Terjebak Bersama Sang Iblis

Terjebak Bersama Sang Iblis
Bagian 53


__ADS_3

“I got you.”


Selena mematung.


Tatapan tajam pria itu muncul dari balik payung hitam yang menutupinya.


PLAK!


Selena dengan cepat menepis tangan kekar pria itu menyebabkan payung hitamnya ikut terjatuh. Wanita itu berbalik, melangkah secepat yang ia bisa meski ia tahu itu hanya akan berakhir sia-sia.


“Sepertinya kau sangat takut padaku.”


Selena menutup matanya sejenak, mencoba untuk tak acuh, sementara Eros mengekor dengan santai di belakangnya. Pria itu menatap punggung Selena dengan tajam, sebelum menyejajarkan langkahnya dan membawa tubuh wanita itu ke dalam pelukan.


Selena terpekik. “LEPAS!” Ia memukuli dada pria itu. “LEPASKAN AKU!”


“Tak akan.” Eros menghirup aroma tubuh wanita itu. Mencoba memastikan sekali lagi bahwa sang wanita memang nyata, bukan sekadar imajinasi saja. “Sampai aku mengerti apa yang kurasakan, aku tak akan pernah melepaskanmu.”


Selena berhenti berontak. Wajahnya menempel sempurna di dada bidang Eros. Betapa ia merasa kecil dan lemah dalam dekapan pria itu.


“Aku tidak mau.” Selena menelan ludah. “Aku tidak mau lagi berurusan denganmu. Apa kepergianku masih belum jelas bagimu?”


Eros melepas pelukannya, sebagai gantinya ia merengkuh wajah Selena dan menatap wanita itu dengan sendu.


Hujan tiba-tiba menjadi lebat.


Selena terbelalak ketika Eros menggumamkan sesuatu di antara bisingnya air hujan.


Sesaat setelah itu bibir mereka bertemu. Namun hanya satu detik ketika Selena tersadar dan secepat kilat menjauh.


“Hentikan,” katanya dengan suara bergetar. “Hentikan semua ini.”


Eros kembali mencoba untuk merapatkan jarak mereka namun Selena dengan cepat melangkah mundur.


“KUBILANG HENTIKAN!” Tangisnya pecah. “Aku mohon...” Ia mengangkat kepalanya dan menatap Eros dengan ekspresi lelah. “...aku mohon biarkan aku pergi.”


Eros menatap Selena yang menangis dalam diam, lalu pria itu kembali mendekat sambil membuka jas hitamnya untuk melindungi tubuh mungil sang wanita. Teringat kalau Selena tengah mengandung buah hati mereka.


Mereka?


Itu terdengar sedikit berlebihan, karena nyatanya Eros dan Selena tidak pernah seakrab itu.


Selena masih menunduk dan menatap aspal di bawah kakinya.


Ia lelah. Sangat lelah.


Bahkan ketika Eros mengangkat tubuhnya dan mengecup keningnya dengan mesra, Selena hanya terdiam.


“Kau bisa sakit. Kita bicara di mobil.”


Selena tersenyum kecut. “Tidak ada yang perlu dibicarakan.”

__ADS_1


“Kalau begitu biarkan aku yang berbicara.” Eros mengeratkan dekapannya. “Kita masih sah sebagai suami dan istri.”


“Suami dan istri?” Selena tertawa remeh. “Aku tidak pernah menganggap pernikahan itu dengan serius.”


Langkah Eros terhenti.


“Sejak awal kau hanya memaksaku. Tidak pernah memedulikan perasaanku sedikit saja. Menyeretku ke dalam masalahmu yang rumit dan memperlakukanku seperti j*lang yang bisa kau sentuh sesuka hati. Setelah semua yang kau lakukan, mengapa aku harus bertahan dengan orang sepertimu?”


Eros melirik Selena sejenak, lalu kembali melanjutkan langkah sambil berkata, “karena aku mulai tertarik padamu...”


**


“Kau...Andreas?”


Andreas berdiri dan menunduk sebentar. Sebelah tangannya terangkat. “Silakan duduk.”


Orlando manggut-manggut sambil menarik kursi.


Andreas kembali duduk dan menarik napas. “Maaf sudah mengganggu waktu Anda, Tuan Cloe.”


Kedua alis sang tunggal Cloe terangkat. “Aku yakin kau kemari bukan atas perintah Eros.”


Andreas menghela napas pelan. “Tuan Eros...pergi ke Jepang.”


Orlando terkekeh pelan. “Sudah kuduga...” gumamnya setengah khawatir.


“Tuan,” panggil Andreas ragu.


“Mengenai perkataan Tuan waktu itu...apakah Tuan Alex...”


