
Keluarga Arman sudah berkumpul di meja makan termasuk Leo dan Alex. Mereka semua sarapan bersama namun, ada yang berbeda pada kedua orang pria yaitu Doni dan Reyhan.
Kedua pria itu memperlihatkan wajah lesu, cemberut seperti tidak semangat menjalani hari-harinya. Syafira sendiri mengulum senyum melihat raut wajah keduanya.
"Muka kalian pada kenapa, kok mesem gitu? lecek seperti belum di setrika," tanya Fira meledek keduanya seraya menuangkan nasi goreng ke piring.
"Ck, jangan sok polos tidak tahu apapun deh, Paman tahu dalam hatimu sedang menertawakan ku," ucap Doni mencebik kesal.
Dan akhirnya tawa yang sedari tadi ia tahan pecah, ia tertawa terpingkal-pingkal.
"Itu hukuman dari ku untuk Paman. Siapa suruh bobol duluan ya, jadinya aku dan yang lainnya merencanakan ini."
"Dasar Ponakan durjana, kau membuat kepalaku pusing atas bawah. Kalian tahu, di gantung pas sayang-sayangnya nyesek Thor."
"Kasian deh, loe, Bos." ledek Leo.
Doni kesal bukan main, ia berdiri menarik tangan Amel.
"Kita pergi dari sini, banyak yang ganggu acara kita. Mereka semua emang kurang kerjaan," sindirnya ketus.
Yang lainnya menggelengkan kepala, justru mereka merasa puas sudah mengerjai Doni.
**********
"Kita mau kemana, Mas?" tanya Amel berada di atas motor seraya memeluk pinggang Doni.
"Kemanapun asalkan mereka tidak mengganggu waktu kita," pekiknya fokus melihat ke depan. Amel tak bertanya lagi, ia mengeratkan pelukannya menyandarkan kepala di punggung suaminya.
Dan mereka sampai di pantai salah satu tempat wisata terkenal di kota J. Doni menggandeng tangan istrinya tak sedikitpun membiarkan Amel menjauh.
"Gak nyangka kalau sekarang kamu sudah menjadi milikku," ucapnya mengecup mesra punggung tangan Amel.
"Aku juga tidak menyangka kalau aku akan terjerat cinta bujang lapuk Doni Alexander. Hal yang sama sekali tidak terbayangkan di benakku," ujar Amel menyenderkan kepalanya ke pundak Doni.
Keduanya duduk di tepi pantai menikmati indahnya lautan lepas berdebur ombak.
"Kau tahu, setelah sekian lama ku hidup menjomblo, hanya kamu yang berhasil meluluh lantakkan hatiku. Mas tidak tahu kenapa sangat sulit jatuh cinta pada wanita, sekalipun suka itu hanya sama kamu seorang."
"Tapi kenapa awal-awal kenal, kamu selalu ngeselin, cuek, dan suka bikin ku kesel."
"Hanya itu yang bisa ku lakukan untuk menutupi perasaanku padamu. Mas juga tidak mau merusak hubungan kamu dan pacarmu."
__ADS_1
"Ohh, begitu toh ceritanya."
Seharian ini, Amel dan Doni bersama-sama. Doni benar-benar tidak pulang dan membawa istrinya kemanapun dia mau.
Mereka jalan-jalan ke berbagai tempat wisata dan berakhir di hotel bintang lima.
"Mas, kalau nanti kamu sudah tiba di Singapura jangan lupa hubungi aku, kasih tahu aku, ya." Amel memotong steak daging kemudian memakannya.
"Iya, sayang. Sebenarnya aku tidak mau meninggalkanmu dan ingin membawamu ke sana. Tapi Mas juga tidak bisa melawan perintah Fira. Bukan takut kepadanya melainkan takut lebih lama lagi di berikan hukuman."
Amel menyimpan garpu dan pisaunya di piring. Ia mengusap tangan Doni yang ada di atas meja.
"Aku juga tidak mau jauh darimu. Aku hanya berdoa semoga kamu di sana baik-baik saja dan semoga kalian mendapatkan petunjuk mengenai kematian kakek."
"Semoga saja, ya sayang. Kamu udah makannya?" tanya Doni sambil mengelap mulutnya pakai tissue.
"Sudah, aku mau...." Amel ragu dan malu mengungkapkan keinginannya.
"Mau apa? mau tambah lagi makanannya?"
