Terjebak Bersama Sang Iblis

Terjebak Bersama Sang Iblis
Bagian 30


__ADS_3

“Apa yang kau lakukan?”


Eros baru kembali bekerja dan mendapati Selena tengah mengobrak-abrik laci di samping tempat tidurnya.


“Ketemu!” Selena menghela napas lega setelah menemukan ponselnya kembali. Wanita itu berbalik dan menatap Eros tanpa minat. “Apa?”


“Bagaimana kau bisa masuk ke dalam kamarku?”


“Hmm? Bagaimana ya?” Selena memiringkan kepala, bermaksud mengejek. “Bukankah setelah menikah nanti rumah ini akan menjadi milikku? Termasuk kamar ini, tentu saja.”


“Kau tidak membutuhkan ponsel itu.”


“Kenapa? Aku membeli ponsel ini dengan uangku sendiri, kok.”


Eros menghela napas pelan sambil memalingkan wajah. Tangannya bergerak untuk menahan Selena yang hendak pergi setelah menjawab semua kata-katanya dengan berani. Sungguh wanita itu seperti bunglon, bisa berubah kapan pun dalam waktu singkat dan nyaris saja berhasil mengelabuhinya. Atau memang...sudah berhasil. Karena Eros tak tahu lagi 'kejutan' apa yang akan diberikan Selena setelah ini.


“Kembalikan ponselnya,” perintah Eros tak ingin dibantah. “Saat aku bilang kau tak membutuhkannya, berarti kau tak membutuhkannya.”


Selena bergumam tidak jelas sambil mengulurkan ponsel itu pada Eros. Tapi semua itu hanya sekadar tipuan karena saat Eros hampir saja meraih benda itu, Selena dengan cepat menyembunyikan ponselnya di balik tubuh.


Senyum kemenangan menghiasi wajahnya. “Aku tidak akan mendengarkan ucapan dari orang yang tidak pernah mendengarkan ucapan orang lain,” katanya sambil menghempaskan tangan Eros dari tangannya. Lalu melengos tanpa menoleh lagi. Tak lupa, menutup pintu dengan keras sebagai bonus.


Eros mengepalkan tangannya dan tersenyum masam. Wanita itu benar-benar berubah—seperti yang dikatakannya.


**


Ini adalah pertama kalinya mereka makan malam di rumah itu. Sejak hidangan diantar ke meja makan, hanya suara garpu dan sendok yang terdengar berisik. Eros memang tak berkata apa pun, tapi matanya jeli memindai setiap pergerakan yang dilakukan Selena yang duduk di seberang meja. Wanita itu tampak tenang sambil mengiris daging dan menyuapnya dengan lahap.


Malam ini Selena mengenakan salah satu gaun yang baru saja dibeli Eros beberapa hari lalu. Memikirkan selera pakaian Selena yang begitu kuno dulu, kini wanita itu selalu tampil modis. Meskipun begitu, saat di rumah Selena hampir tak pernah memoles wajahnya.


“Jangan terus melihatku atau kau tak akan mengiris dagingmu dengan benar.”


Selena menyadarinya, tapi Eros tak peduli. Dengan terang-terangan ia menatap wanita itu setelah meletakkan peralatan makannya. “Aku akan mengabulkan satu permintaanmu—satu minggu lagi kita akan menikah.”


Selena tak terlalu terkejut. Ini memang yang ia inginkan setelah Eros melucuti harga dirinya tanpa tersisa. Sekali pun Selena begitu tergiur untuk melemparkan gelas kristal yang berada di sampingnya, tapi ia kembali mencoba berpikir jernih. Untuk melawan orang seperti Eros, kekerasan fisik bukanlah pilihan terbaik, karena pada dasarnya ia sudah kalah dari segi kekuatan. Butuh cara lain, yang lebih halus namun efeknya mematikan. Seperti menyembunyikan racun dalam madu.

__ADS_1


“Aku setuju,” kata Selena kemudian, masih enggan mengangkat kepala dan menatap Eros. “Aku harap kau membuat pesta pernikahan yang mewah.”


Eros terkekeh. “Tidak menyangka kau akan meminta hal yang seperti itu.”


Selena melirik Eros dengan ekor matanya. “Tidak menyangka?” tanyanya sambil mengangkat gelas. “Seperti kau mengenalku saja...”


Kekehan Eros lenyap. Setiap ucapan Selena kini ibarat peluru yang akan menembakinya dengan brutal. Eros nyaris selalu kehilangan kata, namun bukan berarti ia akan mengalah dengan begitu mudah.


