
"Sayang, kita jadi kan periksa ke dokter?" tanya Doni sambil mengenakan kaos hitam berkerah v.
"Jadi, Mas. Tapi bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai harapan kita?" sahut Amel seraya membereskan tempat tidur.
"Apapun hasilnya kita serahkan sama Tuhan. Kalau positif Alhamdulillah, kalau negatif kita usaha lebih keras lagi. Kalau sudah di periksa, setidaknya kita tidak terlalu penasaran."
"Kalau gitu aku bersiap dulu, Mas." Amel berjalan ke ruang ganti pakaian lalu bersiap-siap.
Sedangkan Doni beranjak ke dapur menyeduh segelas susu. Dia merogoh saku celananya menelpon seseorang.
"Halo, Le. Tolong kau atur pertemuan ku dengan dokter kandungan dan usahakan kita yang paling pertama."
"Perasaan jadwal di catatanku tidak ada pertemuan dengan dokter kandungan, Bos? yang ada kita malah ada meeting dengan Tuan David."
"Memang tidak ada, Lele. Pokoknya buruan atur atau daftarkan sekarang juga. Saya dan Amel ke sana sekarang," ucap Doni penuh perintah tak ingin di bantah.
"Wooww, jadi binimu bunting Bos? waah ternyata garapanmu membuahkan hasil. Berbuahnya berapa? satu, dua, tiga, atau langsung dua belas seperti tim sepak bola?"
"Dua lusin, puas loe. Leonardoooooo...... Banyak bacot loe, buruan atur semuanya!" Doni menggeram kesal, kupingnya terasa panas mendengar ocehan Leo.
"What! dua lusin? itu manusia apa moster ular?"
"Leooooooo...... Buruaaaaan!" Doni memekik kesal.
"Iyaaaaaa...... booooooos..... Dooooonoo."
"Leleee... Gue Doni bukan Doni!" sergah Doni semakin darah tinggi menghadapi Leo.
"Doniiii.... Gue Leo bukan Lele...."
Tut....
Leo malah mematikan panggilannya secara sepihak. Doni menggeram menggertakan giginya.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Amel mengernyit heran melihat wajah Doni yang terlihat kesal.
"Nih, si Lele ngeselin kurang asem tuh bujang lapuk," gerutunya lalu menghabiskan susu yang ada di gelas.
"Oh Bang Leo. Sudah tahu dia ngeselin masih saja mancing dia. Daripada kesal mending kita jalan sekarang juga." Ajak Amel menggandeng tangan suaminya.
Doni menyimpan gelas lalu mengambil kunci mobilnya dan kemudian mereka beranjak pergi ke rumah sakit.
************
"Ck, punya bos gini amat dah. Seenak udelnya ganti nama orang. Untung gue sayang, maksudnya sayang sebagai Abang. Jangan salah paham ya pemirsa." Leo mencebik kesal namun ia tak urung berangkat menemui dokter kandungan mengatur jadwal untuk Doni dan Amel.
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang sampai melewati rumah, gedung berjejeran akhirnya Leo sampai di rumah sakit. Dia bertanya terlebih dulu pada resepsionis.
"Mbak cantik yang pari purna bagaikan dewi keabadian. Eh, gue ngomong apaan sih? hmmmmm maksudnya Mbak resepsionis, saya mau tanya, ruangan dokter kandungan di mana ya?"
"Di sebelah sana, Mas ganteng." jawab resepsionisnya tersenyum genit mengerlingkan mata.
Leo nyengir bergidik ngeri. "Amit-amit dah, gue cuman asal ngomong. Model macam ondel-ondel tua begitu masih saja genit. Iiihhhh," gumam Leo dalam hati.
"Terima kasih, Mbak cantik putih bagaikan bayi yang baru mandi di bedakin. Camerok..." celetuknya berlari kabur duluan.
__ADS_1
Mbak nya malah mesem-mesem merasa hidungnya terbang tinggi di puji seperti itu.
Leo nyelonong masuk kedalam ruangan dokternya dan ia langsung menggebrak meja.
Brakk.....
"Astagaaa...." dokternya langsung terlonjak kaget memegang dada terkejut dengan kedatangan Leo secara tiba-tiba.
"Saya mau daftar atas nama Tuan Doni dan nyonya Amel."
"Maaf pak. Silahkan antri di depan!"
"Itu dia masalahnya, Dok. Bos saya menyuruh langsung daftar dan ingin mendapat no antrian yang pertama. Ini masih belum di buka kan? tulisannya saja masih tutup jadi, saya mau daftar dan usahakan dapat no satu."
Dokter itu memejamkan mata menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara kasar.
"Baiklah, Anda bisa tunggu di depan, Pak!"
"Di sini sajalah Dok."
Drrrrrttttt..... Drrrrrttttt.... Drrrrrttttt....
Saku celana Leo bergetar dan ia melihat siapa yang menelpon.
"Bos! Tuh kan Dok, Bos saya nelpon." Leo menggeser tombol warna hijau.
"Halo, Bos. Saya sudah mendaftar dan kalian bisa masuk sekarang juga!" ucap Leo seenaknya tanpa bertanya dulu.
