Terjebak Bersama Sang Iblis

Terjebak Bersama Sang Iblis
Bagian 45


__ADS_3

“Yo!”


Steve mendesah lega saat melihat Eros yang baru masuk ke dalam ruangan dengan wajah datar. Semenjak Eros diangkat menjadi direktur untuk menggantikan posisi Alex, ini adalah pertama kalinya sang pria kembali mengunjungi perusahaan yang telah susah payah dibangunnya.


“Akhirnya kau ke sini juga.” Pria itu bangkit dari kursi dan memeluk Eros sebentar. “Hmm? Kenapa tanganmu?”


Eros melengos dan duduk di sofa hitam yang menjadi favoritnya di ruangan itu. “Bukan apa-apa.”


Steve mengekor dan duduk di seberang sofa yang ditempati Eros. Tatapannya menyelidik. “Apa ada hubungannya dengan Selena?” tebak pria itu.


Eros hanya meliriknya sebentar, lalu kembali memalingkan wajah tanpa berkata apa pun lagi.


Steve tersenyum miring—awalnya—lalu terkekeh pelan. “Aku benar-benar tidak bisa menebak isi kepalamu.”


Eros bangkit dari kursi dan berjalan ke ujung ruangan untuk mengambil sebotol anggur lalu menuangnya pada gelas tinggi.


Senyum di bibir Steve hilang saat ia kembali bertanya, “apa kau mulai jatuh cinta padanya?”


Eros menyesap anggurnya sebentar. Cukup lama pria itu terdiam sebelum menjawab, “cinta? Entahlah...”


“Kau tidak menyangkal.” Steve mencoba melirik Eros dari ekor matanya meskipun itu tak berhasil kecuali ia membalikkan tubuh. Eros adalah orang yang tegas dan tak segan-segan. Tapi jawabannya tadi seolah menggambarkan bahwa pria itu mulai goyah. Mulai tak yakin dengan dirinya sendiri.


Eros menarik napas pelan. “Ada masalah di perusahaan?”


“Sekarang kau mengalihkan pembicaraan, eh?”


Eros menyimpan gelasnya dan melirik punggung Steve sambil melipat kedua tangan di dada. “Justru kau yang aneh. Sejak kapan kau menjadi seperti Leo?”


Steve menarik napas, lalu bangkit dari kursi dan berbalik. “Terkadang aku merasa bahwa aku sangat mengenalmu, tapi setelah aku pikir-pikir lagi, ternyata aku tidak tahu apa-apa tentangmu.” Kakinya maju satu langkah. “Apa aku salah menilaimu selama ini?”


Eros tak menjawab. Hanya menatap Steve tanpa ekspresi.


“Aku peduli padamu,” kata Steve tulus. Pria itu memalingkan wajah untuk berganti melihat langit dan awan yang berarak di sekitarnya. “Jika kau tak sanggup lagi, biarkan saja. Lepaskan semua dendam itu ibarat melepas duri yang menancap di kakimu. Memang sakit, tapi itulah caranya untuk sembuh.” Steve tersenyum kecil. “Tidak ada yang perlu kau buktikan karena dunia tidak akan peduli. Kau hanya perlu menjadi diri sendiri. Jangan pernah berkata ‘tidak' bila hatimu memang berkata ‘iya’.”


Eros mendengus pelan. Tanpa mengacuhkan ucapan Steve pria itu berjalan menuju pintu keluar. Tapi Steve kembali menginterupsi, membuat Eros harus menahan langkahnya di depan pintu.


“Kau sudah jatuh padanya, Eros,” kata Steve serius. “Percayalah, kau hanya tidak ingin mengakuinya bukan?”


Terjebak di dalam permainan sendiri itu memang miris.


BRAK!

__ADS_1


Pintu ditutup dengan keras—menyisakan Steve yang hanya bisa mengusap wajah sambil menghela napas.


Sepertinya ia terlalu banyak bicara, tapi anehnya ia tidak menyesal setelah mengatakan semua itu pada Eros.


Ya. Semuanya harus segera diakhiri sebelum ada korban lagi.


**


“Nyonya Selena sedang hamil.”


Itu yang dikatakan Arthur ketika Nyonya William baru kembali dari makam Alex dan suaminya.


Kepalanya mendadak pusing dan tubuhnya limbung sehingga para pelayan dengan sigap membawanya ke kamar. Sementara Emilia sedang berkunjung ke rumah ibu kandungnya untuk menginap beberapa hari.


Nyonya William tidak tahu harus berbuat apalagi. Satu dari sekian juta, mengapa harus Selena?


