Terjebak Bersama Sang Iblis

Terjebak Bersama Sang Iblis
Bagian 63


__ADS_3

Sesaat, Selena selaku berpikir bahwa hubungan Jasmine dan Eros bukan hanya sekadar hubungan kerabat jauh saja. Dalam kedua kilat mata wanita itu ada sesuatu yang terpancar melebihi rasa sayang terhadap seorang kerabat.


Kekaguman tiap kali melihat Eros dan senyum tulus yang selalu ditunjukkan Jasmine membuat Selena mengira bahwa wanita itu mungkin memang menganggap Eros melebihi seorang kerabat.


Lalu ketika sarapan itu berakhir, Selena semakin yakin terhadap prasangka yang dimilikinya.


Jasmine meliriknya sebelum menaiki tangga dan tiba-tiba saja wanita itu terjatuh dengan bunyi dentuman yang cukup keras.


Meski Eros mengangkat wajah dengan ekspresi datar, tapi sebersit kekhawatiran tampak di kedua matanya. Pria itu dengan cepat menghampiri Jasmine yang terduduk di anak tangga sambil mengaduh dan memegangi pergelangan kakinya.


“Kau tidak apa-apa?”


“Sepertinya kakiku terkilir.”


Selena menghampiri mereka ketika Eros ikut memijat bagian kaki Jasmine sementara wanita itu melirik ke arahnya dengan ekspresi datar.


“Kalau begitu lebih baik kau istirahat saja. Ayo kamar. Kau bisa berdiri, kan?”


Jasmine mencoba untuk berdiri namun tubuhnya kembali ambruk dan Eros dengan sigap menangkap tubuh wanita itu.


Selena dengan cepat mengalihkan pandangan. Jujur saja, ia tidak suka melihat pemandangan itu.


“Sepertinya terkilirnya cukup parah.” Jasmine menggigit bibir.


Eros menghela napas pelan. Tanpa basa-basi menggendong wanita itu di depan tubuhnya.


“Maaf merepotkanmu, Eros.”


Selena kembali melirik Jasmine setelah kalimat yang diucapkan wanita itu dan melihat senyum kepuasan di bibirnya. Kedua tangan wanita itu memeluk leher Eros dengan erat dan menyandarkan kepalanya di bahu sang pria tanpa melepaskan tatapannya pada Selena yang hanya menatap kepergian mereka tanpa ekspresi berarti.


.


.


.


Selena sedang duduk di depan perapian kamarnya ketika mobil Eros baru saja meninggalkan parkiran. Namun wanita itu kembali mengangkat kepala saat suara mobil kembali terdengar. Selena setengah berdiri dan menengok dari balik jendela. Dahinya mengernyit, itu bukan mobil Eros. Tapi milik siapa?


Pertanyaan itu segera terjawab saat sosok pria muncul dari balik mobil dan seakan menyadari keberadaannya, sang pria berkacamata itu mengangkat kepala dan menengok ke arah kamarnya.


Selena tercenung.


Itu... Orlando?


Selena dengan cepat keluar dari dalam kamar. Dengan langkah hati-hati ia menuruni tangga dan melihat bagaimana Jasmine tampak menyambut kehadiran pria itu—dengan fisik yang terlihat sangat baik-baik saja. Sangat berbeda dengan tadi pagi, bahkan Eros sampai rela menggendong wanita itu.


Selena tersenyum kecut. Ia benar-benar merasa ditipu.

__ADS_1


“Oh, Selena?”


Wanita itu dengan cepat menoleh.


Orlando dan Jasmine tampak meliriknya dari lantai bawah.


“Kau mengenalnya?” tanya Jasmine pada pria itu.


Orlando hanya tersenyum penuh arti. Kakinya melangkah pelan untuk menaiki tangga tanpa menghiraukan pertanyaan Jasmine. Matanya terpaku pada Selena yang tampak anggun dalam balutan gaun dan jaket rajut berwarna cokelat. Setelah cukup lama tak bertemu, wanita itu terlihat semakin menawan.


“Bagaimana kabarmu, Selena?”


Selena melirik Orlando dan Jasmine secara bergantian sebelum menjawab, “bagaimana kau... kenapa kalian bisa saling mengenal?”


Orlando berhenti dan menyisakan tiga buah anak tangga yang menjadi pemisah antara dirinya dan Selena.


Pria itu kembali tersenyum. “Aku dan Jasmine adalah rekan bisnis.”


“Rekan bisnis?”


Sangat kebetulan sekali, ya?


Orlando mengangguk. “Kehadiranku di sini untuk membahas proyek yang sedang kami kerjakan bersama. Tapi aku mendapat kabar bahwa Jasmine sedang menginap di rumah kerabatnya dan tiba-tiba saja mengalami sebuah kecelakaan kecil.” Bahu pria itu terangkat ringan. “Sebuah keberuntungan bagiku karena dia ternyata menginap di rumahmu dan pada akhirnya kita bisa kembali bertemu sejak kau... masih di Jepang.”


Selena meneguk ludah. Ya. Di Jepang ia banyak sekali merepotkan pria itu. Dan ia berhutang budi padanya.


Selena mengernyit. “Bunga... mawar?” Kemudian ia teringat pada buket bunga mawar yang dibuang Eros ke dalam tong sampah kemarin.


