Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)

Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)
Pertemuan


__ADS_3

"Baiklah, kami akan ke sana sekarang juga." ujar Fira di balik telpon.


"Ada apa, Ra? apa ada kabar mengenai Mas Doni dan lainnya?" tanya Amel berharap itu adalah kabar dari suaminya.


Sudah satu bulan dia terpisah jarak dan dan waktu tanpa saling komunikasi dengan suaminya. Rindunya kian menumpuk ingin segera bertemu sang pemilik rindu. Dan selama itu pula, ia menginap di rumah Abangnya berharap bisa mendapatkan informasi dari Syafira dan orang-orangnya.


"Menurut informasi yang di dapat, mereka akan pulang dan saat ini sedang dalam perjalanan. Kita tunggu mereka di parkiran khusus helikopter," jawab Fira tersenyum bahagia.


Amel pun ikut tersenyum bahagia bisa bertemu dengan suaminya.


***********


Syafira, Amel, Dita dan tentunya baby Anin yang ada di gendongan Fira sudah sampai di salah satu tempat parkiran helikopter milik keluarga. Sedangkan para lelaki tak bisa ikut di karenakan harus bekerja dan Felix juga tak ikut karena sedang ujian sekolah.


"Sebenarnya kejutan apa yang ingin kamu berikan untuk Mami, Ra? kamu tahu sendiri kan kalau Mami sedang banyak kerjaan," tanya Dita penasaran sebab Fira begitu kekeh ia harus ikut.


"Nanti Mami akan tahu setelah mereka sampai." Dari jauh Fira sudah memperhatikan helikopter yang mulai mendekat ke arahnya.


Mereka memperhatikan pendaratannya sampai pesawat tersebut tak lagi menggerakan baling-balingnya. Amel menatap intens orang-orang yang sudah mulai turun.


Pertama Leo, kedua Alex di susul oleh Doni. Amel berkaca-kaca bisa melihat kembali suaminya. Suami yang ia cintai, suami yang ia rindukan, suami yang hilang tak dapat berkomunikasi dengannya. Begitupun dengan Doni yang juga menatap intens wanita yang ia cintai. Dia tersenyum merentangkan kedua tangannya berharap Amel berlari memeluknya.


"Mas Doni," lirihnya menangis tak kuasa menahan rindu yang semakin menggebu dan berlari menghambur kepelukan suaminya. Tangisnya pecah tak terbendung lagi.


Doni memeluk erat tubuh istrinya terpejam menikmati pelukan tersebut sesekali mengecup puncuk kepala Amel. Air mata kerinduan pun menetes di salah satu sudut matanya bahagia bisa kembali bertemu dengan sang istri dan orang-orang yang mereka cintai.


"Mas merindukanmu, Mel. Sangat rindu. Maaf jika kepergian ku terlalu lama," ucapnya lalu mengecup kening Amel. Amel tak berkata apa-apa, hanya pelukan erat dan tangisan haru yang ia tunjukan.


Fira dan Dita tersenyum sambil mengusap air mata haru dan salah satu tangan mereka saling merangkul pinggang mendekati mereka.


"Paman, Bang Alex, Bang Leo, apa kabar?" tanya Fira. Doni membuka matanya tersenyum ke arah Fira dan mengurai pelukannya.


"Kami baik, Ra." jawab mereka kompak kemudian mereka berpelukan.


"Kita berhasil, Ra. Kita berhasil menemukannya, tidak sia-sia kamu kirim Paman ke pameran tersebut," ujar Doni bahagia masih saling berpelukan.


"Misi kita sukses, Ra." Timpal Alex.


Beberapa saat, mereka saling melepas rindu, Leo dan Alex merasa memiliki keluarga di tengah-tengah keluarga Doni.

__ADS_1


"Sampai kapan kita saling berpelukan seperti Teletubbies? Teletubbies nya juga sudah tidak ada di TV-TV." celetuk Leo di tengah rasa haru dan bahagia menyelimuti mereka.


Mereka malah terkekeh dan melepaskan pelukannya.


"Oh, iya, Kak. Aku punya hadiah untukmu," ucap Doni menatap ke arah Dita.


"Hadiah apa?"


"Keluarlah!" ucap Doni dan keluarlah seorang pria perawakan tinggi dengan garis wajah sama seperti Doni.


Dita membekap mulutnya tak percaya dengan orang itu. Tangannya mengucek-ngucek mata takut ia salah lihat.


