
Pintu terbuka dengan pelan.
Kamar itu temaram, namun cahaya bulan cukup untuk menerangi Selena yang tertidur di ranjang besarnya.
Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Meskipun niatnya hanya untuk memastikan apakah wanita itu sudah tidur atau belum, namun kakinya ternyata mengkhianati.
Tanpa disadari, ia telah berdiri di samping ranjang dan menatap wajah sang jelita yang tampak mendengkur halus. Ia membungkuk. Jemari kasarnya mengelus kedua alis yang bertaut dan setelah itu sang jelita melenguh pelan sambil memiringkan tubuh.
Ia kembali menarik tangannya—takut membangunkan wanita yang hanya mengenakan gaun tidur berwarna hitam dengan tali tipis itu. Lama ia terdiam. Namun beberapa menit kemudian tubuhnya membungkuk.
Bayangan di dinding menampilkan bagaimana ia mendekatkan wajah pada sang jelita yang tertidur. Mengecup bibir yang selama ini sering mendebat segala ucapannya. Menekannya hati-hati. Lalu seolah ribuan kupu-kupu muncul di dalam perutnya. Itu aneh namun tidak menyakitkan. Ia tidak benci namun juga tidak berarti menyukainya.
Seolah tersadar, ia dengan cepat menegakkan tubuh. Di dalam keremangan itu bulan tak akan tahu bahwa pipi tirusnya menampilkan sedikit rona kemerahan.
Setelah mencuri satu ciuman, ia pergi tanpa meninggalkan jejak. Namun saat pintu tertutup, kedua manik itu terbuka.
**
Emilia duduk di sana dengan kedua tangan yang terikat borgol. Tampak miris jika melihat perutnya yang makin membesar. Janin dalam rahim itu—Eros sempat ingin membunuhnya. Tapi kini mengapa seolah semua kebencian itu lenyap. Apa lagi ketika Emilia menatapnya dengan ekspresi kosong.
Eros menarik napas pelan sebelum membuka percakapan, “aku sudah mengetahui semuanya.”
Apa yang Emilia alami selama ini dan tentu saja latar belakang keluarganya, Eros sudah kupas tuntas hingga ke akar. Sejak awal, Emilia hadir di tengah-tengah Alex dan Eros untuk memecah belah mereka. Karena wanita itu tahu, Eros bukanlah sosok yang akan bermurah hati. Melihat latar belakang Eros yang selalu diabaikan keluarganya dan menjadi bayangan Alex membuat Emilia dengan mudah memainkan ‘kartu’. Bermain dengan apik, tanpa harus repot-repot memecah belah keluarga itu dengan tangannya sendiri, sebab seterusnya, Eros yang akan melakukan semua itu dengan alasan balas dendam karena telah dikhianati.
Seperti kata orang-orang, wanita dan kecantikan adalah kombinasi yang mematikan. Seperti itulah Emilia. Dengan kecantikannya mampu membutakan mata Alex dan Eros. Satu panah untuk dua ekor rusa, bukankah itu mengagumkan?
Eros pikir, selama ini hanya ia yang gila, namun ternyata Emilia lebih gila. Setelah Eros sadar bahwa pikirannya telah dimanipulasi, nyatanya ia telah kehilangan segalanya. Seolah semuanya kini berbalik dan takdir menamparnya lebih keras.
Terlalu larut dalam dendam, ia sampai lupa jalan yang dilaluinya.
Kembali fokus pada Emilia yang belum bersuara sejak tadi, dokter mengatakan bahwa wanita itu mengalami gangguan mental sehingga pihak kepolisian memindahkannya ke rumah sakit jiwa—namun tetap dalam pengawasan yang ketat. Sementara bibinya, Nyonya Swan, juga masih dalam pemeriksaan polisi. Menyelidiki apakah wanita itu terlibat dalam semua rencana Emilia atau tidak.
“Emilia—“
“Bukankah kau ingin membunuhku?” Mata wanita itu berkaca-kaca. “Kau tak akan ragu-ragu lagi, kan? Sebab aku telah membunuh Alex dan ibumu.”
Ada keheningan sebelum Eros menjawab, “aku tidak akan melakukannya.”
“Kenapa?” Emilia memajukan tubuhnya. “Lakukan saja jangan sungkan! Lagi pula aku sudah tidak peduli lagi tentang hidup ataupun mati.”
Wanita itu menangis, namun bibirnya selalu menyeringai.
“Aku tidak bisa...” Eros melirik perut wanita itu. “...karena ada darah daging Alex dalam rahimmu.”
Emilia sontak tertawa. “Kau masih bisa berkata seperti itu setelah sebelumnya kau mencoba untuk meracuniku?”
__ADS_1
Eros menutup matanya. Ia memang pengecut.
“Semuanya sudah terlambat, Eros,” kata Emilia dengan nada puas. “Kau telah menghancurkan keluargamu sendiri.”
Eros sempat menatap Emilia untuk beberapa detik sebelum akhirnya bangkit dari kursi dan berbalik. Ia tidak pernah merasakan sakit yang seperti ini, bahkan perihnya melebihi saat ia tahu bahwa Emilia bersama Alex.
