Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)

Terjerat Cinta Bujang Lapuk (Doni Alexander)
Tempat Asing


__ADS_3

Doni terbangun dari pingsannya. Perlahan ia membuka mata menatap langit-langit bangunan yang sudah tua. Dia mendudukan bokongnya mengedarkan pandangan memperhatikan tempat sekitar.


"Dimana ini? tempatnya terasa asing!" Dia menoleh ke arah samping, di sana juga terdapat Leo dan Alex yang juga tergeletak tak sadarkan diri.


"Leo, Alex, bangun woy!" Doni menggoyangkan tubuh keduanya supaya terbangun.


Mereka berdua perlahan bangun dan mereka juga terlihat bingung kenapa tiba-tiba ada di tempat asing seperti ini.


"Kita dimana, Bos?" tanya Leo perlahan berdiri untuk melihat ke jendela kecil.


"Gak tahu, sepertinya kita di culik deh. Coba kalian pikir baik-baik. Semalam kita mau pulang terus tiba-tiba ada yang memukul pundak dan kita tak sadarkan diri sampai kita berada di sini," ucap Doni.


"Kau benar, Bos. Sepertinya kita di culik. Tapi untuk apa orang menculik kita?" tanya Alex berpikir.


"Bos, Lex, di luaran sana banyak orang-orang yang sedang mengerjakan sesuatu," ujar Leo mengintip keluar dari jendela kecil.


Doni dan Alex mendekat untuk melihat. Dan ternyata benar, banyak orang sedang bekerja mencari sesuatu di tanah.


"Ini sepertinya tempat penambangan," ujar Alex.


"Kelihatannya begitu. Mereka terlihat mencari sesuatu di dalam tanah," jawab Doni mengedarkan penglihatan mencari cara untuk keluar dari sana. Dia mencoba mendekati pintu dan ternya tak di kunci.


"Pintunya tidak di kunci," tutur Doni. Leo dan Alex menoleh, mereka mendekati Dini kemudian berjalan keluar mendekati para pekerja.


Ketiganya berjejer ke samping memperhatikan.


"Hei, kalian bertiga. Kalian pasti pekerja baru, kalian buruan bekerja!" sergah salah satu mandor nya.


"Siapa kalian berani nyuruh-nyuruh kita? bos bukan, saudara bukan, kok berani merintah," sergah Leo mencebikan bibirnya.


"Di sini kita yang jadi Bos, kalau kalian melawan kalian akan sama seperti mereka!" tunjuknya pada salah satu pria yang sedang di cambuk.


"Kalian mengancam? kami tidak takut," jawab Alex.

__ADS_1


"Rupanya kalian kalian semua memang ingin di cambuk dulu supaya menurut sama kami."


"Baiklah, kaki akan melakukan apa yang kalian perintahkan," sahut Doni.


"Bos..!" pekik Leo dan Alex tak habis pikir. Doni mengedipkan mata memberikan kode untuk mengikuti kemauan mereka.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Doni.


"Kalian lakukan seperti yang mereka lakukan masuk ke dalam lubang itu dan keruk tanah yang di dalamnya!"


"Ini penambangan emas, bos." Bisik Leo ke Doni.


"Baiklah, kita mau mengikuti apa mau kalian."


Dan mereka bertiga masuk ke dalam lubang kecil. Namun, mereka sempat tak percaya bahwa lubang tersebut di dalamnya malah sangat besar setinggi orang dewasa.


"Gila, di luar kecil di dalam lubang besar. Banyak juga yang bekerja di dalam." Ucap Leo memperhatikan beberapa orang yang sedang mengeruk tanah.


Mata Doni terpaku pada salah satu pekerja di sana. Perlahan dia mendekati tubuh tua renta yang ada di hadapannya. Meski pria itu membelakangi dan sedang menggeruk tanah. Dia merasa mengenalinya.


"Ka kau..." ucapnya terbata. Tangannya gemetar terulur mengusap garis wajah Doni.


Leo dan Alex terbelalak, keduanya tertegun melihat wajah pria tua itu yang harus wajahnya sama dengan Doni namun dia terlihat sangat tua dan berkeriput.


"Wa-wajah ini?" pria itu kembali berkata.


