Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)

Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)
Kepo


__ADS_3

Gadis cantik berambut sebahu itu begitu lihai mengolah masakan. Dia memasak nasi goreng kuning kesukaan Doni.


"Neng, perlu bibi bantu?" tanya IRT berdiri membawa cucian yang akan di cuci.


Amel menoleh dan tersenyum. "Tidak perlu, bi. Bibi lanjutkan saja pekerjaannya! Ini biar saya yang urus."


"Oh gitu, ya, kalau gitu bibi kebelakang dulu, neng."


"Iya, bi."


Amel kembali melanjutkan kegiatannya sampai ia tidak sadar ada Doni di belakangnya.


"Hmmm, harumnya, jadi laper." Ucap Doni berdiri di samping belakang kiri Amel.


"Om mau?"


"Maulah, inikan makanan kesukaanku. Ternyata kamu tahu saja apa yang ku suka," jawab Doni nasib berdiri di belakang Amel melihat kelihaiannya dalam memasak.


"Mami Dita yang memberitahukannya. Bukan hanya makanan, warna, dan pakaian yang om suka juga aku tahu."


"Hmmmm," Domi manggut-manggut. "Calon istri memang harus tahu segalanya tentang calon suami." tuturnya mengacak-acak rambut Amel.


"Aku bukan calon istri Om, ya." protesnya menoleh ke samping dan sedikit lagi wajah keduanya bersentuhan.


Amel tertegun, ia tidak menyangka kalau Doni sedekat ini. Donipun menyenderkan tubuhnya ke wastafel dan melipatkan tangannya.


"Hei, nasinya bisa gosong kalau kamu bengong gitu."


Sontak Amel tersadar dari lamunannya, ia kembali melanjutkan kegiatannya. Keduanya pun melakukan sarapan bersama setelah masakannya.


*****


Kantor AS JEWELRY


Pria berumur itu melangkah masuk ke kantor milik keponakannya. Dia sebagai tangan kanan sang pemilik memiliki wewenang yang sama seperti keponakannya.


Disaat Syafira di sibukan dengan pekerjaan yang lain, dia yang akan meng handle pekerjaan lainnya.


"Leo, pesanan perhiasan milik tuan David apa sudah selesai?"


"Sudah, Bos. Tinggal kita mengirimkan pesanan tersebut," jawab Leo.


Dan secara tiba-tiba sekertaris AS JEWELRY masuk keruangan Doni. "Maaf, pak. Ada tuan David beserta istrinya datang."


"Persilahkan mereka masuk, Ci!"


"Baik, Pak."


Dan tak lama kemudian Tuan David masuk beserta istrinya dan duduk di hadapan Doni.


"Siang, Nak Doni." sapanya menyalami Doni.

__ADS_1


"Siang juga, Tuan. Suatu kehormatan bagi saya kedatangan CEO Mall Galaxy."


"Anda bisa saja Nak Doni. Justru saya yang merasa terhormat bisa mengenal Anda sebagai pemilik AS JEWELRY dan SC AND R," balas David belum mengetahui siapa pemilik aslinya.


Doni tersenyum, ia sempat melirik Leo. "Saya hanyalah pegawai, Pak David. Saya bukan pemilik aslinya. Oh, ya, bukankah Anda dan Istri mau mengambil pesanan?" Doni mengalihkan pembicaraan langsung kepada niat David.


"Ini yang saya suka, Anda selalu merendah, Nak. Benar, kami juga ingin memesan lagi cincin pasangan," jawab Istri David Nyonya Meri.


"Hmmm baik, baik. Leo tolong panggilkan Cici!" titah Doni.


Tak lama kemudian Cici datang membawa pesanan David dan membawakan buku menunjukan berbagai desain cincin, gelang, dan kalung.


"Pak, ini buku desain nya."


"Terima kasih, Ci. Kamu bisa kembali ke ruanganmu!" ujar Doni mengambil bukunya.


"Silahkan Tuan, Nyonya, kalian bisa melihat-lihat desain mana yang cocok!" lanjut Doni memperlihatkan berbagai macam bentuk perhiasan.


"Hmmmm, biar keponakan saya dan Anda saja yang memilihkannya, Nak Doni. Kami percayakan kepada kalian berdua," tutur Nyonya Meri.


Doni mengernyit heran, ia melirik Leo dan Leo menggeleng tidak tahu.


Tak lama kemudian keponakannya David yaitu Helena datang memasuki ruangan Doni tanpa mengetuk pintu dulu.


