
Mereka duduk di meja bundar di pojok karena Doni tidak terlalu suka di soroti dan tidak terlalu suka di kerumunan.
"Aku ambilkan dulu makanan, kamu tunggu di sini ya, Mel!" Amel mengangguk.
Ia melihat orang-orang yang ada di sana memperhatikan setiap orang yang ada. Matanya tak sengaja melihat orang yang sempat menjadi pacarnya sedang bergandengan lebih tepatnya merangkul mesra pinggang seorang wanita yang menjadi duri dalam hubungannya.
Rangga, pria yang Amel maksud. Mata Amel menatap jijik melihat Rangga mengecup mesra pipi wanitanya di hadapan banyak orang.
"Dasar buaya, kemarin mohon-mohon minta maaf minta balikan. Eh ternyata, masih bersama dia juga," batinnya.
Rangga menoleh, matanya terbelalak melihat Amel ada di sana. Ia langsung melepaskan rangkulannya dan menjauhkan tubuhnya dari wanita yang ada di sampingnya.
Amel memalingkan wajahnya enggan melihat pria penghianat seperti Rangga.
"Hei, cupu, kau yang tadi dengan Doni kan?"
Amel mendongak, "Ngapain dia nanyain Om Doni?" batinnya.
"Iya, ada apa?" tanya Amel masih mendongak menatap Helena.
Wanita itu menatap sinis penampilan Amel yang terlihat cupu dengan kacamata bulatnya. "Kamu siapanya Doni? tidak mungkin kan kau pasangannya, di lihat dari penampilanmu tidak pantas untuk dia."
Amel membuang nafasnya secara kasar. "Tanya saja sama dia nya, siapa aku untuknya!" jawab Amel cuek.
"Kau...!" Helena kesal, dia melihat Doni berjalan menuju meja Amel. Segera Helena berjalan dan pura-pura jatuh di dekat Amel untuk mencari perhatian Doni.
"Awww," pekikan Helena membuat orang menoleh. "Kenapa kau memalangkan kakimu, Nona?"
"Ada apa ini?" tanya Doni menatap Amel minta penjelasan. Amel menggelengkan kepala seolah tidak tahu.
"Dia memalangkan kakinya saat aku lewat, Don." Jawab Helena terduduk memegang pergelangan kakinya pura-pura sakit.
Bujang lapuk itu membantu Helena bangun, dan membantu mendudukannya di kursi.
"Yes, gue berhasil mengambil simpatinya," batin Helena gembira.
"Dia jatuh sendiri, Om. Aku beneran tidak tahu apapun, beneran?" kata Amel membela.
"Bohong, dia bohong. Padahal aku cuman bertanya kamu siapanya Doni? dia malah menyuruh aku untuk tidak mengganggu kamu, dan dia mengusir aku, Doni."
"Aku pergi saja karena percuma bertanya kepadanya. Eh, dia malah memalangkan kakinya sampai aku terjatuh seperti tadi. Sakit tahu kakiku." Adu Helena mendramatisir keadaan.
Doni yang berdiri mengerutkan keningnya, dia melihat Amel dan melihat Helena. "Lain kali kamu tidak boleh begitu, Mel!"
"Tapi, aku kan tidak..."
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, mungkin dia takut kalau aku berniat jahat sama kamu. Kamu jangan marahi dia, ya, Doni!" pinta Helena merasa senang kalau Doni perhatian.
"Maafkan dia, dia emang masih anak kecil." Balas Doni duduk.
Gadis berkacamata itu manyun memberenggut kesal. "Dasar bujang lapuk, aku tidak salah malah di salahin," batin Amel menggerutu.
"Aku mau ke toilet dulu." Amel berdiri padahal itu hanya alasan saja karena merasa kalau Om nya sudah tertarik kepada Helena.
"Jangan lama-lama!" kata Doni menatap punggung Amel sampai benar-benar hilang.
"Dia siapanya kamu? kalau pacar tidak mungkin kan? masa selera kamu cupu seperti itu?" tanya Helena.
Doni menoleh, dia sudah bisa menebak sifat wanita yang ada di hadapannya. "Dia orang spesial," ucapnya dingin memakan makanan yang ia bawa.
******
Amel masuk kedalam toilet, dia membasuh wajahnya. "Om-om ngeselin, mentang-mentang dia cantik sampai segitunya percaya sama dia."
Dia menatap wajahnya di cermin memperhatikannya. "Aku cantik, putih, tinggi, badanku juga bagus, tidak kalah sama cewek tadi." gumamnya memperhatikan setiap penampilan dan lekukan tubuhnya di cermin.
