
Emilia sempat bermimpi buruk beberapa hari ini. Di dalam mimpi itu, semua orang meninggalkannya, tak terkecuali Alex. Ia selalu terbangun tengah malam dan mendapati sisi tempat tidurnya kosong. Hampir setiap malam, Alex akan duduk di ruang tengah seorang diri sambil menyesap cairan beralkohol yang sebenarnya jarang dikonsumsi oleh pria itu.
Alex selalu terlihat tegar tapi akhir-akhir ini pria itu lebih banyak diam. Saat seseorang mengantarkan undangan pernikahan Eros dan Selena, Alex bahkan tak berkomentar apa pun.
“Aku rasa aku harus menginap di rumah Ibu,” kata Emilia ketika Alex sedang memasang sepatunya di depan pintu.
“Tidak perlu. Nanti Ibu berpikiran yang tidak-tidak,” kata Alex dengan nada datar. Ia tidak ingin masalah keluarganya merambat ke mana-mana. “Hari ini akan ada asisten rumah tangga, jadi kau istirahat saja.”
Emilia mengelus perutnya. “Mengenai Ibumu—“
“Kau tidak perlu memikirkan itu, dokter bilang kau tidak boleh stres,” sela Alex cepat. Pria itu tak sedikit pun menoleh ke arah Emilia.
“Alex...” panggil Emilia lirih.
“Hmm?”
Wanita itu tiba-tiba memeluk Alex dari belakang dengan mata yang berkaca-kaca. “Haruskah kita...pergi dari sini?”
Alex terdiam sambil menatap tangan Emilia yang bergetar memeluk perut rampingnya.
Apa perlakuannya telah menyakiti wanita itu?
“Tidak masalah jika kita harus tinggal di rumah sempit ataupun di sebuah tempat terpencil. Asalkan bersamamu...aku rela.” Emilia mengeratkan pelukannya. “Mungkin aku egois, tapi tolong...jangan pernah tinggalkan aku lagi.” Tangisannya makin keras. “Aku mohon...”
Tenggorokan Alex tercekat. Ia membalikkan tubuh untuk membalas pelukan Emilia, meskipun air mata wanita itu membasahi kemejanya, Alex tak peduli.
**
Selena masih mengenakan jubah tidurnya ketika seorang pelayan mengetuk pintu kamar.
“Apa?”
Pelayan itu membungkuk sebentar. “Nyonya Besar menunggu Anda di bawah.”
Selena mengernyit, lalu menghela napas pelan. Semua itu pasti karena undangan pernikahannya dengan Eros.
**
Nyonya William dan Selena duduk berseberangan. Tidak ada teh ataupun camilan—yang menjadi bukti bahwa wanita paruh baya itu ingin melibatkannya dalam sebuah percakapan serius.
__ADS_1
Setahu Selena, Nyonya William tak pernah memandangnya seperti wanita itu memandang Emilia. Pun Selena tak pernah berniat untuk membuat Nyonya William bersimpati padanya. Ia tahu tempatnya di mana dan tak akan tersinggung jika Nyonya William menunjukkan ke-tidak-sukaannya secara terang-terangan. Pandangan remeh seperti itu, sudah sering Selena dapatkan.
“Aku tidak akan berbasa-basi.” Nyonya William menarik napas pelan. “Aku tahu kau dan Eros tidak saling mencintai. Aku harap kau memikirkan pernikahan ini sekali lagi. Kau tahu masalah apa yang terjadi dalam keluarga ini, kan?”
Selena mengangkat kepala. Saat itu ia baru menyadari warna hitam di bawah kantung mata Nyonya William. “Apa yang sebenarnya Anda khawatirkan?”
Nyonya William menelan ludah. Banyak. Banyak sekali yang ia khawatirkan. Tapi ia harus menyimpan semuanya sendiri, karena jika semua hal itu terungkap, masalahnya akan semakin rumit. “Pernikahan tanpa dasar cinta saja sudah salah. Anakku hanya sakit hati melihat mantan kekasihnya menikah dengan kakaknya sendiri.”
“Kenapa Nyonya mengatakan semua ini kepada saya?” Selena tersenyum frustrasi. “Apa Nyonya ingin menegaskan bahwa anak Nyonya hanya memperalat saya?”
Nyonya William tercekat.
Selena terkekeh pahit. “Nyonya yang melahirkan Eros, bukan? Lalu apa gunanya Nyonya menekan saya seperti ini?”
Percakapan mereka tidak akan pernah membuahkan hasil, karena Eros tak akan pernah melepas Selena begitu saja. Sifat keras kepala pria itu—seharusnya Nyonya William mengerti.
“Jadi kau akan tetap menikah dengannya?”
Selena menghela napas pelan. “Eros yang menyeret saya ke dalam masalah ini. Apa perlu saya menceritakan semua perlakuan putra Nyonya kepada saya?”
Perlakuan Eros?
