
"Mel, ngapain pake di tutup segala?" tanya seseorang menghampiri meja Amel.
Amel dan Sari mendongak, dan Amel cengengesan ketahuan Leo.
"Hehehe Bang Le."
Sedangkan Sari bengong tak berkedip melihat ketampanan Leo.
"Kamu ngapain wajahnya di tutup seperti tadi?" Leo kembali bertanya dan ikut duduk di hadapan Amel.
"Bang Le, jangan berisik aku lagi mengintai seseorang!" ucap pelan Amel supaya Leo tidak kencang-kencang berucap.
Leo mengernyit heran, dia melirik ke arah Sari yang masih bengong menopang dagunya di tangan menatap intens wajah Leo.
"Ganteng banget, Bang Le." ucap Sari terpesona.
"Siapa? bukankah kamu tidak terlalu suka kepo sama urusan orang?" tanya Leo heran mengabaikan Sari yang terus menatapnya.
Amel tersadar, ia juga bingung kenapa ia mendadak kepo. "Hmmmm anu," Amel mengedarkan pandangannya mencari alasan. Namun matanya tak bisa berpaling ketika melihat Doni sedang mengelap bibir Helena.
Hatinya panas melihat perlakuan manis Doni kepada orang lain. "Modus sekali tuh cewek," batin Amel cemberut.
Leo melihat arah pandang mata Amel dan seketika ia mengerti siapa yang di kepo i oleh Amel. "Oh, rupanya si bos," batin Leo.
"Lain kali kalau makan jangan belepotan seperti itu," tutur Doni.
Helena tersenyum senang bisa mendapatkan perhatian Doni. Ia merasa tidak sia-sia mengajak Doni makan dan malah menambah kedekatannya.
"Aaaaa gue senang banget Doni perhatian, itu tandanya dia benar-benar tertarik dan gue yakin akan melanjutkan ajang pencarian jodoh ini," batin Helena girang.
"Saya rasa pilihan sudah tepat dan kamu memilih ini kan?" tunjuk Doni pada gambar cincin.
"Iya, aku suka yang ini. Pilihan kamu sangat indah," balas Helena.
__ADS_1
"Kalau gitu Saya harus pamit dulu. Oh iya, kamu juga harus berkumpul ke tempat kemarin sebab akan ada pengeluaran peserta lagi. Saya harap kamu bisa maju ke babak berikutnya."
"Akan ku usahan semoga aku maju ke babak selanjutnya dan bisa menjadi pacar kamu."
Hati Amel dongkol. Ia mengaduk-aduk minumannya secara kasar. "Sari, kita pulang, yuk!" ajak Amel berdiri.
Doni yang sedang mengobrol pun seketika terdiam mendengar seseorang yang ia kenal. Iapun menoleh ke belakang untuk memastikan dan ia cukup terkejut mengapa ada Amel di sana.
"Mel, kita di sini saja dulu, ya. Aku belum kenalan sama Bang Le mu ini," jawab Sari masih di posisi sama menopang dagunya menatap wajah pria yang ada di sampingnya.
"Amel, kamu di sini juga?" tanya Doni menghampiri meja Amel.
"Iya, Om." jawabnya singkat.
Leo memperhatikan wajah Amel yang terlihat kesal kepada bosnya.
"Oh, kita makan yuk! Saya belum makan." Ajak Doni duduk di dekat Leo.
"Eh, Doni. Mending kita makan di meja yang tadi saja, sekalian bisa saling mendekatkan diri." Cegah Helena menarik tangan Doni.
"Eh, Mel. Kitakan belum makan..!" ujar Sari mengikuti langkah Amelia.
Doni tersenyum simpul, Amel terlihat gemas saat sedang cemburu.
"Le, kita langsung pulang sekarang. Hari ini Syafira beserta keluarga akan pulang." Titah Doni berdiri meninggalkan meja tersebut.
Helena mengikuti langkah Doni namun di cegah oleh pelayan. "Mbak, makanannya belum di bayar," cegahnya.
Helena mencebik kesal, iapun membayar makanannya.
******
Amel membawa Sari ke pantai. Sari sendiri bingung dengan sikap sahabatnya yang aneh.
__ADS_1
"Kamu itu kenapa, Mel? wajahmu dari tadi kusut kayak yang lagi bete gitu?"
Amel melempar batu-batu kecil ke pantai berharap menghilangkan rasa kesalnya. "Aku juga tidak tahu kenapa hatiku mendadak kesal."
Sari berpikir mencari tahu penyebabnya. "Apa karena pria tadi?" ucapnya menebak.
"Entahlah, rasanya gue tidak suka Om gue deket sama tuh cewek menor itu," jawab Amel cemberut masih melemparkan batu kecil ke pantai.
"Mungkin loe cemburu kali sama dia."
Amel menoleh memberhentikan lemparannya. "Gak mungkin, mana mungkin gue suka sama Om gue?!"
"Mel, gue bilang mungkin loe cemburu bukan suka. Loe gagal fokus atau emang loe beneran suka sam Om loe itu?"
Amel terhenyak, ia baru ngeh akan ucapannya. "Ma-mana mungkin, Sari. Dia bukan tipe gue," elak Amel.
"Coba deh tanya sama hati kecil loe. Loe suka dia apa tidak? apa kebersamaan yang sering kalian lewati membuat benih-benih cinta di hatimu?" tanya Sari.
Amel terdiam, dia memikirkan ucapan Sari bertanya kepada hatinya apakah dia menyukai Om bujang lapuk itu atau tidak?
"Akhir-akhir ini gue suka kesal melihatnya dengan cewek lain. Terkadang rindu bila tak ada kabarnya, hatiku mendadak galau di saat dia menauhiku. Apa itu salah satu tanda kalau emang gue suka dan cemburu?"
"Masa loe yang pernah pacaran tidak mengetahui isi hati loe, sih? loe pasti tahukan jatuh cinta seperti apa?"
Amel mengangguk. "Tahu, dan ini salah satu tandanya, kesal, cemburu." Jawabnya setelah berperang dengan hatinya.
"Nah, itu loe tahu, Mel. Tapi, bagaimana dengan ajang pencarian jodohnya? itu tandanya dia akan mencari calon istri dong?"
Sari benar, dia yang mengusulkan ajang ini dan sekarang dia yang kebingungan dan tidak rela Doni dengan orang lain.
Kini Amel menyadari perasaannya bahwa ia menyukai paman dari kakak iparnya itu. Kebersamaan dengan Doni mampu menumbuhkan rasa cinta di hati kecilnya.
Amel mendongak memejamkan mata, ia membuang nafasnya secara kasar. "Sekarang aku harus bagaimana dengan perasaanku sendiri?"
__ADS_1
"Kejar dia sebelum janur kuning melengkung!" usul Sari.
Bersambung....