
“Pergi dari rumah dengan keadaan hamil...itu memang sedikit berisiko. Aku harap kau bisa menjaga kandunganmu dengan baik.” Orlando tercenung saat mengatakan kalimat itu. Meski ia sudah mengira, tapi tetap saja merasa tidak percaya bahwa Selena akan memiliki anak dengan Eros.
Selena tersenyum tipis, lalu membungkuk pelan. “Terima kasih karena sudah mengantarku ke klinik,” katanya sebelum berbalik dan membuka pintu.
Tapi Orlando kembali mencegat wanita itu dengan menahan sebelah tangannya. “Aku akan pulang besok pagi. Aku berpikir apakah perlu menambah satu hari lagi untuk memastikan bahwa kau akan baik-baik saja?”
Selena menatap tangan yang mencengkeram sebelah lengannya dengan tatapan bingung. Sejak kapan mereka bisa menjadi akrab? Bahkan Orlando tampak tidak canggung untuk melakukan kontak fisik dengannya.
Menyadari ekspresi tidak nyaman yang ditunjukkan Selena, Orlando dengan cepat menarik tangannya. “M-maaf!” katanya sambil memundurkan langkah. “Aku hanya...mengetahui seorang wanita hamil tinggal seorang diri, aku—“
“Kau pria yang baik.” Selena tersenyum seraya mengangguk kecil. Pria itu akan sangat terlihat berkarisma saat berada di meja kerjanya tapi saat berbincang dengannya di luar jam kerja, Orlando tiba-tiba saja berubah menjadi sosok pria yang begitu hangat.
Berbeda sekali dengan Eros.
“Jadi...kau akan baik-baik saja, kan?”
Selena mendongak. “Kau...tidak boleh ‘terlalu baik' pada seorang wanita.”
“Hmm?”
Selena dengan cepat menggeleng. “Pulanglah. Dokter bilang aku hanya perlu istirahat. Jadi, jangan khawatirkan aku.”
Khawatir?
Keduanya sama-sama tercenung.
Selena tertawa kering menyadari kata-katanya yang terlalu berlebihan. “Maksudku kau tidak perlu—“
“Kau tidak salah,” sela Orlando cepat. “Aku memang mengkhawatirkanmu.”
Selena menatap lantai di bawah kakinya dan menggigit bibir pelan. Wanita itu berbisik, “terima kasih...”
Orlando tersenyum kecil. “Jangan sungkan begitu, anggap saja bahwa kita telah menjadi teman.”
Ya. Teman.
Hanya sekadar teman—untuk saat ini.
Meskipun Orlando mengakui bahwa ia ingin mempunyai hubungan yang lebih dari sekadar 'teman'. Selena adalah sosok yang sangat mengagumkan. Tipe wanita yang tangguh dan mandiri. Tipe yang tidak akan mengeluh meski kehidupannya begitu pahit dan keras. Dan Orlando tidak heran jika Eros memilih untuk ‘mengikat' wanita itu.
Tapi menggenggam wanita ibarat menggenggam pasir. Semakin kuat kau menggenggamnya, semakin pasir itu akan mencoba keluar dari tanganmu.
Orlando menarik napas pelan. “Jika ada kesempatan aku akan kembali lagi untuk melihat keadaanmu.”
__ADS_1
Selena mengangguk. Senyumnya tulus. “Sekali lagi terima kasih. Aku telah banyak merepotkanmu hari ini.”
Orlando menggeleng pelan. “Tidak. Aku senang bisa membantumu.”
“Baiklah.” Selena menyentuh bahu Orlando agar pria itu berbalik. Sedikit mendorong tubuh tinggi sang pria—mengusirnya secara terang-terangan. “Kembalilah ke hotel dan beristirahat!”
Orlando terkekeh. Ia melihat Selena tersenyum ke arahnya sebelum memasuki rumah dan menutup pintu. Pria itu tak henti mengulas senyum hingga memasuki mobil. Sebelum kendaraan itu melaju, Orlando sekali lagi melirik ke arah rumah mini malis itu dan menyentuh bekas tangan Selena di bahunya.
Itu...terasa hangat—hingga menyentuh ke dalam hatinya.
**
Setelah kembali dari Jepang, Orlando baru menyadari bahwa ia lupa meminta nomor ponsel Selena sehingga ia tidak bisa menghubungi wanita itu untuk menanyakan kabar.
Sepanjang perjalanan ke kantor, ia tidak bisa berhenti memikirkan Selena. Apakah wanita hamil memang semenawan itu?
Tidak. Tidak.
Meskipun Selena sudah tidak mengenakan cincin pernikahannya, wanita itu belum berpisah secara resmi dengan Eros.
