Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)

Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)
Doni Oh Doni


__ADS_3

Cafe


Kali ini Doni akan menemui calon pasangannya di cafe sesuai yang di tentukan oleh Amel dan Leo. Tapi, bukan Cafe SC and R, ya.


Ini adalah orang kelima yang akan Doni jumpai, dan seperti biasanya, Doni akan membuat para perempuan ilfil sama dia dan merasa di bohongi.


Mumpung Amel dan Leo tidak ikut, Doni mulai memakai penyamarannya dari dalam mobil. Kali ini ia menggunakan rambut palsu sebahu, pewarna pipi, daster emak-emak yang begitu besar dan tak kentinggalan tompel yang ia tempelkan di pipinya. Ia memakai masker dan kacamata bulat.


Doni melihat penampilannya di kaca spion. "Iiiih, geli gue. Kalau bukan karena ingin menolak mereka, ogah dah berpenampilan seperti ini. Kayak banci kaleng-kaleng," ucapnya menatap geli penampilan dia sendiri.


Sedangkan di mobil lain kedua ajudan Doni mengikutinya tanpa sepengetahuan Doni. Mereka memarkirkan mobilnya agak jauh supaya Doni tidak curiga.


"Aku ingin lihat apa yang di lakukan Om Doni sampai para calon-calon pendamping tidak mau kepadanya," ujar Amel penasaran melihat pokus ke mobil yang ada di depan.


"Gue juga heran, Mel. Si Bos kan kaya, cukup ganteng, kenapa para cewek ketakutan ya?" sama halnya dengan Leo. Dia juga penasaran ingin melihat apa yang akan di lakukan Doni.


"Itu, itu, Om Doni akan keluar!" Dan keduanya fokus memperhatikan orang yang membuka mobil.


Seketika keduanya terbelalak kaget, mata mereka seakan ingin loncat keluar dari tempatnya saking terkejut melihat orang yang keluar dari dalam mobil.


"Astaga...! Apa dia Om Doni? kenapa penampilannya berubah jadi kayak banci?" pekik Amel mengucek-ngucek matanya memastikan penglihatannya kembali.


"Masa si Bos bisa berubah jadi gitu, Mel? apa kita salah orang? tapi, mobilnya emang bener mobil si Bos!" Leo juga heran dan masih memperhatikan pergerakan Doni.


"Kita ikutin dia, Le!" Amel segera turun saat melihat Doni sudah masuk ke dalam Cafe.


Mereka sengaja memesan Cafe ini untuk beberapa jam sehingga hanya ada mereka di dalam tanpa ada pengunjung lain.


Doni mengedarkan pandangannya saat sudah berada di dalam Cafe. Ia mengernyit heran kenapa Cafenya terlihat kosong dan hanya ada satu orang wanita yang sedang duduk membelakangi pintu masuk dan beberapa orang pekerja Cafe.


Diapun menghampirinya. "Hmmmm, apakan Anda Nona Sena?"


"Iya, saya Sena, kamu pasti Doni, ya." Jawabnya kemayu masih membelakangi Doni.


Bulu kuduk Doni jadi merinding mendengar suaranya. "Suaranya bikin gue merinding," batinnya.


"Boleh saya duduk," izin Doni.

__ADS_1


"Silahkan, Mas."


Saat Doni mendekat dan ingin duduk wanita bernama Sena itu menoleh. "Aduh gustiii....!" keduanya terlonjak kaget melihat penampilan keduanya.


Doni sampai memundurkan tubuhnya terkejut melihat seseorang yang ia sangka wanita ternyata waria. Begitu juga dengan wanita itu yang menyangka Doni pria ternyata wanita.


"Kamu siapa?" cerca Sena.


"Kalau siang Dona kalau malam Doni," balas Doni kemayu dan menjalankan misinya.


"Sama, dong sama Eike. Eike juga kalau siang jadi Sena dan kalau malam jadi Sona." Wanita kemayu itu berdiri menggeplak manja pundak Doni.


Amel dan Leo yang mengintip langsung menyemburkan tawanya tak dapat menahan lagi. Mereka tertawa terbahak-bahak melihat kedua pria yang menjadi wanita.


Doni menoleh ke asal suara, dia melotot tak percaya ada dua cecunguk yang mengikutinya. "Sial, mereka tahu gue berpenampilan seperti ini. Bisa malu tujuh turunan kalau gini mah," batin Doni.


