Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)

Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)
Maaf


__ADS_3

Amel mendongak mendengar pertanyaan Doni. "Om..!"


Glek.....


Amel menelan ludah secara kasar melihat kemarahan Doni. Dia lupa memberitahukan perihal biro jodoh yang ia buat untuk Doni.


"O-om, a-ada apa?" badannya terasa gugup, ia berdiri sesekali membenarkan kacamata bulatnya.


"Apa maksudmu membuat pengumuman seperti itu anak kecil?" Doni membanting pintu secara kasar.


Blug....


Amel sampai terlonjak kaget memegang dadanya. "A-ku di suruh Mami Dita untuk mencarikan mu jodoh, Om." Jawabnya jujur masih berdiri menatap takut mata Doni.


"Kamu pikir aku tidak selaku itu sampai kamu membuat pengumuman tanpa bertanya terlebih dulu kepadaku, hah?" sentak Doni di hadapan Amel hanya terhalang meja kerja.


Amel sampai memejamkan mata takut dan kaget akan kemarahan Doni. Baru kali ini Amel melihat Doni semarah itu. "Ma maaf, Om. Tapi..."


"Tapi apa? tapi ini semua suruhan Kak Dita? aku tidak percaya Kak Dita yang menyuruhmu. Aku bisa sendiri tanpa harus di buatkan pengumuman seperti itu, Amelia. Jangan mentang-mentang aku selalu baik dan tak pernah marah sama kamu, kamu sampai seenaknya membuat keputusan tanpa bertanya terlebih dulu!"


"Apa ini caramu untuk mencarikan ku jodoh? apa kau benar-benar ingin aku jauh dari mu selamanya? kalau ini maumu maka lakukanlah sesuai yang kau mau dan jangan pernah salahkan aku kalau kamu menyesal dengan keputusanmu!" bentaknya meluapkan kekesalan atas tindakan Amel.


Amel menunduk tak berani menatap Doni, matanya sudah berkaca-kaca, dadanya terasa sesak di marahi dan di bentak-bentak seperti ini. Baru pertama kali ia di bentak oleh orang selain keluarganya.


"Maaf," lirih Amel.


"Maaf, maaf tak akan mengembalikan situasi seperti semula. Dasar gadis kecil, bodoh. Kalau mau bertindak di pikir dulu!" sergahnya memukul meja kerja Amel dan pergi meninggalkan Amel.


Amel terduduk lesu, air matanya menetes membasahi pipi putih mulusnya. "Apa yang ku lakukan?" lirihnya pelan.


"Apa aku beneran ingin dia menjauh dariku?" lanjutnya terduduk sedih bingung dengan perasaannya sendiri.


***********

__ADS_1


Doni kembali memakai masker dan kacamata hitamnya. Ia membuka jas dan membuka satu kancing kemejanya agar leluasa mengatur emosinya. Dia menyebrang jalan menuju Cafe SC and R yang ada di sebrang toko mainan Amel.


Sesampai di ruangannya, Doni melemparkan jas ke sofa dan mendudukan tubuhnya secara kasar ke kursi. Ia memijat pelipis, memejamkan mata, menenangkan pikiran dan emosinya tanpa berpikir bahwa perlakuannya membuat Amel menangis bersedih.


******


Gadis berambut sebahu berkacamata itu termenung di dekat jendela. Ia menyesali perbuatannya gegabah membuat pengumuman. Jari telunjuknya ia coretkan ke kaca menulis kata maaf meski Doni tak bisa melihatnya.


"Seharusnya aku izin dulu sama dia, ini salahku, sekarang dia bener-bener marah padaku," batinnya membuang nafas secara kasar.



*******


Sama halnya dengan Doni yang juga berdiri di dekat kaca sambil melipatkan kedua tangannya. Rasa kesalnya masih mendera, suara notifikasi terus masuk ke handphone dan ia pun membuka handphone nya melihat pesan apa yang masuk.


Rupanya sebuah DM dari para penggemar barunya terus masuk. Ia mengabaikan pesan tersebut dan hanya membuka pesan masuk dari Kakaknya. Dia menumpukan sikutnya di meja kecil dekat kaca membaca serius pesan dari Kakaknya.


