Terjebak Bersama Sang Iblis

Terjebak Bersama Sang Iblis
Bagian 33


__ADS_3

Selena berpose di atas pasir sambil memandang langit dan tersenyum cerah. Ia mengenakan gaun pantai berwarna biru dan bertelanjang kaki. Sang fotografer dengan sigap mengambil setiap gerak-gerik sang model dengan kamera yang dipegangnya. Beberapa kali terdengar pujian juga decak kagum para kru yang menyaksikan Selena—mampu—mengubah pose dan raut wajahnya dalam setiap detik.


Sam sampai harus menggigit jarinya karena cemas. Selena memang pernah menjadi model untuk produk yang dinaungi oleh Smith Enterprise, tapi Cloe Enterprise tentu setingkat lebih tinggi. Sam gugup setengah mati, apalagi ketika pewaris utama Cloe Enterprise baru saja tiba di lokasi untuk meninjau langsung. Wajah Orlando Cloe sudah tidak asing lagi, pria itu sering muncul di majalah bisnis dan surat kabar.


“Aku dengar kau adalah asisten Selena.”


Sam mengangguk dan tersenyum bangga. Ia menyambut uluran tangan Orlando. “Sam. Senang bisa bertemu dengan Anda.”


“Orlando.” Tautan tangan kedua pria itu terlepas. “Tidak usah terlalu formal, kau bisa memanggil nama kecilku.”


Sam tersenyum kecil. “Aku rasa itu terlalu lancang, mungkin aku bisa memanggil nama kecil Anda saat di luar jam kerja.” Sungguh karisma Orlando sangat berbeda dengan Eros. Seakan keduanya adalah hitam dan putih yang begitu kontras.


Keduanya melempar senyum sebelum sama-sama kembali mengalihkan pandangan pada Selena yang masih berpose di bawah sinar matahari yang makin terik.


“Selena tampaknya tidak kesulitan, padahal dia bilang ini adalah pertama kalinya bekerja di luar studio.”


Apakah itu sebuah pujian?


Sam melirik Orlando sebentar. “Sebenarnya Selena bukan tipe orang yang akan mengeluh, meski mungkin sekarang kulitnya hampir terbakar.” Meski memakai sunblock, tapi cahaya matahari di musim panas benar-benar berada di level yang berbeda. Baru tiga jam saja, warna kulit Selena sudah terlihat satu tingkat lebih gelap.


Orlando mengangguk setuju. “Ya, aku pikir juga begitu. Sayang sekali dia sudah ada yang memiliki, ya?” kelakarnya sambil tertawa.


Sam mengerjap, lalu ikut tertawa canggung. Kekasih? Maksudnya si Eros itu?! Duh, yang benar saja!

__ADS_1


**


“Anakmu?!” Nyonya William terhuyung dan Alex dengan cepat menangkap tubuh wanita paruh baya itu. Kedua bola matanya bergerak tak tentu arah. “Jadi...selama ini...” Nyonya William menelan ludah, tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya. Rasanya terlalu mengerikan. Emilia yang sebelumnya pernah mengandung anak Eros dan kini menikah dengan Alex? Apakah selama ini ia terlalu tinggi menilai wanita itu? Dan Eros...bagaimana mungkin...


“Ibu...” Alex membawa Nyonya William untuk duduk di kursi namun wanita itu kembali berdiri dengan tegak.


“Ibu ingin sendiri untuk beberapa waktu.” Nyonya William berbalik tanpa melirik kedua putranya. Seorang pelayan dengan sigap menuntun wanita itu menuju kamar.


Alex termangu. Ia tak menyangka Eros akan membeberkan rahasia itu kepada ibu mereka. Apa yang akan terjadi setelah ini? Ia tidak ingin semuanya semakin kacau. Pernikahannya baru seumur jagung dan Emilia baru saja mengandung calon bayinya.


“Kau.” Alex menatap Eros dengan napas tercekat. Entah apa yang ada di pikiran Eros, yang jelas sekarang ia tahu bahwa pria itu memang benar-benar menginginkan kehancurannya. “Iblis.”


Eros menatapnya dengan datar. “Kau adalah orang kedua yang mengatakan itu.” Ia melewati tubuh Alex yang sudah mengepalkan kedua tangannya. Lalu berkata, “semoga keponakanku lahir dengan selamat.”


