
“Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?” Alex mengerjap. Masih tidak menyangka akan melihat Andreas berdiri di depan pintu apartemennya. “Apa...Eros memberitahumu?”
“Jadi Tuan Eros benar-benar menyembunyikanmu?” tanya Andreas setengah geram.
“Menyembunyikan?” Alex mengernyit. “Apa maksudmu?”
Andreas melirik sekitarnya sebentar sebelum berkata, “boleh saya masuk?”
**
Alex melirik Andreas yang duduk di seberang sambil terdiam dan tak henti menatapnya. “Andreas?”
“Ah, maaf.” Andreas mengusap wajahnya sambil mendesah pelan. “Saya tidak menyangka bahwa Anda masih hidup.”
“Kenapa cara bicaramu jadi formal begitu?” Alex menarik napas. “Jadi apa yang tidak kuketahui selama ini?”
Andreas menunduk. “Eros...” Ia menjilat bibir. “Entah bagaimana tapi...semua orang telah mengetahui bahwa kau meninggal. Keluarga William mengadakan acara pemakaman untukmu.”
Alex tercenung. “...apa?”
“Aku sungguh tidak mengerti apa yang Eros lakukan, tapi aku takut jika dia ingin memanfaatkan posisi ini untuk—“
“Cukup.” Alex menelan ludah. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Kepalanya terasa pening.
“Untuk itu kau harus pulang,” kata Andreas. “Eros sedang pergi ke luar negeri, dengan begitu kau bisa kembali ke perusahaan dan mengungkap semua kebohongan ini.”
**
Selena mengelap sudut bibirnya sambil melirik Eros yang tengah meneguk anggur dengan gerakan elegan. Seolah tahu dirinya sedang diperhatikan, Eros kemudian menatap Selena dari balik gelasnya. Wanita itu buru-buru memalingkan wajah dan kembali sibuk dengan makanan yang tersisa di piringnya.
Pria itu terkekeh sambil meletakkan gelas. “Aku terkesan kau bisa duduk dengan tenang dan menyantap makanannya tanpa melayangkan protes.”
“Aku tidak mungkin kabur jika di sekelilingku hanyalah air laut.”
“Aku cerdas bukan?” Eros tersenyum miring.
“Tidak cukup cerdas untuk membiarkan wanita hamil memakai gaun terbuka di tempat seperti ini.”
Eros tercenung. Pria itu dengan cepat membuka jasnya dan meletakkan benda itu di bahu Selena.
“Maafkan aku,” bisik Eros sambil mengecup rambutnya.
Selena mematung. Apa katanya?
Maaf?
Pria itu...meminta maaf?
Selena mendongak. “Apa katamu?”
Eros mengerjap. “Apa?”
“Apa yang kau katakan barusan?”
Eros menegakkan tubuhnya dan melengos untuk kembali ke tempat duduknya.
Selena berdiri. “Kau meminta maaf padaku?”
Eros melirik Selena dengan tatapan malas. “Aku meminta maaf untuk anakku.”
__ADS_1
“Dia anakku!”
“Baiklah, anak kita,” ralat Eros cepat.
Selena mendengus sambil kembali duduk di kursi. Jas yang menempel di tubuhnya mengeluarkan aroma khas pria itu, sehingga Selena merasa pria itu tengah memeluknya sepanjang makan malam.
Selena berdeham pelan lalu meneguk air putihnya sebentar sebelum berkata, “setelah dari Phuket, aku ingin kembali ke Jepang.”
“Tidak,” tolak Eros tegas. “Kau akan kembali ke rumah.”
Selena meletakkan garpu dan pisaunya dengan kasar. “Aku tidak mau. Aku tidak akan kembali ke rumah.”
“Apa yang harus aku lakukan agar kau mau kembali ke rumah?” tanya Eros lelah. Ada yang pernah bilang kalau berdebat dengan ibu hamil adalah hal yang paling merepotkan?
Selena mengerjap. “Apa yang harus kau lakukan?” ulangnya tak yakin. “Memang kau mau menuruti semua keinginanku?”
“Apa pun asal jangan kembali ke Jepang.”
Selena benar-benar takjub akan perubahan sikap pria itu akhir-akhir ini.
“Baiklah.” Selena menelan ludah, lalu berdiri untuk menghampiri Eros. “Kalau begitu apa kau sanggup untuk meloncat ke dalam air laut yang dingin itu?”
“Sekarang?”
“Tentu saja,” kata Selena mantap.
Eros hanya menatapnya untuk beberapa detik tanpa mengamini ucapan Selena atau pun menolaknya. Tapi pria itu kemudian berdiri, memundurkan langkah sambil terus menatap Selena.
“Hanya itu yang kau inginkan?”
Selena melihat Eros yang terus memundurkan tubuh dan kini pria itu berhenti di samping pembatas pagar. Eros tersenyum ke arah Selena sebelum membiarkan tubuhnya terjun ke dalam air.
