
Eros selalu terbangun lebih awal, itu karena sepanjang hidupnya ia tak pernah tidur dengan nyenyak, hanya sekitar dua sampai tiga jam. Tapi saat melihat jam dinding yang menggantung di kamarnya, Eros pikir ia mungkin tak akan mengalami insomnia lagi.
Ini sudah siang. Lebih dari jam sembilan pagi dan saat Eros menengok ke luar jendela yang sedikit terbuka, semuanya sudah berubah menjadi warna putih. Salju tampak turun lebat semalam sehingga menutupi seluruh pekarangan rumahnya yang semula hijau.
Perasaannya membuncah ketika seseorang dalam dekapannya tampak melakukan pergerakan kecil. Eros tersenyum lembut saat merasakan kulit lembut itu menyentuh kulitnya sendiri.
Ini bukan mimpi.
Rambut itu, tubuh itu, bahkan aroma itu adalah nyata. Bukan sesuatu yang akan menghilang ketika Eros terbangun dari tidurnya.
Eros memberi kecupan ringan di salah satu telinga wanita itu sehingga si empunya menggeliat pelan.
“Hmm?” Selena menggumam serak. Mencoba melirik Eros yang tengah mendekapnya dari belakang.
“Kau bangun?”
Selena mengusap matanya. “Jam berapa?”
“Sembilan.”
Selena membuka matanya lebih lebar. “Kau tidak pergi ke kantor?”
“Aku harus menghukum Andreas dan membiarkannya mengurusi pekerjaanku.”
Selena mendengus. “Kau masih dendam padanya, ya?”
Eros mengeratkan pelukannya. “Tidak.” Sebenarnya ia hanya tidak ingin kehilangan momen bersama Selena di saat hari pertama salju turun seperti ini. Eros sangat menyukai musim dingin karena ia selalu memimpikan untuk bisa merayakan malam natal bersama keluarganya. Meski nyatanya impian itu tak pernah terwujud di saat kedua orang tuanya masih lengkap.
Mungkin untuk natal kali ini ia bisa mewujudkan impiannya yang sempat tertunda.
“Apa kau lapar?” tanya Eros kemudian. Ia tak bisa bersikap egois karena Selena tengah mengandung.
Selena mengangguk dengan malu-malu.
Eros terkekeh pelan. Pria itu beringsut dari tempat tidur dan meraih jubah tidurnya. “Tunggu di sini, aku akan mengambilkan sarapan untukmu.”
Selena terpaku. Melihat senyum tulus pria itu—jantungnya tiba-tiba saja berdegup kencang.
**
Alex melirik Aster yang ada dalam pangkuannya dan tersenyum tipis, lalu melirik jalanan bersalju yang ia lewati.
__ADS_1
Mungkin hatinya belum sembuh, tapi anaknya adalah obat yang akan selalu meredakan setiap sakit yang ia rasakan.
Apa pun yang telah Emilia lakukan, Alex tidak pernah akan bisa membencinya. Sejatinya ia tidak pernah meninggalkan Emilia meski sekarang ia tidak bisa melihat wanita itu setiap hari. Ia selalu berdoa untuk Emilia, berharap bahwa wanita itu selalu baik-baik saja.
Dan Eros...
Seperti katanya, ia akan selalu menyayangi pria itu sampai kapan pun. Suatu saat ia berharap bisa bertemu dengan Eros dan melihat senyum bahagia pria itu.
**
Di salah satu kamar itu ada Emilia yang sedang duduk di atas kursi roda dan menatap pada hamparan salju dari balik jendela. Ekspresinya datar, namun air mata turun melewati pipinya yang memerah karena hawa yang begitu dingin. Di pangkuannya ada sepucuk surat dengan tulisan yang begitu rapi—milik seseorang yang begitu ia kasihi.
Kau melahirkan seorang putra yang begitu tampan. Matanya indah seperti matamu, Emilia. Meskipun bayi kita terlahir prematur, tapi rasa cintaku padanya tidak berkurang sedikitpun—seperti rasa cintaku padamu.
Makan dan tidurlah dengan baik. Aku juga akan merawat anak kita dengan baik. Suatu saat kau harus sembuh agar bisa melihat anak kita yang beranjak dewasa.
