
Baru saja sebentar di tinggal suaminya membuat Amel sudah merindu. Rindu akan sosok suaminya yang ngeselin namun ngangenin. Rindu pelukan suaminya, rindu, perlakuannya, rindu wangi tubuhnya, dan rindu sentuhannya.
Dada Amel tiba-tiba sesak dikala kata rindu bersemayam di relung kalbu. Amel duduk termenung menopang dagu di meja ruang tamu manatap ponsel yang ada di atas meja.
Sudah empat jam lamanya Amel menunggu no sang suami aktif dan berharap menelpon balik. Tapi nyatanya sampai sekarang tak ada satupun pesan atau panggilan telpon masuk.
"Kamu kemana sih, Mas? seharusnya kamu udah sampai dua jam yang lalu," gumam Amel cemberut kesal.
Menunggu memang sesuatu yang mengesalkan dan menyesakan. Apalagi menunggu seseorang yang kita cintai tak kunjung memberi kabar rasanya luar biasa nyesek dan tak sabar.
"Kamu kenapa, Mel?" Mama Dinda menghampiri putrinya dan duduk di dekat Amel menatap heran sang putri yang dari tadi terus memperhatikan ponsel dan memutar-mutarnya.
"Aku rindu Om Doni, Mah."
"Oh, kok manggilnya masih Om, diakan sudah jadi suami kamu."
"Abisnya aku kesel sama dia. Katanya akan ngasih kabar kalau sudah sampai, tapi kenyataannya malah udah dua jam lebih tak ada kabar," adu Amel membaringkan kepalanya di pangkuan sang Mama.
Dinda mengelus kepala putrinya penuh sayang. "Mel, mungkin Doni sedang ada pertemuan dengan yang lainnya atau Doni sedang istirahat karena kecapean. Kamu berdoa saja semoga suamimu baik-baik saja, di lindungi dari segala macam marabahaya dan pastinya selalu setia dan tidak tergoda oleh wanita."
Amel menyimak nasehat Mamanya dan iapun mendongak kemudian mengangguk. "Aku mau berdoa dulu sama Tuhan," ujar Amel beranjak dari duduknya pergi ke kamar dia dan tak lupa membawa handphone yang ada di atas meja.
***********
Masih di langit yang sama namun berbeda negara. Doni baru saja menyelesaikan berbincangannya dengan beberapa orang dari berbagai negara membicarakan masalah berlian yang akan di pamerkan.
"Saya yakin berlian Anda akan menjadi berlian terunik dan termahal di masa ini, Tuan." Kata Tomas pengusaha berlian asal Amerika berusia sekitar 60 tahunan tapi masih terlihat gagah dan awet muda.
"Anda bisa saja Tuan Tomas, justru berlian Andalah yang pasti akan menjadi berlian termahal dan sangat laris. Meski Anda baru mendirikan perusahaan berlian, namun Anda mampu menyaingi popularitas berlian dari mancanegara," balas Doni tersenyum ramah.
"Kau bisa saja anak muda. Tapi saya yakin pasti milik saya yang akan menang dengan tawaran nilai tertinggi dan pembeli yang sangat meminati," ujarnya membanggakan perusahaannya.
Doni hanya tersenyum, Alex dan Leo hanya memperhatikan setiap pergerakan dari bosnya dan dari beberapa orang yang ada di sekitar tempat yang akan di jadikan tempat pameran berlian terbesar di Asia.
*******
__ADS_1
"Le, Lex, gue mau istirahat dulu badan gue rasanya sangat lelah. Kalian juga boleh istirahat!"
"Badan gue juga sama pegalnya, bos. Eh, jangan lupa kau hubungi istrimu!" balas Alex.
"Astaga..! Gue lupa," Doni morogoh saku jasnya dan mengaktifkan ponsel yang ia pegang sambil berjalan masuk ke dalam kamar inapnya.
Ada beberapa pesan masuk dari Mama Dinda, Syafira dan istrinya. Doni lebih memilih membuka pesan dari sang istri yang ia cintai.
Pria itu membaringkan tubuhnya setelah membuka jas yang ia kenakan. Ia membaca satu persatu pesan masuk dari sang istri.