“Betapa aku ingin menyumpal bibirmu dengan bibirku ini.” Eros menyeringai dengan rahang mengeras.


Selena melotot. “Jika itu terjadi, maka nasibmu akan sama dengan daging yang ada di atas piringku ini.”


“Itu terdengar menakutkan.”


“Aku tidak sedang menakutimu.”


“Tapi aku takut.”


“Daripada takut, kau terlihat seperti orang yang sedang menantangku.”


“Menantang?” Eros tersenyum aneh. “Sejak awal kaulah yang menantangku, Cantik.”


“Baiklah, terserah apa katamu.” Selena ingin cepat-cepat mengakhiri makan malam itu. Ia sudah tak berselera. “Besok aku akan bertemu dengan Orlando Cloe untuk membahas kerja sama. Aku ingin kau memberiku mobil—tanpa sopir, tentunya.”


“Dia menghubungimu...” Itu bukan sebuah pertanyaan.


“Itulah mengapa aku membutuhkan ponselku. Sumber uangku berasal dari sana. Kau tahu berapa banyak kerugian yang sudah kau buat?” Selena tertawa kering. “Jika aku menolak proyek ini, kau juga akan berada dalam posisi yang sulit, bukan?”


Nama Cloe Enterprise memang tidak bisa diremehkan begitu saja. Bahkan saham perusahaan yang ditinggalkan ayahnya masih tertinggal 0,01% dari milik Cloe. Meski tipis tapi itu bernilai jutaan dolar.


Eros mengerjap, melirik Selena yang tengah meneguk minuman tanpa mengalihkan tatapannya. Selena wanita yang cerdas, Eros harus mengakui itu.


“Suka atau tidak kau akan pergi dengan orangku. Jadi kau tidak perlu repot-repot menyetir.”


Selena ingin mengumpat tapi ia cepat-cepat menelan semua serapahnya. Ia bertanya-tanya apa yang ada di dalam kepala Eros sehingga pria itu menjadi pribadi yang sangat bebal?

__ADS_1


**


Eros sempat mengernyit ketika keesokan paginya ia melihat Selena berpenampilan serba kuning saat mereka bertemu di halaman rumah. Wanita itu juga mengenakan floppy hats yang begitu identik dengan musim panas.


“Gayamu seperti ingin liburan saja,” kata Eros ketika Selena melewatinya untuk memasuki mobil yang terparkir di depan mobilnya.


“Aku hanya memakai apa yang telah kau berikan padaku. Aku tidak bisa berbincang denganmu karena aku yakin Orlando Cloe tidak akan suka jika menunggu terlalu lama.”


BRAK!


Selena duduk di bangku belakang dan menutup pintu tanpa sungkan. Eros sempat melirik James—kaki tangan sekaligus sopir yang akan mengantar Selena pagi ini.


Pria berkaca mata hitam itu mengangguk pelan dari bangku kemudi. Tak lama kemudian mobil yang membawa Selena meninggalkan halaman rumah, sementara Eros memasuki mobilnya sendiri. Tanpa menyadari bahwa Nyonya William menyaksikan semua itu dari suatu tempat.


**


“Sebelah sini, Nona.”


Seorang wanita bertubuh tinggi menuntun Selena pada sebuah ruangan yang berada di lantai paling atas milik Cloe Enterprise. Di sana Orlando sedang duduk di ruangannya sambil memandang hamparan kota.


“Tuan, Nona Selena sudah tiba.”


Orlando memutar kursinya dan langsung tersenyum cerah ketika melihat Selena yang berdiri di depan pintu bersama salah satu resepsionisnya.


“Terima kasih, Tia. Kau bisa bekerja kembali.”


Sang resepsionis menunduk sebentar sebelum keluar dari ruangan Orlando dan menutup pintu.


“Senang bertemu kembali denganmu, Selena.” Orlando bangkit dari kursi dan langsung mengulurkan tangannya.


Selena menyambut tanpa ragu. “Terima kasih. Aku juga senang bisa bertemu kembali denganmu.”


Orlando terkekeh sambil melepaskan tangannya. “Kau pasti tertekan karena selalu berada di samping Eros, bukan begitu?”


Alis Selena terangkat. Kenapa pria itu berkata seolah ia mengetahui segalanya?

__ADS_1


Orlando hanya kembali tersenyum sambil merangkul Selena untuk memutar arah, menuju pintu keluar. “Bagaimana kalau mengobrolnya sambil sarapan?”


Selena tak bisa menolak karena kebetulan ia juga belum sarapan.


__ADS_2