
Eros memacu langkah cepat, menimbulkan bunyi nyaring di sekitar lorong rumah sakit. Clark—pria yang berdiri di depan salah satu kamar inap VVIP bernomor 1011 itu menyambutnya dengan membungkuk pelan.
“Dokter baru saja memeriksa Tuan Alex.” Clark dengan sigap membuka pintu di hadapannya setelah Eros merespons dengan mengangguk singkat.
Eros menghentikan langkah ketika ia melihat Alex yang duduk menyandar di kepala ranjang sambil menatap ke luar jendela.
Matanya melebar ketika Alex tampak memutar kepala dan menoleh ke arahnya.
Pria itu mengerjap, lalu tersenyum tipis.
“Eros...”
Eros mengusap wajahnya sambil menghela napas lega. Entah mengapa, namun saat ia melihat Alex yang bisa tersenyum seperti itu seolah semua beban terurai dari pundaknya.
Syukurlah. Syukurlah.
**
“Untuk sementara kau akan tinggal di sini sampai kondisimu benar-benar pulih.”
Alex bilang pria itu ingin menghirup udara segar, jadi Eros membawanya ke balkon rumah sakit dengan menggunakan kursi roda.
Eros berdiri di depan pembatas pagar dan menumpukkan kedua tangannya di sana sambil menatap jauh pada pemandangan kota. Sementara Alex duduk di belakangnya dan mengamati setiap pergerakan Eros yang terlihat canggung.
Alex tidak menyangka bahwa ia masih diberikan kesempatan untuk hidup dan ia juga tidak menyangka akan mendapat tatapan khawatir dari Eros setelah sekian lama. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi selama ia dinyatakan koma. Tapi ia tahu bahwa Eros...telah berubah.
Tatapan pria itu berbeda. Tidak ada benci di sana. Tidak ada tatapan dingin dan angkuh, yang terlihat hanya...penyesalan?
“Apa yang telah terjadi selama ini?”
Angin berembus. Rambut Eros yang mulai memanjang tampak berayun, menutupi pandangannya yang sendu.
Dari mana ia harus memulai?
Apa reaksi yang akan ditunjukkan Alex jika pria itu tahu kejadian yang sebenarnya?
Menghirup napas pelan, Eros mendongakkan kepala, menatap langit biru sebelum berkata, “terkadang dalam satu kedipan mata, dunia bisa berubah begitu cepat...” Eros membalikkan tubuh dan menatap Alex. “... tidak. Dunia tidak berubah, tapi manusia yang berubah.” Tenggorokannya tercekat sebelum melanjutkan. “Meski Ibu telah tiada, aku yakin ia senang bisa melihatmu pulih kembali."
Walaupun pada kenyataannya, sampai akhir hayat sang ibu tidak tahu bahwa Alex masih hidup sampai sekarang.
Alex merasa waktu tiba-tiba terhenti saat itu juga. Telinganya berdengung. “Apa....?”
__ADS_1
Rupanya ada banyak hal yang telah ia lewatkan dan itu bukanlah kabar baik. Ekspresi Eros menjelaskan segalanya. Mungkin saja ada yang lebih buruk dari semua itu.
Eros menghela napas pelan dan menutup matanya. Mencoba untuk tak mengacuhkan Alex yang mulai berkaca-kaca dengan pergi dari tempat itu. Namun langkahnya terhenti ketika Alex bertanya, “bagaimana dengan Emilia?”
Eros diam-diam menggigit bibirnya. Ia kembali melanjutkan langkah setelah berkata menyerupai sebuah bisikan, “dia baik-baik saja.”
Akan ada banyak pertanyaan lain yang terucap dan Eros tahu ia harus menyiapkan tisu sebanyak mungkin.
**
Selena masih menggunakan apron bermotif bunga sakura ketika bel rumahnya berbunyi. Matanya mengerjap pelan, menatap Orlando yang berdiri dengan senyum manis dan sesuatu di tangan kanannya.
“Sebelum pulang aku ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja.”
Selena tidak tahu harus bereaksi seperti apa, tapi melihat tubuh Orlando yang setengah menggigil dibalik balutan jas kerjanya, ia tidak tega membiarkan pria itu berdiri di depan pintu lebih lama.
Selena pada akhirnya menggerakkan kepalanya—yang langsung disambut senyum semringah oleh Orlando.
“Untukmu.”
