
Eros memelankan langkah ketika Selena berdiri di salah satu anak tangga dan menatapnya penuh selidik. Tak seperti biasanya. Di malam yang begitu larut dan temaram, sosoknya terlihat bercahaya dengan gaun tidur berwarna putih.
“Apa yang kau lakukan di sana?”
“Menunggu Suamiku pulang,” jawab Selena ketus.
Eros mengernyit. “Aneh sekali. Biasanya jam segini kau sudah tidur.” Pria itu melewati Selena dengan langkah cepat.
Selena mendelik. Ia membuntuti Eros hingga pria itu berhenti di depan pintu kamarnya.
“Apa kau yang membuat Emilia pingsan waktu itu?” tanya Selena tak sabar. “Kau tahu bahwa dia tengah mengandung?”
“Kupikir kau sudah tahu,” jawab Eros tak acuh.
Selena terbelalak. “Kau!” telunjuknya mengarah pada Eros ketika pria itu berbalik. “Bagaimana mungkin—“ Selena menutup matanya. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri. “Apa kau manusia?!” katanya kemudian.
Eros terkekeh. “Bukankah kau mengatakan padaku bahwa aku ini adalah iblis?”
Selena menggeleng pelan. “Aku tidak menyangka kau akan bertindak sejauh itu.”
“Sejauh mana?” Hanya butuh tiga langkah untuk berdiri tepat di hadapan Selena yang kini bergerak mundur dan tersudut di dinding. “Aku benar-benar bisa menjadi apa yang kau katakan, Selena.”
Selena menatap lurus ke arah bahu pria itu, menolak untuk menatap langsung pada dua bola matanya. “Bayi dalam kandungannya tidak bersalah.”
“Tentu saja,” kata Eros setuju. “Lagi pula aku memang tidak membunuhnya, kan?”
“Kau hampir membunuhnya.”
“Nah, kenapa kau begitu peduli?” tanya Eros curiga. “Apa Emilia berhasil menarik simpatimu?” Tentu saja orang suruhannya tak luput memberikan informasi tentang pertemuan dua wanita yang berstatus sebagai istri dan mantan kekasihnya tadi siang.
“Aku tidak bersimpati padanya,” bantah Selena.
“Baguslah kalau begitu.” Eros berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Sebelum membuka pintu, pria itu menoleh sebentar. “Karena seharusnya musuhku menjadi musuhmu juga.”
"Jangan melakukan hal yang bisa membuatmu menyesal, Eros," kata Selena setengah kesal. "Terkadang kau harus menekan egomu. Sebab hal yang membuat hidupmu hancur itu bukan karena perilaku orang lain terhadapmu, tapi karena kau tak bisa menekan egomu sendiri."
**
ZRASH!
Akhir-akhir ini hujan lebih sering turun tanpa terduga, meski sejatinya musim panas belum berakhir.
Dari balik payung hitam Alex menatap makam Tuan William dengan tatapan sendu. Bau tanah menyebar bersama rintik hujan yang semakin besar dan rerumputan di bawah kakinya basah tanpa terkecuali.
Di atas gundukan tanah itu, ada buket bunga lili yang telah sedikit layu. Alex bisa memastikan bahwa bunga itu adalah pemberian Nyonya William karena hampir setiap minggu ibunya akan berkunjung. Apalagi, hari ini adalah hari peringatan ulang tahun pernikahan mereka.
Alex berjongkok dan menyentuh batu nisan yang terasa basah. Bibirnya membentuk senyum tipis. “Maafkan aku, Ayah.”
Seandainya sang ayah masih hidup, apa yang akan pria itu lakukan? Dalam situasi yang rumit seperti benang kusut itu, bagaimana untuk mengurainya kembali?
“Ayah pasti sangat kecewa padaku, kan? Bahkan Ibu kini tidak mau berbicara padaku lagi.” Pria itu tersenyum miris. “Aku sangat mencintai Eros dan Emilia, keduanya adalah orang yang sangat berharga bagiku.”
Emilia pernah membuatnya ‘patah' karena wanita itu mau menerima pernyataan cinta Eros bahkan sampai hamil dengannya. Tapi Alex tak bisa menyalahkan wanita itu karena ia sendiri nyatanya hanya diam mengetahui kekaguman sang adik pada Emilia. Alex tak sanggup untuk mematahkan hati Eros jika pria itu tahu bahwa Emilia ternyata dijodohkan dengannya.
Tapi kebohongan pada akhirnya akan tetap terkuak. Eros terlanjur kecewa dan benci, sementara Emilia ternyata masih sangat mencintai Alex. Seandainya Emilia tak pernah mengandung dan keguguran, mungkin Alex bisa saja melupakan wanita itu. Tapi bagaimana mungkin? Eros tak akan pernah mau menerima Emilia kembali karena pria itu tahu bahwa sang wanita sangat mencintainya.
