Terjebak Bersama Sang Iblis

Terjebak Bersama Sang Iblis
Bagian 32


__ADS_3

Seperti malam-malam sebelumnya, Selena meringkuk di dalam bathtub dengan gaun yang masih dipakainya sejak pagi. Wanita itu memejamkan mata, lalu memutar keran, membiarkan shower di atasnya mengeluarkan air dan membasahi tubuh.


Mungkin Selena tak menangis lagi, tapi luka di hatinya masih ada. Bekasnya lebih besar dari yang ia kira. Saat ia sedang sendiri, rasa sakit itu seolah menjalar, menggerogoti setiap syaraf tubuhnya. Tak terlihat, bahkan tak berdarah, tapi mampu membuat Selena tak bisa tidur lelap setiap malamnya.


Tes.


Tes.


Air meluap, membuat sebagian jatuh ke lantai dan menggenang di sekitar bathtub.


Selena membuka mata, hanya untuk sesaat karena setelahnya ia menenggelamkan tubuhnya ke dalam air.


“Buatlah aku...melupakan Emilia.”


Mengapa...kalimat itu selalu terngiang di kepalanya?


**


“Aku membutuhkan Sam.”


Eros yang tengah mengiris roti panggangnya mendongak. Sedikit terpana akan penampilan Selena pagi ini. Dalam balutan dress floral selutut, Selena tampak menampilkan kesan berbeda, yang sebelumnya tidak pernah ia lihat. Seperti seorang wanita manis dan penurut. Bukan sosok pembangkang yang selalu membuat Eros harus menarik urat-uratnya ketika berbicara.


“Aku kan sudah memberimu—“


“Selena!”


Perhatian Eros kembali beralih pada seorang pria yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah dan menginterupsi ucapannya.


“Kenapa dia ada di sini?”


Selena tersenyum puas sambil mencomot sebuah apel dan menggigitnya separuh. “Saat menjadi model, aku membutuhkan asistenku.”


“Selena!” Sam tampak sedikit berlari menuju wanita itu dan tak mengacuhkan Eros yang menatap tajam padanya. “Oh God! Akhir-akhir ini kau sering menghilang tanpa kabar,” katanya seolah menyindir. “Mobilnya sudah siap. Apa kita harus berangkat sekarang?”


Eros masih setia menatap kedua orang itu ketika ia meraih gelas berisi air dan meneguknya. “Lepaskan tanganmu dari calon istriku.”


Sam mengerjap. Melirik tangannya yang menggenggam tangan Selena, lalu menoleh ke arah Eros dan tersenyum, mengejek. “Calon istri? Siapa yang kau maksud?”

__ADS_1


"Masuk tanpa izin dan berbicara seenaknya, itu sudah menjelaskan seperti apa dirimu," tukas Eros tajam.


Sam angkat bahu, tak acuh. "Sama seperti yang sudah kau lakukan pada Selena, itu juga sudah menjelaskan seperti apa dirimu."


Selena menghela napas pelan. “Sudahlah, ayo, kita berangkat sekarang.” Ia menarik tangan Sam untuk segera pergi dari tempat itu, kalau tidak keduanya pasti akan saling baku hantam setelah ini.


“Pergilah,” kata Eros kemudian menghentikan langkah Selena. “Tapi orangku tetap akan mengikutimu—ke mana pun kau pergi .”


Selena melengos, tak ingin mengindahkan ucapan pria itu, sementara Sam hanya tertawa sinis. “Bagaimana mungkin kau pernah jatuh cinta pada pria seperti itu?” katanya dengan suara keras.


**


Nyonya William sampai terperanjat dari tempat duduknya ketika ia melihat mobil Eros terparkir di depan rumah dari balik jendela kamarnya. Wanita paruh baya itu tersenyum cerah dan meletakkan tehnya. Buru-buru keluar dari dalam kamar untuk menyambut sang pria.


“Eros, anakku!”


Eros hanya diam saja menerima pelukan singkat ibunya. Tepat saat itu, ia melihat sosok Emilia yang sedang menuruni tangga bersama Alex dengan sebuah koper besar yang dibawa pria itu.


“Ibu senang kau ke sini, Nak.”


Eros melepaskan pelukan ibunya, namun tatapannya masih terpaku pada Alex dan Emilia yang menghentikan langkah.


**


“Menikah?” Nyonya William tersenyum hambar. Sekali lagi memastikan bahwa apa yang barusan didengarnya itu tidak benar. “Apa kau tidak terlalu terburu-buru?”