Suara kecupan terdengar.


Emilia mematung. Tubuhnya bergetar saat Eros berbisik, “jangan lupa datang ke acara pernikahanku, Kakak Ipar.”


**


Ponsel Eros bergetar ketika mobilnya terjebak di lampu merah. Satu pesan muncul—berisi beberapa foto Selena yang sedang berpose di tepi pantai. Lalu, foto terakhir menunjukkan interaksi antara Selena dengan Sam dan juga Orlando. Mereka menampakkan wajah ceria dengan senyum lebar, seperti sedang bercakap sesuatu yang menyenangkan.


Eros menatap foto itu cukup lama. Tatapannya terpusat pada Selena yang tengah tersenyum lebar. Tangannya secara tak sadar menyentuh layar ponselnya, seakan bisa membelai wajah Selena secara langsung. “Sudah lama sekali...sejak ia menunjukkan ekspresi seperti ini.”

__ADS_1


Lampu merah berganti. Suara klakson mobil mulai bersahutan dengan tak sabar ketika Eros tak kunjung melajukan mobilnya.


**


Selena senang semuanya bisa berjalan lancar hari ini, hanya tersisa satu hari lagi untuk menyelesaikan pemotretan dengan pihak Cloe Enterprise. Mungkin ia memang sedikit risi karena terus dikuntit oleh orang suruhan Eros. Tapi kehadiran Sam dan para kru yang terus memuji dan menyemangatinya mampu membuat Selena merasa sedikit melupakan segala beban hidupnya. Dugaannya benar, jauh dari hiruk pikuk kota dan berada di antara orang-orang baik bisa menjadi suatu penyembuhan tersendiri. Suatu saat nanti, saat ia beranjak tua, ia bermimpi untuk tinggal jauh dari kota dan menanam bunga beserta buah-buahan di sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu.


Senyum Selena kembali hilang saat ia menginjakkan kaki di rumah yang entah sejak kapan sudah ia hafal betul setiap lekukannya. Setelah ia menaiki tangga, ada Eros yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan tangan yang terlipat di dada. Pria itu hanya menggunakan jubah mandi berwarna hitam dengan rambut yang sedikit basah.


“Tampaknya kau bekerja keras hari ini.” Eros menyadari bahwa kulit Selena sedikit gelap dan memerah. “Apa kau bersenang-senang?”


Sebelah alis Selena terangkat. “Aku lelah,” katanya kemudian, memilih untuk tak meladeni lebih jauh. “Hari ini aku tidak ingin berdebat denganmu.”


Eros menarik napas, lalu mendekati Selena yang juga berjalan ke arahnya—ralat—ke arah pintu. Matanya terpaku pada bagian atas tubuh wanita itu. “Tapi dengan kulit seperti itu...kau terlihat...seksi?”


Selena mendelik. “Kau mabuk.” Tentu saja ia heran dengan ucapan Eros yang mulai terdengar tak masuk akal. Apalagi ketika pria itu membelai lengannya yang terbuka. “Apa—“


Selena terbelalak. Tengkuknya ditahan oleh lengan kekar Eros, sementara sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.


Entah yang ke berapa.


Mereka sudah sering terlibat dalam adegan ini, tapi tetap saja perasaan Selena selalu kacau. Otaknya tak bisa berpikir jernih. Sebagian besar adalah rasa jengkel karena pria itu selalu memperlakukan Selena sesuka hati.


Eros jelas tidak mabuk. Selena tidak mengecap rasa alkohol dari bibir tipis pria itu. Dalam sisa kesadarannya Selena mencoba melepas pagutan itu. Sedikit meronta, lalu Eros melepaskannya. Meninggalkan sedikit rasa basah di sudut bibirnya.

__ADS_1


Selena sudah siap melayangkan segala protesnya namun terkesiap ketika melihat tatapan Eros yang terlihat sedikit...sendu?


“Selena,” panggilnya penuh khidmat. Selena terpaku. Tak mampu bergerak ketika Eros kembali memajukan tubuh. Jemarinya mencoba menjangkau Selena namun pada akhirnya hanya sanggup menggenggam udara. “Bisakah...kau tersenyum padaku?”


__ADS_2