Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)

Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)
Leo & Sari


__ADS_3

"Kebiasaan tuh, si Bos. Sudah tahu siang ini harus ke Singapura malah ngilang tak ada kabar. Bener-bener Bos laknaatt," Leo menggerutu kesal sambil memeriksa laporan pemasukan bulanan Cafe.


Dia yang bekerja menjadi asisten Doni mau tidak mau harus mengerjakan pekerjaan sampai selesai sebelum berangkat nanti sore. Tak berselang lama, pekerjaan yang ia lakoni akhirnya selesai juga.


"Akhirnya beres juga," gumamnya membunyikan jari-jari tangannya kemudian beranjak keluar mencari makan.


Baru saja keluar kantor, ia di suguhkan dengan pemandangan pertengkaran hebat kedua pasangan.


"Jadi ini alasan kamu bilang sibuk, sibuk mengencani perempuan lain. Aku tidak menyangka kamu setega itu berselingkuh di belakangku dengan sahabatku sendiri," pekik Sari menggebrak meja.


"Sa Sari! Ngapain kamu di sini? aku bisa jelasin sama kamu," pria itu berdiri panik.


"Tidak usah repot-repot kamu menjelaskan karena ku sudah mendengarkan semua pembicaraan kalian. Mulai hari ini kita putus. Aku tidak mau mempunyai pacar pengkhianat seperti mu," sentaknya kecewa melepaskan cincin pertunangannya dan menaruhnya di atas meja kemudian berlari pergi.


"Sari, aku tidak mau putus denganmu, Sari..." pekik nya ingin mengejar namun malah di cekal oleh wanita yang dari tadi duduk menonton.


"Sudahlah sayang, ngapain kamu masih mempertahankan wanita penjaga toko ini. Dia itu tidak pantas bersanding denganmu yang kaya raya."


Leo yang memperhatikannya melangkah mengejar Sari. Matanya ia edarkan mencari keberadaan Sari, setelah menemukannya ia mengikuti kemana Sari pergi.


"Dasar cowok brengsek, kurang ajar, bisa-bisanya dia selingkuh di belakangku, baru saja jadian sudah di selingkuhi." umpatnya memukul-mukul tas yang ia kenakan.


"Saya kira kau hantu yang nangis di tepi danau sepi. Eh tak tahunya si cewek udik ngeselin," celetuk Leo.


Sari menoleh kebelakang memicingkan matanya sampai menyipit.


"Ngapain cowok kere di sini? pasti kau ngikutin ku ya?" tudingnya menghapus air mata secara kasar.


"Geer sekali, saya tidak ngikutin kamu, ya. Saya kebetulan ingin menenangkan diri dan kebetulan lewat sini denger orang menangis, eh, tahunya cewek rese," ucapnya duduk di samping Sari.


Sari cemberut dan huuuaaaa.....


"Eh, jangan nangis! Entar orang nyangka gue ngapa-ngapain loe lagi. Cup cup cup jangan nangis ya," Leo panik, ia berusaha menenangkan Sari dengan membawanya kepelukannya.


"Cowok emang brengsekkk, kurang ajar, ngeselin seperti Bang Le. Kalian jahat tidak bisa ngertiin perasaan wanita. Apa salah wanita sampai kalian tega mengkhianati wanita?" pekik Sari menangis mengeluarkan sesak di dada.


Leo semakin panik, "Sari, jangan nangis! Di sini banyak orang."


"Mas, itu ceweknya di apain sampai menangis begitu?" celetuk salah satu pengunjung di sana merasa terganggu dengan suara tangisan Sari.

__ADS_1


"Eh, maaf pak. Istri saya sedang sensitif, dia sedang hamil jadi lebih mudah menangis. Maaf ya," jawab Leo ngasal.


"Oh, sedang hamil. Perempuan emang begitu, saya juga pernah merasakannya. Kamu yang sabar Nak, nanti juga istrimu normal kembali." Kata bapak itu kemudian beranjak pergi.


Leo hanya nyengir sesekali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sari menatap tajam.


"Hehe canda, Sar. Jangan di ambil hati, saya cuman berusaha membuat mereka tidak berpikir macem-macem." Ucapnya sambil mengusap air mata yang menetes.


"Jangan menangisi pria brengsekk seperti dia. Dia tidak pantas kamu tangisi. Kamu cantik, kaki baik, kamu pekerja keras, pasti banyak di luaran sana yang menyukaimu termasuk aku."