📨 Mas, udah sampai belum? jangan lupa makan ya sayang! Jaga kesehatan dan jangan lupa untuk menghubungiku kalau sudah sampai!
📨Mas, kenapa no kamu tidak aktif terus? kamu lagi apa sih sebenarnya?
📨Mas, kamu ngeselin ih. Katanya akan telpon setelah sampai sana tapi buktinya kamu bohong😭
Doni merasa bersalah dan ia segera menghubungi istri kecilnya.
"Hallo, Mel. Aku minta maaf baru hubungi kamu, tadi ada beberapa perbincangan mengenai pekerjaan kami, maaf ya."
Doni gemas melihat wajah kesal istrinya. Seandainya sedang berdua, Doni sudah membawa Amel kedalam lautan cinta surga dunia.
"Maaf sayang, kamu juga tahu kalau aku di sini sedang kerja, jangan marah ya."
Keduanya sedang melakukan video call, Amel tidur menyamping menyimpan ponselnya di sandarkan ke bantal. Doni juga terlentang menjadikan salah satu tangannya sebagai bantal yang ia lipatkan di bawah kepala.
"Iya, aku maafin. Aku cuman khawatir sama kamu, kan kalau sudah tahu kabar kamu hatiku terasa lega dan juga tidak secemas tadi."
"Seneng deh di cemasin sama kamu. Jadi rindu pengen peluk cium kamu."
Wajah Amel bersemu merah mendengar ucapan suaminya. "Aku juga rindu kamu," lirihnya pelan menutup muka dengan telapak tangan.
Doni tertawa melihat wajah malu-malu istrinya. "Sayang, boleh aku lihat punya kamu?"
Amel mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"
__ADS_1
"Mas rindu, sayang. Karena jauh, jadi mas mau lihat punya kamu supaya ada bayangan buat Mas bersolo."
Amel terbelalak melotot. "Ihhh, Mas Doni mesum. Gak ah, aku malu tahu."
"Kita sudah menikah, sayang. Mas juga sudah melihat bahkan merasakannya, bantu Mas ya?" pinta Doni memelas ketika has ratnya tiba-tiba datang.
"Kamu lihat nih, punya Mas sudah bangun." Doni mengarahkan kamera belakang ke inti tubuhnya yang terlihat mengeras di balik celana.
Amel merasa kasihan. "Apa yang harus aku lakukan?"
"Buka baju kamu semuanya!" bisik Doni sambil tangan satunya membuka kancing kemejanya.
Awalnya Amel ragu, tapi demi suaminya ia rela melakukan apapun asalkan sang suami bahagia. Amel membuka setiap pakaian yang ia kenakan dan hanya menyisakan pakaian dalam.
Doni benar-benar gila, ia bermain solo sambil video call dengan Amel yang ada di hadapannya menatap lekat-lekat tubuh istrinya di sebrang telpon.
"Buka semuanya, sayang!" bisik Doni memegang pusakanya yang sudah berdiri.
"Aku malu, Mas."
"Hanya ada kita berdua di kamar, sayang. Kamu kunci dulu pintu kamar kamu supaya tidak ada yang ganggu kegiatan kita!"
"Aku sudah menguncinya dari tadi, lalu aku harus apa?" tanya Amel mengikuti titah sang suami.
"Re mas pelan milik kamu, bayangin kalau akulah yang sedang meremasnya! Aku juga sama sedang memainkan milikku," ucap Doni kembali mengarahkan kameranya ke milik dia yang sudah tak terhalang apapun.
Amel tak kalah gila meraba-raba milik dia sendiri menggigit bibirnya bahkan men de sah memberikan rang sangan untuk suaminya.
Doni berjalan ke kamar mandi membawa ponselnya dan menyimpannya di atas wastafel supaya apa yang di lakukannya terlihat oleh Amel.
Tangan keduanya terus memainkan milik mereka sendiri membayangkan bahwa mereka berdua sedang bermain bersama sampai keduanya mendapat pelepasan.
Sungguh pasangan tergila, mereka berdua melakukan tindakan Pons*ks demi has rat keduanya.
Bersambung....
__ADS_1
Apa di antara kalian ada yang ngalamin? hayo ngaku! untuk suami istri mah halal bae tak masalah.