Tunggu—memangnya apa yang ia pikirkan?
Orlando mendesah pelan sambil mengalihkan perhatiannya ke luar jendela, namun ia baru menyadari bahwa mobil yang ditumpanginya tiba-tiba saja berhenti.
Sang sopir menoleh. “Itu...”
Orlando mengernyit. Ia melihat ada beberapa mobil yang berhenti di depan mobilnya. Lalu orang-orang dengan setelan hitam keluar dari kendaraan beroda empat itu. Cukup banyak. Dan mereka sedang berjalan ke arah mobilnya.
Orlando bergegas membuka pintu dan menghampiri orang-orang itu. “Siapa kalian?”
Keenam orang itu berdiri mengelilinginya. Orlando mengernyit, namun ketika satu sosok lagi muncul dari dalam mobil—ia langsung mengerti.
Eros William berjalan dengan angkuh sambil membuka kaca mata hitamnya. Manik elangnya langsung tertuju pada Orlando yang juga tengah menatapnya dengan ekspresi datar.
“Bagaimana perasaanmu setelah kembali dari Jepang, hmm?”
Orlando memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan terkekeh pelan. “Jadi kau sudah mengetahuinya, ya...”
“Jangan meremehkanku,” kata Eros tajam. “Bahkan jika itu ke ujung dunia, aku akan tetap menemukannya.”
“Posesif sekali,” kata Orlando dengan tatapan malas. “Sayang sekali aku tidak punya waktu untuk meladenimu. Jadi, bisa kau menyingkir? Aku ada rapat penting hari ini.”
Orlando berbalik. Hendak kembali menuju mobil namun orang-orang berjas hitam itu dengan sigap mengangkat senjata api ke arahnya.
__ADS_1
“Aku belum selesai bicara.”
Orlando tersenyum jengah sambil kembali menghadap Eros. “Aku tahu apa yang kau inginkan, tapi aku tidak akan berbicara apa pun. Kau mengerti?”
“Kau yang tidak mengerti. Aku bilang aku belum selesai bicara.” Eros memiringkan kepala. “Itu artinya aku tidak membutuhkan penjelasan apa pun darimu.”
“Ah!” Orlando menjentikkan jarinya. “Kau ingin menggertakku, eh?”
“Menggertak?” Eros merebut salah satu senjata api dari orang suruhannya dan—
BANG!
“Aku sudah tidak peduli lagi kau siapa, jika tanganmu berani menyentuh milikku, itu berarti pilihanmu hanya dua; mundur atau aku tak akan segan menembak kepalamu.”
“Milikmu?” tanya Orlando dengan pandangan remeh. “Mengapa kau masih menyebut dia sebagai milikmu sementara dia pergi atas keinginannya sendiri?”
“Apa?” Eros tersenyum kecut. “Beraninya kau—“
Trak!
Eros mematung. Ia merasakan ujung benda itu menyentuh belakang kepalanya.
Tujuh lawan sepuluh.
Orlando tersenyum puas. Orang suruhannya datang di waktu yang tepat dan kini keadaannya berbalik. Ia unggul.
“Sudah dulu, ya.” Orlando berbalik dan mengibas. “Nanti aku bisa telat, dah!” Namun sebelum memasuki mobil langkahnya kembali terhenti. Ia menoleh ke arah Eros dengan ekspresi serius. “Daripada mengklaim Selena sebagai milikmu lebih baik kau belajar untuk memahami perasanmu sendiri dan tentunya—orang lain.”
**
Hari itu tiba-tiba hujan turun. Selena baru saja kembali dari klinik setelah melakukan pemeriksaan terhadap kandungannya yang mulai membesar. Wanita itu tampak nyaman dalam balutan dress floral mencapai mata kaki dan sebuah kardigan rajut berwarna cokelat.
Air menggenang di sepanjang jalan, membasahi kelopak dan dedaunan yang berserak. Untungnya hujan tidak terlalu besar, jadi Selena tidak perlu repot-repot mengangkat gaunnya.
Tapi Selena merasa ada sesuatu yang aneh. Wanita itu menghentikan langkah, lalu ragu-ragu melirik ke belakang tubuhnya.
Ada sosok pria yang juga menghentikan langkah tak jauh dari tempatnya berdiri, namun Selena tidak bisa melihat wajahnya karena terhalangi oleh payung berwarna hitam milik sang pria.
Mencoba tak acuh, Selena kembali melanjutkan langkah. Namun tak lama setelah itu tiba-tiba seseorang menarik bahunya sehingga membuat payung yang digenggamnya terjatuh ke aspal.
“I got you.”
Selena mematung.
__ADS_1
Tatapan tajam pria itu muncul dari balik payung hitam yang menutupinya.