Terjebak Bersama Sang Iblis

Terjebak Bersama Sang Iblis
Bagian 59


__ADS_3

Selena tersenyum kecut. “Apa...yang kau katakan?” Tangannya secara otomatis mengelus perutnya. Ia tidak tuli, tapi mengapa pria itu tiba-tiba saja berubah pikiran?


Eros menghela napas pelan. “Bukankah ini yang kau inginkan? Sekarang aku mengabulkannya.”


Selena memundurkan langkah sambil tertawa pahit. Wanita itu tak sanggup untuk berkata-kata, tapi ekspresinya menjelaskan bagaimana ia begitu kecewa. Seolah diangkat ke langit dan dihempaskan begitu saja secara tiba-tiba.


Hatinya tersayat. Ia benar-benar merasa dipermainkan.


Kedua tangannya terkepal erat hingga jarinya memutih.


“Baiklah.”


Eros mengangkat kepala.


“Hari ini aku akan kembali ke apartemenku.”


“Tidak perlu,” sahut Eros cepat. “Kau bisa tinggal di rumah itu selamanya.”


Selena terbelalak.


“Karena mulai besok...” Eros melirik wanita itu. “...aku tidak akan pulang ke rumah.”


Selena tahu alasan apa yang kini membuatnya menangis. Ia tak akan bersembunyi lagi. Ia tak akan menyangkal lagi.


“Apa yang sudah kau lakukan sehingga kau menjadi seperti ini?” tanya Selena kembali mendekati pria itu. “Jawab aku!”


Klek!


“Eros!”


Selena tercenung. Suara itu...


Matanya membulat saat ia melihat sosok Alex yang masuk ke dalam ruangan dan sempat meliriknya sebelum mendekati Eros.


“Apa...apa ini?” tanya Selena tak mengerti. Kepalanya mendadak pening. Pening karena ia adalah satu-satunya pihak yang tidak pernah tahu apa pun. “Kenapa Alex—“ Selena menghentikan ucapannya dan mulai menyadari sesuatu. Kepalanya menggeleng cepat. “Tidak mungkin. Kau membuat pemakaman palsu?” katanya tertuju pada Eros.


Alex menolehkan kepala dan melirik Selena. “Bisa kau tinggalkan kami berdua?”


Eros masih belum bergerak di tempatnya. Pria itu tetap mengalihkan tatapannya ke arah lain.


“Aku mohon...” kata Alex kemudian.

__ADS_1


Selena menarik napas pelan sebelum berjalan menuju pintu dan membanting benda itu cukup keras—menunjukkan kekecewaannya yang begitu besar.


Setelah wanita itu pergi, Eros menundukkan kepala, meraba sebelah dadanya yang terasa sakit.


Ia tidak mau anaknya lahir dengan status ayahnya sebagai pesakitan. Juga tidak mau membuat Selena terbebani andai kata ia benar-benar di penjara nanti. Media akan menyerang wanita itu dan mengusik hidupnya. Bagaimana pun kemunculan Alex akan mengundang tanda tanya besar setelah upacara pemakamannya waktu itu.


“Eros...”


Ya. Eros bahkan sempat lupa bahwa Alex sudah berdiri di hadapannya.


Eros mendongak, tapi tak berkata apa pun.


“Kenapa?” tanya Alex. “Kenapa kau memalsukan kematianku?”


Eros menatap lurus pada dinding putih di hadapannya. “Karena aku tahu bahwa kau sangat mencintai Emilia.”


Alex tercekat.


“Aku pikir, mungkin lebih baik jika kau tinggal di luar negeri dan tak pernah kembali. Setelah melihat keadaan Emilia dan apa yang telah ia lakukan padamu, aku rasa kau tidak akan sanggup menanggung semua kenyataan pahit itu.” Eros mengerjap. “Aku hanya ingin kau hidup dengan damai. Itu saja.”


Alex menatap langit-langit ruangan itu dan menghela napas pelan. Akhir-akhir ini rasanya ia sering sekali menangis. Apa lagi saat ia mendengar pengakuan Eros. Pria itu memang telah berubah meski sisi angkuhnya masih begitu terasa.


“Kau tahu melakukan semua itu hanya akan membuatmu terluka...”


Ulu hatinya serasa dipukul oleh sesuatu. Kenyataan pahit yang sampai saat ini masih ia tidak percayai, benar-benar membuat Alex berdoa untuk—lebih baik—mati saja. Namun saat melihat Noah, ia punya alasan untuk tidak menyerah pada posisi yang sangat sulit itu.


Alex berdeham pelan sambil mencoba kembali melirik Eros dengan ekspresi datar. “Selena sedang mengandung, kan?”


Eros tak menjawab. Siapa pun bisa melihat perut buncit wanita itu.


“Aku tidak mau anakmu mengalami nasib yang sama dengan anakku.” Alex menggigit bibir. Anaknya harus kehilangan sosok Emilia karena wanita itu harus dirawat di rumah sakit jiwa. Ia juga tidak mau anak Eros kehilangan sosok ayahnya karena pria itu harus di penjara. “Aku akan mencabut tuntutannya.”


