
Pemakaman Alex diiringi tangisan pilu dari Nyonya William dan Emilia. Kedua wanita itu meraung, memeluk tanah basah yang menyelimuti jasad tak bernyawa. Membuat siapa pun memalingkan wajah karena iba.
Termasuk Selena.
Alex menjadi korban tabrak lari, tapi semalam polisi sudah berhasil menangkap pelakunya. Kejadian tragis itu mampu mengingatkannya pada kejadian di mana ayahnya juga mengalami hal yang sama. Memang sangat menyakitkan ketika orang yang dikasihi meninggalkan kita secara tiba-tiba. Tapi dengan cara itu Tuhan mengingatkan kita bahwa ajal bisa menjemput kapan pun dan di mana pun. Yang terpenting, mengingatkan kita untuk bisa saling mengasihi dan memaafkan, agar tiada penyesalan ketika kita menyadari bahwa orang yang telah pergi ternyata sangatlah berarti.
Di sampingnya, Eros berdiri. Memegangi payung yang melindungi tubuh mereka dari air hujan. Pria itu tidak menangis. Namun sorot matanya menunjukkan luka yang begitu dalam. Dan Selena tahu, sebagian besarnya adalah penyesalan.
Baguslah jika Eros mulai mengerti. Setidaknya pria itu harus belajar arti bersyukur dan memaafkan. Tak selamanya rasa sakit harus dibalas dengan sakit. Tak selamanya air mata harus dibalas air mata. Bagaimana mungkin Tuhan bisa memaafkan dengan mudah sementara manusia sendiri begitu keras kepala?
“Ayo, pulang.”
Selena tak sanggup untuk terus melihat Nyonya William dan Emilia yang tak henti-hentinya meraung. Ia teringat kedua orang tuanya dan bisa menangis kapan saja setelah ini. Lebih dari itu, hatinya terusik ketika melihat Eros yang tak bergerak sama sekali sejak pemakaman dimulai.
“Eros?”
Pria itu mengerjap lalu menoleh ke arahnya. Dengan mulut yang tertutup rapat, Eros merangkul bahu Selena dengan tangannya yang dingin. Mereka berbalik, berniat untuk meninggalkan pemakaman terlebih dahulu.
PRAK!
“APA KAU PUAS SEKARANG?!”
Langkah mereka terhenti.
Semua orang terkejut ketika Emilia melemparkan tanah kotor ke arah punggung Eros dengan membabi buta.
PRAK!
“KATAKAN PADAKU APA KAU PUAS SEKARANG?!”
PRAK!
“JAWAB AKU B*JINGAN!”
PRAK!
“Cukup.”
Selena berbalik dan menghalau tanah yang terarah pada punggung Eros sehingga benda itu malah mengenai dadanya.
Semua orang menahan napas.
“Apa dengan berkata seperti itu bisa membuat Alex kembali?” tanya Selena dengan ekspresi datar. “Tenangkan dirimu, Emilia.”
__ADS_1
Eros tertegun.
Apa yang Selena lakukan?
Setelah melihat Emilia—yang sepertinya tak akan melemparkan tanah lagi, Selena kembali berbalik. Wanita itu menghela napas pelan sambil menarik lengan Eros tanpa memedulikan pakaiannya yang kotor.
“Ayo.”
**
“Masuklah dan bersihkan dirimu,” kata Selena ketika mereka sampai di rumah dan berdiri di depan pintu kamar masing-masing. Tidak ada percakapan sepanjang jalan pulang. Bukannya mereda, hujan juga malah bertambah deras.
Mendapati Eros yang tak merespons perkataannya, Selena akhirnya memilih untuk memasuki kamarnya sendiri, namun sebelum itu—
“Jangan pergi.”
Tangan kanannya di genggam oleh tangan Eros yang besar dan dingin. Ada sedikit gemetar di sana. Entah karena kedinginan atau sesuatu yang lain...
Selena memutar kepalanya. Wanita itu terkesiap saat melihat Eros yang menatap ke arahnya dengan berlinang air mata—meski ekspresinya tak menunjukkan kesedihan.
Ini pertama kalinya Selena melihat pria itu menangis.
