
Nyonya William menarik napas pelan sambil melirik Emilia yang duduk di seberang sofa. Keadaan wanita itu tentu tak lebih baik dari keadaannya. Tak sangka dalam waktu yang begitu cepat ia bisa kehilangan semuanya. Ini sangat berat dan nyaris membuatnya ingin meminum puluhan pil penenang. Tapi saat mengingat Eros dan janin yang ada di rahim Emilia, Nyonya William kembali merenungkan semuanya.
“Tinggallah bersamaku,” katanya membuka percakapan. Emilia adalah wanita sepertinya, bagaimanapun ia tidak bisa mengabaikan wanita hamil begitu saja.
Emilia dengan mata bengkaknya mendongak. “Aku akan kembali ke rumah.”
Nyonya William menggeleng tegas. “Kau dan Alex tidak bercerai, jadi tinggallah bersamaku.” Meski sisa-sisa kekecewaan masih membekas di hatinya.
Emilia kembali menunduk. Sungguh rasanya masih sakit sekali setelah kehilangan Alex secara tiba-tiba. Yang paling menyakitkan karena anaknya akan terlahir tanpa sosok seorang ayah sebagaimana Alex terlahir tanpa sosok seorang ibu.
“A-aku...” Emilia terisak. “Maafkan aku, Bu...” Tubuhnya tiba-tiba merosot ke lantai untuk memeluk kedua kaki Nyonya William.
Wanita paruh baya itu terkesiap. “Apa yang kau lakukan?”
“Maafkan semua dosa-dosaku di masa lalu. Maafkan aku karena telah menyakiti Eros dan Alex...”
Nyonya William menghela napas sambil mendongak. Menahan air mata yang hendak turun di pelupuk mata. Ia tetap tegar untuk anak yang ada di rahim Emilia. Anak Alex. Cucunya.
“Berdirilah, jangan begitu.” Nyonya William merengkuh tubuh Emilia dan tersenyum hambar. “Kau harus kuat untuk anakmu.”
Tangis Emilia semakin keras. Ia memeluk tubuh mertuanya dan menumpahkan semuanya di sana.
Tuhan pasti sedang menghukumnya. Tuhan pasti sedang memberinya pelajaran.
**
“Kakak akan selalu menyayangimu Eros...”
Eros terperanjat. Kedua matanya mengerjap cepat, menatap langit-langit kamar.
Mimpi. Semua itu hanya mimpi.
Menyadari cahaya mentari yang masuk melewati celah jendela dan menerpa sebagian ranjang, Eros yakin ia akan datang terlambat ke kantor. Meski masih dalam keadaan berkabung tapi ia selalu dituntut untuk menjadi profesional. Beruntung karena ia punya Steve yang akan selalu mengerti tentang keadaannya.
Sambil menghela napas, pria itu beringsut, menyebabkan selimut berwarna abu-abu itu merosot dari tubuhnya. Kepalanya sakit, seolah mau meledak saat itu juga. Tapi ia tahu, seorang laki-laki tidak boleh menunjukkan kelemahannya. Sama seperti ia menyembunyikan semua kepedihannya kepada semua orang dengan tatapan dinginnya—dan tak mau mengakui bahwa ia menangis di hadapan Selena semalaman.
Sebelum berjalan menuju kamar mandi, ponsel yang tergeletak di atas laci bergetar berulang kali. Eros meraih benda persegi panjang itu dan mendapati banyak pesan dan panggilan masuk, selain dari kedua sahabatnya Steve dan Leo, ada juga pesan dari ibunya dan...Emilia.
“Tolong jaga anakku dan Emilia.”
S*al!
Kenapa kalimat itu terus berputar di kepalanya?!
**
Sam hanya mematung untuk beberapa detik, mencoba mencerna sosok seorang wanita yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu apartemennya meski matahari baru saja menyingsing.
__ADS_1
“Sam...” kata Selena memeluk pria itu penuh haru. “Maafkan aku...sungguh!”
Sam menghela napas pelan sambil membalas pelukan Selena. Kepalanya menggeleng. “Tidak. Seharusnya aku yang meminta maaf.”
Selena melepas pelukannya dan menatap pria itu sebelum berkata, “banyak hal yang ingin kuceritakan padamu.”
Sam mengangguk cepat. Sempat merasa bersalah karena telah mengabaikan Selena selama beberapa hari ini. Selain itu, ia juga sudah mengetahui kabar duka dari keluarga William.
“Masuklah.”
**
“Jadi...kenapa kau mau menikah dengannya?” Sam meletakkan secangkir teh hangat di atas meja, meski Selena malah berdiri di dekat jendela apartemen.
Tidak ada jawaban untuk beberapa detik. Selena kemudian menoleh dengan tatapan ragu. “Sam...saat ini aku sedang hamil.”
“Pfffrrt—“ Teh yang baru saja disesapnya kembali menyembur keluar. Sam menatap Selena dengan mata terbelalak. “APA KATAMU?!”
Sam lekas menghampiri Selena setelah menyimpan cangkir tehnya. Menatap wanita yang kembali mengalihkan pandangan ke luar jendela.