"Hei, kau juga sama ya seperti Eike? pria jadi wanita. Aku kira kau pria macho, eh taunya..."


Doni nyengir bergidik ngeri. "Sorry, saya tidak suka waria seperti mu!" Doni langsung mundur menjauhi wanita itu.


"Hei, you pikir Eike mau sama you, iihhh mending cari pria macho yang cool, ganteng, kaya, dan s*xy." Dia mengambil tasnya menubrukan bahunya ke bahu Doni melangkahkan kaki berlenggak-lenggok.


Hahahaha hahahaha


Amel dan Leo puas tertawa melihat tingkah keduanya.


"Kalau siang Dona kalau malam Doni, hahahhahaa....." ledek Leo terpingkal-pingkal memegang perutnya.


"Diam loe!" sentak Doni kesal membuka tompelnya dan membuka daster yang ia kenakan sehingga menampilkan bagian tubuh atas tanpa baju dan memakai celana jeans panjang.


Amel terpaku melihat roti sobek milik Doni. Ia langsung memalingkan wajahnya merasa malu sendiri. Namun, ia masih menahan tawanya atas kejadian tadi.


"Jadi ini alasan para cewek tidak mau sama loe, Bos? ini mah bukan mereka yang tidak mau, tapi loe nya saja yang kebangetan. Apa jangan-jangan loe memang tidak suka cewek, Bos?" tuding Leo memicingkan mata curiga.


"Apaan sih, gue masih normal Leo. Ya, gue tidak mau saja sama mereka karena gue sudah memiliki pilihan sendiri," ucapnya melirik Amel yang sedang memalingkan wajah.


"Masa sih? tapi gue beneran salut sama cara loe menolak mereka. Loe cowok terkocak yang gue kenal, Bos." Leo kembali terpingkal-pingkal tak dapat memberhentikan tawanya.

__ADS_1


Doni mencebik kesal, matanya terus menatap Amel yang memalingkan wajah dan wajahnya terlihat memerah.


"Wajahmu kenapa memerah, Mel?" tanya Doni dari tadi memperhatikan Amel yang diam namun enggan melihatnya.


"Itu, anu... bajunya pake lagi, Om!" ucapnya gugup.


Doni sampai mengkerutkan dahinya. "Males kali kalau harus pakai daster ini lagi. Nih, kamu saja yang pakai!" Doni berdiri di hadapan Amel dan menaruh daster nya ke kepala Amel.


"Om...!" Amel menggeram kesal. Doni cuek, ia malah terus melangkah ke arah dimana mobilnya berada.


******


Toko Mainan


Gadis berambut sebahu berkacamata itu menghempaskan tubuhnya ke sofa secara kasar. Ia menyenderkan kepalanya menengadahkan wajahnya ke atas sesekali mengambil oksigen dan membuangnya secara kasar.


Tring


Suara pesan masuk mengalihkan gadis itu dari rebahannya. Dia membuka dan melihat siapa pengirim pesan tersebut.


📨 Mel, aku minta maaf atas kejadian waktu itu. Keluar dong! Aku ada di depan toko kamu.


Amel beranjak dari duduknya. "Ngapain lagi dia menemuiku?" gerutu batinnya kesal.


******


"Ada apa lagi kamu menemuiku? hubungan kita sudah berakhir, Rangga." Ucap Amel kepada pria yang sedang duduk di atas motornya.


Orang tersebut menoleh, dia turun dari atas motor dan menghampiri Amel dekat pintu masuk.


"Mel, aku beneran minta maaf, aku menyesal telah terbelenggu hawa nafsu. Aku ingin kita balikan lagi ya, kita kembali seperti dulu ya." Pemuda bernama Rangga itu menggenggam tangan Amel.


Amel pun melepaskan genggaman Rangga. "Maaf, hatiku bukan mainan yang seenaknya kau mainkan lagi. Lebih baik kamu kejar dia daripada aku yang tidak bisa memberikan apa yang kamu inginkan. Maaf." Amel berbalik masuk ke dalam toko.


"Mel, tunggu!" cekalnya.


"Kalau dia tidak mau jangan kau paksa!" ucap seseorang menarik paksa baju Rangga ke belakang dan berdiri membelakangi Amel.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2