
Amel yang baru saja bangun tidur habis minum mendengar notifikasi pesan dan iapun membukanya. Bibirnya terangkat membentuk senyuman.
"Good night juga Om ngeselin, tapi aku sayang," balasnya mengirimkan ketikan pesan ke Doni.
*******
Kota J
"Ra, apa kamu yakin akan melibatkan Amel dan Sari untuk misi kali ini?" tanya Alex baru pulang di kota M.
Syafira yang sedang menjemur baby Aninpun menjawab, "Aku yakin, Bang. Mereka cukup terlatih dan mereka berdua pasti bisa menjadi partner kerja yang baik bagi Paman Doni. Kita Doakan saja semoga mereka berhasil dan kita harus siap berada di belakang mereka."
"Iya, sih. Aku tidak meragukan kemampuan mu dalam menebak sifat dan karakter seseorang. Tapi, hmmmm," Alex tiba-tiba menjadi gugup saat ingin menyampaikan sesuatu.
"Aku tahu kalau Bang Alex meminta izin untuk berada di kota M kan? lebih tepatnya hati Abang sudah terpaut kepada seorang Arabella," tebak Syafira.
"Hehehe kamu tahu saja, Ra. Gimana boleh ya? soalnya aku tidak bisa meninggalkan dia tanpa pengawasan dan aku ingin berada di saat-saat tersulitnya."
"Hmmmm meski ada Bang Dimas di sana, aku izinin Abang berada di kota M selama keadaan di sini stabil dan jika nanti kami membutuhkan bantuan Abang, aku harap Abang datang membantu."
"Siap Bu Bos, aku siap menjalankannya. Baik sekali adikku ini," ujar Alex memeluk Syafira yang sudah ia anggap adiknya.
"Hei hei, jangan peluk-peluk!" cegah Reyhan melepaskan tangan Alex. "Enak sekali kau main peluk istriku, tidak ada yang boleh peluk dia selain aku suaminya!" ucap Reyhan penuh peringatan dan ia memeluk istrinya dari belakang.
Alex jengah, "Tuan posesif kumat," cebiknya.
"Dia itu adik kami juga Reyhan, jadi kau tidak boleh rakus sendiri ok!"
"Tidak, pokoknya jangan ada yang pegang-pegang dia! Dia milikku dan dia istriku, Ok!" balas Rey tak mau kalah."
"Terserah kau sajalah Tuan posesif, tapi dia akan tetep menjadi adik kesayangan aku dan Leo." Alex berdiri kemudian mengecup pucuk kepala Syafira dan langsung lari sebelum Reyhan ngamuk.
"Alex sialaaan. Kau berani sekali mencium kepala istriku..!" pekik Reyhan tidak terima.
Syafira tersenyum menggelengkan kepala. "Sudah Mas, jangan di kejar. Mending kamu hapus bekas ciumannya!" usul Fira.
Dan Reypun langsung mengecup pucuk kepala istrinya beberapa kali dan terakhir bibir istrinya.
********
Seperti biasa, Doni, Leo, Amel, dan Sari berkumpul di rumah Ibu Ami dan mereka di sambut antusias oleh penduduk setempat atas bantuan yang di tawarkan mereka meski ada rasa takut menyelimuti hati para warga.
"Tapi, Nak. Kami takut mereka malah menjebloskan kalian. Mereka cukup berkuasa di daerah kami, Nak," tutur pak RT.
"Kalian tidak usah takut karena ada Tuhan yang akan menjaga kami. Kami hanya ingin minta doa dari kalian supaya apa yang kami lakukan dapat membuahkan hasil dan semoga bisa membuat kalian tetap menjadi pemilik tanah kalian," ucap Doni.
"Kami akan doakan kalian, Nak. Terima kasih sudah bersedia membantu kami."
Tempat yang Doni singgahi merupakan perkampungan dan suasananya masih asri sehingga ada orang yang berniat membangun beberapa tempat hiburan, dan rumah susun.
"Hei, kalian, keluar!" teriak seseorang dari luar sana.
__ADS_1
Doni dan beserta yang lainnya saling pandang.
"Sepertinya dia Mbah Surip..!" kata Ibu Ami.
"Kalian tunggu saja di dalam, kami takut mereka membawa polisi untuk menangkap kalian," timpal Pak RT.
"Benar, Nak. Kalian tunggu saja dulu!" timpal yang lainnya.
Doni beserta kawan-kawan mengangguk.
"Ada apa, Tuan?" tanya Pak Ian.
"Kami sudah memperingati kalian untuk pergi meninggalkan tanah ini! Sekarang kemasi barang-barang kalian semua karena bos besar akan segera membangun tempat ini," kata Mbah Surip.
