Terjebak Bersama Sang Iblis

Terjebak Bersama Sang Iblis
Bagian 54


__ADS_3

Selena terbangun dan mendapati napas pria itu berembus di sekitar tengkuknya—bersama tangan kekar yang membelit tubuh dengan posesif.


Eros memang aneh, apa lagi ketika pria itu secara terang-terangan menyatakan bahwa ia tertarik pada Selena. Ya. Selena tidak akan semudah itu percaya. Jikalau apa yang dikatakan Eros adalah kebenaran, Selena tidak mengerti harus berbuat apa, sebab perasaannya sendiri semu.


Selena tidak mau kembali terjebak dalam pernikahan yang sejak awal tidak pernah didasari oleh cinta. Tapi bagaimana jika akhirnya Eros akan mencintainya?


Selena beringsut sambil melirik Eros yang bertelanjang dada di balik selimut putih yang menutupi tubuh mereka berdua. Selena sedikit tersentak ketika pria itu tiba-tiba saja mengubah posisi menjadi telungkup, sehingga bekas luka di punggungnya terlihat.


Luka itu...Eros mendapatkan luka karena berupaya menyelamatkan Selena. Bekas jahitannya terlihat kontras dengan kulit Eros yang putih.


Tanpa sadar Selena menjulurkan tangannya untuk menyentuh bekas luka itu. Kasar dan sedikit timbul. Pasti rasanya sakit sekali. Namun, sesakit apa yang Eros tahan selama ini jika pria itu tak pernah mengeluh untuk luka yang ada di punggungnya?


Selena ingat bagaimana Eros hanya mengernyitkan kening ketika Emilia menusuknya dengan pisau. Pria itu masih bisa bersikap tenang ketika nyawanya berada diujung tanduk. Karena hal itulah Selena takut. Takut melihat Eros yang seolah kebal dengan semua rasa sakit yang diterimanya—kecuali tentang sakit hati.


“Tanganmu dingin.”


Selena terenyak, buru-buru menarik tangannya ketika Eros bersuara dan membalikkan tubuh.


Pria itu menyeringai. “Kenapa?” katanya dengan nada menggoda. “Diam-diam mengagumiku, hmm?”


Selena memutar bola matanya. “Omong kosong.”


Wanita itu hendak beranjak dari tempat tidur tapi Eros dengan cepat menarik tangannya sehingga Selena terjatuh di atas tubuhnya.


“Apa yang kau—emmh!”


Morning kiss.


Pinggangnya didekap dengan erat oleh kedua tangan kekar itu. Selena merasakan jemarinya bergetar ketika tak sengaja menyentuh dada bidang Eros yang tak tertutupi apa pun. Ini terlalu intim.


Selena nyaris menggigit bibir Eros ketika tangan pria itu turun untuk meraba perut buncit dari balik gaun tidur yang ia kenakan. Selena melenguh karena geli dan sensasi yang entah mengapa membuatnya merasa nyaman. Lambat laun ia malah terhanyut dengan perlakuan pria itu.


Tok! Tok! Tok!


Cumbuan Eros berhenti. Sambil setengah menggeram karena kesal, pria itu bangkit dan mendudukkan Selena di atas tempat tidur. Tanpa repot mengambil sesuatu untuk menutupi tubuh bagian atasnya, Eros berjalan santai ke arah pintu dan berbincang bersama seorang pria berjas hitam.


Dan saat itu Selena baru menyadari sesuatu. Matanya menatap nyalang pada sekelilingnya. Ia beringsut untuk berjalan ke arah jendela dan menyingkap gorden berwarna putih yang menutupinya.


Mata Selena terbelalak menatap pemandangan sebuah laut dan kota yang terlihat begitu kecil dari balik jendela. Ini bukan kamar hotel, ini adalah—


“Indah, bukan?” Eros mendekap leher Selena dan mengecup sebelah pipi wanita itu.


Selena menelan ludah. “Aku ada di mana?”


“Jet pribadiku. Sepuluh menit lagi kita akan mendarat di Phuket.”


“Kau menculikku,” kata Selena setengah geram.


“Tidak ada suami yang menculik istrinya.”

__ADS_1


Selena berbalik dan mendongak untuk menatap Eros dengan tajam. “Bukankah pada awalnya hubungan kita hanya didasari oleh balas dendammu pada Emilia?”


Rahang Eros mengeras. “Sekarang tidak ada hubungannya dengan Emilia lagi.”


“Begitukah?” Selena tersenyum miring. “Lalu apa? Karena kau tertarik padaku? Atau karena kau menginginkan anak dalam rahimku ini?”


Sebelah tangan Eros mencengkeram rahang Selena. Pria itu mendekatkan wajah mereka, sehingga ketika Eros berbicara, bibir mereka bersentuhan.


“Semakin lama mulutmu semakin jahat, ya.”


Selena menepis tangan Eros dan melewatinya dengan langkah kasar. “Sejak awal kau tak pernah menghargaiku, untuk apa aku memperlihatkan sopan santunku padamu?”


Eros tercenung.


...menghargai?


**


Kali ini bukan hotel. Eros menyewa sebuah vila di tepi pantai. Seperti sebuah vila pribadi karena tidak ada bangunan lain di sekitar vila itu. Tampak sangat privat dan tertutup.


Selena menikmati semilir angin sambil menatap jauh pada laut yang berwarna biru—sekilas terlihat menyatu dengan langit. Lalu ia mengusap perutnya, teringat bahwa kandungannya hampir menginjak usia lima bulan. Sudah setengah tahun ia terjebak bersama Eros, selama itu juga ia tidak pernah mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh pria itu.