__ADS_1
Bagaimana mungkin juga Alex sanggup meninggalkan Emilia dalam kondisi seperti itu? Jika keluarga Swan tahu, pasti Eros akan sangat dibenci, bahkan ibunya juga.
“Apa yang harus aku lakukan, Ayah?”
Tap.
Tap.
Alex menatap ujung sepatu dari balik payung hitamnya dan terkesiap. Kepalanya lekas mendongak dengan tidak sabar.
Eros ada di sana. Pria itu tampak membungkuk sejenak untuk meletakkan buket bunga di atas makam sang ayah, lalu kembali berdiri tegak dan melirik Alex dengan ekor matanya.
“Eros...”
Pria itu tak merespons. Hanya berdiri di sana dengan bibir yang tertutup rapat. Ketika Alex berdiri, Eros dengan cepat berbalik.
“Eros!”
Eros melangkah dengan cepat. Terlihat sekali kalau pria itu tak ingin terlibat apa pun dengan Alex.
“Eros! Berhenti!” Alex mempercepat langkahnya dan berhasil meraih bahu pria itu. “Kita harus bicara!” katanya setelah berhasil membalikkan tubuh adiknya. “Aku mohon, ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
“Aku sibuk,” tolak Eros dengan ekspresi datar. “Lagi pula apa yang harus dibicarakan?”
Alex menghela napas kasar saat Eros kembali membalikkan tubuh dan berjalan menuju mobil yang terparkir di seberang jalan.
“Eros!”
Tapi Alex tak mau menyerah. Ia harus menyelesaikan semua masalah ini sekarang juga.
“Eros!”
Alex menggeleng cepat. “Tidak!” Pria itu mencoba mengejar mobil Eros yang mulai menjauh. “Ero—“
TIIIIIN!
BRAK!
DEG!
Eros terhuyung ke depan ketika kakinya otomatis menginjak rem setelah mendengar suara benturan itu.
Waktu seakan berjalan lambat saat ia keluar dari dalam mobil dan mendapati payung hitam itu tergeletak di bawah kakinya.
Hujan semakin deras. Eros berlari menembus tetesan air itu menuju sosok yang tergeletak dengan baju dan tubuh yang berlumuran darah.
Tidak!
“E-Erhos...ssh...”
Tangan berlumur darah itu terulur ke arahnya.
Apa yang terjadi?
Apa...yang sudah ia lakukan?
__ADS_1
“A-Alex...”
Katanya ia sudah tak peduli. Katanya ia benci. Tapi mengapa air matanya mengalir saat Alex terbaring dengan kondisi mengenaskan seperti ini?
Mengapa dadanya sakit? Bukankah seharusnya ia tertawa senang? Mengapa jantungnya berdegup cemas? Bukankah seharusnya ia tersenyum puas?
Mengapa?!
Mengapa?!
Lututnya lemas. Ia bersimpuh di samping Alex dengan kedua mata membulat.
“Eroskuhh...” Alex mencoba meraih tangannya meski tangan pria itu sendiri terlihat gemetar.
“Jangan bicara. Aku akan memanggil ambulans.” Dalam keterkejutan itu ia mencoba mencari benda persegi panjang di dalam saku celananya, namun tangan dingin itu dengan cepat menghentikannya.
“P-Percuma s-sajahh...”
“APANYA YANG PERCUMA SI*LAN!” teriaknya dengan nafas terengah. Meski begitu air mata tak bisa berhenti—bersatu dengan hujan yang membasahi bumi.
Apa ini yang kau inginkan Eros?
Benarkah ini yang kau inginkan?
“SI*LAN!” Eros meninju aspal hingga jemarinya sobek dan berdarah. Itu tidak terasa sakit sama sekali. Justru ada bagian yang lebih sakit meski itu tak berdarah—hatinya. “SEHARUSNYA KAU TAK USAH MENGEJARKU SI*LAN!”
Bahkan saat sekarat pun Alex masih bisa terkekeh.
“Erosshh...” Pegangan tangan itu menguat. Terasa semakin dingin dan kaku. “Akuhh s-selalu menyayangimuhh...” Alex tersenyum, tapi Eros tidak tahu bahwa pria itu juga menangis. “K-kakak akannh sselalu menyayangimuhh...m-maafkan kakakh—uhk!”
“Diam.”
“T-Tolonghh...jaga a-anakkuhh dan E-Emiliahh..”
“Diam.”
“T-Tolonghh j-jaga Ibbuh ju—“
“DIAM!”
Alex kembali tersenyum. Untuk terakhir kalinya, pria itu mencoba menyentuh wajahnya. Senyumnya terlihat sangat damai.
“Berbahagialah, Adikku.”
**
PLUK!
Selena menutup mulutnya dengan ekspresi terkejut. Ia melirik benda kecil yang jatuh di bawah kakinya dan menelan ludah.
Tidak mungkin...
Selena kembali meraih benda itu dengan ragu dan melirik sekali lagi pada dua garis biru yang terpampang dari testpack yang di pegangnya.
“Aku...hamil?”
__ADS_1