Aku tidak pernah pergi, aku akan selalu ada dihatimu dan begitupun sebaliknya. Mereka bilang aku bodoh karena tetap mencintaimu meskipun aku telah disakiti. Tapi mereka tidak tahu jika rasa benci lebih menyakitkan dari pada mencintai—maka aku memilih untuk tetap mencintaimu.
Untuk istriku, Emilia.
**
Orlando menyesap teh dan melirik orang suruhan yang berdiri di samping tempat duduknya.
Pria itu mengangguk.
Orlando menyimpan cangkir tehnya dan mengangguk pelan. Pria itu mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat agar orang suruhannya keluar dari ruangan itu.
Tapi sebelum orang itu benar-benar pergi, Orlando kembali mengatakan sesuatu. “Tolong kirimkan bunga mawar ke rumah Eros William dan sampaikan pesanku untuk Selena.”
**
Selena memakai jubah tidurnya dan menuruni tangga. Aroma roti panggang menguar ke segala penjuru rumah, membuat perutnya semakin keroncongan.
Eros sedang menata roti panggang di atas piring ketika Selena memasuki dapur. Alisnya terangkat, ini adalah pertama kalinya ia melihat pria itu memasak. Selena pikir, Eros hanya lelaki angkuh yang hanya bisa menyuruh orang dengan telunjuknya. Dan ke mana koki yang biasa menyiapkan makanan untuknya?
“Bukankah aku menyuruhmu untuk tetap di atas?” tanya Eros ketika Selena berjalan mendekat ke arahnya.
“Kau bisa memasak?” Bukannya menjawab, wanita itu malah mengajukan pertanyaan lain. “Sejak kapan? Ke mana koki yang biasa memasak untukku?”
Eros melirik wanita itu sebentar. “Kau belum menjawab pertanyaanku, dear.”
__ADS_1
“Dear?” Selena mengernyit. “Itu terdengar menjijikkan,” ungkap Selena frontal.
Eros tersenyum miring sambil menaruh piring berisi roti panggang di hadapan Selena. “Benarkah? Karena kulihat pipimu merona.”
Selena memutar mata bosan, lalu duduk di kursi dengan mata berbinar. Ia tidak peduli dengan Eros, ia hanya peduli dengan dua lembar roti panggang berwarna kecokelatan itu.
Kedua alis Eros terangkat ketika Selena langsung melahap roti panggangnya dengan langsung menggunakan kedua tangannya. Wanita itu tampak lahap dan hanya butuh satu menit untuk menghabiskan rotinya.
“Apa masih ada lagi?” Selena mendongak.
Eros mengerjap. “Kau...masih lapar?”
Selena memalingkan wajah. “Aku, kan tidak makan sendiri.”
Ah, Eros lupa kalau Selena sedang mengandung. Untung saja ia membuat empat lembar roti panggang, meski dua roti yang tersisa sebenarnya untuk dirinya sendiri.
“Kau yakin bisa menghabiskan semuanya?” tanya Eros sambil menaruh dua lembar roti yang tersisa. Pria itu kemudian mengambil gelas dan menuang susu cokelat hangat ke dalamnya.
Selena hanya mendelik pelan sambil kembali melahap rotinya dengan pipi merona. “Kau tidak sarapan?”
Eros mengangkat bahu. “Aku...belum lapar.” Ia kembali terkesima saat Selena menghabiskan susu hangatnya dalam sekali tegukan.
Pria itu terkekeh. Ia bisa melihat sisi lain Selena ketika sang wanita tengah hamil. Selama ini ia hanya duduk di kantor tanpa mengetahui bagaimana susah senangnya saat Selena tengah mengandung.
“Maaf, Tuan.”
Keduanya menoleh pada seorang pria berjas hitam yang datang dan membungkuk pelan.
Alis Eros terangkat melihat buket bunga mawar yang dibawa oleh orang suruhannya itu.
“Apa yang ada di tanganmu?” tanya Eros sambil mendekat.
“Ah, ini...” Pria itu tampak ragu-ragu. “Ada kiriman bunga untuk Nyonya Selena.”
Eros melirik Selena yang tengah menatap ke arah pria berjas itu dengan kening mengerut.
Eros meraih buket bunga mawar itu dan tatapannya langsung tertuju pada sebuah catatan kecil yang tersemat di dalamnya.
Senang bisa melihatmu kembali.
Orlando Cloe.
__ADS_1
Eros tersenyum miring, lalu meremas kertas itu sampai tak berbentuk. Rupanya masih ada satu lalat yang belum ia bereskan.