
Leo sepertinya benar-benar sudah meredam gosip itu karena ketika Selena kembali ke apartemennya tidak terlihat sesuatu yang mencurigakan. Ia bernafas lega dan terburu membuka pintu yang ajaibnya tidak terkunci sama sekali.
Selena tercenung, sambil mengambil langkah waspada ia masuk ke dalam apartemen dan menjatuhkan tasnya saat sosok itu menyambutnya dengan tatapan tajam.
“Kau...”
Eros duduk dengan angkuh seperti biasa, persis di kursi yang sama saat pria itu pertama kali datang ke apartemennya. Perban yang terpasang di kepala dan lengannya hilang. Kenapa pria itu bisa sembuh begitu cepat?
“Ekspresi terkejutmu itu—apa karena kau tak menyangka bahwa aku masih bisa hidup sampai sekarang?”
“Hidup matimu itu bukan urusanku.”
“Ah! Padahal sudah dua kali kau menyelamatkanku dari kematian, kau tak ingat?” Eros menyeringai. “Aku tak suka mempunyai hutang budi terhadap seseorang.”
Selena menjilat bibirnya yang tiba-tiba terasa kering. “Apa kau tidak lelah?” katanya tersenyum frustrasi. “Baiklah terserah, lakukan apa pun yang kau mau.” Ia tahu bahwa berbicara dengan Eros hanya akan membuang waktu dan menyulut masalah lain.
Tatapan Eros melunak. Ia segera bangkit dan meraih tangan Selena sebelum wanita itu benar-benar pergi. “Kenapa kau selalu mencoba pergi dariku?”
Selena tersentak, sedikit merasa tak siap ketika Eros memeluknya dari belakang. “Sudah kubilang, jangan menyentuhku sesuka hatimu.” Ia berontak tapi itu bukan sebuah perlawanan yang cukup berarti bagi Eros.
“Aku bertanya padamu, Selena.”
Selena menolehkan kepalanya ke arah lain saat bibir Eros terasa menyentuh daun telinganya. “Kenapa aku harus tinggal sementara kita bukan siapa-siapa?”
Bukan siapa-siapa dalam arti sesungguhnya.
“Kau masih tak terima untuk permintaan cinta yang kutolak waktu itu?”
“Biar kuperjelas, aku sudah tidak peduli lagi.”
“Tidak peduli, tapi kau menyelamatkanku,” kata Eros mengeratkan pelukannya. “Apakah kau masih mencintaiku?”
“Tentu saja tidak,” jawab Selena cepat.
“Begitu?” Eros tersenyum hambar. “Kalau begitu aku akan membuatmu mencintaiku lagi.”
Mata Selena terbelalak saat tubuhnya diputar secepat kilat. Ciuman itu lembut dan tidak memaksa seperti biasanya. Hanya sebuah sentuhan singkat sehingga Selena tak mempunyai waktu untuk menghindar.
“Mulai hari ini dan seterusnya kau akan menjadi milikku.” Eros mencium tangan Selena yang entah sejak kapan sudah kembali berhiaskan cincin pertunangan mereka.
Selena dengan cepat menarik tangannya. Melepaskan cincin itu dan melemparkannya tepat ke arah Eros. “BERHENTI BERMAIN-MAIN DENGANKU!” teriaknya murka.
Eros menatap cincin yang jatuh di bawah kakinya.
__ADS_1
“SEJAK AWAL KAU TIDAK MENCINTAIKU! KAU HANYA MEMANFAATKANKU DAN AKU TIDAK INGIN DIPERLAKUKAN SEPERTI ITU LAGI! MENGERTI?!”
Selena terengah. Ia tidak menangis tidak pula tergagap seperti lima tahun lalu. Di hadapan Eros ia telah membuktikan bahwa dirinya bukanlah Selena yang dulu.
“Mengertilah, aku bukanlah gadis cupu yang kau kenal dulu. Semuanya telah berubah...”
Eros terkekeh pelan dan itu semakin menyulut amarah Selena. Pria itu kemudian mengangkat kepala, menatap Selena tanpa ekspresi.
“Kau tidak pernah berubah. Aku tahu kau tidak pernah berubah.”
“Apa yang harus kulakukan agar kau menghentikan semua ini?” Selena tersenyum lelah.
Eros memungut cincin itu dan kembali berjalan mendekati Selena lalu membisikkan sesuatu, “buatlah aku...jatuh cinta padamu.”
Selena terbelalak.
“Buat aku...melupakan Emilia seutuhnya...”
***
“Hmm? Ibu ada di sini?”
Alex mendapati Nyonya William berada di ruang tamu bersama Emilia. Kedua wanita itu tampak bercakap dengan wajah semringah seperti habis menang lotre.