Orlando menghela napas pelan lalu menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia mengerti. Andreas memang tidak memihak siapa pun, tapi pria itu tampak begitu peduli dengan Alex.


“Jika aku memberitahumu, posisimu akan sulit.”


Andreas mengangkat kepala. “Tapi saya sudah menganggap Tuan Alex seperti saudara saya sendiri.”


“Well. Kau menganggap Alex sebagai saudaramu tapi orang-orang tahu bahwa Eros adalah saudara kandungnya.”


Andreas mendesah pelan. “Saya mohon...Anda tahu Tuan Eros orang yang seperti apa, kan?”


Tatapan Orlando berganti dengan penuh rasa keingintahuan. “Apa sebenarnya yang kau rencanakan?”


**


Kejadian ini kembali terulang. Bedanya kali ini Selena terkunci di dalam sebuah kamar hotel yang sangat mewah dan luas. Ia berbaring sambil memunggungi Eros yang duduk di samping jendela—memandangi hujan yang belum kunjung reda.


Sejak Eros memaksanya ke dalam mobil, Selena tidak sekali pun bersuara. Bahkan ketika Eros melayangkan pertanyaan padanya, ia tetap bungkam.


Eros melirik punggung Selena yang tenggelam di balik selimut putih itu sebelum melirik sebuah troli berisi makanan. “Kau belum mengisi perutmu sejak tadi.”


Selena diam.

__ADS_1


“Kau harus pikirkan bayinya.”


Tetap diam.


Eros menutup matanya, kesabarannya nyaris mencapai batas. “Jangan membuatku melakukan hal yang tidak kau inginkan, Selena,” katanya sambil berdiri.


“Aku tidak mau,” sahut Selena dingin.


“Baiklah...” Eros mengambil semangkuk sup dan berjalan ke arah Selena.


Sang wanita langsung beringsut ketika Eros duduk di sisi ranjang secara tiba-tiba.


“Aku bilang aku tidak mau!”


Eros berlagak seperti orang tuli. Pria itu meraih kedua tangan Selena dan mengikat keduanya di belakang tubuh dengan dasi miliknya.


“Apa yang kau lakukan?!” protes Selena ketika Eros berganti mengikat kakinya. “S*alan! Lepaskan aku!”


Saat mendengar umpatan wanita itu Eros mendelik. “Tidak sebelum kau menghabiskan makanannya.”


Selena melotot. Eros menyendok sup ke dalam mulutnya dan setelah itu sang pria menarik kepala Selena untuk memaksa wanita itu menelan sup melalui mulutnya.


Selena nyaris tersedak karena berontak, tapi kepalanya ditahan begitu kuat. Eros melakukan hal itu hingga supnya tersisa setengah.


“Ummh—Cukuph!” Selena terengah. Ia memaksa untuk memalingkan wajah, sehingga sup itu menodai sudut bibirnya.


“Bagus.” Eros mengelap sudut bibir wanita itu dengan jempolnya. “Ini yang akan kau dapatkan jika melawanku.”


Selena mendelik. “Lepaskan ikatannya!”


Eros terkekeh sambil mengusap sebelah wajah Selena. “Bila diperhatikan, kau sangat seksi jika sedang marah.”


“Jangan bermain-main denganku!”


Kekehan Eros semakin menjadi, tapi pria itu tetap memenuhi keinginan Selena. Begitu ikatan di tangannya terlepas, Selena melayangkan kepalannya ke arah Eros—yang tentu saja langsung bisa dihindari oleh pria itu.


“Kau lumayan gesit juga.” Eros mengecup tangan Selena yang hampir saja membuat wajahnya babak belur. “Tapi butuh waktu seribu tahun untuk bisa mengenaiku, kau tahu?”


Selena kembali menarik tangannya dan memalingkan wajah.


Eros menatap wanita itu dalam diam. Ada sebuah perasaan yang menyeruak dalam dadanya, dan itu—


Drrt!


Drrt!


Keduanya sama-sama menoleh ketika ponsel Eros tiba-tiba saja bergetar di atas nakas. Pria itu melirik Selena sebentar sebelum meraih ponselnya dan menjauhi tempat tidur.


“Ada apa?” tanyanya setelah mengusap tombol hijau di layar ponsel.


Selena mendengus pelan sambil kembali membaringkan tubuhnya dan menarik selimut. Ketika ia hendak memejamkan mata, ia mendengar Eros bergumam, “Emilia...melahirkan?”

__ADS_1


Selena kembali terjaga sepenuhnya. Melahirkan? Padahal usia kandungan wanita itu belum mencapai bulan kesembilan.


__ADS_2