Apakah Tuhan sengaja menghadirkan wanita itu di tengah kehidupannya untuk memberinya pelajaran, lagi? Kini malah mengandung anak Eros. Anak yang mengandung darahnya juga. Keturunannya.


Sambil memijat pelipisnya Nyonya William berkata kepada Arthur yang berdiri samping tempat tidurnya. “Pastikan bahwa bukti-bukti tentang kecelakaan itu sudah dimusnahkan.” Ia menelan ludah. Awal atau akhir, semuanya pasti akan terbongkar. “Tetap awasi Eros dan Selena.”


Arthur mengangguk pelan. “Saya mengerti.”


“Baik, Nyonya.” Arthur membungkuk singkat sebelum undur diri dan mengunci pintu dengan rapat.


“Ugh!” Nyonya William memegangi dadanya yang terasa sesak. Dengan tangan gemetar ia meraih obat penenang yang terletak di atas nakas. Kepalanya semakin lama semakin terasa sakit dan berat.


“Bagaimana ini? Rasanya aku tak sanggup lagi...” Nyonya William terisak sambil menatap belasan pil di tangannya. Sebagian sudah jatuh dan berserak di bawah tempat tidur. “Aku adalah manusia yang tak berguna!” katanya putus asa sambil memukuli dadanya berulang kali. Berharap bahwa sesak dan sakit itu hilang. Tapi nyatanya sesak itu semakin menjadi, dengan tangan gemetar ia memasukkan pil-pil itu ke dalam mulutnya.


“Maafkan ibu...maafkan ibu...”


**


Saat kembali ke kantornya, Eros malah mendapati Orlando Cloe sedang duduk di kursinya dengan senyum yang hampir membuat matanya menghilang.


Eros menghela napas sambil melirik pria itu dengan tatapan malas. “Ada apa?”


Senyumnya masih mengembang saat pria itu berkata, “siapa dirimu sebenarnya?”


Eros mengernyit. “Jika hanya ingin membual, lebih baik segera kembali ke kantormu.” Pria itu menyingkirkan Orlando dari kursinya. Mengklaim kembali tempat duduknya. Miliknya.


Ekspresi Orlando berubah serius, namun gesturnya tetap santai dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Kau...” Ia memberi jeda. “...mengerikan.”

__ADS_1


“Aku tidak ada waktu untuk meladeni semua omong kosongmu, Cloe,” Eros memberi peringatan. Ia adalah pria dengan kesabaran terbatas—tidak—ia tidak mempunyai rasa sabar sama sekali.


“Kau tahu seharusnya kau tidak duduk di kursi itu.”


Tatapan Eros semakin tajam.


“Berapa banyak kebohongan yang kau ciptakan di depan banyak orang, Eros?”


Andreas melirik pintu yang terbuka sedikit sementara ia membawa beberapa berkas yang perlu ditanda tangani. Berniat masuk tapi samar terdengar suara Eros menyahut seseorang—yang entah siapa—karena ia baru kembali setelah istirahat makan siang.


“Apa yang sedang kau bicarakan sebenarnya?” tanya Eros geram.


Menguping bukan kebiasaannya, jadi Andreas memilih untuk pergi dari tempat itu dan menutup pintu tanpa suara. Tapi—


“Apa Alex benar-benar sudah meninggal?”


Andreas terbelalak. Tangannya memegang kenop pintu dengan erat, hilang sudah niatnya untuk pergi dari tempat itu.


“Katakan bahwa ini tidak ada hubungannya denganmu, Eros.”


**


“Keadaannya sangat kritis.”


Eros menatap beberapa perawat yang tengah menangani Alex di ruang operasi dari balik jendela.


“Kemungkinan dia hidup, sangat kecil sekali.”


“Bagaimana mungkin kau bisa berkata seperti itu seolah kau adalah Tuhan?” kata Eros tajam.


Dokter itu menundukkan kepala. “Sebagian tubuh Tuan Alex hancur dan—“


“Aku dengar pengobatan di Singapore adalah yang terbaik.”


“Ya?” Dokter itu kembali mengangkat kepala dengan tatapan bingung.


“Kirim Alex ke Singapore dan buat surat kematiannya. Pastikan tak ada yang mengetahui hal ini.”


“Tapi Tuan—“ ucapan sang dokter terhenti ketika Eros menyudutkan pria itu ke dinding dan mencengkeram kerah kemejanya.


“Lakukan jika tidak ingin kepalamu hancur saat ini juga.”

__ADS_1


__ADS_2