Terjebak Bersama Sang Iblis

Terjebak Bersama Sang Iblis
Bagian 56


__ADS_3

Mimpi buruk.


Eros terperanjat. Pria itu mengerjap sambil menghela napas lega.


Ya. Memang mimpi buruk.


Tapi mengapa akhir-akhir ini mimpinya selalu dipenuhi dengan Selena? Selena yang pergi bersama Orlando, Selena yang menangis di depan kedua makam orang tuanya, Selena yang—


“Ungh...”


Benar. Selena ada di sampingnya saat ini. Wanita itu tampak membelakanginya, menampilkan punggung sempit yang putih dan mulus tanpa cela. Rambutnya terurai tak beraturan, namun saat Eros menyentuhnya semua itu terasa sangat halus.


Saat Selena kembali melenguh, Eros menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Menyentuhkan kulit mereka yang tak tertutupi apa pun di balik selimut. Eros selalu merasa seperti ada sengatan listrik setiap kali bagian tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Selena. Dan ketika tangannya tak sengaja menyentuh perut wanita itu, Eros menelan ludah.


Anak.


Seseorang yang akan berharga melebihi nyawanya. Seseorang yang akan tumbuh lebih baik darinya. Seseorang yang tak akan ia biarkan untuk melewati masa sulit seperti dirinya.


Dulu ia menganggap Selena hanya sebatas 'wadah', tapi sekarang...ia merasa Selena lebih berharga dari itu. Perasaan ini memang bukan perasaan berdebar-debar seperti saat ia jatuh cinta pada Emilia, tapi sebuah perasaan nyaman yang tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun—bahkan ibunya sendiri.


Terlalu dini untuk disebut cinta, tapi kepercayaan yang ia miliki untuk wanita itu lebih berharga dari pada cinta itu sendiri.


Ya. Eros percaya bahwa Selena bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya—untuk anak mereka.


Anak mereka...


Eros memeluk wanita itu lebih erat. Seolah-olah ingin melebur wanita itu ke dalam dirinya.


“Maafkan aku,” katanya dengan tatapan sendu. “Maafkan aku...Selena.”


Eros tidak tahu bahwa wanita itu telah terjaga. Saat kembali menutup mata, setetes air mata mengalir di pipinya—jatuh membasahi lengan kekar Eros yang tengah memeluknya sambil terus melafalkan kata maaf.


**


Alex menghela napasnya berulang kali. Ia sempat melirik Andreas yang duduk di sampingnya dan menganggukkan kepala.


Ia kembali melirik bangunan itu dan menutup matanya sejenak sebelum membuka pintu.


Kakinya masih sakit, tapi tak sesakit hatinya ketika melewati lorong demi lorong rumah sakit jiwa itu.


Alex meneguk ludah berulang kali. Ia menatap beberapa pasien rumah sakit jiwa yang tampak berada di sekitar lorong dan menatapnya dengan berbagai macam ekspresi. Lalu saat ia berjalan melewati kelokan, sosok itu muncul bersama seorang perawat berbaju putih yang tengah mendorongnya di atas kursi roda.


Alex mematung.


Tatapan wanita itu kosong, bahkan seolah tak menyadari kehadirannya dan berlalu begitu saja.


Waktu seakan melambat saat Emilia melewati tubuhnya tanpa menoleh sedikit pun.


Tenggorokan Alex tercekat. Hatinya sakit. Pria itu menundukkan kepala dengan kedua tangan yang terkepal erat namun bergetar di saat bersamaan.

__ADS_1


Mengapa semuanya jadi seperti ini, Emilia?


Tunggu. Alex dengan cepat mengangkat kepalanya dan berbalik. Ada yang aneh, perut wanita itu—


“Emilia!”


Semua orang yang berlalu lalang di lorong itu berhenti dan menatapnya, tak terkecuali perawat yang mendorong kursi roda yang diduduki wanita itu.


Alex mencoba berlari meskipun kakinya terasa nyeri.


Perawat itu mengernyit dengan tatapan bingung. “Tuan?”


Alex tak menghiraukan perawat itu dan memilih untuk bersimpuh di hadapan Emilia yang masih menatap kosong namun air mata membasahi wajahnya.


“Emilia...ini aku,” kata Alex dengan nada lirih. “Kenapa...kenapa...kenapa semuanya jadi begini...?”


Air mata sudah tak bisa dibendung lagi. Alex mencoba untuk meraih wajah cantik Emilia agar wanita itu mau menatapnya.


“Emilia...”


Perawat itu mundur beberapa langkah dan menatap pemandangan itu dengan mata yang memerah. Ia mengira bahwa mungkin pria itu adalah suami dari Nyonya Emilia.