"Om Alberto!" lirihnya bergetar berkaca-kaca.


"Dita," ucap Alberto memandang lekat-lekat wajah anak dari Kakaknya. Amel juga sama-sama terkejut melotot tak percaya kenapa wajahnya sama dengan Doni namun ini versi tuanya.


"Ra, Mami tidak mimpi kan? ini beneran Om Alberto papanya Doni?"


"Benar, Mah. Dia Kakek Alberto adik dari Kakek Albern. Tapi maaf, kami tidak bisa membawa pulang Kakek Albern," jawab Fira termenung sedih.


Doni merangkul pundak Fira mengusapnya begitupun dengan Leo yang posisi Fira berada di tengah-tengah Doni dan Leo.


*************


"Aku tidak menyangka Om masih hidup. Aku bahagia kita berkumpul lagi. Tapi...." Dita menunduk sedih.


Papanya Doni memeluk Dita yang kembali menangis atas kepergian Papanya. Alberto sudah menceritakan semuanya mengenai kejadian itu sampai mereka di sekap dan di jadikan penambang liar berpindah-pindah tempat sampai dimana Albern Alexander meninggal karena di bunuh.


Semua anggota keluarga sudah berkumpul di rumah Dita.


"Dari tadi Om penasaran sama wanita yang Doni peluk. Siapakah dia?" tanya Alberto melepaskan pelukannya melirik Doni mengalihkan rasa sedih Dita.


"Aku lupa memperkenalkan kalian, Ini Amel istriku, Pah. Dan Mel, beliau Papaku." Kata Doni memperkenalkan mereka.


Amel tersenyum mengangguk lalu mengulurkan tangannya dan Alberto menerima uluran tangan itu dan Amel mengecup secara khidmat tangan mertuanya.


"Amel, Om."


"Jadi ini menantu Papa yang kamu ceritakan itu, Don? Cantik sekali, masih muda, dan juga sopan."

__ADS_1


"Iya dong, Amel memang cantik di antara yang cantik. Aku hebatkan dapatkan istri daun muda?" balas Doni membanggakan diri.


"Ck, sukanya sama daun muda. Enggak ingat umur," celetuk Leo menyindir Doni.


"Biarin, yang penting Amel juga suka pria tua sepertiku. Buktinya dia mau jadi istriku," jawab Doni sewot.


"Mas Doni tidak kelihat tua kok. Justru dia terlihat muda dari umurnya dan aku cinta Mas Doni bukan dari segi usianya melainkan dari bagaimana cara dia mencintaiku dan menjagaku," timpal Amel menatap lekat-lekat wajah suaminya.


"Katanya menjaga tapi kenapa malah di bobol duluan," celetuk Leo.


Pletak.... Doni menjitak kepala Leo.


"Dasar ember bocor!" umpatnya dalam hati.


"Aduhhh bos. Napa doyan kali menjitak kepalaku. Ini kepala bukan mainan yang seenaknya kau jitak," gerutu Leo mengusap kepalanya dan yang lainnya tersenyum namun tidak dengan Alberto yang mengernyit bingung.


"Maksudnya di bobol duluan apa ya?" tanya Alberto penasaran.


"Eh, anu, Pah. Leo cuman salah ngomong." Jawab Doni malu dan juga gugup.


"Salah ngomong apaan, saya bicara fakta bukan hoax, mereka me..."


Hap....


Doni membungkam mulut Leo dengan menyumpalkan kue bolu kemulut Leo sampai penuh. Leo mendelik kesal ke arah Doni, dia mengambil potongan bolu tersebut dan menggigitnya secara kasar menggerutu kesal.


"Sudahlah Bang Le, kamu jangan suka menyindir deh. Emangnya Abang tidak ingat kalau Abang juga mencium paksa Sari dan itu adalah ciuman pertama untuk kalian berdua," celetuk Syafira.


"Uuuppps.... maaf keceplosan, tapi di sengaja...." lanjut Fira pura-pura lupa tapi ujung-ujungnya malah terkekeh.


"Waaaah, kau main sosor saja Le. Laganya ngatain Bos Doni suka sosor-sosoran, eh tak tahunya kau juga mengikuti jejak Doni," sahut Alex mengejek.


"Apaan sihhh, enggak gitu kok," elaknya kikuk.


"Hahahhaha ketahuan." Ucap Doni dan Alex tertawa melihat raut wajah Leo yang sudah memerah kikuk.


"Kok gue jadi kena sih?" gumam batinnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2