
“Kau tidak pernah mencintainya tapi kau selalu mencarinya seolah ia adalah milikmu. Sebenarnya apa yang kau inginkan?”
Sam merasakan tatapan tajam itu bisa menghancurkan apa pun yang ada di sekitarnya. Ia kira Eros akan memukulnya atau melakukan apa pun untuk menakutinya sehingga ia mau memberitahukan keberadaan Selena, tapi beberapa menit kemudian pria itu malah memejamkan mata dan menghela napas.
Eros mendelik. “Jika sesuatu terjadi pada Selena, aku tidak akan pernah mengampunimu.”
Sam mendengus. “Tidakkah kau sadar bahwa selama ini dia selalu terluka saat bersamamu?!” katanya muak. “Sebelum kau datang kembali, hidupnya sangat baik-baik saja. Lalu kau datang seperti s*tan dan saat itulah hidupnya menjadi kacau!” Sam melangkah ke dekat pintu. “Aku tak akan membiarkan Selena terluka lagi. Jadi silakan, pintunya terbuka lebar untukmu.”
Eros tak mengatakan apa pun. Pria itu hanya melirik sebentar sebelum keluar dengan langkah kasar.
Sam dengan cepat menutup pintu. Sungguh sebuah keajaiban saat wajahnya atau tubuhnya bisa baik-baik saja saat Eros menatapnya seolah ingin membunuhnya tadi.
**
Saat kembali ke rumah, Eros melimpahkan semua kemarahannya, beruntungnya Steve sudah kembali ke kantor.
“Nyonya pergi ke pemakaman dan saat itu ia tidak kembali ke mobil.”
Itu yang dikatakan salah satu sopir yang mengantar Selena sebelum wanita itu menghilang.
“Saya sudah mencarinya ke mana-mana, tapi...” Melihat kedua tangan Tuannya terkepal, pria itu ragu-ragu melanjutkan ucapannya. Seketika ia langsung bersimpuh di hadapan Eros. “Maafkan saya Tuan! Tolong maafkan saya!”
Dengan nada dingin Eros menyahut, “aku akan memaafkanmu, tapi mulai sekarang kau tidak perlu bekerja di sini lagi.”
Pria itu terbelalak. “Tuan!”
“Cepat pergi sebelum aku meremukkan kepalamu.”
Pria itu tunggang langgang pergi dari hadapan Eros. Para pelayan yang kebetulan berada di sana hanya sanggup memberi tatapan iba. Beruntung karena pria itu masih bisa pergi tanpa cacat sedikit pun.
Tapi sedetik kemudian seolah petir menyambar saat Eros berkata, “kalian semua juga dipecat. Mulai kemasi barang kalian dan jangan pernah kembali lagi.”
Para pelayan itu mematung, sementara Eros kembali menaiki tangga sambil menerima panggilan dari seseorang.
__ADS_1
“Apa?”
“Tuan Alex sudah sadar.”
**
“Apa kita langsung menuju hotel, Tuan?”
Orlando melonggarkan ikatan dasinya dan menjawab, “Ya. Hari ini aku sangat lelah.” Pria itu menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang dan melemparkan pandangannya ke luar.
Pemandangan saat musim gugur memang menakjubkan. Daun-daun tampak menguning dan bunga sakura—yang menjadi lambang negara yang ia kunjungi sekarang—juga tampak mulai berguguran. Terlihat begitu indah, membuat Orlando ingin berdiri di bawah pepohonan itu dan menikmati sakura yang berjatuhan di atas kepalanya.
Namun ada yang lebih menakjubkan dari semua itu. Sesuatu yang sempat membuat Orlando tak mempercayai penglihatannya.
Sosok itu memunggunginya, berjalan santai tak jauh di depan mobilnya sambil menenteng sesuatu. Orlando sampai meminta sang sopir untuk memelankan mobil saat ia melewati sosok itu.
Hanya memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Karena postur tubuh juga rambut keperakan itu hanya milik—
Orlando buru-buru membuka sabuk pengaman dan membanting pintu. Sedikit berlari untuk bisa menangkap sebelah lengan wanita berkulit pucat itu.
“Hei! Apa yang—“ Selena berbalik dan kedua matanya otomatis membulat. Ia berharap bahwa semua itu hanyalah mimpi. Namun cengkeraman di lengannya terlalu nyata. Pria itu memang bukan sekadar khayalan saja.