Sebelum Selena berbalik untuk pergi ke dapur dan mematikan kompor, Orlando mencegatnya dan memberikan sebuah bingkisan yang menguarkan aroma harum.
Orlando mengusap tengkuknya dan tersenyum kaku. “Aku melihat toko kue dan tertarik untuk membeli muffin. Aku tidak tahu apakah kau menyukainya atau—“
Ucapan Orlando terhenti ketika Selena tiba-tiba tersenyum kecil.
“K-kenapa?”
“Kau sengaja membeli muffin ini untukku?”
Orlando mengangguk pelan. “Kenapa? Kau tidak menyukainya, ya?”
Selena dengan cepat menggeleng. “Tidak. Justru aku sangat menyukai muffin. Aku tidak tahu mengapa bisa kebetulan seperti ini.”
Orlando mengerjap. “Benarkah?” Senyumnya kembali terbit. “Kalau begitu seharusnya aku membeli muffin yang banyak tadi.”
Selena berbalik untuk pergi ke dapur, hampir melupakan niatnya untuk mematikan kompor. “Tidak perlu, ini sudah cukup kok.”
Orlando mengekor tanpa sadar, saat Selena selesai mematikan kompor ia nyaris terperanjat dan memegangi dadanya karena kaget.
“Kenapa kau ada di sini?!”
__ADS_1
Orlando menilik panci berisi kare dan meneguk ludah. “Kau bisa masak makanan Jepang?”
Selena merona sambil memalingkan wajah. “Itu...hanya sekadar mencoba.”
Alis Orlando terangkat. Sedetik kemudian perutnya berbunyi dengan cukup nyaring, membuat Selena menoleh ke arahnya dan terkekeh. Pria itu mendesis pelan, sungguh memalukan sekali...
Selena berdeham pelan. “Kau tidak keberatan untuk mencoba kare buatanku, kan?”
Orlando mematung. Ajakan makan malam kah? “Umm...ya. Tentu saja,” katanya setelah beberapa saat.
Selena tersenyum kecil, lalu wanita itu berjalan ke arah rak untuk mengambil gelas dan piring, namun perutnya tiba-tiba saja terasa sangat sakit.
“Argh!”
Selena hampir ambruk ke lantai jika saja Orlando tidak menangkap tubuh wanita itu dengan ekspresi bingung dan panik.
“Ada apa?!”
Selena tak menjawab. Wanita itu hanya merintih dengan keringat dingin yang mulai bercucuran di sekitar pelipisnya.
**
“Kita sudah sampai, Tuan.”
Eros membuka matanya. Tubuhnya tetap menyandar di kursi sementara dua kancing kemeja teratasnya sudah terlepas. Pikirannya masih terpaku pada Alex yang hanya termenung saat ia menceritakan semua kejadian selama pria itu koma.
Alex tak berbicara apa-apa bahkan ketika Eros berpamitan untuk pulang. Pria itu amat sangat terkejut dan Eros bisa pastikan bahwa pria itu tengah menangis seharian.
Sambil menghela napas pelan, Eros keluar dari mobil dengan langkah tertatih. Ia memasuki rumah yang tampak lebih sepi dan gelap setelah ia memecat pelayan dengan masal. Hanya ada dua orang pelayan yang tersisa di rumah itu. Ia tidak membutuhkan banyak pelayan karena Selena tidak ada di sana.
Eros menghentikan langkah dan berbalik untuk melihat pintu kamar Selena yang kini tak pernah terbuka lagi dan menampilkan sosok wanita itu. Tanpa sadar ia telah masuk ke dalam kamar dan menyalakan lampu.
Semuanya utuh. Bahkan Selena tidak mengambil satu pakaian pun dari lemarinya. Ranjang itu...Eros duduk di sana dan mengusap ranjang yang entah bagaimana masih meninggalkan aroma bekas tubuh wanita itu.
Cepat atau lambat, ranjang itu akan terisi kembali. Ya. Eros bukan pria yang sabar. Bukan juga pria yang akan melepaskan sesuatu yang menjadi miliknya dengan mudah.
Bayang-bayang tentang Selena pudar ketika ponselnya bergetar dalam saku celana. Ada sebuah pesan muncul bersama beberapa foto yang hampir membuat Eros menghancurkan ponsel dalam genggaman.
Mata Eros berkilat.
Orlando Cloe—mulai sekarang ia akan menandai pria itu.
__ADS_1