“Hati-hati Emilia!” seru Nyonya William khawatir.
“Kau tampak senang sekali,” kata Alex setengah bingung. Lebih bingung karena ibunya berkunjung malam-malam seperti ini.
“Jadi Emilia belum memberi tahumu?” Nyonya William menatap kedua pasangan muda itu.
Alex mengernyit. “Apa...maksud Ibu?”
Emilia mengeratkan pelukannya pada Alex. “Selamat, kau akan menjadi Ayah.”
Alex tertegun. “A-Apa?” Matanya berkedip. “Aku akan jadi apa?”
Nyonya William menepuk bahu putra sulungnya dan tersenyum haru. “Kau akan jadi Ayah.”
Alex tak sanggup berkata-kata. Ia memeluk Emilia sambil mengecup puncak kepala wanita itu dan terus mengucap syukur.
“Terima kasih.” Alex menengadahkan kepalanya, menahan air mata yang mendesak keluar. “Terima kasih, Sayang.”
Emilia mengangguk, ikut menangis dalam pelukan Alex. Ia berharap setelah ini hidupnya akan lebih baik. Ya. Semoga saja.
__ADS_1
***
“Menurut pelayan di rumah Tuan Eros, Nyonya Emilia sempat berkunjung dan muntah di sana,” lapor Arthur yang duduk di bangku kemudi.
“Eros tidak menyakitinya?”
“Tuan Eros menjaga sikapnya.”
Nyonya William menghela napas lega. “Bagaimana dengan Selena?”
“Nona Selena tidak pernah muncul lagi ke rumah itu, tapi sepertinya Tuan Eros tetap berusaha mencarinya.”
Nyonya William memijat kening yang mulai keriput di usia lima puluhan. “Leo bergerak cepat, dia meredam media dengan uangnya.”
“Apa saya perlu melakukan sesuatu?”
Nyonya William menggeleng. “Aku hanya ingin menjauhkan Selena dari Eros. Akan menjadi rumit jika wanita itu tahu semuanya. Nama baik perusahaan akan tercoreng dan kedua putraku pasti akan dibenci orang-orang. Terlebih, jika Eros benar-benar mencintai Selena...dia hanya akan tersakiti lagi.”
Arthur tak bersuara. Pasti berat bagi Nyonya William untuk menanggung semuanya tanpa seorang suami. Luka yang selalu tersirat di kedua matanya adalah penyesalan karena tak mampu menjaga kedua putranya dengan baik. Alex dan Eros telah terpecah, meski semua orang tahu bahwa hubungan saudara mereka pernah membuat siapa pun iri.
***
“Menunggu lama?”
Eros mengedikkan kepala, menyuruh Leo untuk duduk di seberang kursi yang tersisa.
“Mana Steve?”
Eros menghembuskan asap rokoknya ke udara. “Lembur.”
Alis Leo terangkat, lalu mengangguk singkat setelah menarik kursi. “Aku yakin kau sudah mengetahui semuanya.”
Eros menekan rokoknya di asbak. “Aku juga yakin kau bisa mengatasi semuanya tanpa campur tanganku.” Sama sepertinya, Leo hanya tinggal menjentikkan jari untuk membungkam mulut orang-orang yang menyebar gosip buruk tentangnya.
“Sebenarnya aku tidak menyangka bahwa ibumu akan melakukan hal itu,” kata Leo jujur. “Tapi aku tahu sasarannya adalah Selena.”
“Itu karena kau terlalu baik hati.” Eros melirik Leo dengan ujung matanya. Teringat bagaimana Leo membela Selena dan mengantar wanita itu pulang setelah pergi dari rumahnya. “Apa kau menyukai Selena?”
Leo tampak tenang. Tak terpengaruh dengan pertanyaan Eros yang terlalu blak-blakan. Lebih dari itu, mengapa Eros begitu peduli? Apakah...pria itu mulai mempunyai rasa untuk Selena?
“Kupikir kau mengenalku dengan baik,” kata Leo sambil tersenyum miring. “Aku hanya kasihan padanya, itu saja.” Kemudian ekspresinya berubah serius. “Jangan lupakan apa yang pernah kita lakukan kepadanya Eros.”
Eros bangkit dari kursi. Membahas Selena, tiba-tiba saja ia ingin kembali menemui wanita itu. “Tentu saja. Tapi kau juga harus ingat bahwa aku tidak pernah peduli.”
__ADS_1
Leo terkekeh sambil melipat kedua tangannya di dada. “Tanpa kau sadari, semua pertanyaanmu tadi adalah bentuk kepedulianmu terhadap Selena.”