Eros dengan cepat mengangkat kepala.


Alex tersenyum tipis. “Tapi aku mohon, tolong jangan sakiti Andreas. Dia hanya ingin melindungiku.”


Eros menarik napas pelan. Ia tidak ada hasrat untuk melakukan apa pun lagi. Yang ia inginkan hanyalah Selena dan melihat wanita itu bahagia berada di sisinya. Sepanjang hidup, ia baru merasa sangat ketakutan seperti ini.


“Aku akan pergi bersama anakku,” lanjut Alex sambil bersimpuh di hadapan Eros. Tangannya menyentuh bahu pria itu dan menangis haru. “Kuharap kau akan menjadi suami dan ayah yang baik. Dan kuharap...Selena adalah wanita terakhir yang akan memberimu kebahagiaan.”


**

__ADS_1


Selena menyandarkan kepalanya dan menatap sendu pada pemandangan langit malam dari balik jendela mobil. Pikirannya kosong. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan. Entah senang atau tidak, tapi hatinya yang jelas merasakan sakit.


Butiran-butiran putih tiba-tiba saja berjatuhan dari langit. Selena menegakkan tubuhnya, menatap penuh minat pada salju yang turun malam itu. Indah, tapi dingin seperti hatinya.


Lalu mobilnya tiba-tiba berhenti. Selena mengernyit pelan sambil menengok jalan di depannya dari balik jendela.


Matanya membulat saat melihat sosok yang keluar dari dalam mobil yang menghalangi jalannya.


Pria itu—


Dengan tergesa Selena membuka pintu. Ia sempat terpaku beberapa saat. Memikirkan apakah semua itu hanyalah ilusi atau memang nyata.


Namun ketika sosok itu semakin dekat dan Selena bisa mendengar langkahnya yang tergesa—saat itu ia yakin semuanya bukanlah ilusi.


Selena melangkah untuk mencoba meraih Eros yang sedang berjalan ke arahnya. Air matanya tumpah saat itu juga. Ia tidak mengerti namun ia merasa sangat lega karena bisa melihat pria itu ada di sana.


Di bawah butiran salju yang semakin deras Eros berhasil meraih Selena ke dalam pelukannya. Mendekap erat sambil mengucapkan syukur berulang kali, sementara Selena tersedu dalam pelukannya.


“Maafkan aku...maafkan aku...”


Mereka tak mengacuhkan butiran salju dan udara yang bisa membuat mereka menggigil karena mereka tahu hati mereka telah menghangat berkat kehadiran satu sama lain.


Eros merinding ketika ia bisa merasakan perut Selena yang menyentuh bagian bawah tubuhnya. Benar kata Alex, ia tidak bisa membiarkan anak itu tumbuh tanpa kasih sayang dari satu pihak. Ia tidak mungkin membiarkan anak itu tumbuh menjadi seorang pendosa sepertinya.


Eros mengeratkan pelukannya, ia tak pernah berniat untuk meredam tangis Selena karena pada akhirnya ia mengerti alasan apa yang membuat wanita itu menangis.


Bagi dua orang kesepian seperti mereka, kehadiran satu sama lain lebih berharga dari sekadar ucapan cinta yang pada akhirnya hanya menjadi omong kosong belaka.


Tapi malam itu entah mengapa Eros ingin Selena mengetahui perasaannya. Ia ingin Selena menyadari bahwa ia telah jatuh pada wanita itu sedalam-dalamnya.


Lalu kedua tangannya melepas pelukan mereka, berganti untuk merengkuh wajah cantik yang kini dipenuhi air mata.


Eros tersenyum tipis sambil berkata, “aku membutuhkanmu, Selena. Aku membutuhkanmu melebihi apa pun yang ada di dunia ini. Jadi...” Ia menempelkan keningnya pada Selena dan berbisik pelan, “...bisakah kita perbaiki semuanya dari awal?”


Tangis Selena semakin menjadi, ia kembali memeluk pria itu dengan erat. “Jika kau menyakitiku, aku pastikan kau tak akan pernah melihatku lagi.”


Eros tersenyum kecil. Kembali melepaskan pelukan mereka untuk menghapus tetesan air mata yang tak berhenti mengalir. “Aku bukan pria baik dan lembut, tapi aku akan memberi apa yang kumiliki untukmu. Bahkan jika itu adalah nyawaku sendiri.”


Selena bisa melihat kesungguhan dalam kedua mata yang selama ini sering memberi tatapan angkuh. Di malam yang dingin itu justru tatapan Eros terlihat begitu hangat.


Dan ia seolah tak bisa menolak ketika bibir tipis pria itu menyentuh bibirnya yang nyaris beku. Eros mendekap pinggangnya begitu erat dan membawa kedua tangannya untuk melingkari leher pria itu. Mereka tenggelam dalam pagutan yang begitu mesra dan memabukkan, meski rasa asin mendominasi karena Selena tak berhenti menitikkan air mata.

__ADS_1


Masalah akan selalu datang, tapi kini mereka punya alasan untuk tak menyerah. Karena mereka tahu ada ‘rumah’ yang akan selalu menjadi tempat mereka berlindung dikala susah.


__ADS_2