“Aku tidak peduli Ibu menyukai Selena atau tidak. Sejatinya dia tidak akan tinggal bersama Ibu.”


“Eros, jaga bicaramu,” kata Alex penuh peringatan.


Eros melirik Alex dan menatap sebelah tangan pria itu memegang tangan Emilia dengan erat. Seakan melindunginya.


Sepertinya Alex sudah menyadari. Ya. Seharusnya sejak awal Alex memang menyadarinya—bahwa Eros tak pernah main-main. Ia tipe yang tidak pandang bulu.


“Keputusanku sudah bulat. Aku akan menikah pada hari Minggu nanti.”


Semuanya terkejut, terlebih Nyonya William.

__ADS_1


“Eros—“


“Maaf menyela, Bu,” potong Alex kemudian. Sebelah tangan pria itu terkepal. “Bisa tolong antarkan Emilia ke depan?”


Nyonya William menatap kedua putranya yang saling menatap dengan pandangan datar dan dingin. Setelah menghela napas pelan, wanita paruh baya itu mengangguk pasrah.


“Ayo, Emilia.”


Emilia sempat melirik Alex ketika pria itu melepaskan genggamannya tanpa menoleh lagi, bahkan ketika Nyonya William menuntunnya untuk menjauhi tempat itu.


“Jangan terus menekan Ibu dengan sikapmu yang seperti itu.” Alex duduk tegak di seberang meja. Menatap Eros lebih tegas dari biasanya.


Eros tersenyum kecut. “Menekan katamu? Sejak kecil aku selalu menuruti kata-katanya dan melakukan hal yang tidak pernah aku sukai.”


Ibu dan ayahnya menyuruh untuk mengikuti semua les privat yang dilakukan oleh Alex. Menyuruhnya untuk menjaga tata krama ketika sedang makan dan berbicara. Menyuruhnya untuk mendapatkan peringkat—setidaknya sepuluh besar setiap ujian sekolah. Menyuruhnya untuk menguasai empat bahasa seperti Alex. Semuanya Alex. Bahkan Emilia dijodohkan dengan Alex.


“Dia adalah Ibumu. Orang yang telah melahirkanmu dengan susah payah.” Meski Alex hanyalah anak tiri, tapi ia tetap terluka saat melihat Eros memperlakukan Nyonya William dengan segala sikapnya.


“Lalu mengabaikanku untuk mengurusmu, begitu?” sahut Eros dengan nada miris. “Katakan, adakah alasan untukku mempercayai keluargaku sendiri?” Pria itu menggeleng. “Tidak ada.”


Alex tersenyum jengah. Kesabarannya hampir mencapai batas. “Meskipun kau tidak percaya, itu bukan alasan untuk menyakiti keluargamu sendiri.”


Eros tertawa. Tawa sinis yang dipenuhi luka. Kenapa Alex berkata seolah-olah dialah pria yang paling jahat di sini? Bukan mereka yang terluka. Mereka hanya menuai apa yang mereka tanam.


Alex sampai pada batasnya. Ia bangkit dari kursi dan menarik bagian kemeja depan Eros, sehingga pria itu sedikit terangkat dari tempat duduknya. “Dulu aku selalu suka setiap kali melihat tawamu, tapi kini rasanya sangat muak.”


Eros yang polos dan yang Alex begitu kasihi, kini telah berubah menjadi sosok yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


“Baguslah, karena aku lebih muak padamu.”


Rahang Alex mengeras dan semakin mengeratkan cengkeramannya pada kemeja Eros. “Aku ingatkan padamu, jangan pernah menyentuh calon bayiku.”


Eros menyeringai. “Bukankah aku baik hati? Setidaknya dia tidak mati seperti anakku.”


“Apa...yang kau katakan?”


Alex tercenung. Ia buru-buru melepaskan cengkeramannya dan berbalik dengan wajah panik. “Ibu?!”

__ADS_1


Nyonya William mendekat dengan wajah pucat. Tatapannya lurus pada Eros yang terlihat paling tenang di antara ketiga orang itu. “Ibu tanya, apa yang barusan kau katakan, Eros?!” tanya wanita paruh baya itu dengan nada tidak sabar.


Alex melirik Eros dengan cepat. Sementara pria itu menyeringai tipis. “Anakku,” katanya dengan nada puas. “Anakku yang pernah tumbuh di rahim Emilia.”


__ADS_2