Apakah ini yang namanya penyesalan?
Padahal Eros bersumpah, tak akan pernah menyesali apa pun dalam hidupnya meski itu sesuatu yang berakhir dengan buruk.
“Aku akan kembali saat bayi itu lahir,” katanya menghentikan langkah sejenak, namun tetap berdiri pada posisinya. “Jangan pernah mencoba untuk menyakiti janin itu atau kau akan rasakan akibatnya.”
Eros tahu, ancaman apa pun tak akan pernah berhasil karena Emilia bukanlah orang yang ia kenal selama ini. Semuanya hanya tipuan. Semua sikap lemah lembutnya hanyalah pengalihan untuk sisi lain dari dirinya.
Eros kembali mengambil langkah namun Emilia dengan cepat menginterupsi, membuat ia mematung dengan kalimat yang diucapkan wanita itu.
“Apakah kau akan percaya kalau aku mengatakan bahwa aku benar-benar mencintai Alex?”
Kedua tangan Eros terkepal.
Emilia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menatap meja di hadapannya dengan tatapan sendu. Air matanya tak berhenti mengalir. “Aku...mencintai Alex. Itu bukan sebuah kebohongan.”
Eros menengadahkan kepalanya. Dadanya sakit, sakit sekali...
“Aku benar-benar mencintainya...bahkan bayi ini—aku mencintainya...” Tangis Emilia mengeras. Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Bagaimana mungkin aku tidak mencintai Alex...”
“Aku bahkan merasa bahagia...aku bahagia bersamanya...”
Tangis wanita itu tak berhenti sampai Eros meninggalkan ruangan itu.
Meninggalkan juga sebagian penyesalannya di sana.
**
Selama beberapa hari ini Selena menyadari bahwa Eros menjadi lebih pendiam dari sebelumnya.
Selena juga tidak mengerti mengapa pria itu diam-diam menyelinap ke kamar dan menciumnya.
Bukankah itu aneh?
Sore itu, Eros pulang lebih awal. Ekspresi lelah terlihat di wajahnya, bahkan ia tidak sekalipun menyapa ketika Selena menuruni tangga dan berpapasan dengannya.
Selena menghentikan langkah lalu melirik Eros yang menaiki tangga dengan cepat.
“Kau tidak lembur?” Entah mengapa ia ingin menarik perhatian pria itu. Apakah karena ia sedang hamil?
“Seperti yang kau lihat.” Eros memang menghentikan langkah, namun hanya beberapa detik.
__ADS_1
“Eros!” panggil Selena—yang kali ini berhasil membuat Eros menoleh dengan ekspresi malas.
“Apa?”
Selena menggigit bibir dan memiringkan kepala. “Aku ingin...jalan-jalan...?”
Eros mengernyit. Namun entah mengapa beberapa saat kemudian ia menemukan dirinya memenuhi keinginan wanita itu.
**
“Kau mau ke gereja?”
Selena mengangguk. “Sudah lama aku tidak berdoa.”
Eros hanya mengangkat bahu lalu kembali mengalihkan pandangannya pada jalanan yang cukup lengang.
Sepanjang jalan mereka hanya terdiam. Terlalu hening. Terlalu damai. Namun bagi Selena, ia melihat ada kelelahan yang terpancar dari kedua mata Eros yang biasanya memberikan tatapan tajam.
Sepanjang jalan juga mereka menyadari bahwa pepohonan mulai menguning. Sebagian dedaunan telah gugur dan berserak di sekitar aspal yang mengantarkan mereka pada sebuah gereja di ujung sana.
Mobil terhenti.
Selena terpana ketika Eros sudah berdiri di samping mobil dan membukakan pintu untuknya.
Mencoba untuk tak acuh, Selena berjalan mendahului Eros saat masuk ke dalam gereja.
Selena memilih bangku yang berada di tengah-tengah dan mulai menutup matanya sambil mengeratkan kedua tangan. Sementara wanita itu tenggelam dalam khidmat, Eros hanya berdiri di sana dan menatap punggung Selena dalam bisu.
“Kau tidak berdoa?”
Selena bangkit dari kursi dan menatap Eros yang setia mengikuti pergerakannya.
Pria itu tak menjawab. Hanya terus mengikuti setiap langkah Selena yang berjalan ke arahnya.
“Hmm?” Selena mengibas. “Baiklah lupakan,” katanya sambil melewati Eros. “Ayo kita pu—“
BRUK!
Langkah Selena terhenti. Ia dengan cepat berbalik dan matanya terbelalak menatap Eros yang berlutut dengan punggung bergetar.
“Apakah Tuhan akan mengampuniku?” katanya dengan suara yang begitu memilukan. “Apa yang telah aku lakukan selama ini...”
Selena menelan ludah. “Eros...”
“Aku adalah orang yang tidak berguna!”
Pria itu bersujud dan badannya bergetar lebih keras karena menangis.
__ADS_1
Selena membatu. Air mata mengalir tanpa diminta. Sejak hari itu ia percaya bahwa Eros mungkin saja telah kembali berubah.