“Bersiaplah untuk makan malam,” kata Eros ketika Selena hendak membuka pintu kamar.


Wanita itu menoleh dan mendapati Eros yang tampak segar dengan rambut setengah basah. “Kenapa aku harus bersiap? Itu hanya makan malam.”


Selena mengangkat bahu tak acuh dan membuka pintu. Matanya membulat melihat kamar yang cukup luas dan dikelilingi jendela kaca dengan tirai-tirai berwarna putih. Di depannya ada sebuah jacuzzi yang bersebelahan dengan kolam renang. Lalu di sekeliling kamar itu yang terlihat hanyalah pemandangan laut yang jernih.


Surga dunia, tidakkah terlalu berlebihan jika Selena menyebutnya begitu?


Selena melepas sandal dan menyentuhkan kakinya pada air kolam. Wanita itu mendesah pelan. Benar-benar sejuk dan dingin. Rasanya ia ingin berendam di dalam kolam itu seharian. Dan kini seolah rasa kesalnya lenyap seketika.


“Hmm? Nyonya Selena?”


Selena terperanjat. Wanita itu dengan cepat berbalik dan mendapati seorang wanita berambung pirang tengah menatap ke arahnya. Wanita itu tampak cantik dan modis.


“Saya Chatherine,” kata wanita itu menunduk pelan. “Tuan Eros menyuruh saya untuk membantu Anda memilih gaun.”


Selena mengernyit. “Gaun?” Ia bahkan tidak membawa secuil pakaian, kecuali gaun tidur yang tengah dipakainya sekarang.


“Ya. Untuk acara makan malam nanti.” Chatherine tersenyum ramah. “Mari.”


**


Alex sudah tidak menggunakan kursi roda lagi. Ia sudah bisa berjalan meski masih harus dibantu dengan penyangga.


Eros menyiapkan sebuah apartemen yang dekat dengan rumah sakit untuk tempat tinggalnya selama ini. Sama seperti Eros, Alex juga sangat membenci rumah sakit.


Sambil menatap pemandangan langit biru, Alex duduk di sebuah sofa dan menyesap teh hangat. Ia belum siap kembali ke rumah dan bertemu dengan Emilia setelah semua hal yang diceritakan oleh Eros waktu itu.

__ADS_1


Rasanya untuk berbicara saja ia kesulitan. Rasa tak percaya dan kecewa seolah membuatnya memilih untuk terdiam dan merenung.


Merenung untuk segala hal, termasuk anak dalam kandungan Emilia. Apa pun yang telah Emilia lakukan, Alex tetap mencintai anak itu. Dan rasa cinta kepada Emilia pun tak semudah itu hilang.


Alex kembali menghela napas. Ia sudah terlalu lelah menangis, namun rasa sakit itu masih saja mengganjal di hatinya.


Tiba-tiba bel apartemen berbunyi. Alex mengerjap pelan, dengan langkah sedikit tertatih ia berjalan ke arah pintu.


Pria itu mematung.


“Oh Tuhan...” Andreas terbelalak dan nyaris ambruk ke lantai. “Tuan Alex...”


“Andreas...”


**


Itu adalah gaun hitam yang begitu indah, Selena mengakuinya. Menjuntai begitu anggun sampai mata kaki dan terbelah di satu sisi—menampilkan kaki Selena yang putih dan jenjang.


Seorang pria menuntunnya ke arah pantai dan di sana ternyata sudah ada Eros yang berdiri dengan setelan serba hitam. Menanti dengan sabar sambil terus menatapnya dengan tajam. Pria itu kemudian mengulurkan tangannya ketika Selena semakin dekat dari jangkauan. Pria yang mengantarnya membungkuk pelan sebelum meninggalkan mereka dalam keheningan.


Eros menaikkan sebelah alisnya ketika Selena tak kunjung menyambut tangannya yang terbuka.


“Aku bisa berjalan sendiri,” tolak Selena terang-terangan.


Eros menggeleng lalu menurunkan tangannya. “Tidak. Kau tidak bisa berjalan sendiri.” Pria itu meraih sesuatu dari dalam saku celananya dan berdiri ke belakang tubuh Selena.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Selena curiga.


“Memberimu kejutan.”


Gelap.


Kedua mata Selena tertutup oleh kain berwarna hitam yang baru diikatkan oleh Eros. Lalu pria itu dengan cepat menahan kedua tangan Selena sebelum wanita itu sempat memberontak.


“Eros!”


“Ya, begitu. Sebut namaku.” Eros berbisik pelan di telinga Selena.


Selena menggeram. “Apa yang ingin kau lakukan?!”


“Sudah kubilang, memberimi kejutan.”


Eros menuntun Selena pada sebuah kapal pesiar mewah yang menanti di tepi pantai. Di tengah-tengah kapal itu telah disiapkan sebuah meja makan dan dua buah kursi beserta berbagai macam hidangan laut.


Eros menarik kursi dan mendudukkan Selena di sana, setelah itu kapal pesiarnya mulai bergerak menjauhi pantai.


Selena mengerjap pelan saat Eros membuka ikatan yang menutupi matanya. Ada berbagai makanan dan lilin-lilin yang menyala di atas meja beralaskan kain putih itu. Dan Selena menyadari bahwa ia sedang berdiri di atas sebuah kapal pesiar yang tengah bergerak menjauhi vila.


“Bagaimana?” Eros duduk di seberang kursi dan menyeringai. “Apa ini terlihat seperti makan malam biasa bagimu?”

__ADS_1


__ADS_2