Selena terkesiap. Ia benar-benar tak menyangka bahwa Eros akan menceburkan dirinya ke dalam laut. Selena mencoba untuk tak acuh—dengan cepat berbalik dan kembali ke kursi—namun ia mengurungkan niatnya.
Selena berdiri di dekat pagar dan melihat air laut yang tenang. Itu tampak dalam dan dingin. Namun setelah beberapa saat, pria itu tak terlihat muncul ke permukaan.
“Eros!”
Tidak. Seharusnya Selena senang jika pria itu memang lenyap.
“Eros!”
Seharusnya ia berbahagia seandainya Eros tak pernah kembali dan ia bisa pergi kembali ke Jepang.
“Eros!”
Tapi mengapa ia masih peduli? Bukankah ini keinginannya?
Selena menggigit bibirnya. Apa Eros benar-benar tenggelam?
“Eros!”
“Aku di sini.”
Selena terlonjak sambil buru-buru berbalik. Eros berdiri di hadapannya dengan rambut dan pakaian yang basah.
“Kau...”
“Kenapa? Kau kecewa aku tidak mati, hmm?” Eros mendekat dan tersenyum miring. “Maaf telah mengecewakanmu, Sayang.”
__ADS_1
Selena memalingkan wajah.
“Tapi janji adalah janji. Sesuai kesepakatan kau akan kembali ke rumah.”
**
Emilia menatap langit-langit ruang persalinan itu dengan mata yang sedikit sayu. Napasnya terengah dan keringat bercucuran di wajah dan lehernya.
Wanita itu menoleh pada seorang perawat yang tengah memasukkan bayi ke dalam tabung inkubator. Tampak begitu kecil karena bayinya terlahir prematur.
Seandainya Alex masih hidup...
Emilia mendongak untuk menahan air mata yang mendesak keluar dari sudut matanya. Namun usahanya sia-sia, air mata malah semakin banyak menetes. Beberapa saat kemudian tangisnya pecah di ruangan itu.
Ia telah membunuh suaminya sendiri, lalu mengharapkan kehadirannya lagi?
**
Selena mendesah pelan. Ia telah menukar gaunnya dengan jubah mandi berwarna putih dan kini duduk di tepi ranjang, di mana Eros tengah berbaring sambil menantinya untuk bergabung.
“Kau tidak tidur?” tanya Eros dengan nada menggoda.
“Kenapa kita tidak kembali ke vila?” sahut Selena cepat.
Ya. Seharusnya ia tahu bahwa Eros telah merencanakan semua ini sampai ke akarnya. Itu bukan sekadar makan malam saja. Eros membawanya ke tengah laut, agar pria itu mampu membatasi pergerakannya.
Eros menatap punggung Selena dengan sebelah tangan yang menyangga tubuhnya. “Kau tidak suka kapal ini?”
“Aku tidak suka terjebak bersamamu,” gumam Selena setengah kesal.
Eros terkekeh. “Benarkah?” katanya sambil bangkit dan memeluk wanita itu dari belakang. Ia membenamkan kepalanya di ceruk leher sang wanita yang kini sedang meronta, meminta dilepaskan.
“Eros...” panggil Selena penuh peringatan.
Pria itu menulikan diri dan malah melayangkan kecupan-kecupan kecil di sepanjang garis leher Selena.
Selena menggigit bibir. Hatinya memang menolak untuk semua perlakuan pria itu tapi tubuhnya berkata lain.
“Eros...”
Panggilan itu malah membuat Eros semakin ‘menggila'. Pria itu mengeratkan pelukannya dan menyampirkan rambut Selena untuk membisikan sesuatu di telinganya.
“Aku merindukanmu...”
Selena meronta kecil ketika Eros membalikkan tubuhnya dan membawanya pada sebuah ciuman yang luar biasa memabukkan. Napas pria itu memburu dan Selena bisa merasakan bahwa sentuhannya terasa lebih lembut meski begitu intens.
Selena tidak tahu apa yang telah terjadi kepada dirinya. Mungkin ia akan menjadi seorang munafik karena nyatanya malah ikut terhanyut dengan perlakuan Eros yang begitu lembut dan hati-hati setelah berlagak menolak segala hal yang berkaitan dengan pria itu.
Mengapa ia selalu terjatuh di lubang yang sama? Haruskah ia menyerah dan membiarkan arus membawanya lebih dalam lagi?
Hi readers tercinta!
Sebelumnya aku minta maaf karena akhir-akhir ini hanya up satu episode, karena ada urusan didunia nyata yang ngga bisa ditunda gaes. Tapi aku selalu usahain untuk up setiap hari ya.
Tetap semangat dan selalu jaga kesehatan!
With love,
Sweetsugar.
__ADS_1