“Kau boleh mengejekku atau menertawakanku,” ujar Eros seakan mengetahui isi hati Selena. “Hanya jangan pergi.”
Genggaman itu semakin erat. Sangat erat sehingga tangan Selena terasa sakit.
“Jangan pergi...”
“Jangan pergi...”
Eros terus meracau seperti anak kecil. Pria itu menyandarkan kepalanya di dada Selena dan memeluknya dengan erat. Tubuhnya benar-benar gemetar sekarang.
“Jangan per—“
“Ssst. Aku tak akan ke mana-mana.”
Ragu, Selena mengusap punggung pria itu dengan sebelah tangannya. Kepalanya kemudian mendongak untuk menatap langit-langit. Seolah bertanya kepada Tuhan, apa yang semestinya ia lakukan...
Ia tahu betul rasanya kehilangan dan ia tahu betul bagaimana rasanya tak mempunyai sandaran. Sebenarnya Selena bisa saja bersikap tak acuh dan memilih untuk memasuki kamarnya. Tapi ia malah menemukan dirinya membalas pelukan Eros seolah hubungan mereka baik-baik saja sebelum kejadian ini.
Perasaan cemas dan tak tentu yang bersarang di hatinya, Selena mengira itu akibat dari hormon kehamilannya. Seberapa pun ia benci pada Eros atau siapa pun, ia tak mungkin tertawa di atas penderitaannya.
“Menangislah.”
__ADS_1
Hari itu Eros memeluk Selena sampai pria itu tertidur. Hari itu pula Selena mengerti betapa rapuhnya Eros dibalik semua sikapnya yang dingin.
Pria itu hanya kehilangan arah. Tersesat di dalam kegelapan tanpa mau mencari jalan pulang. Hatinya belum mati, hanya saja belum sanggup mengikhlaskan segala rasa sakit hati.
**
Steve berulang kali melirik ke arah kamar Eros yang terletak di lantai dua dari balik bangku kemudi. Ruangan itu tampak gelap. Ia bertanya, mungkinkah Eros sudah tidur?
Di sampingnya Leo baru saja mengakhiri panggilan dengan seseorang dan menyimpan ponselnya ke dalam saku.
“Bagaimana menurutmu?”
“Aku harap dia baik-baik saja.”
Leo menghela napas. “Dia jelas tidak sedang baik-baik saja.”
Steve menoleh. “Kalau begitu kita harus pastikan bahwa dia baik-baik saja.”
Leo menggeleng cepat. “Eros sudah beristri,” katanya sambil menyandarkan tubuh di kursi. “Meskipun aku tidak tahu pernikahan macam apa yang mereka jalani.”
Steve berdecak. Sebagai seorang sahabat ia tahu bahwa Eros sangat terpukul dengan kejadian ini. Pria itu mungkin tak menyangka bahwa Alex akan berakhir dengan cara tragis di depan matanya sendiri. Tapi Steve sedikit bersyukur, setelah kejadian ini ia jadi tahu, bahwa Eros memang masih mempunyai hati nurani.
“Setelah ini...” Leo kembali buka suara, “kira-kira apa yang akan dilakukan Eros?”
“Apa maksudmu?”
Leo menoleh. “Maksudku, hubungannya dengan Selena dan juga...Emilia.”
Steve memejamkan matanya dan mengeratkan pegangannya pada kemudi. “Eros...tak akan pernah melepaskan Selena,” katanya sambil kembali melirik kamar si pria dengan tatapan penuh arti.
“Kenapa harus dia?”
“Maksudmu kenapa harus si cupu itu?”
“Perasaan seorang wanita itu tidak mudah berubah.”
“Aku tidak mengerti.”
“Karena dia pernah mencintaiku akan lebih mudah untuk mengendalikannya.”
“Kau ingin mempermainkan Selena?”
“Sudah cukup aku mengejar orang yang aku cintai, ini saatnya aku menyambut orang yang mencintaiku.”
__ADS_1
“Mungkin saja dia sudah tak mencintaimu lagi.”
“Kalau begitu akan kubuat dia mencintaiku lagi.”