Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)

Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)
Menyerah


__ADS_3

"Luka kecil gimana, ini bonyok kayak gini di bilang luka kecil? Om habis ngapain sih sampai babak belur begini? dan kenapa kepala Om di perban?" cerca Amel terlihat khawatir.


"Aku tidak apa-apa, Mel. Ini hanya masalah lelaki saja yang penting aku pulang dalam keadaan selamat tanpa kurang apapun dan yang pasti.... aku pulang untukmu calon istri."


Wajah Amel memanas dan sudah memerah akibat gombalan Doni. "Apaan sih."


Pluk... Amel memukul wajah Doni.


"Awwww," ringis Doni berakting.


"Maaf, maaf, sakit ya? aku minta maaf, abisnya Om gombal terus dan aku tidak suka itu."


"Yakin tidak suka?" Doni menatap mata Amel dan memainkan alisnya.


"Ya-yakin." jawabnya menunduk gugup.


"Masa?" celetuk Reyhan ikut bergabung bareng mereka dan langsung merangkul istrinya.


"Apaan sih, Bang. Aku yakin tidak suka sama bujang lapuk macam Om Doni, ngeselin."


"Masa sih? bukanya waktu itu kamu curhat sama...."


"Abaaaang...!" pekik Amel melotot untuk tidak memberitahukan perihal curhatannya kepada Anin.


"Ooooow, ada yang kangen nih kayaknya, tapi gengsinya kegedean." celetuk Doni.


"Tidak, aku tidak kangen sama kamu Om. Kamu itu ngeselin tau, pergi tanpa pamit dan tak ada kabar sedikitpun." Amel memberenggut kesal dan tanpa sadar malah mengungkapkan apa yang ia rasa.


"Acieee ada yang nungguin kabar dariku," ledek Doni semakin menjadi.


"Tau ah, kalian menyebalkan." Amel memunggungi Doni dan wajahnya sudah cemberut.


"Ok, aku minta maaf kalau bikin kamu kesel, tapi, kamu lihat sini dulu deh!"


"Gak mau!" jawabnya ketus.


"Lihat kesini sebentar!" titah Doni tegas.


Dan Amelpun menoleh. "Apa?"


"I Miss you," ucapnya mengerlingkan mata.


"Auuu auuu auuu, bujang lapuk beraksi euy..." sorak Fira dan Rey bersamaan.


Amel menunduk malu.


"Sayang, aku juga punya," kata Rey tak ingin kalah.


"Apa?"


"Kita kan lagi deketan nih, kok kamu tidak ngasih aku matahari sih?"

__ADS_1


"Kok, matahari? maksudnya?"


"Matahari kan bahasa Inggrisnya nya SUN."


Cup.... Fira ngasih sun ke pipi Reyhan dan Reyhan langsung memeluk istrinya.


"Ck, Paman juga punya." Doni tak mau kalah nih.


"Mel, di antara angka satu, dua, dan tiga kamu pilih yang mana?"


"Harus jawab, nih?" dan Doni mengangguk.


"Aku pilih no 2." jawab Amel.


"Kalau aku pilih no 1 karena kamu tidak ada duanya di hatiku."


"Oooooow ooowwww eeaaaa.... gubrakkk..." sorak Fira dan Rey.


"Jangan kalah, sayang. Balas." ucap Fira.


"Kalau ada pilihan no, aku akan milih no 6 karena sayang dan cinta aku ke kamu ENAAAAAAAM bah terus."


"Aaaaaaa so sweet..." Fira memberikan kecupan di wajah Reyhan dan itu membuat Doni dan Amel kesal.


"Mesra-mesraan teruuuuus. Gak lihat ada kita di sini?" sindir Doni.


"Cieee yang iri gak bisa kaya gin?" Reyhan memeluk Fira dan mencium pipi istrinya.


"Siapa bilang gak bisa..." Cup... Doni mengecup pipi Amel kemudian berdiri dan kabur dari amukan Reyhan.


"Bujang lapuk kurang ajar.... beraninya kau mencium adikku." pekik Reyhan ingin mengejar Doni.


"Nyicil, Rey." Jawab Doni berteriak sudah ada di luar rumah.


Amel menunduk malu, dia tak berani mengangkat wajahnya di hadapan sang Abang dan kakak iparnya.


"Jangan di kejar sayang, Om Doni emang ngeselin." cegah Fira menenangkan Reyhan supaya tidak marah.


