
Amel segera menangkapnya. "Hei, jangan kasar seperti itu!"
"Kalian tidak sopan sekali mengasari orang tua," kata Leo.
"Kalian pergi saja dari sini dan jangan ikut campur! Jono, Joni, ambil seluruh barang mereka dan suruh mereka pergi!" titahnya.
"Jangan Tuan!" pekik orang-orang.
Doni geram, dia menghalangi dua orang yang ingin mengambil barang penduduk. "Jangan kau coba-coba mengambil barang meraka atau kalian berurusan denganku!"
"Kau berani sekali mengahalangi kami. J 2 hajar pria itu!" pekiknya.
"Siap bos." Dan keduanyapun bersiap memasang kuda-kuda.
Doni juga mengepalkan kedua tangannya di dekat dada bersiap.
Kedua orang itupun maju menyerang. "Hiaaaaaaa...."
Bugh... Bugh... Bugh...
Doni menghalau pukulan keduanya dari setiap sisi kemudian ia meloncat dan menerjang perut keduanya sampai tersungkur.
Bosnya melotot sempurna anak buah terkuatnya kalah. "Badan gede lawan satu orang saja tidak becus," umpatnya kesal.
"Hey kamu, lawan aing, hayo!" Bosnya juga ikut bersiap menerjang Doni dari samping namun Doni memundur kesamping sehingga tidak kena.
"Malah ngelak kamu mah, sini lawan! Kamu takut sama saya?"
"Situ yang maju! Ayo hajar kalau mampu!" tantang Doni.
Bos itupun kembali melayangkan terjangan dan Doni menangkap kakinya kemudian membantingkan ke kedua anak buah dia.
"Pergi siah! Kalau tidak saya pukul kamu!" pekik Leo bertolak pinggang kemudian menendang kaki ketiganya.
Ketiga orang itupun berdiri dan lari sambil berkata. "Awas siah, saya adukan kalian ke bos besar!" teriaknya.
"Aduin sono! Kita tidak takut," pekik Amel.
Sari melongo terpesona akan aksi Doni yang terlihat gagah saat berkelahi. "Wah! Keren kali bos Don!" ucapnya.
Amel mencebik kesal, diapun menghampiri Doni. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.
"Tidak, sayang." Jawab Doni tersenyum mengusap pucuk kepala Amel sehingga membuat Amel tersenyum malu.
"Terima kasih Nak sudah membantu kami," ucap Beberapa warga.
"Sama-sama. Kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang terjadi sampai mereka memaksa kalian pergi dari rumah kalian sendiri?" tanya Doni.
__ADS_1
"Supaya lebih enak bicaranya, kalian mampir ke rumah saya dulu, bagaimana?"
Doni, Amel, Leo, dan Sari saling pandang dan kemudian mereka mengangguk.
"Maaf Nak minumannya cuman seadanya saja," ucap ibu paruh baya yang tadi di dorong.
"Tidak apa-apa, Bu. Padahal tidak usah repot-repot kalau ada mah keluarin saja semuanya," jawab Leo.
Pletak...
Jitakan di layangkan Doni ke kepala Leo dan Leo cuman mengaduh.
"Maafkan teman saya yang kurang ajar ini, Bu. Dia mah suka bercanda, bercandanya kelewat batas," kata Doni tak enak hati.
Ibu dan orang-orang yang tadi di usir tersenyum, justru mereka merasa terhibur dan mereka bisa melihat ada kasih sayang diantara keduanya.
"Tadi kalian belum jawab pertanyaan saya."
"Begini Nak Doni, mereka adalah beberapa dari anak buah Mbah Surip sang rentenir tanah. Mbah Surip akan meminjamkan kami uang bagi siapa saja yang membutuhkan dengan jaminan surat tanah yang kami tempati."
"Barang siapa yang tidak bisa membayarnya mereka akan mengusir kami dan akan mengambil tanah milik kami. Mereka juga tidak segan-segan menyakiti siapa saja yang melawan mereka."
"Kenapa seperti itu? bukankah ada hitam di atas putih sehingga mereka tidak seenaknya mengambil tanah kalian?" tanya Doni.
"Tidak ada hitam di atas putih, Nak. Kami tidak tahu mengenai itu." Tutur salah satu dari mereka.
