
"Ini gara-gara mereka kita jadi cuci piring begini. Coba kalau mereka tidak meninggalkan kita pasti kita udah pulang ke hotel dan tidur." Gerutu Leo bagian membilas piring-piring.
"Bukan salah mereka juga tapi ini salah kamu yang tidak mempunyai uang sampai kita harus mencuci piring segala," sahut Sari bagian mencuci pakai sabun.
"Hei hei hei, jangan cuman nyalahin saya doang, situ juga salah tidak punya uang. Kalau saya dompetnya ketinggalan, lah situ, bawa dompet tapi tidak ada duitnya," sergah Leo tak terima di salahkan.
"Pokoknya ini semua salah kamu, tampang doang ganteng, tapi uang kere."
"Kamu...."
"Hei, kerjakan yang bener! Sok sok'an makan di tempat mahal tapi bayar tidak mampu. Sama-sama kere jangan saling menyalahkan," lerai salah satu pekerja yang ada di bagian belakang.
Leo dan Sari saling melolot seolah keduanya masih perang lewat mata.
********
Sedangkan dua sejoli yang sedang jatuh cinta malah asik jalan-jalan dan melupakan kedua temannya.
"Mas, apa Mama dan Papa akan merestui hubungan kita?" tanya Amel duduk menyenderkan kepalanya ke pundak Doni.
Mereka sedang berada di cafe VIP yang Doni pesan supaya tidak ada yang mengganggu keduanya.
"Tadi kamu bilang apa? mas?!"
"Emangnya kenapa? jelek ya?" tanya Amel mendongak.
"Tidak, aku suka kok dengan panggilan baru kamu. Dan untuk soal orang tuamu, pasti mereka akan merestui kita, aku yakin itu."
"Semoga saja." Balas Amel bersandar nyaman di bahu Doni, setelah beberapa saat kemudian ia terbelalak kaget.
"Astaga, Om...!" pekiknya menepuk jidat.
Pletak, Doni menyentil kening Amel. "Ulangi lagi!"
"Eh, maaf, maksudnya astaga, Mas...! Aku melupakan Sari dan meninggalkan dia dengan Bang Le."
"Oh ya ampun...! Aku juga melupakannya." Doni melihat arlojinya, "Ya ampun, Mel. Kita meninggalkan mereka selama 4 jam dan sekarang sudah pukul 7 malam."
"Kita ketempat tadi, yuk, Mas!" Amel berdiri mengambil tasnya.
Doni mencekal pergelangan tangan Amel. "Tapi aku masih mau sama kamu," ucapnya memelas.
Amel melongo akan sikap Doni yang menjadi lembut dan manja namun ia suka. Amel kembali duduk, matanya tak pernah berpaling menatap Doni.
"Aku pun sama, Mas. Tapi kasian mereka, kan masih ada waktu untuk kita ketemu."
__ADS_1
Doni tersenyum mengusap pipi Amel. "Ya, sudah sekarang kita jemput mereka dan besok kita pulang bareng," kata Doni dan Amel mengangguk mengiakan.
*******
Leo dan Sari masih setia menunggu Doni dan Amel meski sudah berjam-jam.
"Kita kayak orang bodoh tau, di suruh nunggu malah setia nunggu di mari. Padahal kita bisa saja cari penginapan meski tanpa mereka." Ujar Leo melipatkan kedua tangannya di dada. Mereka duduk di di luar restoran menunggu Doni dan Amel.
"Mau cari penginapan gimana Bang Le, orang kita kagak punya duit. Kalaupun punya, aku sudah pergi ninggalin kamu sendiri disini," balasnya cemberut menopang kan dagu.
"Saya juga kalau ada duit akan ninggalin kmu sendirian. Mana mau saya ngajak kamu yang dari tadi bisanya nyalahin orang lain saja."
"Kan situ laki, jadi wajar dong aku nyalahin kamu. Masa laki tidak punya duit," sahut Sari tak ingin kalah.
"Dompet saya ketinggalan Sari. Kalaupun ada dari tadi saya sudah pergi tidak nungguin si Doni yang ngeselin itu," balas Leo kesal sendiri sama bos nya.
Sari tertegun melihat dua orang datang dan berada di belakang Leo, seketika ia memiliki ide jahil untuk mengerjai Bang Le yang ganteng tapi bermulut pedas.
"Jadi bosmu ngeselin?" pancingnya.