********


Doni tertawa di dalam mobil sendirian, lebih tepatnya bahagia bisa mengerjai keponakannya dan bisa melihat kalau Amel mulai menyukainya.


Dia menggelengkan kepala akan kelakuannya sendiri yang di luar dugaan. "Mel, kau memberiku warna dalam hidupku. Semoga perasaanku terbalaskan, aku mencintaimu anak kecil."


Doni menyalakan mobilnya dan pergi dari rumah Reyhan menuju rumah Kakaknya Dita.


********


Di dalam kamar, Amel memeluk guling senyum-senyum sendiri, dan malu sendiri. "Kenapa gue seneng ya dengan gombalan Doni?"


Ia mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri supa jangan terayu sama gombalan bujang lapuk itu.

__ADS_1


"Sadar, Mel. Jangan kebawa perasaan, siapa tahu dia emang cuman gombal biasa tanpa ada perasaan. Kamu jangan dulu terlalu percaya sama ucapan pria."


Bukan tanpa alasan Amel menolak percaya dan menolak Doni. Ia takut Doni hanya akan menyakitinya lagi dan hanya akan memberikan harapan palsu.


Amel pernah mencintai pria terlalu dalam dan berharap lebih namun cinta itu tak terbalaskan di karenak orang yang ia cintai ternyata hanya PHP-in saja.


Untuk kedua kalinya Amel mencintai pria yaitu Rangga pengunjung tetap yang sering membeli mainan namun, ia di hadapkan kembali dengan kenyataan menyakitkan kalau orang yang ia cintai mengkhianatinya.


Dari kedua pria itu ia belajar untuk tidak mempercayai pria, dari keduanya ia belajar untuk tidak terlalu terbawa perasaan. Makanya Amel lebih hati-hati lagi dalam menyimpulkan setiap perasaan yang ia rasa.


Di tambah yang membuat Amel tidak menyukai Doni ialah umurnya yang terpaut 11 tahun dan itu membuat Amel enggan menjalin kasih dengan pria dewasa.


Tapi hati kecilnya ternyata malah menerima kehadiran Doni dan mulai merindukan sosoknya di kala berjauhan.


Suara panggilan telepon mengalihkan lamunannya dan Amel mengangkat tanpa melihat dulu siapa yang menelpon.


"Halo."


"Halo, calon istri? pasti kamu belum tidur dan masih memikirkan aku, ya?"


"Om Doni?!" Amel melihat layar handphone nya dan baru ngeh kalau yang memanggil adalah Doni.


"Apa, sayang. Kangen ya, sama aku? sama, aku juga kangen pake banget sama kamu. Seminggu tak berkomunikasi terasa satu tahun tak bertemu."


"Apaan sih, Om. Gak usah kepedean deh, aku tidak pernah kangen sama Om dan tidak akan pernah."


"Masa sih gak kangen? padahal aku sudah senang di rindukan sama kamu. Kamu keluar dong, aku ada di depan kamar kamu, Nih."


Amel mengerutkan keningnya bingung. "Ngapain? jangan aneh-aneh deh!"


Tok tok tok


Kaca jendela kamarnya ada yang mengetuk, dan Amel penasaran apa benar Doni ada di sana?


Dia mengintip di balik tirai dan ternyata Doni memang ada di depan jendela kaca rumahnya. "Ngapain Om datang kemari?" tanyanya masih di dalam sambungan telpon.


"Ingin ketemu kamu, keluar dong, please?!" pinta Doni memohon.


Amel mematikan telponnya dan keluar menghampiri Doni. Mereka duduk di taman dekat rumah Amel.


"Sebenarnya mau Om itu apa sih ganggu aku terus? aku kan pernah bilang kalau aku tidak akan pernah suka sama Om dan tidak akan pernah menerima Om."


"Mauku hanya ingin kamu menjadi istriku, itu saja."


Amel menoleh. "Tapi aku tidak mau jadi istrimu."


"Kenapa? apa karena aku terlalu tua untukmu? apa karena aku bukan tipe pria idaman kamu? tapi aku beneran cinta sama kamu, Mel." Doni menggenggam tangan Amel.


Amel tak menjawab karena memang semua yang dikatakan Doni benar adanya. Doni melepaskan genggamannya menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya.


"Baiklah, kalau itu yang membuatmu menolakku aku menyerah."

__ADS_1


Deg....


Bersambung....


__ADS_2