Kedua bola mata itu bergerak, perlahan tapi pasti membalas tatapan Alex. Air matanya semakin deras. Tangan kurusnya terjulur untuk menyentuh tangan besar yang tengah merengkuh wajahnya.


“Alex...” Emilia berbisik lirih. Tapi kemudian wanita itu menarik tangannya dengan cepat dan menggeleng panik. “T-Tidak! Kau sudah mati!” Ekspresi wajahnya berganti dengan tatapan penuh ketakutan. “KAU SUDAH MATI! TIDAK MUNGKIN! KAU SUDAH MATI! KAU SUDAH MATI!”


Emilia histeris sambil menjambak rambut hitamnya sementara Alex hanya bisa tertegun melihat keadaan wanita itu.


“ADA HANTU! TOLONG AKU!” Emilia bergerak-gerak di atas kursi roda. “ALEX SUDAH MATI! AKU SUDAH MEMBUNUHNYA!”


DEG!


“Nyonya, tenanglah...” Perawat itu mengusap bahu Emilia. “Tidak ada hantu di sini.”


“AKU INGIN KE KAMAR! AKU INGIN KE KAMAR!” Emilia menjerit histeris.


“Baiklah. Baiklah.”


Alex terbelalak. Ia hanya terdiam sambil menatap kepergian Emilia bersama perawat itu.


Sakit. Hatinya sakit.


“Tidak mungkin...” Pria itu menunduk dan membiarkan air mata menjatuhi lantai di bawah kedua lututnya.


Namun saat suara ketukan sepatu terdengar di belakangnya Alex kembali mendongak dan menoleh.


Nyonya Swan langsung mundur beberapa langkah sambil menutup mulutnya dengan mata membulat. “Oh Tuhan...”


**

__ADS_1


Eros tersenyum tipis sambil melirik Selena yang tengah mencelupkan kakinya ke dalam kolam renang. Pria itu berdiri di depan jendela dengan kedua tangan yang tersembunyi di balik saku celana pendeknya.


Rencananya, sore ini ia akan mengajak wanita itu jalan-jalan di sekitar pantai dan melihat matahari terbenam.


“Kau suka tempat ini?”


Eros telah menahan godaan untuk tak bertanya pada Selena, namun entah mengapa bibirnya seolah tak mau diajak kompromi.


Seperti dugaannya, wanita itu tampak kaget dan menoleh ke arahnya dengan ekspresi galak.


“Sejak kapan kau berdiri di sana?!”


Eros mengangkat bahu. “Hmm? Entahlah.”


Selena kembali memalingkan wajah, memilih untuk menatap pada hamparan air berwarna biru di hadapannya.


“Hei, kau belum menjawab pertanyaanku.” Eros mendekat dan berdiri di samping Selena yang terduduk di tepi kolam renang.


“Suka atau tidak itu bukan urusanmu.”


“Kenapa jawabanmu malu-malu begitu?”


Selena mendongak dan mendelik. “Siapa yang malu-malu memangnya?!”


Eros terkekeh. “Garang sekali,” katanya setengah bergumam.


“Aku bisa mendengarmu.”


Eros berpura-pura menutup mulutnya dengan wajah terkejut. “Oops. Maaf.”


Selena berdecak. Ia berdiri dan bergerak melewati Eros, namun pria itu dengan cepat menahan lengan kanannya.


“Apa lagi?” kata Selena dengan tatapan malas.


Eros tersenyum miring sambil mendekatkan bibirnya pada telinga wanita itu. “Semakin hari kau semakin...seksi—“


BYUR!


Eros terjatuh ke kolam setelah Selena mendorong pria itu dengan pipi merona.


Eros muncul ke permukaan sambil mengusap wajahnya dan terkekeh pelan, apa lagi ketika melihat Selena yang terburu masuk ke dalam kamar.


**


Lampu merah memang menyebalkan, tak terkecuali bagi Steve yang selalu diburu waktu. Jarinya mengetuk-ngetuk setir dengan tidak sabar. Lalu kembali menghela napas saat ia teringat pada Eros yang sedang pergi entah ke mana—mengejar istri ‘tercinta’ yang kabur dari rumah—setelah mengabaikan perusahaan begitu saja.


“Memang b*jingan yang beruntung.” Steve terkekeh pelan setelah mengingat salah satu sahabat karibnya itu.


Kepalanya bergerak untuk memperhatikan kendaraan lain yang juga terjebak karena lampu merah. Langit tampak kelabu dan udara mulai lebih dingin karena musim gugur sebentar lagi akan berakhir.

__ADS_1


Steve mengerjap beberapa kali sebelum memusatkan pandangannya pada mobil yang ada di sebelah kanannya. Jendela mobil berwarna abu itu terbuka dan menampakkan dua sosok lelaki yang ia ketahui sebagai Andreas dan—


ALEX?!


__ADS_2