"Kau mengenaliku, Papa?" lirih Doni berkaca-kaca.


"Doni..!" Pria itu menghambur memeluk Doni seraya menangis haru bisa bertemu lagi dengan salah satu keluarganya.


Setelah sekian lama, mereka di pertemukan lagi. Setelah hampir 26 tahun, Doni di pertemukan kembali dengan Papanya. Acara pameran berlian ternyata membawanya bertemu orang yang selama ini ia nanti kepulangannya.


"Doni, kau kah ini, Nak? kau mengingat Papa? Papa yakin kalau kau Doni Alexander. Papa rindu padamu, rindu pada Kakak mu, rindu pada cucu papa Aurel," ucapnya terisak.

__ADS_1


"Ini aku, Doni. Doni mengingat Papa. Doni juga merindukan Papa. Akhirnya, kami bisa bertemu denganmu. Doni senang kalau Papa masih hidup. Lalu, dimana kakek Albern? apa dia masih hidup?' cerca Doni mengikis jarak.


Orang yang di sebut Papa itu murung bersedih. Dia duduk memeluk kedua lututnya. Doni dan yang lainnya ikut duduk ingin mendengar cerita dia.


"Kakekmu sudah tiada, Don. Mereka membunuh Kakekmu sebab dia tidak mau mengalihkan perusahan berliannya kepada pihak musuh."


"Kakekmu lebih rela mati dari pada menyerahkan perusahan milik Aurel. Kami juga tidak bisa keluar dari sini sebab tempat ini di jaga ketat oleh mereka. Kau tahu kan kalau Papa dan Kakek mu tidak pandai berkelahi. Maka dari itu Papa terperangkap disini selama puluhan tahun untuk bertahan hidup berharap ada seseorang yang menyelamatkan Papa."


Doni mengepalkan tangannya, mendengar cerita dari sang Papa. "Lalu kenapa mereka bilang kalau kalian meningal dan kenapa juga jasad Kakek tidak di kirim ke Indonesia?"


"Sejak perampokan yang terjadi 26 tahun lalu, kami di sandera oleh salah satu pengusaha berlian. Sebabnya ialah karena pameran kami paling laku dan mereka membuat kabar palsu bahwa kami telah tiada terbunuh oleh para perampok tersebut. Untuk jasad Kakekmu, dia di makamkan di sini di tempat pemakan umum yang ada di daerah sini."


"Meski mereka semena-mena, mereka tetap menguburkan kami secara layak. Cuman kami tidak bisa keluar dari sini dan kami semua adalah penambang ilegal," tutur pria itu panjang lebar menjelaskan dan menceritakan semuanya.


"Apa dia adalah Thomas. Pengusaha berlian asal Amerika?" sahut Leo tiba-tiba.


"Kami dengar mereka menyebutkan Thomas dan David. Lalu, kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya pria itu pada Doni menatap silih berganti Leo dan Alex.


"Kami di culik. Entah siapa dan apa tujuannya, kita tidak tahu, Pah. Tapi, Doni senang. Penculikan ini mempertemukanku dengan Papa. Meski kalian pergi saat ku berusia 10 tahun, Doni bisa mengenali Papa." Ucap Doni merangkul pundak Papanya.


"Papa yakin kalau mereka menculik kalian di karenakan pameran berlian yang milik kalian laris manis dan terjual dengan harga pantastis."


"Entahlah, kita tidak tau. Tapi, aku senang bisa bertemu denganmu, Pah." Doni dan orang yang di sebut Papa itu saling merangkul melepaskan rasa rindu yang telah lama terpendam.


Mereka semua malah berbincang-bincang ngaler ngidul tanpa memikirkan pekerjaan.


************


"Ra, kenapa no handphone mas Doni tidak aktif? apa di pameran selalu seperti ini?" tanya Amel sengaja berkunjung ke rumah Syafira menanyakan suaminya.


"Tidak, Mel. Aku juga dari tadi menelpon mereka bertiga dan tak ada satupun no nya yang aktif. Kita berdoa semoga mereka baik-baik saja."


Amel semakin khawatir saja, "Entah apa yang terjadi, semoga kamu tetap dalam lindungi Tuhan," gumam Amel dalam hati.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2