang dikatakan Eros selanjutnya.


“Emilia sedang hamil.” Eros terkekeh sambil memutar-mutar cangkir kopinya dengan gerakan lambat. “Dia masih berhutang satu nyawa padaku.”


Steve menelan ludah. Cinta benar-benar mampu membuat orang berubah menjadi sosok yang sangat mengerikan seperti itu.


Sekarang ia baru mengerti makna dari lirik lagu yang mengatakan bahwa 'terlalu banyak cinta akan membunuhmu'.

__ADS_1


__ADS_2