
Selena terbangun setelah tubuhnya diguncang kasar oleh Sam. Wanita itu baru terlelap tiga jam yang lalu setelah semalaman menyendiri di balkon sampai hujan reda.
"Selena, kau harus bangun!"
Masih setengah sadar, Selena diseret menuju ruang tengah, dimana televisi berlayar datar tengah menampilkan acara gosip yang dipandu oleh seorang wanita berlipstik tebal.
Selena menguap. "Ada apa sih?"
Sam mengarahkan wajah Selena untuk menatap layar televisi. "Lihat!"
Selena mengerjap, namun beberapa detik kemudian matanya terbelalak. "Apa-apaan ini?!" katanya berang sambil menatap foto-fotonya yang terpampang bersama Leo.
"Sudah kuduga, pria itu tak akan pernah membiarkanmu lolos begitu saja!"
Selena terengah. Tidak. Apakah mungkin Eros menyuruh seseorang untuk menyebar gosip itu sementara dirinya hampir saja meregang nyawa?
Tidak. Leo adalah sahabat Eros. Pria itu tidak mungkin nekat menyeret nama sahabatnya sendiri, bukan?
Selena mendesah kasar. Ia memegangi kepalanya yang tambah pening setelah dibangunkan secara brutal oleh Sam—kini harus melihat berita paling tak masuk akal yang menyeret namanya dan Leo. Selingkuh katanya?! Bagaimana jika orang-orang itu tahu bahwa hubungannya dengan Eros hanyalah sandiwara?
***
Eros tak bisa berlama-lama tinggal di rumah sakit. Tempat itu adalah tempat yang paling ia benci selain rumah barunya. Seluruh tubuhnya memang masih nyeri dibeberapa bagian, tapi ia tak akan merengek seperti anak kecil. Ia adalah pria yang kuat, luka di tubuhnya tidak akan pernah sebanding dengan luka di hatinya. Memang kadang yang tak berdarah itu lebih sakit.
Nyonya William duduk di samping Eros dan melirik putranya yang hanya terdiam sambil melemparkan pandangannya ke luar. "Sebelumnya, apa kau bertengkar dengan Selena?"
Eros mengerjap. Mengapa ibunya tiba-tiba membahas Selena?
"Dia meninggalkanmu dan meletakkan cincin pertunangan kalian saat di rumah sakit," lanjut Nyonya William. "Kupikir dia sudah tidak tinggal bersamamu lagi."
__ADS_1
Eros berdecak. "Apa maksud semua perkataan Ibu? Hubungan kita baik-baik saja."
"Tidak perlu membohongi ibu lagi. Ibu tahu bahwa kau tidak pernah mencintainya."
Eros mendelik. "Apa yang Ibu inginkan?"
Nyonya William menyentuh sebelah tangan Eros dan tatapannya melunak. "Tinggalkan wanita itu, kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik darinya. Ibu mempunyai beberapa kenalan dan—"
"Kenapa Ibu terlihat begitu membenci Selena?" potong Eros dengan kening mengernyit. "Dan lagi, aku tidak pernah ingin terlibat perjodohan dengan siapapun."
Nyonya William menggeleng. "Ibu tidak membencinya, ibu hanya..." kata-kata itu terhenti ketika ia melihat Eros melemparkan tatapan dingin padanya.
Tautan tangan mereka terlepas. Eros memalingkan wajahnya dan bergumam, "bahkan setelah dia menyelamatkan hidupku?"
Nyonya William terdiam sambil menatap tangannya yang kosong. Sudah lama sekali sejak ia menggenggam tangan putra bungsunya dan tangan itu sangat dingin. Mungkin, seperti hatinya.
Eros terperanjat. "Ini bukan jalan menuju rumah!"
"Apa yang sebenarnya Ibu rencanakan?!"
"Kau sedang sakit, kau tak boleh tinggal sendiri."
"Jangan mengasihaniku!" Eros mendengus. "Berhenti," katanya tak sabar.
"Tidak. Terus jalan."
"Kubilang berhenti!"
Mobil itu mengerem mendadak dengan bunyi decitan yang mengerikan. Nyonya William terbelalak saat Eros nekat membuka pintu dan keluar tanpa pikir panjang.
__ADS_1
"Eros!" Ia berteriak dari dalam mobil namun pria itu tak mengindahkan. "Kenapa kau berhenti?!" kesalnya pada sang supir.
"Maafkan saya Nyonya..."
Nyonya William hanya mendesah kasar sebagai respon.
***
"Selena, kau mau kemana?" Sam terburu menghampiri Selena yang sudah menenteng tas kecil dan tengah memasang sepatu kets-nya di depan pintu.
Selena meliriknya sebentar. "Mencari siapa penyebar gosip itu."
Sam menggeleng. "Aku yakin Leo—"
Suara bel menginterupsi. Keduanya otomatis menoleh dan melirik seseorang dari layar interkom. Setelah itu Selena terburu membuka pintu.
"Syukurlah kau ada di sini!" Selena menghela napas lega setelah menemukan sosok Leo yang berdiri di depan pintu.
Leo mengerjap. "Kau sudah melihat beritanya?"
Selena mengangguk. "Itu berita yang paling tidak masuk akal."
Kedua bahu Leo terangkat. "Yang terpenting, apakah kau tahu bahwa Eros—"
"Aku tahu," potong Selena sambil buang muka."
Leo menghela napas. "Aku kemari karena orangku bilang bahwa kau tidak ada di apartemenmu."
Sam yang sejak tadi hanya menjadi pendengar berucap, "kau tahu siapa dibalik semua gosip itu?"
__ADS_1
Leo menatap dua orang di depannya secara bergantian. "Ya."