
"Di rumah tidak ada orang tua, pulang ke rumah Mami Dita males juga. Mending main kerumah Sela saja."
Amel memanggil no mami Dita. "Halo, Mi. Aku izin main kerumah temen aku ya. Pulangnya paling jam tujuh malam."
"Tapi jangan kemalaman, ya."
"Iya, mi. Amel janji tidak akan pulang lebih dari jam tujuh."
Diapun mematikan panggilannya dan langsung menghubungi Sisi.
*********
Doni duduk menatap fokus laptop yang ada di hadapannya. Ia begitu serius meneliti setiap email masuk baik urusan SC and R maupun AS JEWELRY.
Untuk sejenak, ia akan sedikit menjauhi Amel lebih tepatnya menarik ulur hatinya Amel dan mengikuti apa mau wanita itu.
Doni bekerja sebagai tangan kanan Syafira, memantau setiap perkembangan perusahaan keluarga dan sesekali menemui para klien menggantikan Syafira di kala keponakannya tidak bisa hadir.
Tangan kiri Doni mengambil secangkir kopi kemudian menyeruputnya secara perlahan, tangan kanannya sibuk mengetik setiap keyboard dan matanya fokus ke layar yang ada di depannya.
"Don," sapa Leo sang asisten menghampiri Doni.
Doni mendongak, ia menaruh cangkirnya, sejenak menghentikan aktivitasnya. "Leo, apa kamu sudah berhasil menemukan siapa dalang di balik pembunuhan Om dan Papaku?" tanya Doni berharap Leo berhasil membawa berita bagus.
Leo duduk terlebih dulu di hadapan Doni. "Kami kesulitan mencari keberadaan mereka, Don. Sepertinya orang yang berada di balik peristiwa hilangnya keluargamu bukan orang biasa. Jejak mereka sulit terdeteksi, bahkan detektif yang kami sewapun tidak bisa menemukannya."
Doni menghelakan nafasnya secara kasar. Ia menutup laptopnya, menyenderkan punggung ke kursi kemudian melipatkan kedua tangannya di dada.
"Ini yang membuatku ingin mencari tahu perihal kematian mereka. Kalaupun mereka benar-benar sudah tiada, jasadnya harus ada bukan? tapi nyatanya? jasadnya tidak pernah di temukan sampai sekarang. Aku merasa ada yang janggal tentang kematian mereka?"
"Satu-satunya cara supaya kita bisa mendapatkan titik terang keberadaan mereka yaitu datang ke acara pameran permata yang ada di Singapura," saran Leo serius.
"Di sana pula para miliarder akan berkumpul untuk melihat pameran. Ini adalah momen ketika batu itu berada di bawah risiko karena mereka bisa dipindahkan dari tangan ke tangan, sehingga bisa ditukar,“ kata Leo.
“Sehingga batu berlian akan menjadi sasaran orang kaya. Orang-orang yang menginginkan berlian akan menggunakan berbagai macam cara untuk mendapatkannya termasuk menculik diam-diam pembuat berlian untuk di pekerjakan secara paksa oleh mereka," lanjut Leo.
"Kemungkinan Om dan Papaku menjadi salah satu tawanan orang-orang jahat yang ingin membuat berlian begitu menurut mu?" tanya Doni serius.
"Bisa jadi bisa tidak. Bisa juga ada yang iri dengan kemajuan kita sehingga mereka yang tidak terima melakukan cara pintas yaitu menculik dan menyekapnya."
Doni manggut-manggut mengerti. "Masuk akal juga."
"Ya, seperti itulah kiranya."
__ADS_1
Handphone Doni berbunyi, "Bentar, saya angkat dulu telpon," ucapnya pada Leo.
"Halo, Kak, ada apa?"
"Don, bisa tolong jemput Amel di rumah temannya! Sampai sekarang ia belum pulang. Kau tahukan kedua orang tuanya sedang ke luar kota, sedangkan Reyhan dan Syafira sedang ke kota M berziarah ke makan orang tua Felix."
Doni melihat arlojinya, dan ternyata sudah pukul 8 malam. "Baiklah, aku akan menjemputnya. Kirimkan saja alamatnya!"
Donipun mematikan sambungan teleponnya dan ia berdiri dari duduknya mengambil kunci motor yang ada di sebelah kanan.
"Le, aku pergi dulu! Kakak negara sudah memerintahkan ku menjemput anak kecil itu."
"Seperti nya kau dan dia akan berjodoh, Don. Setiap ada apapun pasti kau yang akan di mintai pertolongan," ujar Leo ikut berdiri berjalan beriringan keluar dari ruangan.
