
"Amel, kenapa kamu ada di sini?" tanya Doni menghampiri meja makan yang di tempati Amel.
Amel mendongak, ia terbelalak ada Om-om yang ia sukai dan seketika senyumnya mengembang.
"Mau mengejar cinta, Om." ucap Amel.
Sari sampai terbatuk mendengan ucapan Amel, dia menyenggol lengan Amel. "Ngomong apa sih? kita bukannya mau liburan?"
"Diem, Sari. Aku lagi mau mengejar cintaku," balas Amel bisik-bisik.
Sudut bibir Doni tersenyum tipis mendengar ucapan Amel. "Mengejar cinta? siapa kiranya kail ini yang beruntung mendapatkan cinta seorang Amelia Putri Al-Hussein?" tanya Doni bersiap duduk namun Amel segera berdiri dan mencekal tangan Doni.
"Om ikut aku, yuk! Kalian tunggu di sini jangan pergi!" titah Amel kepada Sari dan Leo.
"Mel, kok gue di tinggal? kalian mau kemana?" pekik Sari melihat Amel menarik Doni.
"Jangan berisik!" ucap Leo.
******
Amel mengajak Doni jalan-jalan ke Dago pakar Bandung kesalah satu tempat wisata. Hiking ke Maribaya.
Kawasan Tahura Djuanda yang sangat luas menghubungkan antara wisata Dago Pakar dan Maribaya Lembang.
Amel dan Doni berjalan kaki dan hiking melewati jalan setapak sepanjang 4 km dari Dago ke Maribaya. Memang perjalanannya terus menanjak dan mereka pun melewati sungai yang berkelok dengan ditemani suara burung dan terkadang ada monyet juga yang tampak.
Amel menghirup dalam-dalam udara segar yang ada di sana. "Suasananya sejuk sekali dan pikiranku terasa tenang dan damai," ucap Amel melingkarkan tangan kanannya ke lengan Doni.
"Tumben ngajakin saya jalan, ada apakah gerangan?" tanya Doni heran akan sikap Amel yang dari tadi tidak ingin jauh darinya dan terus menggandeng lengan kekarnya.
"Jujur, aku merasa nyaman kalau dekat Om," ucap Amel berhenti di salah satu gazebo sebagai tempat istirahat sejenak.
Matanya tak berani menatap mata Doni dan Amel lebih fokus menatap ke sekeliling tempat melihat keindahan alam Dago pakar.
"Kenapa begitu? bukankah kamu sering kesal kalau saya berada di sampingmu?"
"Awalnya ia, tapi lama-kelamaan aku merasa nyaman dekat Om." Jawab Amel jujur, ia memberanikan diri melihat wajah Doni yang sedang menatap kedepan.
Jantung Amel berdegup kencang, ini pertama kalinya ia akan mengungkapkan perasaannya kepada seorang pria.
"Om, aku menyukaimu," ungkapnya langsung menunduk malu.
Doni yang tadinya menatap lurus langsung menoleh ke samping. "Coba sekali lagi! Aku tidak dengar ucapanmu," perintahnya.
__ADS_1
"A-aku menyukaimu, Om. Lebih tepatnya mencintaimu," lirih Amel pelan namun masih bisa di dengar oleh Doni.
Amel semakin menunduk malu, ia menggigit bibirnya saking deg degan dan gugup. Tangannya terus meremas pakaian yang ia pakai.
"Kamu tidak salah ucap kan? kamu yakin mencintaiku? bukannya kamu masih memiliki perasan kepada mantanmu itu?" cerca Doni. Sudut bibirnya sudah tersenyum simpul, ia melipatkan kedua tangannya di dada dan tubuhnya menghadap Amel.
"Aku yakin dengan ucapanku, Om. Aku juga sudah tidak memiliki perasaan apapun kepada Rangga," ucapnya masih menunduk.
"Maaf, Mel. Aku tidak bisa menerima mu menjadi pacarku," jawab Doni datar.
Deg...!
Seketika jantung Amel merasa sesak atas penolakan Doni. Dia sadar bahwa ini pasti akan terjadi.
"Kenapa?"
"Karena aku sudah memiliki calon istri," jawab Doni.
Seharusnya Amel sadar kalau dialah yang memilihkan calon istri untuk Doni dan Amel menyadari kalau Doni menyukai salah satu pesertanya.
Amel tersenyum, ia mengerjapkan matanya supaya cairan bening tidak jatuh. Diapun mendongakkan wajahnya.
"Hahaha Om, kau ketipu, aku mana mungkin menyukai Om-om ngeselin sepertimu. Sudahlah, lupakan ini. Mending kita lanjutkan lagi jalan nya!" ujar Amel membalikan tubuhnya bersiap melangkahkan kaki.
