Terjebak Bersama Sang Iblis

Terjebak Bersama Sang Iblis
Bagian 31


__ADS_3

Selena memandang takjub pada sebuah resort yang terletak di atas pulau buatan milik Cloe Enterprise.


Orlando menepikan mobilnya di sisi pantai, sehingga mereka bisa mendapatkan pemandangan yang bagus. Di belakang mobilnya ada mobil milik Eros yang setia mengekor dan Orlando sekarang mengerti betapa posesifnya bungsu William itu. Bukannya meremehkan Selena, tapi Orlando sedikit takjub ketika tahu bahwa Eros cukup cepat untuk move on dari cinta pertamanya, Emilia.


“Bagaimana menurutmu?” tanya Orlando ketika menyadari binar di kedua mata Selena. Hari ini wanita itu terlihat lebih cerah dari pertemuan pertama mereka di pesta.


Selena menurunkan kaca mobilnya lebih lebar, lalu tersenyum tulus. Rambut dan topinya melambai tertiup angin. “Ini menakjubkan.”


Orlando ikut tersenyum. “Besok kita akan melakukan pemotretan di sekitar pantai.”


Selena menoleh. “Aku jadi tidak sabar, karena ini adalah pertama kalinya aku melakukan pemotretan outdoor.”


Menjadi model majalah dewasa, Selena lebih banyak menghabiskan waktu di studio. Rasanya pasti akan lebih menyenangkan jika ia bisa bekerja dengan sebuah background alam bebas dan berdiri langsung di bawah terik matahari, apalagi ini sudah memasuki musim panas. Selena tidak memikirkan kulit yang akan gosong dan terbakar, lebih dari itu sebenarnya Selena sangat menyukai laut. Meski keindahan laut yang ada di hadapannya masih kalah oleh pemandangan laut yang ada di Maldives.


“Kau tahu,” kata Orlando melirik Selena. Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. “Sejujurnya aku merasa tidak asing denganmu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


Selena menoleh, alisnya terangkat. Dengan Orlando? “Aku rasa tidak.”


Orlando manggut-manggut, lalu tersenyum tipis. “Pasti hanya perasaanku saja,” katanya sedikit ragu. Meski dalam hati, ia yakin pernah melihat Selena sebelumnya.


Di mana? Entahlah. Tapi firasatnya tak pernah salah.


**


Ketika Nyonya William kembali ke rumah, ia menemukan Emilia sedang berdiri di balkon dengan gaun putih mencapai mata kaki. Rambutnya terurai dan sesekali tertiup angin. Wanita itu terlihat kecil dan rapuh. Nyonya William jadi ingat ketika Alex muda pernah berkata bahwa pria itu akan melindungi dan menjaga Selena suatu saat nanti, meski pada kenyataannya Alex juga pernah patah hati karena wanita itu.


Nyonya William tersenyum lembut sambil menghampiri Emilia. “Seharusnya kau istirahat di kamar.”


Emilia tersentak dan menoleh. “Aku merasa bosan, Bu.”

__ADS_1


“Bosan? Apa ibu perlu menelepon Nyonya Swan?”


Emilia menggeleng sambil tersenyum tipis. “Tidak perlu.”


Lalu hening. Kedua wanita berbeda usia itu sama-sama mengarahkan pandangannya ke depan—pada langit biru di ujung sana.


Nyonya William menarik napas pelan sebelum kembali berkata, “dulu, ibu sangat menginginkan seorang anak perempuan.” Begitu juga dengan mendiang suaminya. Mereka pikir, jika mereka kembali mempunyai anak laki-laki, maka akan ada perselisihan tentang siapa yang akan menjadi pewaris. Tapi Tuhan nyatanya berkata lain, Eros lahir setelahnya. “Alex memang bukan darah daging Ibu, tapi Ibu sangat menyayanginya dengan tulus. Dia anak yang pintar dan penurut, tidak pernah berkata kasar dan melawan kedua orang tuanya.”


Emilia tersenyum kecil sambil menunduk. Mulai mendengarkan cerita mertuanya dengan saksama.