"Pengennya seperti itu."
"Ya ku doakan semoga berjodoh." Leo menepuk-nepuk pundak Doni.
****
Doni sudah sampai ke alamat yang di kirimkan Dita. Ia pun turun dari motor dan langsung berjalan ke rumah no 11
"Ini malam Minggu, gimana kalau kita nongkrong di club?" ajak salah satu teman perempuan Amel.
"Hmmmm sorry, kayak nya gue tidak ikut deh." Amel merupakan anak rumahan, ia juga tidak suka asal main kalau tanpa tujuan yang jelas, dan baru kali ini Amel keluar hanya untuk menghilangkan rasa galaunya.
"Ayolah, Mel. Kali ini saja, lagian orang tua loe sedang tidak ada di rumah kan? loe bebas pulang malam pun tidak akan ada yang marah," balas Sela.
"Tidak boleh!" suara bariton seseorang begitu tegas menolak ajakan Sela.
Amel dan kedua temannya menoleh, dan Amel melotot tak percaya ada Om-om ngeselin di sana.
"Om, ngapain kesini?" Amel berdiri menghampiri Doni.
"Ngapelin temanmu," ujarnya tegas.
Teman-teman Amel sudah senyum-senyum melihat ketampanan Doni. Karisma seorang Doni membuat mereka terpesona.
"Jemput kamulah, ngapain lagi coba. Ayo pulang!" Ajak Doni tegas, ia sempat melirik ke teman-teman Amel. Dia meneliti penampilannya dan ia tidak suka kepada wanita yang terlalu terbuka.
"Eh, Om. Kenalin aku Sela, temannya Amel. Aku tidak menyangka Amel punya Om seganteng Om," ucap Sela malu-malu mengulurkan tangan.
"Aku Sisi," timpal satunya lagi sama mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Doni menatap uluran tangan keduanya kemudian menatap wajah Sela dan Sisi bergantian. "Lain kali jangan kamu ajak Amel ke club! Dia bukan wanita gampangan," ucapnya sinis.
"Om...!" Amel terbelalak mendengar perkataan Doni. Ia malu akan sikapnya terhadap teman-teman nya.
"Ayo pulang!" Doni menarik tangan Amel.
"Tapi, Om..!"
Doni memberhentikan langkahnya menoleh ke samping. "Pulang atau saya laporkan kelakuan kamu kepada Om Arman!" ancamnya.
Amel cemberut, gadis berkacamata itu tak berkutik. Darimana di hukum Papanya mending pulang saja.
****
Saat sedang dalam perjalanan motor yang di kendarai Doni tiba-tiba saja mogok. "Lah lah lah, kok!" ucap Doni.
"Issh, tuhkan, motornya ngambek, Om sih maksa aku buat pulang jadi marahkan motornya," gerutu Amel turun dari motor.
"Kamunya yang kebanyakan dosa, jadi dia tidak suka kamu tumpangi," balas Doni ikut kesal motornya mogok.
"Salah Om sendiri maksa aku ikut. Sekarang kita harus jalan sambil dorong motor gitu? iihhh capek tahu," ujar Amel cemberut.
Doni memutar matanya jengah. Iapun ikutan turun kemudian mendorong motornya. "Mau gimana lagi, daripada kita terus di sini nunggu tukang bensin lewat kelamaan. Mending kita dorong saja, ayo dorong!" titah Doni pada Amel.
Meskipun cemberut, namun Amel tetap ikut mendorongnya. "Tukang bensinnya mana sih? dari tadi kagak menu-menu."
"Mana ku tahu, hari ini aku apes gara-gara kamu anak kecil. Kalau bukan atas perintah Kak Dita, mana mau jemput kamu."
"Iiisshhhh aku mulu yang di salahin. Berhenti dulu, Om. Aku capek!" Amel bertolak pinggang kelelahan. Ia duduk di atas trotoar jalan, kakinya ia selonjorkan.
Doni pun ikut duduk dan keduanya beristirahat sebentar.
"Kamu tunggu di sini!" Doni berdiri.
"Mau kemana?" Amel mencekal tangan Doni mendongak ke atas. "Aku tidak mau sendirian disini, takut."
"Hanya sebentar buat cari bensin. Kamu tunggu sebentar di warung sana." tunjuk Doni ke arah sebrang jalan.
"Jangan lama, Om!" ucapnya memohon.
"Iya," balas Doni melepaskan cekalan Amel.
Bersambung....
__ADS_1