Tidak mungkin. Apa Orlando ingin cari mati?!


“Aku...” Selena mengalihkan pandangan. Tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak bisa berbohong pada pria itu.


Jasmine mengernyit melihat interaksi kedua orang itu. Tampaknya mereka memang saling mengenal. Tapi lebih dari itu, ia semakin penasaran dengan Selena. Bagaimana mungkin Orlando bisa mengenal wanita itu dan tampak begitu akrab dengan terus mengulas senyum pada sang wanita?


Berdeham pelan, Jasmine menghampiri kedua orang itu. “Maaf, aku tidak tahu bahwa kalian sudah saling mengenal.”


Orlando menoleh. “Ah, iya. Maafkan aku.”


Jasmine mengibas sambil melirik Selena yang memalingkan wajah. “Bisa kita bicara di ruang tamu saja?”


Orlando mengangguk. “Tentu.”


“Mungkin setelah berbincang denganku kau bisa bernostalgia dengan Selena,” kelakar Jasmine. Tapi dari sudut mana pun ucapan itu tidak terdengar lucu. “Tentunya jika kau siap menerima pukulan dari Eros.”


Orlando terkekeh pelan sambil berbalik dan melewati tubuh Jasmine. “Mungkin saja Eros telah melakukan sesuatu yang lebih dari itu.”


**

__ADS_1


“Senang bisa melihatmu kembali, Andreas.”


Pria itu membungkuk pelan. “Selamat datang kembali, Presdir.”


Eros tersenyum miring sambil duduk di meja kerja yang sempat ia tinggalkan. Sebelum sempat Andreas berbalik untuk meninggalkan ruangan, Eros kembali menginterupsi.


“Andreas.”


Andreas otomatis menghentikan langkah dan berbalik. “Ya?”


“Kau tidak keberatan untuk membuatkanku kopi?”


Andreas meneguk ludah. “Ya, dengan senang hati.”


Pria itu kemudian melangkah menuju ujung ruangan—tempat di mana terdapat sebuah mesin pembuat kopi.


Eros menyandarkan tubuhnya sambil menatap punggung lebar pria itu dengan kedua tangan yang terlipat di dada.


“Sebenarnya kau menganggap Alex seperti apa?” tanya Eros setelah beberapa saat. “Kenapa kau begitu berani melaporkanku yang jelas-jelas memiliki hubungan darah dengannya?”


Tubuh Andreas menegang. Ia berusaha untuk menuang kopi dengan tenang dan menjawab, “kenapa Anda begitu penasaran?”


Eros menarik napas. “Karena Alex berkata bahwa kau hanya ingin melindunginya. Jika saja Alex tak menahanku, pasti sekarang kau sudah hancur.”


Andreas mengaduk cairan hitam itu dan tersenyum pahit. Tubuhnya berbalik untuk menaruh cangkir berisi kopi yang masih mengepul itu di hadapan Eros.


Andreas menghela napas pelan saat menemukan Eros masih setia menatapnya dan menunggu jawaban dengan sabar.


Pria itu menunduk sejenak. “Alex masih begitu muda sejak ia menggantikan posisi Ayah Anda, Tuan William.” Kepalanya kemudian kembali diangkat dan bibirnya menyunggingkan senyum getir. “Saat itu saya juga baru bekerja beberapa bulan, mengetahui bahwa saya dan Alex seumuran, kami menjadi teman dekat. Kami tumbuh bersama dan tak jarang sering bertukar cerita.”


Eros menegakkan tubuh. Mulai tertarik dengan cerita pria itu. Terutama pada bagian di mana Andreas dan Alex sering bertukar cerita.


“Alex memikul beban yang begitu berat; tekanan pekerjaan, kehilangan Ayahnya, tapi dia selalu terlihat tegar. Dan Anda harus tahu bahwa...” Tenggorokan Andreas tercekat. “...cinta yang dimiliki Alex untuk Anda jelas lebih besar daripada cinta yang ia miliki untuk Emilia.”


“Kenapa kau bisa berkata seperti itu?” tanya Eros tanpa ekspresi.


Andreas mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh, sementara kedua matanya berkaca-kaca—teringat bagaimana Alex memilih untuk pergi dengan Aster ke tempat yang jauh. Bahkan saat mengetahui bahwa Emilia mengalami gangguan jiwa dan telah menghancurkan keluarganya, pria itu tetap membukakan pintu maaf yang begitu terbuka lebar.


“Anda ingin tahu satu rahasia?” Andreas menegakkan tubuhnya dan menatap Eros tanpa ragu.


Eros tak menjawab tapi ekspresi pria itu telah menjelaskan semuanya.


Andreas menarik napas dalam. Seharusnya ia tidak boleh mengatakan hal ini karena ia telah berjanji kepada Alex. Tapi setelah semua kejadian ini, sudah tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi.


Ia hanya berharap, setelah mengatakan hal itu, Eros bisa benar-benar mengubah pandangannya terhadap Alex atau bahkan dunia.


“Pada kenyataannya, Alex pernah memutuskan hubungan dengan Emilia ketika Anda pergi ke Oxford. Namun saat Emilia keguguran, Alex kembali pada wanita itu demi menyelamatkan nama baik Anda.”

__ADS_1


Eros tercenung. Dadanya tiba-tiba terasa sakit. Sebuta apakah ia selama ini?


__ADS_2