
Rangga menunggu Amel di parkiran tempat dimana wanita yang menjadi kekasihnya bekerja. Dia tidak tahu kalau Amel anak pemilik toko mainan yang terkenal di kotanya, yang Rangga tahu Amel seorang penjaga kasir di toko itu.
Rangga mendekati Amel di saat melihat wanitanya keluar untuk pulang. "Mel."
Amel yang baru saja keluar terkejut melihat Rangga. Dia tak memperdulikan keberadaan Rangga dan melewatinya begitu saja.
"Mel, Mel, tunggu, Mel. Aku minta maaf, aku khilaf, Mel. Aku bisa jelasin semuanya karena itu tidak sepenuhnya salah aku." Rangga berjalan mundur di hadapan Amel.
Amel berhenti menatap tajam dan kecewa, mimik wajahnya terlihat sendu dan memerah menahan amarah.
"Tidak ada khilaf yang keterusan apalagi keenakan sampai berulang kali melakukannya. Mau itu salahmu atau bukan, aku sudah tidak peduli."
Amel memasangkan helm dan menaiki motor matic nya. Tapi Rangga berdiri di depan motor mencegah wanita yang ia cintai pergi.
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Mel. Aku hanya mencintaimu, aku tidak mau putus darimu. Aku mohon!" pinta Rangga memelas.
"Aku juga mencintaimu, Rangga. Dan aku sudah memaafkan setiap kesalahmu," jawab Amel membuat Rangga menyunggingkan senyuman manis.
"Tapi cintaku lenyap begitu saja setelah ku tahu pengkhianatan yang kau lakukan di belakangku!" lanjut Amel meninggikan suaranya membuat senyuman Rangga kembali pudar.
"Tak ada kesempatan untuk pengkhianat seperti dirimu, Rangga. Selama ini aku percaya sama kamu, namun kau malah menghancurkan kepercayaan itu."
"Maka, lupakanlah aku dan kembalilah kepada kekasih gelapmu itu. Aku tidak mau lagi memungut barang yang sudah terpakai, bagiku kau hanyalah sampah yang harus ku buang pada tempatnya yaitu kekasihmu, Syifa." sindir Amel pedas.
Dia menyalakan stater nya. "Awas, aku mau pulang!" ujarnya galak.
"Mel, jangan seperti ini. Terserah kalau kamu marah dan mengataiku apapun sesuai yang kamu mau, tapi aku beneran minta maaf. Ini bukan salahku, aku hanya mengikuti kemauan orang tuaku, Mel. Aku hanya mencintamu." kekeh Rangga mencegah Amel.
"Awas Rangga!"
Rangga menggeleng. "Aku tidak akan minggir sebelum kamu kembali padakau."
"Aku bilang awas Rangga!" bentak Amel kesal. "Kalau kau tidak minggir, akan ku tabrak kau sampai mampus!" sentaknya kembali benar-benar muak dengan mantan pacarnya.
Amel beneran nekat sebab Rangga tak minggir juga. Alhasil Rangga menyingkir ke samping dan ia segera menaiki motornya mengejar Amel.
Rangga tak ingin menyerah begitu saja, dia ingin wanita yang ia cintai kembali kedalam pelukannya. Tak ada yang mampu mengerti dirinya selain Amel, tak ada wanita yang tulus selain Amel, tak ada wanita yang ia cintai sedalam ini selain Amel.
__ADS_1
Amel melihat spion motornya, dan ia menoleh kebelakang. "Ck, dia benar-benar tidak menyerah. Baiklah, untuk kali ini aku akan menggunakan kekuatan ku."
Amel melajukan motornya semakin kencang bak pembalap profesional. Dia menghindar dan menjauhi Rangga kemudian bersembunyi di keramaian warga.
Amel melihat Rangga sudah melewatinya dan ia kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah.
*********
"Sialan, cepat sekali dia pergi." Rangga celingukan mencari motor yang di kendarai Amel.
"Ini semua gara-gara Mama. Kalau saja Mama tidak memandang harta, mungkin aku dan Amel masih bersama dan akan melanjutkan ke jenjang pernikahan."
Rangga melajukan kembali motornya namun kali ini ia pulang kerumahnya.
"Sayang, kamu darimana saja?" pekik Syifa merangkul tangan Rangga.