Deg....


Sari mematung dengan ucapan Leo. Dari sorot matanya membuat Sari nyaman.


"Tapi bohong, hahahha." lanjut Leo tertawa.


Sari menggeram, ia memukul-mukul pangkal lengan. "Dasar Lele ngeselin, bisa tidak sih kali ini saja serius."


"Aduh, aduh, galak banget sih jadi cewek. Kalau mau serius ya langsung ke KUA saja." Ujarnya menangkap pergelangan tangan Sari menatap serius.


"Ke KUA sama Lele macam kamu? ogaahhh."


"Terserah saya dong mau manggil kamu lele atau apapun itu suka-suka saya," jawab Sari ketus.


"Kalau saya lele berarti kamu saya patil. Mau saya patil biar bengkak?"


Sari berpikir, dia tidak mengerti hubungan antara lele, patil, dan bengkak.


"Bunting karena kena patilan lele," bisiknya di telinga Sari dan cup...


Sari melotot sempurna, dia terkejut Leo mengecup pipinya. "Leoooooo..." pekiknya.


"Itu hukuman untukmu karena sudah bicara kurang ajar sama orang dewasa," ujar Leo dingin.


"Lele kurang aja...."


Cup....


Sari terbelalak, kali ini bukan ciuman di pipi tapi di bibir. Sari tak bisa berkata apa-apa selain keterkejutan yang ia rasakan. Dia bungkam seribu bahasa dengan apa yang di lakukan Leo terhadapnya.

__ADS_1


Deg.. deg.. deg..


Jantung keduanya berpacu kencang.


Leo melepaskan tautannya, menatap intens wajah Sari yang mematung bengong. Antara terkejut dan bodoh menjadi satu sampai membuat Sari melongo tak menentu.


"Kalau kau panggil saya dengan Lele lagi maka saya akan menciummu terus," ancamnya. Dan, Sari seketika menunduk malu.


"Saya antarkan kamu pulang!" Leo berdiri menggenggam tangan Sari mengajaknya pulang. Sari tak menolak tak protes. Dia mengikuti langkah Leo seraya menunduk menggenggam tali tas selempang yang tersemat di pundaknya.


"Kenapa jantung gue deg degan gini?" gumam Sari dalam hati.


Keduanya sampai di dekap mobil, Leo membukakan pintu dan Saripun masuk. Leo memutari mobilnya dan iapun ikut masuk.


"Sar, mau tidak kamu jadi pacarku?" celetuk Leo tiba-tiba seraya mengendarai mobilnya.


"Hah!!" Sari menoleh.


"Saya tanya, kamu mau tidak jadi pacarku? kalau tidak, saya akan melakukan hal tak terduga sama kamu!" kata Leo dingin.


"Ogah, aku tidak mau sama cowok rese kurang ajar sepertimu, mending aku jomblo seumur hidup dari pada harus dengan pria yang kurang ajar," jawab Sari ketus memanyunkan bibirnya.


"Lagian, siapa juga yang mau jadikan kamu pacarku? Saya juga tidak mau sama kamu, apa yang saya bicarakan itu semua cuman sekedar ucapan bukan dari dalam hati. Saya hanya ingin lihat apakah kamu tertipu atau tidak, eh, ternyata kamu bisa tertipu," ucap Leo terkekeh.


Sari mengepalkan tangannya geram dengan sifat Leo yang suka mempermainkan ucapan. Dan....


Bugh....


Satu pukulan Sari layangkan ke pangkal lengan Leo.


"Aduhh, apaan sih main pukul segala?"


"Kau emang ngeselin ya, bisa tidak kalau bicara itu serius jangan suka main-main. Dan bodohnya aku suka percaya sama omongan kamu yang jelas-jelas suka bercanda," ucapnya terkekeh sinis menertawakan diri sendiri.


Kalau boleh jujur dari dalam hati kecil Sari menyimpan rasa untuk Leo si tengil bin jahil ini. Tapi Sari tidak ingin terlalu berharap sebab ia tahu kalau Leo suka bercanda.


"Iya, iya, sorry."


Sari diam tak menjawab. Mereka tak lagi berdebat dan tak lagi berbicara sampai Leo mengantarkan Sari ke depan rumahnya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2