Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)

Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)
Ending


__ADS_3

Waktu ke waktu terus berlalu meninggalkan sejuta cerita bagi mereka. Hari ke hari telah di lewati sampai melewati beberapa Minggu bahkan bulan.


Kehidupan mereka tak akan pernah berhenti dari cobaan, ujian, maupun misi yang harus mereka selesaikan. Tapi, mereka selalu memiliki cara untuk menyelesaikan semuanya.


Delapan bulan telah berlalu, usia ke hamilan Amel sudah memasuki usia sembilan bulan. Dan hari ini, ruangan VIP rumah sakit di hebohkan oleh wanita hamil sedang menahan rasa sakit yang begitu luar biasa yang Amel rasakan di perutnya


"Aduuuuh, Maaas... aaaww sakit.." pekik Amel mencengkram lengan Doni menghunjam kulitnya dengan kuku-kuku cantik Amel.


Doni meringis menahan sakit dan juga perih. Tapi, ia berusaha menahannya di karena dirinya sendiri yang minta Amel untuk berpegang di kala rasa mules kembali datang.


"Sakit lagi?" tanya Doni khawatir mengelus punggung istrinya bagian bawah.


"Sakitnya semakin sering dan kuat, Mas. Ada sesuatu yang mendorong ingin keluar," lirih Amel di sela menahan sakit.


"Yang sabar ya, Mel. Semua Ibu melahirkan normal pasti akan merasakan hal seperti ini. Kamu pasti kuat," tutur Dinda.


Amel mengangguk, dia kembali melepaskan cengkeramannya ketika rasa sakit itu hilang. Dan, dia kembali berjalan-jalan sesuai yang di anjurkan dokter untuk mempercepat pembukaan karena Amel baru memasuki pembukaan lima.


Amel kembali mengaduh kesakitan di kala kontraksi kembali datang namun kakinini berlangsung cukup lama. Amel merasa berada di ujung tanduk di kala rasa sakit kian mendera dan sesuatu mendesak ingin keluar.


"Mas, aku gak kuat..." lirih Amel mengatur nafasnya.


"Kita operasi saya ya sayang. Aku tidak tega melihat kamu menderita seperti ini!" kata Doni berkaca-kaca sambil mengelus punggung bagian bawah Amel yang sedang berbaring kesamping kiri.


"Aku tidak mau, Mas. Aku ingin merasakan perjuangan seorang Ibu melahirkan anaknya dengan secara normal," jawab Amel berusaha tetap tenang meski demikian hatinya tak tenang.


Sementara di luar, para sanak saudara Doni dan Amel sudah menunggu. Mereka semua tampak cemas dan tak sabar menunggu anggota baru keluarga mereka.


"Kok bayinya belum keluar juga ya? ini udah mau dua jam. Lama kali ini, aku udah tidak sabar mau lihat anaknya si Doni. Mirip bapaknya atau emaknya," kata Leo mondar-mandir di depan ruang persalinan.


"Le, bisa diam gak sih! Kita pusing lihat kamu terus bolak-balik kayak setrikaan. Kita juga panik dan tak sabar, tapi kita tidak seheboh kamu, Le," tutur Dika.

__ADS_1


"Jelas aku heboh, kan yang akan lahir calon keponakan saya. Nanti, kalau istri saya lahiran pasti akan heboh juga." Jawab Leo melirik Sari yang juga sedang mengandung calon anaknya.


"Kalau tidak heboh bukan Leonardo namanya," sahut Arman.


"Sssstttt.... mingkem, deh! tuuhhh ada yang berbunyi..." ucap Leo menyimpan jari telunjuknya di bibir.


Mereka yang ada di sana terdiam berpikir kalau yang bunyi adalah suara tangisan bayi tapi ternyata....


Ngiiiuuuuuukkkk..... cuuuussss...


Mereka disana menggeram kesal menatap tajam ke arah Leo. Bukan suara bayi melainkan suara kentut dari Leo. Leo cengengesan mengangkat dua jari menyerupai huruf V.


"Leleeeeeeee, kau benar-benar joroookk... di saat serius seperti ini masih saja bercanda," sergah Reyhan menggeram menggertakan giginya.


"Kentut mu bau Leleee.. Tidak sopan sekali kau ini!" sahut Dika.


"Hehehe, maaf, Kebablasan... perut ku ikutan mulesss..."


"Ehh mingkem, deh!" pekik Syafira.


"Itu suara bayi dari dalam. Dengerin atuh!"


Ooaaaaaa.... ooooaaaaaaa


Dan benar kata Fira, kali ini suara tangisan bayi terdengar dari ruangan persalinan Amel. Mereka saling pandang kemudian tersenyum dan sontak berdiri saling berpelukan.


"Aaaaaaaa anak Doni lahir.." pekik mereka heboh bahagia.


**********


Keluarga besar sudah memasuki ruangan rawat inap Amel dan bayinya. Mereka semua berkumpul di dalam ruangan VVIP yang khusus di sediakan untuk keluarga Alexander.

__ADS_1


Mereka mengucapkan selamat kepada Amel dan juga Doni. Banyak doa yang mereka panjatkan untuk putri mereka.


"Iiihhhh, bayinya cantik sekali. Mirip Amel, unyu-unyu. Kalau mirip Doni ketuaan," celetuk Leo memperhatikan bayi mungil yang sedang terlelap di box bayi. Tangan Leo mencolok-colok pipinya.


Amel hanya terbaring masih merasakan lelah, dia hanya memperhatikan setiap keluarga yang sedang berkerumun di dekat putrinya sambil sesekali tersenyum mendengar celotehan mereka yang begitu antusias menyambut kehadiran putrinya.


"Apa hubungannya bayi sama gue, Le?" sergah Doni mulai menggeram.


"Kau gak nyadar, bos. Kalau dia mirip loe pasti ketuaan. Secara umur loe udah tua, udah 37 tahun. Masa bayi unyu gini mirip loe? lahirnya bagaimana coba? masa baru lahir udah langsung umur 37 kan aneh."


Pletak..


Doni menjitak kepala Leo saking geramnya dengan pemikiran Leo yang di luar ekspektasi.


"Heh, Lele pea. Kalau itu gue tahu, mana ada bayi baru lahir langsung gede seusia gue. Loe kadang-kadang gak waras ya!" sergah Doni kesal.


"Tahu nih, bang Le emang suka gitu. Ngeseliiin..." timpal Sari.


"Tak apa ngeselin, yang penting ngangenin buat kamu," jawab Leo mengerlingkan mata pada Sari.


"Ck." mereka mencebik kesal pada Leo.


"Oh iya, kalian sudah memberikan nama?" tanya Arman.


"Az-Zahra Alexander." Doni menjawabnya, dia tersenyum menatap lekat-lekat wajah cantik sang putri yang sedang terlelap dalam tidurnya.


POV Doni


Tidak ada hal yang ku idamkan selain mendapatkan keluarga yang utuh dan bahagia. Setiap usahaku, setiap perjuanganku, setiap kerja kerasku kini telah membuahkan hasil yaitu bisa menjerat seorang Amelia Putri Al-Hussein.


Meski ku tahu kalau hidupku dan rumah tanggaku tidak akan pernah luput dari setiap masalah. Tapi, aku akan berusaha menyelesaikan masalahku dengan cara baik dan dalam keadaan baik-baik.

__ADS_1


POV Doni end.


TAMAT.......


__ADS_2