Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)

Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)
Cara Menolak


__ADS_3

"Terus aku harus apa sekarang?" Doni bingung harus melakukan apa kepada mereka yang mendaftar.


Begitu banyak yang berminat menjadi calon pacar seorang Doni Alexander. Mulai dari kalangan anak kecil, dewasa, mateng, sampai setengah mateng pun ada.


"Om tinggal duduk, diam di tempat, biar aku dan Leo yang mengatur segalanya. Bukan begitu, Le?" tanya Amel meminta persetujuan Leo.


Leo yang sedang berdiri di samping Doni mengangguk. "Benar, Bos. Kita akan melakukan berbagai tes untuk menyeleksi mereka. Kau tinggal mempersiapkan diri saja dan menunggu waktunya!"


"Terserah kalian lah! Saya benar-benar pusing kalau harus memilih dari sekian banyak wanita yang mendaftar," balas Doni menyerahkan segalanya kepada kedua orang tersebut.


"Dan kamu, Mel. Jangan menyesali semua ini." lirik Doni tajam membuat Amel menunduk risau.


Doni membuka laptopnya mengecek tentang setiap laporan yang masuk. Wajahnya terlihat lelah dan serius berpikir. Satu tangan di lipatkan dan satunya lagi memegang kening.


Sesekali ia menyeruput capuccino dan menaruhnya kembali ke samping kirinya.


Sedangkan Amel dan Leo duduk di sofa mencari siapa saja yang menurut mereka cocok untuk di seleksi. Ketiganya serius dalam mengerjakan tugas masing masing.


"Leo, sepertinya ini cocok untuk Om Doni. Ini juga, dan ini, dan ini." Amel menunjukan satu persatu wanita yang menurutnya cocok untuk Doni.


Leo memperhatikan pilihan Amel. "Pilihanmu cukup baik juga, dan ini pilihanku." Leo juga tak kalah menunjukan wanita mana saja yang akan masuk daftar seleksi berikutnya.


"Ok, kita sudah dapat yang menurut kita cocok, dan total semuanya sekitar 25 orang yang masuk kriteria untuk Om Doni," kata Amel menepuk-nepuk kedua telapak tangannya.


"Lalu rencana selanjutnya apa?" tanya Leo menoleh ke Amel.


Amel menatap Leo dan matanya mengkode ke arah Doni.


"Aku mengerti," ujar Leo seolah mengerti maksud dari kode yang Amel berikan.


"Bos, tipe cewek yang harus menjadi pasanganmu harus seperti apa?" tanya Leo mewakili Amel dan Amel mengangguk bahwa Leo rupanya mengetahui apa yang ingin ia sampaikan.


"Wanita yang akan menjadi pasanganku harus cantik, pintar, rajin ibadah, bisa masak, bisa cuci piring, bisa menyuci baju, bisa ngepel, bisa ngurus anak, bisa benerin genteng, bisa perbaiki keran, pokoknya mandiri," jawab Doni ngasal masih pokus ke laptopnya.


Amel hokcay (molohok bari ngacay) Leo pun sama. Keduanya saling lirik, Amel sampai mengelap kasar mulutnya pakai tangan dan membenarkan kacamatanya.


"Seriusan, Om?"


"Seriuslah, masa bohongan. Kalau bohong hidung saya akan panjang," jawabnya.

__ADS_1


"Bos, loe mau cari pasangan atau mau cari babu? banyak bener persyaratannya," sahut Leo menulis salah satu syarat menjadi calon bosnya di buku catatan.


"Calon pasangan bisa, partner kerja bisa, pambantu bisa, tukang serba bisa juga bisa," jawab Doni cuek mengetik tombol keyboard di laptopnya.


Amel sampai menggaruk kepalanya mendengar tipe wanita yang akan jadi Tantenya. "Aneh bin nyata," batinnya.


"Baiklah, sekarang kau harus menemui salah satu dari mereka!" ujar Leo sudah menyiapkan satu wanita untuk mulai di seleksi Doni.


Doni menoleh, "Sekarang?"


"Iya, Bos. Masa tahun depan, ketuaan dong loe nya, Bos."


"Hu,uh. Sudah jadi bujang lapuk, gak laku-laku, entar tambah tua lagi," celetuk Amel polos mengangguk-ngangguk menambahkan ucapan Leo.


Pluk...