Orlando tak bisa menyembunyikan senyumnya meskipun ia masih bingung bagaimana Selena bisa ada di Jepang dan berjalan seorang diri tanpa dikawal siapa pun.
Semoga saja firasatnya kali ini benar.
**
Selena membuka pintu rumahnya dan menatap Orlando ragu-ragu sebelum mempersilahkan pria itu untuk masuk.
“Kau...benar-benar tidak akan menceritakan hal ini kepada siapa pun, kan?”
Orlando mengangguk pelan. “Jika itu berhubungan dengan Eros, kau tidak perlu khawatir.” Matanya terfokus pada rumah mini malis bercat putih itu. Walaupun kecil tapi terlihat sangat hangat dan nyaman. “Kau tahu sendiri aku tidak terlalu akrab dengannya.”
__ADS_1
Selena menghela napas pelan. “Baiklah. Silakan duduk, akan kuambilkan minuman.” Wanita itu bergegas menuju dapur sambil menenteng belanjaannya.
Orlando duduk di sofa ruang keluarga tanpa melepaskan tatapannya pada isi ruangan itu. Ia menerka-nerka, apakah Selena menempatkan barang-barangnya seorang diri? Karena terbiasa hidup tanpa keluarga, pasti itu menjadi pekerjaan yang tidak terlalu sulit baginya. Ya. Selena itu sangat mandiri dan Orlando menjadi semakin kagum padanya.
Tapi...
“Untuk musim gugur seperti ini teh hangat adalah yang terbaik.” Selena datang dengan sebuah nampan yang berisi teko kecil dan dua cangkir cawan. Wanita duduk di seberang tempat duduk Orlando setelah menaruh nampan dan menuang teh untuk sang pria.
Bukan bermaksud kurang ajar, tapi Orlando menyadari bahwa ada yang berbeda dari bentuk tubuh Selena, apalagi di bagian perutnya yang terlihat sedikit lebih buncit dari biasanya.
Mungkinkah...?
Selena melirik Orlando dari balik cawan berisi teh yang tengah disesapnya. Alis wanita itu terangkat saat menyadari tatapan intens sang pria berkacamata. “Ada apa?”
Orlando mengerjap. Pria itu tersenyum kecil sambil meraih cawan dan menghabiskan tehnya dalam sekali tegukan. “Hanya tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini.” Dan saat itu ia sadar, bahwa di antara jemari Selena sudah tidak tersemat sebuah cincin lagi. “Jadi...apa yang sebenarnya sudah terjadi?”
Orlando tidak pernah ingin tahu tentang kehidupan orang lain, tapi Selena seolah memiliki sesuatu yang membuatnya tertarik untuk mengetahui seluk beluk wanita itu.
Selena meletakkan cawannya dengan hati-hati, seperti ia menyusun rentetan kalimat di kepalanya dengan hati-hati pula. “Aku hanya ingin memulai hidup baru,” katanya sambil tersenyum tipis.
"Memulai?" Sebelah alis tebal Orlando terangkat.
Apa itu berarti bahwa selama ini Selena memang tidak bahagia seperti perkiraannya?
Selena kembali menuang teh pada cawan di hadapan Orlando setelah menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga. "Terkadang, kau memang harus mengambil keputusan meskipun pilihannya sangat sulit." Saat menuang teh gerakannya terlihat sangat anggun. "Aku ingin belajar dari masa lalu dan memperbaikinya sebelum terlambat."
Perkataan wanita itu mengandung banyak arti.
Orlando menelan ludah. "Selena," panggilnya penuh khidmat. Membuat Selena lekas mengangkat kepala dan meletakkan poci kecilnya. "Apa kau...mencintai Eros?"
Orlando hanya ingin memastikan, karena apa yang selama ini ia perhatikan tidak pernah seindah apa yang dikatakan orang-orang meskipun Eros dan Selena terikat dalam sebuah pernikahan.
Lama Selena terdiam sambil menatapnya, hingga kemudian wanita itu mengalihkan pandangan. "Iya..." katanya membuat Orlando terhenyak. Tapi Selena kembali menatapnya dengan senyum hambar. "...lima tahun yang lalu aku pernah mencintainya."
__ADS_1