Terjebak Bersama Sang Iblis

Terjebak Bersama Sang Iblis
Bagian 43


__ADS_3

Selena menghela napas pelan. Ia melirik Jessica yang duduk tenang di bangku kemudi lalu kembali melemparkan tatapannya pada pemandangan di luar.


Sepertinya Eros benar-benar ingin menghancurkan Emilia sehancur-hancurnya. Bukan dengan cara menyakitinya secara fisik namun diam-diam menyakitinya secara psikis.


Selama ini Selena kira Eros masih mencintai Emilia, tapi tatapan itu ternyata bukan cinta. Itu adalah pandangan benci dan juga...jijik?


Tentu saja. Emilia pernah hamil dan keguguran lalu pada akhirnya menikah dengan sang kakak. Eros pasti tidak bisa menerima semua itu dengan mudah. Apalagi...setelah kematian Alex. Selena pikir pria itu akan berubah. Namun nyatanya malah semakin ‘menjadi’. Mungkinkah Eros melimpahkan kematian kakaknya pada Emilia juga?


Sebab kehancuran mereka karena satu orang wanita. Kehancuran mereka bermula ketika Emilia hadir di antara mereka.


Selena menggeleng pelan. Mengapa ia jadi berasumsi sendiri? Apakah ia ingin mencoba untuk memahami Eros? Tidak. Tidak. Ia pasti sudah kehilangan akal.


Selena menyandarkan tubuhnya ke kursi dan helaan napasnya yang keras membuat Jessica melirik wanita itu.


“Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?”


“Tidak ada,” Selena menjawab lemah.


BRUK!


Lalu tiba-tiba sesuatu menghantam kaca mobil mereka. Jessica mengerem mobil secara mendadak, menyebabkan tubuh keduanya terhuyung ke depan.


“Apa yang terjadi?” tanya Selena panik.


Kaca mobil depan mereka retak.


“Biar saya periksa, tetaplah di mobil.” Jessica melepas sabuk pengamannya dan keluar.


Jalanan itu tampak sepi. Tidak terlihat ada orang atau—bahkan—embusan angin sekali pun. Tapi keadaan yang sunyi itu justru membuat Jessica semakin was-was.


BRUK!


Selena menjerit. Mobil mereka kembali dilempari oleh batu secara tiba-tiba. Jessica bertambah panik. Apalagi ketika beberapa pria bertato tampak muncul dari balik tembok kumuh itu.


S*al. Keputusannya untuk membuat jalan pintas ternyata salah besar.


“Ya Tuhan...” Selena menggenggam sabuk pengamannya dengan erat. Ia berpikir bahwa pria-pria itu adalah pelaku yang melempari mobilnya barusan.


Bagaimana ini?


Jessica dengan sigap memasang kuda-kuda, meski ia pesimis bisa menang melawan tujuh orang pria yang kini tengah mengepungnya.


“Apa yang kalian inginkan?”

__ADS_1


Salah satu dari mereka menjawab, “semua yang kau miliki—termasuk tubuhmu.”


Mereka tertawa, melecehkan. Dan tawa itu membuat Selena yang berada dalam mobil menjadi semakin cemas.


“Tenangkan dirimu, Selena...” katanya sambil menarik napas. “Ya. Aku harus menelepon polisi sebelum terlambat.”


Ia mengobrak-abrik tasnya kemudian mematung. Baru tersadar bahwa ponselnya sudah lama disita oleh pria iblis itu.


Selena berdecak. Ia semakin panik. Tangannya gemetar ketika melihat Jessica yang mencoba melawan mereka seorang diri.


Apa yang harus ia lakukan?! Apakah ia harus kabur dan membiarkan Jessica mati?!


Matanya nyalang menatap benda di sekitarnya dan ia baru menyadari ponsel Jessica yang tergeletak di atas dashboard.


“BUKA!”


Selena melirik dua orang pria yang menggedor pintu di sebelahnya. Mereka tampak mengerikan dengan tato dan tindik yang memenuhi sekujur tubuh.


“CEPAT BUKA!”


“BUKA S*ALAN!”


BRUK!


Selena menutup telinganya dan kembali menjerit. Dengan tangan gemetar ia menempelkan ponselnya ke telinga, tanpa mengetahui siapa yang ia hubungi.


“Angkat! Ayo angkat!” Selena setengah menjerit.


Trek.


“Halo?”


**


Eros memutar mobilnya dengan cepat, menimbulkan suara decitan yang begitu mengerikan. Pandangannya tajam dan dingin.


“Tolong kami!”


Kakinya menginjak gas tanpa ragu. Melajukan mobilnya melebihi kecepatan rata-rata.


Jika sesuatu terjadi pada Selena, ia pastikan akan membuat orang itu hancur sampai ke tulangnya.


**

__ADS_1


Suara Selena sudah habis. Ia sudah tak memiliki kekuatan untuk berontak, sementara Jessica sudah pingsan di dekat mobil dengan baju yang lusuh dan robek di beberapa bagian.


Ini mengerikan. Pria itu menyeretnya dan memberikan tatapan yang sarat akan nafsu. Kedua lengannya dicekal dan mulutnya dibekap oleh kain.


Mobil mereka dihancurkan dan semua barang berharga raib diambil oleh sekumpulan pria bertato itu.


Selena pikir ia akan mati di sana, terlebih ia sedang mengandung.


Ia sangat takut. Sangat-sangat takut.


“Cepat jalan! Atau nasibmu akan sama dengan wanita itu!”


Selena menutup mata saat lengannya di tarik dengan kasar. Namun tiba-tiba salah satu tangan nakal mengelus lengannya yang terbuka.


Pria itu bersiul. “Kulitnya mulus sekali, hahaha...”


Selena melotot. Harga dirinya seolah tercabik. Ia kembali mencoba berontak dan menginjak salah satu kaki pria bertato itu.


“S*alan kau j*lang!”


Selena otomatis menutup matanya ketika ia melihat pria itu akan melayangkan satu pukulan padanya. Namun setelah beberapa detik tidak ada yang terjadi. Dengan takut ia kembali membuka matanya dan—


“Beraninya kau.”


Eros!


Bunyi retakan tulang terdengar sangat mengerikan saat Eros memelintir tangan pria itu dengan mudah. Tubuh Selena terhuyung ketika kedua orang yang memegangi lengannya ditarik paksa oleh Eros.


Selena melepaskan ikatan di mulutnya dan sedikit menjauh dari tempat itu. Namun ternyata ada satu orang yang sudah mengincarnya. Pria berambut merah dengan cepat menarik Selena, memeluk wanita itu dari belakang dan menahan lehernya.


Selena meninju perut pria itu dengan sikutnya dan kembali berlari namun sang pria dengan cepat menendang punggungnya hingga ia tersungkur ke tanah.


“ARGH!”


Eros mengangkat kepala dengan cepat saat suara teriakan Selena terdengar. Ia melangkah dengan cepat ke arah pria yang telah mengarahkan sebuah belati untuk menikam Selena dari belakang.


SLEB!


Belati itu menancap di tangan Eros tapi sang pria tidak menampakkan ekspresi berarti. Tatapannya semakin dingin, membuat pria berambut merah itu bergidik.


“Pergilah ke neraka.”


BUGH!

__ADS_1


Dalam pandangan dan pendengarannya yang mulai kabur, Selena hanya bisa mendengar suara jeritan yang begitu mengerikan.


Setelah itu seseorang mendekat ke arahnya. Tubuhnya terasa ringan dan dunia menjadi gelap.


__ADS_2