"Bukan, aku mau tidur dulu bareng kamu sebelum kamu berangkat. Lagian ini baru jam empat sore," ungkapnya tertunduk malu.
Amel berdiri dan mengangguk, ia mengikuti ke suaminya membawa ia pergi.
*********
Mereka berdua sudah sampai di depan kamar hotel. "Sayang, kamu tutup mata dulu!" ucap Doni.
"Lho, kenapa harus tutup mata?" tanya Amel mengernyit heran.
"Kamu merem saja dulu dan jangan mengintip. Nanti juga kamu akan tahu sendiri."
"Kamu mau ngasih aku kejutan?"
"Anggap saja begitu, ayo merem! Ingat ya jangan mengintip!"
"Iya, sayang. Kejutan apa sih? aku jadi penasaran, deh?" Amel sudah memejamkan matanya dan Doni menutup mata sang istri menggunakan tangan kekarnya.
Perlahan ia menggiring sang istri ke dalam dan ia pun melepaskan tangannya. "Sekarang kamu boleh buka matamu!" bisiknya di telinga Amel sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Amel membuka matanya, ia terkejut melihat dekorasi indah tersuguh di depan mata. Banyak sekali bunga berwarna merah dan putih mengiasi area lantai dan kasur.
__ADS_1
Bahkan ada tiga bunga di bentuk love di kelilingi lampu-lampu kecil di pinggirnya. Di depan ranjang pun terlihat lampu bertuliskan i love you menghiasi lantainya.
"Mas, indah sekali."
"Kamu suka?"
"Aku suka, kapan kamu menyiapkan ini semua? setahuku dari tadi kita selalu bersama."
"Aku menyuruh seseorang untuk mendekor ini, sayang." Doni melepaskan pelukannya dan menghadapkan Amel kehadapannya.
"Aku ingin membuat kenangan dulu sebelum berangkat," bisik Doni mendekatkan bibirnya ke bibir Amel lalu mengecup benda kenyal itu secara lembut.
"Aku mau kamu memberikan ku banyak bekal, sayang," lirihnya mengecup kembali bibir istrinya.
Kali ini bukan kecupan lagi. Doni sudah mulai me ***** bibir istrinya bahkan sudah menyesapnya.
Doni membopong istrinya membaringkan tubuh sang istri secara perlahan di tempat tidur. Ia kembali memberikan kecupan lu matan hi sapan dan rang sangan supaya istrinya terbuai.
Amel memejamkan mata menikmati setiap cumbuan dari suami halalnya. Suara de sahanpun keluar dari bibir mungil Amel di kala tangan sang suami meremas lembut gundukan kenyal miliknya.
Tangan Doni melepaskan satu persatu kancing baju Amel memperlihatkan dua gundukan yang masih terbalut brA.
Ia juga menyusupkan wajahnya keceruk leher Amel memberikan tanda merah keunguan di sana. Tangannya mulai melepaskan pengait brA kemudian ia membuangnya ke sembarang arah.
Doni menurunkan ciumannya kesalah satu gundukan tersebut dan mulai nakal mengu lum, men jilat, neng hisap pucuk kemerah-merahan. Tangan satunya me remas lembut gundukan yang satunya lagi dan me milin pucuknya.
Amel bagaikan cacing kepanasan, ia semakin tak tahan minta lebih. "Ah, Mas. Aku sudah tidak tahan lagi," pintanya di sela bibir Doni menye sap milik Amel.
Doni mendongak tersenyum simpul. "Aku akan melakukanya sayang."
Doni menekuk lebar-lebar lutut Amel mengarahkan miliknya ke tempat yang semestinya.
Perlahan Doni mulai menyatukan kedua milik mereka. Amel menggigit bibirnya dan mencengkram bahu sang suami di kala milik Doni terbenam sempurna.
Doni mencium kembali bibir Amel dan mulai memaju mundurkan miliknya. Awalnya pelan lama kelamaan semakin cepat. Pelepasan pertama pun keluar berbarengan.
Nafas keduanya memburu dan mereka tersenyum senang. Doni mencium kening Amel lalu membawanya kepelukan.
Tak berselang lama, Doni kembali memberikan rangsangan untuk istrinya. Kedua pengantin baru itu seolah tak kenal lelah untuk melakukanya sampai beberapa kali dan tertidur saat sudah menjelang pagi.
Bersambung....
__ADS_1