"Kami tidak pernah menjual tempat kami Tuan. Kami hanya menggadaikan bukan menjualnya dan kami tidak akan pergi dari sini!" jawab Pak Ian.
"Ayolah, kalian harus kerjasama dengan kami dan kami tidak akan berbuat kasar kepada kalian semua," balas Mbah Surip.
"Kami menolak pergi dari sini!" teriak beberapa pemuda penduduk sana.
"Baiklah kami terpaksa melakukan tindakan kasar kepada kalian. Anak buah, usir mereka!" pekik Mbah Surip menyuruh sepuluh anak buahnya menyeret beberapa penduduk keluar.
"Berhenti..!" teriak Doni.
Mereka berempat keluar dari dalam rumah dan berbaris rapi bersidekap menatap mereka semua.
"Bos, dia yang semalam menghajar kami," ucap salah satu dari mereka yang di hajar Doni.
"Dia kuat, Bos."
"Halah, bacot kalian. Bos Don, lawan mereka! Jangan biarkan kejahatan merajalela!" ucap Leo mendorong-dorong tubuh Doni.
"Apaan sih, Le. Kamu saja sana yang lawan! Ngapain kamu dorong-dorong saya? saya bos di sini dan kau anak buahnya, jadi kau yang lawan mereka!" sergah Doni kesal menoleh menatap kesal Leo.
"Lah, kok saya, bos?" tunjuk Leo pada dirinya sendiri.
"Iya, kamu, buruan maju kedepan lawan mereka!"
Mau tidak mau Leo melangkah maju, dia melipatkan baju di lengan sehingga memperlihatkan ototnya.
"Bos, saya, nih?" tanya Leo.
"Buruan...!" sentak Doni.
Sedangkan mereka yang menonton terkecoh akan pertengkaran Doni dan Leo dan di saat itulah Leo memukul Mbah Surip.
Bugh....
"Sudah Bos Don. Bos nya langsung saya pukul." Ucap Leo membalikan badannya.
"Brengsek...hajar mereka..!!!" teriak Mah Surip.
__ADS_1
Leo yang tadinya ingin balik kembali membalikan tubuhnya dan memasang kuda-kuda.
Begitupun dengan Doni yang sudah berdiri di dekat Leo. "Kita beraksi....!"
"Hiaaaaaa...." Bugh....Bugh....Bugh.... dug...dug...gedebag...gedebug... gubraaak..
Anak buah Mbah Surip yang berjumlah 10 orang pun kalah oleh dua orang.
"Segitu kemampuan kalian? sini maju siah!" pekik Leo.
Mbah Surip yang ingin kabur bajunya di tarik oleh Doni. "Mau kemana hmmmm? mau kabur? enak sekali kabur setelah membuat kekacauan."
Pletak...pletak...
Doni menjitak kepala mBah Surip.
"Heh, anak kurang ajar, saya ini orang tua, lepasin saya! Kamu anak tidak punya sopan santun maen jitak kepala saya," sentak Mbah Surip berusaha melepaskan tangan kekar Doni.
"Jitak terus bos, jangan biarkan dia jamur... eh salah kabur.." pekik Leo mengompori.
"Diam Le, kau saja nih yang jitak! Nyerocos Mulu kaya petasan nikahan," sergah Doni kesal.
"Baiklah bos, saya punya jurus ampuh supaya bikin nih orang pingsan." Leo bersiap, telapak tangannya di kebelakang kan untuk menampung sesuatu kemudian menarik napas dalam-dalam kemudian membuangnya.
Duuuuutttt... preeetttt.... lalu di berikan kepada Mbah Surip.
"Astaga, Le!!!! kentut mu bau sekali!" pekik Doni dan mereka yang ada di sana tutup hidung sedangkan Mbah Surip sudah sempoyongan pusing dan terkapar tak kuat dengan bau sedapnya.
"Itu jurus biar dia pingsan bos, tuh lihat kan pingsan!"
"Iiihhhh, bang Le jorok banget," cibir Amel sedangkan Sari ilfil.
Mbah Surip berhasil Doni tahan dan sebagian anak buahnya kabur untuk melaporkan.
******
Brak.....
"Kurang ajar, jadi kalian semua gagal mengusir mereka?" sentak Bos besar menggebrak meja kerjanya.
"Maaf bos, ada yang membantu warga disana dan kami tidak tahu siapa mereka."
"Siapapun yang menghalangi kalian habisi mereka, kalau perlu laporkan mereka atas tuduhan penganiayaan."
"Apa akan berhasil lagi, bos?"
"Jadi kau meragukan kekuasaan ku, hah? aku ini orang kaya banyak uang, polisipun akan takut padaku. Cepat kalian suruh polisi kemari!" Sentaknya.
"Baik, bos."
Bersambung.....
__ADS_1