Satu kepalan kertas melayang ke kepala Amel dan pelakunya Doni sendiri. "Kalau ngomong gak di filter dulu, saya jadi bujang lapuk menjaga kehormatan dan menjaga diri saya supaya tidak merusak wanita, mengerti anak kecil? lagian saya menjomblo karena menunggu kamu yang tak kunjung membalas perasaan saya." sindir Doni semakin membuat Amel tercubit.


******


Doni sudah sampai di taman tempat pertama pertemuan dengan calon pasangannya. "Kenapa mesti di taman sih?" tanya Doni heran.


"Ayo, Bos semangat!" ujar Leo menyemangati.


Doni mencebik, sebenarnya ia males melakukannya. Namun semuanya demi menyadarkan perasaan Amel.


Doni menoleh kebelakang, Amel dan Leo mengacungkan jempol mereka.


Amel dan Leo menunggu di balik tanaman bunga memastikan Doni. Keduanya begitu penasaran ingin melihat cara Doni menyeleksi para calonnya.


Doni sudah duduk dan posisinya membelakangi para stalker. Ia kembali menoleh ke belakang dan di saat keduanya sibuk bicara Doni segera memakai gigi tonggos dan tompel besar di pipi sebelah kiri kemudian memakai masker dan kacamata hitam.


Wanita yang dimaksud pun datang. "Permisi, Doni, ya?" sapanya dan Doni mengangguk.


Wanita itu begitu girang, ia duduk di dekat Doni. "Akhirnya aku bisa ketemu dengan Doni Alexander. Kenalin, aku Sasa anak tercantik di keluarganya."


"Apa tujuan kamu mengikuti ajang pencarian jodoh ini?"


"Saya ingin menjadi nyonya Doni, dong."

__ADS_1


"Emangnya kamu tahu wajah Doni yang kami maksud? bisa jadi itu wajah orang lain sedangkan wajah aslinya jelek. Saya memang kaya tapi wajah saya tidak setampan yang ada di foto lho, nona."


"Saya tahu dan saya yakin foto yang ada di pengumuman asli. Aslinya pasti tampan dan kaya," jawab sang wanita mesem-mesem.


"Anda yakin? Foto kan bisa membohongi publik."


"Yakin, saya akan bersedia menerimanya."


"Baiklah, karena ini wajah asli saya." Doni membuka masker dan kacamata hitamnya.


Sasa terlonjak kaget sampai terjengkang ke belakang. "Alamaaak...! Jelek kali kau ini..!" katanya bergidik ngeri melihat tompel dan gigi Doni.


Doni tersenyum menampilkan gigi tonggos yang berwana kuning. "Ini lah saya, ini wajah asli saya. Kalau kamu mau ayo kita pacaran!"


Sasa segera berdiri. "Rupanya kau menipu kami menggunakan aplikasi dan Filter?" Doni mengangguk.


"Iiihhhh, amit-amit jabang bayi saya pacaran sama kau. Mau di taruh mana mukaku ini. Ogahh bener. Saya tidak mau nikah sama muka jelek kayak kau!" tuturnya meninggalkan Doni.


Doni sudah senyum-senyum, rencananya berhasil. "Hahaha emang enak gue kerjai, malas kali aku ini," batinnya tertawa. Ia segera melepaskan gigi dan tompelnya memasukkan ke saku celananya.


Amel dan Leo termangu. "Leo, kenapa wanita itu bilang Om jelek?"


"Mana ku tau, Mel. Dan anehnya wanita tidak mau sama si bos?"


Keduanya berdiri menampakan diri dari tempat persembunyiannya menghampiri Doni yang tertunduk lesu. Doni menatap memasang wajah lesunya.


"Calon pertama gagal," ucap Doni sedih padahal dalam hati bahagia.


"Tenang, Om. Masih ada 24 calon lagi. Stok masih banyak, gak usah khawatir, gagal satu tinggal cari lagi," kata Amel menepuk-nepuk pundak Doni padahal hatinya ikut senang.


"Benar, Bos. Sekarang kita lanjut ke peserta yang kedua."


"Hah, sekarang juga?" Doni pikir cuman satu, ternyata ada lagi.


"Iya, Om. Satu hari dua sampai tiga calon untuk di seleksi."


Doni menghembuskan nafasnya secara kasar. "Cara apa lagi untuk bikin mereka menolak?" batin Doni berpikir.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2