Rangga melepaskan paksa rangkulan Syifa. "Ngapain kamu kemari lagi? sudah puas kau menghancurkan hubunganku dengan Amel? inikan yang kau mau dari dulu?"
"Rangga...! Kamu tidak boleh bicara seperti itu kepada Syifa, dia calon istrimu. Syifa jauh lebih terpandang daripada wanita pilihan kamu yang hanya seorang penjaga kasir saja," sahut Mamanya Rangga.
"Tante..." rengek Syifa.
"Kamu tenang saja, tante akan pastikan Rangga menikah sama kamu. Tante tidak mau Rangga menikah dengan wanita penjaga toko." kata Mama Rangga mengusap punggung Syifa.
Syifa menyeringai. "Berhasil, akan ku lakukan apapun untuk mendapatkan orang yang aku cintai. Tak ada yang boleh menyaingi ku termasuk Amel yang entah siapa orang tuanya," batinnya.
***********
Baru saja sampai depan rumah sudah ada Doni menunggu di teras. Amel membuang nafasnya secara kasar.
"Hai, calon istri. Calon ibu dari anak-anakku, bidadari surgaku, baru pulang ya? capek tidak? kalau capek aku pijitin ya. Kita jalan bareng, yuk! Ini malam Minggu lho, malam yang asyik untuk para anak muda." tutur Doni memijat pundak Amel.
Amel menggelinjang melepaskan tangan Doni yang ada di pundaknya. "Apaan sih, Om. Alay banget sih, aku capek dan aku tidak mau malam mingguan." Amel masuk ke dalam, Doni mengekorinya dari belakang.
"Malam mingguan di sini saja, kita bakar-bakaran. Bakar rumah juga boleh biar seru."
Amel menoleh memicingkan mata menatap kesal Om ngeselin yang mendadak aneh itu. "Pulang sonoh! Kehadiran Om bikin aku tambah kesel. Eeeeeeeee..... pengen bejek-bejek tau." Amel mengangkat tangan kesal dan mengunyel-ngunyel pipi Doni sekerasnya.
__ADS_1
"Aaaaa aku di pegang-pegang. Senangnya..."
Amel bergidik ngeri, ia melepaskan tangannya dan kembali melanjutkan langkahnya. "Om jangan ngikutin aku! Pergi sana!"
"Aku tidak ngikutin kamu, tapi aku ngikutin wanita masa depanku." balas Doni masih mengekori Amel.
Amel membuka pintu kamarnya dan masuk ketika Doni ingin masuk...
Bluggg....
Amel membanting keras pintunya sehingga hidung mancung Doni terbentur.
"Aaawwww, kau menyakiti hidung bangirku, Mel. Tega bener dah, jadi cewek jangan galak-galak nanti tidak ada yang suka."
Amel membuka pintu kamarnya sedikit. "Bodo amat!" ucapnya menutup kembali. Tapi kemudian di buka kembali dan menongolkan kepalanya.
"Kan ada Om yang suka sama aku," ucap Amel menaik nurunkan alisnya.
"Cieeeee yang mulai luluh," ucap serempak Doni, dan Dinda.
Amel malu mengerucutkan bibirnya kemudian menutup keras pintu kamarnya. Sedangkan Doni dan Dinda malah tertawa melihat tingkah Amel.
"Hidungmu tidak apa-apa, Don?"
"Tidak, Mah. Cuman sedikit mendengung saja. Aku pulang dulu, malam ini juga harus ke kota M."
"Syukurlah lah kalau tidak apa-apa. Semoga kerjaan di sana semuanya aman-aman saja ya." Dinda mengantarkan Doni kedepan.
"Tidak berpamitan dulu sama, Amel?"
"Lain kali saja. Aku ingin membiarkan hati Amel merasakan bagaimana rasanya bila tak ada diriku di sisinya. Jaga Amel untukku, Mah. Aku mencintainya dan akan ku usahakan untuk menjerat hatinya," izin Doni pada orang tua Amel.
Sinta tersenyum menepuk-nepuk pundak Doni. "Mama restui hubungan kalian. Amel belum menyadari saja perasaannya."
Hanya itu kalimat yang Dinda ucapkan. Dia tahu bagaimana putrinya, dan dia tahu kalau Amel sudah mulai terbiasa akan kehadiran Doni dan sudah mulai nyaman dengan Doni tapi Amel masih belum menyadari perasaannya.
Bersambung.....
__ADS_1