
Emilia menarik nafas dan membuangnya berulang kali. Ia menatap pintu kayu di hadapannya dan sesekali meremas bunga dan bingkisan yang dipegangnya.
Saat pintu terbuka, Emilia dengan cepat mengangkat kepala.
"Silahkan masuk, Nyonya." Pelayan itu membungkuk singkat sebelum menggeser tubuhnya.
Emilia mengangguk. Sedikit ragu ia melangkah melewati pintu yang setengah terbuka. Setelah tubuhnya masuk sempurna ke dalam kamar itu, sang pelayan yang berada di luar menutup pintu, membuat Emilia sedikit berjengit karena kaget.
Emilia berdeham. Ia melirik Eros yang duduk memunggunginya menghadap jendela dengan kepala dan lengan yang masih diperban.
"Aku kemari mewakili Alex." Emilia menyimpan bingkisan dan bunga di atas nakas. Lalu hanya berdiri mematung di sana setelahnya, menunggu si pemilik kamar merespon.
Eros menyimpan tabletnya di atas sebuah meja bundar yang berada di samping kursi yang ia duduki. Ia masih harus memantau perusahaannya yang baru berkembang, tapi ia malah mendapati kabar tak sedap saat membaca berita pagi ini. Sekarang Eros mengerti mengapa Leo menghubunginya berulang kali dan ibunya bertingkah aneh.
Sempat tak mengacuhkan keberadaan Emilia, Eros menghela napas pelan, lalu memutar kepalanya sedikit. "Oh, duduklah," katanya sambil bangkit dari kursi dan berbalik.
Emilia berjalan sedikit canggung saat Eros menuntunnya pada dua buah sofa yang terletak di dekat pintu masuk. Tentu saja ia hafal setiap lekuk rumah ini karena di rumah inilah ia bertemu dengan Alex untuk pertama kali dan juga...Eros setelahnya. Di kamar ini pula ia dan Eros—
"Kau kenapa?" Eros duduk di seberang kursi Emilia dan menyilang kaki. Menyadari kedua bola mata wanita itu mengamati setiap sudut kamarnya. "Sedang bernostalgia?" sindirnya tanpa ragu.
Emilia berkedip. "Tidak."
Setelah itu suasana menjadi lebih canggung. Eros hanya terdiam sambil melempar pandangannya ke luar jendela.
__ADS_1
Diam-diam Emilia menggigit bibir, mulutnya terbuka untuk mengatakan sesuatu, "terima kasih."
"Hmm?"
"Karena telah menyelamatkanku saat di Maldives."
Eros bertopang dagu, masih mempertahankan tatapannya pada langit yang begitu cerah dan biru. "Selena yang memaksaku. Jangan terlalu percaya diri."
Emilia tersenyum pahit. Mendengar nama Selena, ia jadi teringat sesuatu. "Bagaimanapun aku harus berterima kasih," katanya sambil menelan ludah. "Apa kau...sudah melihat beritanya?"
"Apa?" tanya Eros pura-pura tidak mengerti.
"Selena dan Leo, gosip itu tidak benar, kan?"
Semua orang sudah tahu. Berarti hanya Eros yang tidak mengetahui hal ini. Bagus sekali, semua orang pasti sedang menertawakannya sekarang. Miris sekali. Ia benar-benar terlihat seperti pria malang yang dicampakkan dua wanita sekaligus. Keterlaluan ibunya, sampai menguntit Selena dan Leo segala. Lalu menyebar gosip untuk memisahkannya dengan wanita itu.
Skakmat.
Emilia tersenyum hambar. "Maaf, aku tidak bermaksud untuk ikut campur."
Seorang pelayan mengetuk pintu dan masuk setelahnya dengan nampan berisi cangkir dan teko kecil. Tak ada percakapan sedikitpun ketika pelayan itu menuang teh ke dalam dua cangkir keramik bermotif bunga.
Emilia memusatkan tatapannya pada teh panas yang masih mengepul, sementara Eros tampak terhanyut dengan pikirannya. Seolah sedang memikirkan sesuatu yang serius. Dan Emilia merasa bahwa Eros tampak berbeda dari yang ia lihat saat di Maldives. Pria itu masih sering menyerangnya dengan kata-kata tajam, namun lebih bisa mengontrol emosi dan terlihat...sedikit gusar?
__ADS_1
Pelayan itu membungkuk setelah selesai menuang teh lalu undur diri tanpa suara.
Tak tahu harus berkata apa lagi, Emilia meraih teh yang hanya bisa ditemuinya di kediaman William. Mencari pengalihan untuk suasana yang sangat kaku dan canggung.
Ia hirup aroma itu dalam-dalam, hingga kemudian—"Huek!"
PYAR!
Eros berjengit. Cairan yang tumpah di lantai tampak mengenai ujung kakinya. Ia melirik Emilia yang menutup mulutnya seperti orang ingin muntah.
"Ma—huek!"
Mata Emilia berkaca-kaca, sambil terus menutup mulutnya wanita itu berlari ke kamar mandi yang ada di dalam kamar.
Eros mematung. Ia menatap pecahan keramik yang bertebaran di lantai. Mungkinkah Emilia...hamil?
***
"Apa Eros pergi ke kantor hari ini?"
"Sepertinya tidak."
Nyonya William menutup majalahnya dan mendesah pelan. "Eros sedikit keras kepala. Bagaimanapun caranya kita harus memisahkan Eros dan wanita itu."
__ADS_1
Tuan Arthur—kaki tangan Nyonya William—mengangguk pelan. "Baik, Nyonya."
"Jangan biarkan siapapun mengetahui hal ini, termasuk Alex." Tatapan Nyonya William beralih pada sebuah figura besar yang tergantung di atas perapian—potret suaminya yang sedang tersenyum dan memeluknya mesra. "Tidak boleh ada yang tahu bahwa ternyata suamiku yang telah menabrak ayah Selena."