Melihat wanita paruh baya itu hanya terdiam, Selena akhirnya berdiri dari tempat duduknya. “Maaf jika ada perkataan saya yang menyinggung Nyonya,” katanya sambil menunduk pelan. “Tapi jangan pernah berkata kepada saya seolah-olah saya yang mengejar putra Nyonya—apa lagi menyebar gosip.”
Nyonya William dengan cepat mendongak. Selena tahu. Wanita itu tahu bahwa dirinya yang telah menyebar gosip tentang hubungannya dengan Leo.
“Suka atau tidak, undangannya sudah tersebar,” tambah Selena tersenyum miris. “Dari pada terus menekan orang lain dan memikirkan cara untuk memisahkan saya dengan Eros, lebih baik Nyonya banyak berdoa.” Selena kembali membungkuk, sebelum pergi meninggalkan Nyonya William yang hanya tersenyum hambar setelah mendengar ucapan wanita itu.
**
Undangan dan desas-desus pernikahan antara Eros dan Selena begitu cepat menyebar seperti virus. Seperti waktu yang terus berjalan tanpa terasa, hari berganti hari, hingga Selena mengenakan gaun pengantin yang begitu mewah itu—semuanya masih seperti mimpi.
Selena diperlakukan bak seorang ratu. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, semuanya ditangani oleh penata rias dan desainer profesional, semuanya didatangkan langsung dari Paris.
Tidak ada keluarga, tidak ada kerabat, bahkan Sam—orang yang paling dekat dengannya—malah menutup telepon semalam. Mungkin tak mengira bahwa Selena akan mengambil keputusan untuk menikahi Eros daripada memilih pergi dari pria itu.
“Apa Nona Selena sudah siap?” Seorang wanita tiba-tiba muncul dari balik pintu dan sempat terpana melihat penampilan Selena dari pantulan cermin. “Anda cantik sekali, Nona!”
Selena hanya tersenyum hambar. Ia sedikit mengangkat gaunnya dan berbalik.
__ADS_1
“Tuan Eros sudah menunggu Anda di altar.”
**
Cinta.
Seandainya cinta itu masih ada, mungkin langkahnya akan gemetar.
Gemetar karena melihat pria dengan tuksedo hitam itu tengah menunggunya di sana. Gemetar karena perasaan senang yang terlalu membuncah. Tak sabar menanti penyatuan dua jiwa dalam sebuah ikatan suci.
Tapi yang terasa, langkahnya kaku. Terkadang seolah tak menapak lantai di bawah kakinya. Tatapannya kosong, namun jelas bisa melihat wajah rupawan yang pernah mengisi ruang paling dalam di lubuk hatinya.
Bagaimana takdir menuntunnya kembali kepada pria itu sementara perasaannya telah pudar?
Semuanya akan lebih mudah untuknya berjalan di sepanjang altar itu—seandainya cinta itu masih ada. Tapi juga akan menjadi lebih sulit ketika tahu bahwa pria itu tak pernah membalas perasaannya.
Bagaimana semua ini akan berakhir? Haruskah ia membohongi Tuhan dan orang-orang di sekitarnya dengan sumpah yang ia ucapkan? Bahkan ia akan membohongi dirinya sendiri...
Pria itu pernah menjadi mimpi indahnya, tapi saat semua berbalik, sosoknya telah berubah menjadi mimpi buruk.
Tuhan yang berkehendak membolak-balikkan hati manusia. Lalu apakah semua ini juga kehendak Tuhan? Haruskah jalannya seterjal ini?
“Aku mengambil engkau menjadi istriku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, sampai maut memisahkan kita.”
Sampai maut memisahkan mereka...
Bagaimana mungkin? Jika dasarnya memang tidak pernah ada—atau sudah hilang ditelan waktu.
Pria itu membuka tudung kepalanya, menuntunnya pada sebuah ciuman singkat yang mendapat tepukan meriah dari tamu undangan yang datang.
Saat ia masih kecil, ibunya pernah mengajaknya untuk berdiri di altar itu setelah mereka selesai berdoa. Dengan wajah bahagia dan penuh cinta, ibunya mengenang pernikahan sakral bersama sang ayah. Memperlihatkan kepadanya bagaimana ibu dan ayahnya pernah mengucap janji.
Saat roda waktu berputar, Tuhan mengabulkan permintaannya untuk berdiri di altar itu. Namun sayangnya, nasibnya tak seberuntung sang ibu. Tanpa cinta. Tanpa keluarga, bahkan tanpa restu. Bisakah Tuhan memaafkannya setelah ini?
“Mulai detik ini, kalian telah resmi menjadi sepasang suami istri.”
Mereka saling melempar senyum dan menggenggam tangan satu sama lain seolah cinta itu memang ada.
Lalu setelah semua ini...bagaimana?
__ADS_1
Berapa lama kepura-puraan itu akan bertahan?