“Kau—bagaimana mungkin?!” kata Sam tak habis pikir. “Oh Astaga...si b*jingan itu benar-benar minta dihajar rupanya!”
Selena diam-diam menghela napas. Ia teringat kejadian semalam, di mana Eros tampak begitu rapuh dan tersiksa. Mereka juga berpelukan sampai pagi, tapi sebelum pria itu terbangun, Selena sudah menyelinap keluar dari kamar terlebih dahulu.
Di dalam rahimnya ada buah hati Eros. Tapi setelah meninggalnya Alex, celah begitu terbuka untuk Eros kembali pada Emilia. Seandainya itu terjadi, apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia pergi dan membesarkan anaknya seorang diri?
“Maaf karena aku tidak bisa menjagamu,” kata Sam penuh penyesalan. Ia sudah menganggap Selena seperti adik kandungnya sendiri. “Aku selalu ingin membantumu tapi pada akhirnya aku malah menjadi seorang pengecut.”
Selena memejamkan mata, sementara tangannya memeluk tubuh Sam dengan erat. Bahu itu hangat, seperti milik ayahnya. Ia sangat bersyukur masih memiliki Sam yang mau mendengar segala keluh kesahnya.
“Kau telah membantuku begitu banyak, jangan menyebut dirimu sebagai seorang pengecut.”
Sam mengelus kepala Selena dengan sayang. Kasihan sekali wanita itu. Mengapa nasibnya begitu malang?
“K*PARAT!”
Selena otomatis membuka mata saat tiba-tiba saja tubuh Sam direnggut paksa—dibarengi suara debuman yang begitu mengerikan.
BUGH!
“SAM!” Selena dengan cepat menahan lengan Eros—yang entah bagaimana sudah berdiri di sana dan siap melayangkan pukulan kedua.
“Lepaskan,” kata Eros dingin.
Selena menggeleng cepat, semakin memeluk lengan kekar pria itu. “Jangan!” Ia menatap Sam yang tersungkur di lantai dan memegangi sudut bibirnya yang berdarah. Pukulan Eros tampaknya bukan main-main. Pria itu benar-benar berniat membunuh Sam.
“Lepaskan kubilang!”
__ADS_1
“Ada apa denganmu?!” tanya Selena sambil memalingkan wajah Eros dengan kedua tangannya. Menghalau sang pria untuk kembali memberikan bogem mentahnya pada Sam.
Tatapan itu sangat dingin, tapi juga mengobarkan api. Eros benar-benar marah.
“Kau!” tunjuknya pada Selena. “Pergi dari rumah tanpa seizinku dan berpelukan dengan pria lain! Kau masih bertanya ada apa denganku?!”
Selena mengerjap. Apa yang dia katakan?!
“Kau tahu Sam itu bukan orang lain untukku!”
“Oh, jadi dia orang spesial bagimu?!”
Selena terbelalak, kemudian menghela napas kasar. “Sudahlah, terserah apa katamu,” katanya sambil mendekati Sam dan berjongkok.
Namun Eros kembali bergerak dengan cepat untuk meraih tubuh Selena. “Mau apa kau?!”
“Lama-lama aku muak juga padamu.”
BUGH!
Kali ini Sam yang tiba-tiba bangkit dan memberikan pukulan tepat ke arah wajah Eros. Satu sama. Sudut bibir mereka sama-sama berdarah.
“CUKUP!” teriak Selena sambil berdiri di tengah-tengah. “APA KALIAN ANAK KECIL?!” katanya tersulut emosi.
Kedua pria itu hanya saling menatap dengan tangan terkepal erat.
Selena mendesah. Ia melayangkan tatapan maaf pada Sam sebelum berkata pada Eros, "ayo pulang."
**
“Kau tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku?!” kata Eros ketika kembali ke rumah sambil menatap Selena yang menaiki tangga dengan cepat.
Wanita itu menoleh sebentar. “Tidak ada yang perlu kujelaskan!” Untuk kemudian kembali meniti tangga menuju kamar.
"Oh ya? Bahkan setelah terang-terangan berselingkuh dan memeluk pria lain?"
Selena mendelik. "Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kau ucapkan!"
Tak sulit bagi Eros untuk menyusul Selena dan kembali berdiri di hadapannya. “Kau istriku.” Kalimat itu dibarengi nada tegas dan tak ingin dibantah. “You’re mine.”
Selena mengernyit. “Milikmu?” katanya setengah tertawa, mengejek. "Sejak kapan aku menjadi milikmu?" tanyanya dengan nada menantang.
Selena tidak mengerti apa yang menjadi dasar Eros memukul Sam padahal jelas tidak ada perasaan apa-apa di antara mereka, kecuali sebatas status suami istri.
Daripada menjawab, Eros dengan tak sabar—malah—menarik kepala Selena dan mencium bibirnya. Menggigit sedikit bagian bawah benda kenyal itu sehingga sang wanita merintih.
BRUK!
__ADS_1
Ciuman terlepas. Keduanya menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Emilia dan Nyonya William berdiri di dekat tangga dengan wajah terkejut.