"Ok, sebentar lagi saya sampai di ruangan pemeriksaan."
Tut....
Tok.... tok... tok...
Ketukan pintu terdengar di telinga mereka dan dokternya mempersilahkan.
"Masuk!"
Dan nampaklah Doni dan Amel.
"Bos, saya sudah daftarkan sesuai yang kau perintahkan."
"Daftar sih daftar, tapi maksa." celetuk dokter wanita mendelik jengah.
"Dok, tolong kau periksa istri saya!" ucap Doni langsung pada intinya.
Dokter itu mengernyit. "Ni orang-orang malah seenaknya nyuruh-nyuruh," batinnya.
"Silahkan nyonya, Anda bisa ke ruangan di sana!" kata Dokter kandungan menyuruh Amel masuk ke tempat pemeriksaan.
Amel mengangguk lalu mulai membaringkan tubuhnya. Doni berdiri di dekat kaki Amel dan Leo duduk di depan meja dokternya.
Pertama Amel di periksa tensi darah, lalu berat badan dan kemudian perutnya mulai di raba oleh Dokter itu.
"Apakah Anda mengalami mual, atau pusing?"
__ADS_1
"Tidak, Dok. Semuanya normal tapi saya sudah telat satu Minggu," jawab Amel dan Dokter itu mengangguk mengerti.
Lalu Dokternya mengambil alat pemeriksaaan berupa alat Ultrasonografi 2D
Ultrasonografi 2D merupakan jenis USG kehamilan standar yang biasanya juga dilakukan ketika awal kehamilan. Jenis USG ini hanya menampilkan gambar dalam warna hitam putih.
Meski demikian, dokter kandungan bisa mendapatkan informasi mengenai ukuran janin, banyaknya air ketuban serta kelainan fisik pada janin dalam kandungan.
Pemeriksaan ultrasonografi tradisional ini dilakukan menggunakan transduser di atas perut untuk menghasilkan gambar 2D dari janin yang sedang berkembang.
Dokter itu begitu teliti dengan gambar yang tertera di layarnya. Dia menyunggingkan senyuman dengan hasilnya.
"Bisa kalian lihat ini, titik hitam ini merupakan Zigot yang nantinya akan menjadi embrio."
Zigot adalah sel yang terbentuk sebagai hasil bersatunya dua sel kelamin yang telah masak. Zigot adalah ronde perkembangbiakan sebelum janin atau yang akan menjadi janin/embrio pada rahim perempuan. Lama kelamaan, Zigot ini akan berkembang menjadi janin dan embrio yang lalu akan dilahirkan menjadi bayi.
Doni dan Amel memperhatikannya, mereka masih belum mengerti dengan istilah-istilah yang dokter sebutkan.
"Intinya saja, dok!" celetuk Leo yang juga penasaran dan mendengarkan dari balik tirai.
"Intinya, Nyonya Amel positif hamil dan usianya baru empat Minggu."
"Jadi istri saya beneran hamil, Dok?" pekik Doni terkejut sekaligus bahagia, begitupun dengan Amel yang sudah berkaca-kaca.
"Benar Tuan. Istri Anda hamil."
"Waaahhhh Bos, patilanmu luar biasa bisa bikin Amel bengkak!" pekik Leo tiba-tiba mengagetkan mereka.
"Berisik Leo...." ucap Doni menyibak tirai yang menghalangi mereka menatap tajam Leo.
"Hehehe sorry, Don. Gue repleks saking senangnya kau jadi bapak. Eh tapi, kalau anakmu usia 4 tahun kau sudah berusia 40, serasa gendong cucu kalau gitu mah." Jawab Leo ujung-ujungnya bikin Doni geram.
Pletak... Pletak...
"Aduuhhhh, hobi banget jitak kepala." Ucap Leo memekik mengusap kepalanya.
Doni kembali menatap Amel keduanya saling pandang terharu dan mereka berpelukan merasakan kebahagiaan yang tiada tara.
Untuk menghitung usia kehamilan, metode yang banyak digunakan saat ini adalah patokan pada tanggal menstruasi terakhir. Hari pertama haid terakhir (HPHT) dianggap sebagai hari pertama usia kehamilan.
Anda bisa menghitung usia kehamilan dengan menentukan tanggal menstruasi terakhir sebelum hamil. Metode ini dikenal dengan nama rumus Naegele. Cara ini dianggap sebagai metode terbaik bagi para wanita yang memiliki siklus haid teratur 28 hari.
Bersambung.....
Doni Alexander, usia 36 tahun. Tangan kanan Syafira sekaligus Pamannya dan juga salah satu anggota BLACK EAGLE.
Baik, pintar, jujur, jago bela diri, setia, dan juga berpendirian teguh.
Amelia Putri Al-Hussein, usia 25 tahun. Adik ipar Syafira, dengan ciri khas berkacamata bulat dan berdagu belah. Manja, cantik, sedikit telmi, setia, tidak mudah terpengaruhi, dan juga terjerat cintanya Doni Alexander.
__ADS_1