"Lalu kenapa mereka memaksa kalian pergi?" timpal Amel.
"Tapi tidak seharusnya mereka memaksa seperti tadi," ucap Sari.
"Dan kenapa kalian tidak melawan atau melaporkan ini ke pihak yang berwajib?" kali ini Leo yang bertanya.
"Kami tidak berani, Nak. Mereka akan menghabisi kami dan menjebloskan balik kami atas tuduhan pencemaran nama baik karena kami tidak memiliki buktinya."
"Kalian kan bisa merekamnya, bahkan dengan adanya laporan dari banyak orang bisa menjadi salah satu bukti kuat untuk melaporkannya," timpal Amel dan diangguki oleh Doni, Leo, dan Sari.
"Kami sudah melakukannya Nak. Tapi yang ada mereka tidak percaya dan malah memenjarakan kami."
"Ini aneh, sepertinya ada orang kuat di balik rencana Mbah Surip. Soalnya tidak mungkin pihak berwajib sampai mengabaikan laporan warganya dan tidak mungkin mereka memenjarakan orang sembarangan," kata Doni.
"Sepertinya seperti itu, Bos. Kita wajib bantu ini mah, dan kita selesaikan sampai tuntas, " sahut Leo.
"Emangnya pekerjaan kalian udah selesai sampai mau menyelesaikan masalah ini?" tanya Amel.
"Kan ada Abang serta kakak Iparmu yang akan mengerjakan pekerjaannya. Terutama Syafira pasti mampu menyelesaikan setiap pekerjaan," jawab Doni.
Para warga sempat bingung dengan perkataan mereka. "Maksudnya kalian mau bantu kami, Nak?"
__ADS_1
"Dengan senang hati saya akan bantu sampai tuntas." Jawab Doni tegas. "Le, apa kau siap menjalankan misi PKK dari Syafira?"
"Siap bos Don," jawab Leo tegas.
"PKK apaan?" tanya Amel heran.
"Iya, baru denger kita," sahut Sari.
"Pembela Kebenaran dan Keadilan," ucap Doni dan Leo bersamaan.
Tentunya bantuan mereka di sambut baik oleh beberapa warga yang tadi di usir dan mereka ingin surat tanahnya kembali ketangan mereka.
"Oh, iya, ini sudah malam, bagaimana kalau kalian menginap saja di rumah kami?" tanya Ibu yang bernama Ami.
"Tidak perlu."
"Boleh."
Jawaban Doni dan Leo berbeda.
"Mending menginap saja, lagian di daerah sini jauh dari penginapan, Nak."
Setelah berpikir dan berdiskusi lewat mata akhirnya mereka memutuskan untuk menginap.
"Tapi, di rumah ibu cuman ada satu kamar," kata Bu Ami.
"Sebagian lagi menginap di rumah pak RT saja," timpal warga.
Dan mereka pun menerima usul para warga. Doni dan Leo akan menginap di rumah pak RT sekaligus ingin membicarakan perihal masalah ini lebih detail dan Amel serta Sari menginap di rumah Ibu Ami.
*****
"Halo, Ra. Misi kali ini memecahkan siapa dalang dari rentenir tanah. Dan kemungkinan kami akan menginap untuk beberapa saat sampai misinya selesai."
"Iya, Paman. Aku dapat laporan dari seseorang dan memang daerah situ sedang dalam masalah. Kita sebagai pembela kebenaran dan keadilan harus membantu mereka semampu kita. Apa paman siap?"
"Siap, Ra. Komunitas PKK harus siap kapanpun itu."
"Iya dan aku sudah menaruh anak buah kita di berbagai titik dan mereka akan bergerak kalau dalam keadaan darurat."
"Siap, Paman mengerti. Kalau gitu paman tutup dulu, ya."
"Iya, Paman. Titip calon bibiku jangan sampai dia lecet," kata Syafira terkekeh.
"Ck, rupanya kau sudah tahu kami telah jadian. Sudahlah, kau terlalu pintar dan pasti akan tahu apapun tentang Paman."
Setelah berbincang dengan keponakannya, Doni membaringkan tubuhnya. Ia melihat Leo yang sudah terlelap dan iapun mengetikan sesuatu ke kontak Amel.
__ADS_1
"Good night my little girl."
Bersambung....