“Namun secara tidak sadar kami telah mengabaikan Eros. Membuat anak itu merasa bahwa dirinya tak dibutuhkan—bahkan tak diinginkan.” Nyonya William menatap Emilia dan meraih sebelah tangannya dengan lembut. “Ibu telah gagal menjadi orang tua. Tadinya Ibu tidak ingin ikut campur dalam urusan kalian karena Ibu tahu cinta itu terkadang memang harus memilih, walau pada akhirnya akan ada salah satu yang tersakiti.” Kemudian tatapannya sendu. “Apa pun yang terjadi, Ibu hanya bisa berharap bahwa Eros akan bahagia dan memaafkan Ibu suatu hari nanti. Tapi Ibu tahu bahwa Eros tidak pernah mencintai Selena.”


Emilia mengangkat kepala dan mengerjap. “Apa yang...Ibu katakan?”


“Kau tak perlu menutupi kekhawatiranmu lagi, Emilia. Semuanya sudah terlihat jelas.”


Emilia tersenyum hambar. “Iya...” Wanita itu mengangguk-anggukan kepalanya. Bagaimana pun Nyonya William adalah wanita yang telah melahirkan Eros. Wanita itu tahu baik dan buruknya sampai ke akar. “Jika ada orang yang paling salah, maka itu adalah aku.”


Emilia tercenung.


“Suatu hari nanti, ketika anak itu lahir, kau harus bisa mendidik anak itu dengan baik.” Nyonya Emilia tersenyum sendu. “Jangan menjadi seperti Ibu.”


**


“Baru pulang?”


Selena menghentikan langkahnya di depan kamar dan berbalik untuk menatap Eros yang baru keluar dari kamarnya sendiri dengan kaos hitam dan celana panjang. Seingat Selena, pria itu sangat sibuk, tapi tampaknya akhir-akhir ini jadi sering pulang lebih awal.


“Bukan urusanmu.” Selena kembali berbalik untuk memasuki kamar tapi Eros dengan cepat menahan kenop pintu.

__ADS_1


“Untuk apa bawa mobil kalau berkendara dengan Orlando?”


Selena memutar mata malas. “Tentu saja supaya ada informasi yang bisa disampaikan oleh mata-matamu itu. Kasihan kalau harus menungguku hampir seharian tapi tak dapat informasi apa-apa. Uangmu bisa percum—“


BRAK!


Selena dipaksa berbalik dan punggungnya menghantam pintu dengan keras. Sambil sedikit meringis, ia mendelik pada Eros.


“Mulutmu sekarang benar-benar tak bisa dijaga, ya.”


“Seharusnya kau berkaca!”


BRAK!


Keadaan berbalik. Kini Eros yang terdesak di pintu. Wajah Eros dan Selena begitu dekat dan nafas mereka bersahutan.


Selena menekan dada Eros dengan tangan kanannya. Lalu tangan kirinya membelai wajah pria itu dari kening hingga rahangnya yang keras dan berbentuk.


“Aku mencintaimu...” bisik Selena sambil tersenyum. “...dulu.” Lalu lengkungan itu dengan cepat menghilang. “Sekarang aku tahu, kau tak pernah pantas untuk mendapatkan cinta dariku. Bahkan untuk sebuah penghormatan. Kau tak akan pernah mendapatkannya—lagi.”


“Tidak usah khawatir.” Eros melepaskan tangan Selena dari tubuhnya. Lalu berjalan melewati wanita itu sambil berkata, “sejak awal aku memang hidup sendirian. Tidak perlu ada cinta dan hormat, semuanya hanya omong kosong.”


Selena nyaris tertawa. “Payah,” ejeknya pada Eros terang-terangan. “Kau jelas percaya karena buktinya ada aku di sini.” Selena menekankan kata 'aku' pada kalimatnya. “Cinta yang besar terhadap Emilia dan ketidakmampuanmu untuk menanggung sakitnya adalah alasan mengapa aku ada di sini, bukan begitu?”


Eros tak menjawab. Hanya mendelik dengan ujung matanya.


Selena tersenyum kecut, lalu bergerak untuk memberikan kecupan di sebelah pipi Eros.


Pria itu mematung.

__ADS_1


“Yang kau rasakan saat ini...adalah apa yang aku rasakan dulu,” kata Selena sebelum membuka pintu. “Roda itu selalu berputar Eros, ingat.”


Yang pernah menyakiti akan disakiti, yang pernah meninggalkan akan ditinggalkan, yang pernah mengkhianati akan dikhianati. Bukan karena dunia adil, tapi terkadang manusia lupa diri bahwa membalaskan dendam hanya akan menimbulkan dendam yang lain.


__ADS_2