"Iya, ngeselin banget. Sudah di tinggal di mari tanpa di berikan uang jajan, di suruh nunggu, malahan dia suka seenaknya nyuruh ini nyuruh itu. Kadang ya, saat asik makan dia teriak, Le kau dimana tolong ambilkan ini. Kadang saat BAB pun suka ganggu, Le cepat kemari ambilkan semua berkas di meja Syafira. Mau cari pacarpun susah, tiap hari sama dia terus," gerutu Leo.
"Ooooh jadi seperti itu, kenapa gak sekalian saja kau timpug bos loe itu," sahut seseorang.
"Pengennya sih gue timpug tuh bos. Ngeselin banget orangnya," jawab Leo belum menyadari.
"Nah itu juga boleh, pengen dah gue bejek-bejek kayak ngulek sambal saking keselnya sama dia, dan..." jawabnya memberhentikan ucapannya sebab ia baru ngeh dengan suaranya dan Leopun menoleh kebelakang.
Matanya terbelalak melihat ada sang bos di belakang. Doni bersidekap menatap tajam Leo. Amel dan Sari sudah mengulum senyum menahan tawa.
"Eh, Bos Don. Se-sejak kapan datang bos-bos?" tanya Leo cengengesan dan tentunya gugup.
"Sejak mulut pedas loe itu maki-maki gue."
"Hehehe si bos tahu saja gue maki-maki... uppss, maksudnya bu-bukan begitu...beneran...suer tekewer-kewer..." ujar Leo mengangkat jarinya menyerupai huruf v.
Pletak... pletak...
"Aduh, bos. sadis bener dah jitak kepala gue." Gerutu Leo mengusap kepalanya yang terkena jitakan.
"Anak buah durhaka ngumpat bosnya sendiri. Hari ini gaji loe gue potong!"
"Lah bos. Saya bicara apa adanya. Dirimu yang durhaka bos main jitak kepala saya," balas Leo.
"Leoooo......"
__ADS_1
"Iya bos iya.. bos selalu benar anak buah selalu salah. Kalau anak buah benar tetap bos yang paling benar."
"Nah bagus, sudah paham rupanya." Balas Doni menepuk-nepuk pundak Leo.
Leo mengumpat dalam hati. "Bos durhaka."
******
Leo mengemudikan mobilnya dengan santai. Dia duduk berdampingan dengan Sari sedangkan Amel dan Doni duduk di bagian belakang.
Dua sejoli yang baru saja jadian tak pernah melepaskan gandengan tangannya dan itu di perhatikan oleh Leo dari kaca spion yang ada di atas kepalanya.
"Gandeng teruuuuus, takut lepas di ambil orang kayaknya," sindirnya.
"Truk aja gandengan, masa kita kagak. Situ iri ya tak punya pasangan," sindir balik Doni.
Leo mencebik, matanya melihat sekeliling dan tak sengaja ia melihat salah seorang warga di seret paksa keluar dari rumah.
"Bos, bos, sepertinya mereka sedang membutuhkan bantuan."
Doni mengikuti arah pandang Leo. "Kita berhenti dulu, kita lihat apa yang sedang mereka lakukan."
Leopun memberhentikan mobilnya dan mereka memperhatikan orang-orang yang sedang di suruh keluar bahkan barang-barangnya di keluarin.
"Sepertinya mereka di paksa keluar Bos."
"Kita ke sana, mungkin ini salah satu masalah yang Syafira maksud dan kita harus menyelesaikan misi ini," tutur Doni siap membuka pintu mobil.
"Mas, aku ikut," Amelpun ikut keluar.
"Tuan, saya mohon jangan usir kami. Kami tidak punya tempat tinggal lagi selain ini."
"Kami sudah memberikan tempo kepada kalian untuk meninggalkan rumah kalian. Karena kalian tidak bisa membayarnya maka tanah serta bangunan ini akan menjadi milik tuan kami."
"Ada apa ini? kenapa kalian mengusir paksa mereka?" sergah Doni menghampiri beberapa warga yang sedang di usir paksa.
"Siapa kau? jangan ikut campur urusan kami!" ucap salah satu dari ajudan seseorang.
"Saya akan ikut campur kalau kalian memaksa mereka," balas Doni.
"Tuan, mereka mau mengambil rumah dan tanah saya Tuan. Padahal kami sudah membayar utang kami," adu salah satu warga.
"Kau tidak bisa membayar bunganya, orang tua. Jadi tuan kami menyuruh kalian pergi dari sini!" sentak ajudan seseorang mendorong wanita paruh baya.
Amel segera menangkapnya. "Hei, jangan kasar seperti itu!"
__ADS_1
Bersambung....