Merasa hatinya sudah tidak sekesal tadi, Amel keluar.
"Mel," cekal Rangga tiba-tiba.
"Apa yang kamu lihat tadi tidak seperti kejadiannya. kamu jangan salah paham ya, Mel. Aku beneran cinta kamu."
"Aku tidak peduli, lagian terserah kamu mau seperti tadi atau tidak, kita sudah tidak memiliki hubungan lagi." Amel ingin pergi namun tangannya di tarik oleh Rangga di bawa paksa.
"Rangga.. lepasin! Sakit tau..!"
"Kamu ikut aku! Sudah berapa kali aku berusaha minta maaf secara baik-baik tapi kamu tetap cuek dan sok menolak. Rupanya aku harus melakukan cara lain supaya kamu mau menerimaku dan menikah denganku."
Rangga membawa Amel ke tempat parkiran mobil.
******
Doni gelisah, ia melihat jam tangannya dan sudah hampir setengah jam Amel belum kembali juga. "Kemana dia? lama sekali ketoiletnya?" batin Doni.
"Sorry, Helena. Saya ke toilet sebentar." Dia langsung saja pergi tanpa mendengar balasan Helena.
"Apa kau melihat seorang gadis memakai baju merah marun?" Doni bertanya kepada orang yang ada di toilet mengenai Amel.
"Oh gadis itu, dia tadi di tarik seorang pria ke arah sana Tuan." Jawab orang yang melihat Amel di tarik paksa.
"Terima kasih, informasi nya."
__ADS_1
******
Rangga melepaskan cekalannya secara kasar sampai Amel terhempas ke mobil. Parkiran nya cukup sepi karena para tamu masih menikmati acara di dalam.
"Kamu mau apa, Rangga? jangan macam-macam!" sentak Amel memegang pergelangannya yang terasa sakit.
"Aku hanya ingin minta maaf sama kamu, Mel. Aku masih mencintaimu, aku ingin kita balikan."
"Aku sudah memaafkanmu, tapi untuk balikan aku tidak bisa, Rangga. Kamu sudah selingkuh di belakangku dan kamu bahkan melakukan hubungan intim dengannya. Aku tidak bisa bertahan dengan orang yang tidak bisa menghargai wanita."
"Tapi aku di jebak olehnya, Mel. Aku tidak mungkin mengkhianati mu. Maafkan aku." Rangga ingin memeluk Amel. Namun tubuhnya di dorong.
"Awas! Aku mau ke dalam!"
"Kau tidak boleh pergi karena kamu harus menjadi milikku, Amelia." Rangga tiba-tiba memegang paksa tengkuk Amel. Amel berontak menghalangi bibir Rangga yang ingin menciumnya.
Bugh....
Satu pukulan dilayangkan seseorang sampai Rangga tersungkur dan sudut bibirnya berdarah. "Brengsek...!" Doni kembali memukul Rangga meski Rangga sudah terkapar lemah.
"Om jangan..! Dia bisa mati, Om...!" pekik Amel mencekal tangan Doni. Doni menoleh kebelakang, Amel sudah menangis memohon untuk tidak berkelahi.
"Kali ini kau selamat, tapi lain kali saya tak akan membiarkanmu hidup!" Sentak Doni menendang kaki Rangga dan menarik Amel membawanya pulang.
******
"Kenapa kamu tidak menolak saat dia ajak keluar? kalau saya terlambat datang kamu mungkin sudah ia nodai..."
"Aku tidak tahu kenapa dia sampai melakukan itu, Om. Aku juga tidak ingin di perlakukan seperti ini? kalau aku tahu aku juga tidak akan ikut." lirih Amel menunduk sedih dan sudah menangis takut, lebih tepatnya tidak bisa menjaga diri.
Doni memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sebab mereka sudah sampai. Dia membawa tubuh Amel kepelukannya. "Sudah, jangan menangis lagi. Yang penting dia tidak melakukan apapun sama kamu."
"Bagaimana aku tidak sedih, Om. Dia hampir saja menciumku secara paksa." lirihnya di dalam dekapan Doni.
"Kan tidak terjadi, jadi kamu masih aman-aman saja."
Amel memukul dada Doni. "Tapi aku tetap tidak terima, Om."
Domi mengurai pelukannya, ia memegang pipi Amel dan menghapus air mata Amel. "Kamu tidak terima?" Amel mengangguk.
"Kalau ini, terima, tidak?" Doni mengecup pelan bibir Amel menempelkannya.
Mata gadis itu melotot sempurna. Tubuhnya tertegun tak bisa di gerakan.
Bersambung....
__ADS_1