"Aku tahu kok, dia pasti Helena. Dia kan wanita yang saat ini dekat dengan Om. Aku juga beberapa kali lihat kalian bersama dan aku yakin kalau Om akan memilihnya," ucap Amel masih membelakangi Doni.
"Kamu benar, aku memang memilihnya."
Tubuh Amel terasa lemas mendengar pengakuan bujang lapuk ngeselinnya, sekarang ia hanya bisa mengubur dalam-dalam perasaan. Sakit, sungguh terasa sakit di kala cinta bertepuk sebelah tangan.
Air mata yang tadi sempat ia tahan akhirnya meluncur juga. Amel segera menghapusnya takut Om ngeselinnya mengetahui dia nangis.
"Kita pulang, yuk!" ajak Amel melangkah namun tangannya malah di tarik oleh Doni dan Doni langsung mendekapnya.
"Jangan menangis, aku hanya bercanda, Mel."
"Om..!"
"Tidak ada yang mampu membuatku tertarik selain kamu. Aku tidak akan memilih mereka karena hatiku memilihmu. Aku mengikuti setiap tindakan yang kamu lakukan hanya semata-mata ingin melihat bagaimana perasaan mu terhadapku. Aku juga mencintaimu anak kecil, jauh sebelum kamu menyukaiku."
Amel terisak, ia tak bisa berbohong lagi mengenai perasaannya. "Om, jangan bohongi ku kalau hanya untuk membuatku bahagia sesaat. Aku tidak mau terlalu berharap pada sesuatu yang mustahil ku dapat."
Doni menguraikan pelukannya, ia menangkup kedua pipi Amel dan menatap lekat-lekat mata wanita yang ia sukai sejak dulu.
__ADS_1
"Tatap aku, apakah kamu melihat kebohongan dari mataku? aku serius Amelia, aku memang menyukaimu dari dulu."
Amel menatap mata Doni dan tidak ada kebohongan dari sorot matanya. "Apa Om serius?"
"Aku serius, beribu-ribu serius malah."
"Coba ulang! masa aku yang nembak Om, seharusnya Om yang nembak aku," ucap Amel manyun.
Pletak...
Sentilan Doni layangkan ke kening Amel. "Kamu ini, siapa suruh nembak duluan."
"Aku kan takut Om beneran nikah sama salah satu dari mereka. Nanti aku patah hati, terus kalau aku nekat bunuh diri gimana? emangnya Om mau di hantui hantu penasaran cantik kayak aku?"
"Bicaranya gitu banget, mana mungkin saya membuatmu patah hati karena saya sayang kamu yang ada kamu tuh yang bikin saya menunggu perasaan kamu."
Amel menunduk tersenyum. "Ya maaf." Lalu ia mendongak. "Jadi sekarang kita jadian nih?" lanjutnya menatap cemas.
Doni tersenyum, ia tiba-tiba mengecup kening Amel sehingga membuat Amel terbelalak. Donipun kembali membawa tubuh Amel ke dalam pelukannya.
"Iya, kita jadian dan kamu sekarang resmi jadi calon istriku."
Amel tersenyum bahagia, ia membalas dekapan Doni. Hatinya terasa lebih lega dan tentunya bahagia. Ia sampai melupakan masalah acara cari jodoh untuk Doni.
******
Sementara di restoran, dua sejoli itu masih saja menunggu teman mereka.
"Sampai kapan kita menunggu di sini terus? ini udah lebih tiga jam lho," tanya Sari.
"Saya juga tidak tahu. Tapi kita di suruh nunggu di sini bukan? nanti kalau mereka kemari terus nyariin kita tidak ada di sini bagaimana?" jawab Leo.
"Ya tapi ini kelamaan, Bang Le. Terus yang bayar ini semua siapa? kan aku ikut Amel dan dia yang traktir aku," balas Sari kebingungan sebab ia tidak memiliki uang banyak untuk membayarnya.
"Tenang, ada saya yang bayar." Leo merogoh kantong sakunya namun seketika ia panik sebab dompetnya tidak ada.
"Lho, dimana dompet gue? astaga! Gue lupa, dompet gue ada di mobil di dalam tas selempang dan mobilnya di bawa si bos lagi?"
"Terus kita bayarnya pakai apa? aku hanya punya uang 200 ribu sedangkan ini semuanya 500 ribu!"
Leo juga bingung. "Terpaksa kita harus cuci piring," jawabnya lesu. Ia sudah tahu kalau tidak bisa bayar akan di suruh mencuci piring yang menumpuk.
Sari menunduk lesu. "Bukannya happy malah mencuci."
__ADS_1
Bersambung.....