"Maaf saya telat datang, Om."


Doni sempat kaget Helena bisa masuk begitu saja tanpa konfirmasi dari dirinya.


"Hai Doni, kita ketemu lagi, padahal baru kemarin kita bertemu di acara eliminasi para peserta. Rupanya kita berjodoh ya, Don." Ujar Helena percaya diri duduk di samping Doni.


Kebetulan mereka duduk di Sofa jadi Helena bisa duduk dekat Doni.


Davin dan Meri sudah saling pandang tersenyum melihat kecocokan keduanya.


"Kalau gitu kami undur diri dulu, Nak. Kalian bisa memilihnya secara bersamaan, dan pesanan kami yang ini kami bawa," tutur David mengambil paper bag.


"Silahkan Tuan!" Doni mempersilahkan dan berdiri menyalami kedua tamunya.


Tinggallah Helena yang ada di sana beserta Leo yang berdiri tak jauh dari Helena.


"Doni, bagaimana kalau kita makan di luar?" ajak Helena. "Maksudnya sekalian melihat-lihat desain yang di inginkan."


"Kenapa harus di luar? di sini juga bisa," celetuk Leo.


"Saya tidak bicara sama kamu melainkan sama Doni, ya." sindir Helena.


"Kata Leo benar, di sini juga bisa. Silahkan, pilih mana cincin yang menurut mu bagus!"


"Biar saya bisa mentraktir mu sebagai tanda perkenalan kita. Mau ya?" bujuk Helena memaksa.


"Baiklah, tapi Leo juga ikut denganku!" ujar Doni tegas.

__ADS_1


"Hmmm baiklah, tidak masalah." Sebenarnya ia enggan ada Leo di antara mereka. Tapi demi tujuannya ia menyetujui kemauan Doni.


******


"Mel, kita ke mall, yuk? kali-kali kita jalan-jalan, jangan kerja terus," ajak Sari yang belum masuk shift kerja.


Amel yang sedang duduk menunggu kasirpun menjawab, "Gue lagi kerja, dan gue lagi males main ke mall."


"Ayolah, nanti gue yang traktir deh, mau ya?" Sari memohon.


"Enggak," mata Amel melihat keluar dan kebetulan melihat Doni jalan beriringan dengan Helena.


"Om Doni mau kemana? tumben bareng salah satu cewek peserta?" batinnya mendadak kepo.


"Mel, mau ya, loe temenin gue saja. Gue tidak ada teman lagi nih."


"Sari, mending loe ikut gue!" Amel beranjak dari duduknya menarik pergelangan tangan Sari.


"Loe mau ajak gue kemana, Mel?"


"Kemana saja."


Amelpun masuk mobil dan mengikuti mobil Doni. Dia mendadak kepo ingin mengetahui kemana Doni pergi.


******


Doni dan Helena sudah tiba di tempat makan yang di pilih Helena sendiri. Helena sengaja mencari tempat duduk paling pojok supaya tidak terlalu ramai.


Leo juga ikut duduk tak jauh dari keduanya memperhatikan pergerakan Helena yang menurutnya mencari kesempatan untuk mendekati Doni.


"Kamu mau pilih yang mana? ini desainnya baru-baru semua." Doni pun memperlihatkan gambar yang di bawanya.


Helena mendekatkan tubuhnya. "Kira-kira cincin seperti apa yang pas dan bagus untuk pertunangan?" tanyanya memperhatikan setiap gambar cincin pasangan.


Amel dan Sari juga masuk ke dalam mencari tempat duduk tak jauh dari keduanya.


"Mel, kita mau ngapain ke sini? di sini pasti mahal-mahal makanan nya?" tanya Sari.


"Sssst..diem dan jangan berisik!"


"Ini juga bagus, terlihat sederhana namun elegan. Ini cocok buat buat kamu," tunjuk Doni menunjukan salah satu gambar pilihannya.


"Aku suka pilihan kamu, ternyata selera kita sama ya. Aku udah tidak sabar ingin melihat hasilnya seperti apa?"


Amel mengerutkan keningnya, "Jadi mereka sudah mempersiapkan cincin tunangan? kan pemilihan calon peserta nya belum selesai?" batin Amel menutupi wajahnya dengan buku menu.


"Mel, ngapain pake di tutup segala?" tanya seseorang menghampiri meja Amel.


Amel dan Sari mendongak, dan Amel cengengesan ketahuan Leo.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2