"Don, Kakak sudah lihat pengumuman Amel. Kakak sendiri yang suruh dia untuk membuatkannya, jadi kalau kamu ketemu Amel jangan marah sama dia, ya. Ini murni ide Kakak yang ingin kamu segera mendapatkan pasangan. Ini kesempatan kamu untuk mencari cinta sejatimu, gunakan kesempatan ini meski harus melalui ajang pencarian jodoh."


Dari atas ia bisa melihat Amel yang sedang termenung sedih sesekali menghapus air mata.


Doni terus memperhatikan pergerakan Amel dari ruangan kerjanya.


Amel melangkah keluar ruangan menuju teras yang ada di bagian samping tokonya, dan tempat itu terlihat jelas dari ruangan kerja Doni. Gadis itu duduk di pinggiran teras tertunduk sedih.


Doni merasa bersalah telah membentaknya, iapun beranjak dari ruangannya dan berjalan menghampiri dimana Amel berada.


Saat sudah sampai, Doni berdiri di belakang Amel. "Maaf," ucapnya menyodorkan satu buah permen lollipop warna warni.


Amel mendongak, dan secepatnya ia menghapus sisa air mata yang masih ada di pipinya. "Om..."


"Om tidak perlu minta maaf, aku yang salah, aku emang tidak tahu diri sampai nekat membuat pengumuman seperti itu," ucapnya menunduk.

__ADS_1


Doni duduk di samping Amel. "Maaf sudah memarahimu."


"Aku yang salah, tapi aku akan menghapus pengumuman nya sekarang juga, kok." Amel ingin berdiri namun Doni mencekal tangan Amel.


"Kamu tidak perlu menghapusnya. Biarkan ajang pencarian jodoh itu berlangsung dan aku akan mengikuti prosedur yang ada sesuai yang kamu inginkan."


Deg...


Amel menoleh tak percaya Doni menyetujuinya. "Ka-kalau Om keberatan, aku akan menghapusnya sebelum banyak yang daftar. Aku serius!"


"Aku juga serius. Saatnya ku mencari seseorang yang benar-benar mencintaiku karena ku tak ingin berharap padamu," ujar Doni kembali menyodorkan lolipop ke Amel.


Amel merasa tercubit, ia melihat permennya dan menatap Doni. "Kok lolipop, sih? aku bukan anak kecil yang dapat di bujuk pakai permen," ujarnya mencebikkan bibir berusaha menormalkan perasaan yang tak karuan.


Doni mengenyit. "Kamu kan emang anak kecil. Umurmu saja baru 25 beda 11 tahun denganku."


"Iisssshh. Tau ah, Om ngeselin."


Doni tersenyum simpul melihat Amel cemberut. Ia mengacak-acak rambut Amel dan mencubit gemas pipi adik ipar keponakannya.


"Kalau ingin cincin, nanti saat menikah. Sekarang ini saja dulu." Sontak Amel langsung menoleh mencerna perkataan dari paman Kakak iparnya.


"Kenapa? ada yang salah dengan ucapanku? benarkan, kalau nanti kamu menikah pasti hadiahnya cincin pernikahan?" kata Doni sambil membuka bungkus plastik lolipop nya kemudian ia makan sambil menikmati kebingungan di wajah Amel.


"Ah, iya, benar juga," jawab Amel manggut-manggut mengerti mulai berharap.


"Eh, Om. Katanya itu buat aku? kenapa malah di makan sih? sebenarnya Om niat ngasih tidak sih? masa ngasih malah di makan lagi," cerocosnya tanpa henti.


"Gak jadi, kelamaan di ambil jadi saya makan saja, kan sayang kalau di anggurin. Saya belinya pakai uang bukan pakai daun. Jadi kalau tidak kamu ambil ya, saya makan saja, kan jadinya tidak mubajir kebuang. Lagian makanan itu harus di makan bukan di plototin doang. Kalau cuman di lihat ia akan merasakan sakit hati, di beli tapi tak di makan, kan sayang." cerocosnya membalas ucapan Amel.


Amel sampai melongo mendengar Doni ngoceh tanpa henti cuman gara-gara lolipop.


"Akan ku buat kau menyadari perasaanmu dan kamu sendiri yang bilang cinta padaku," batin Doni menikmati lolipop nya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2